Menceritakan tentang seorang wanita berusia 25 tahun yang memiliki 2 pekerjaan yang bertolak belakang. Pekerjaan yang sepertinya hanya bisa dilakukan oleh wanita tersebut. Sebuah pekerjaan yang memiliki resiko tinggi jika terungkap salah satunya. Dibalik itu semua, dia memiliki alasan kuat kenapa memilih untuk melakukannya.
"Layani aku, atau aku sebar rahasiamu."
Hanya suara desahan dan erangan kenikmatan yang terdengar di sebuah kamar yang minim penerangan. Seorang wanita berusaha keras memuaskan sang dominan. Mereka memang menyatu, tetapi mereka melakukannya demi tujuannya masing-masing. Kepuasan dan uang.
Bertahun-tahun wanita itu menjaga rahasianya. Tetapi seiring berjalannya waktu, apa yang dia jaga mulai terungkap satu persatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 - Kerinduan
Sudah 2 hari Ayana menghilang dari pandangan Sean. Pria itu sudah berulang kali menghubungi ponsel Ayana, tetapi hanya suara operator yang menjawab. Dia juga sudah mencoba pergi ke apartemen wanita itu, tetapi apa yang dia dapat? Bouquet mawar yang dia letakkan di depan pintu masih pada posisi yang sama, hanya kelopaknya yang mulai layu.
Saat mengantarkan anaknya ke sekolah, dia juga tidak melihat wanita yang biasanya sudah berdiri dengan manis di depan gerbang. Padahal dirinya sangat berharap untuk bertemu dan meminta maaf secara langsung.
Hatinya dipenuhi dengan perasaan bersalah. Pikiran-pikiran buruk menyerbu otaknya. Ke mana perginya wanita itu?
"Daddy! Apa Daddy tau di mana Aunty? Aunty tidak mengajar hari ini," tanya seorang bocah yang sedang berada di pelukan ayahnya.
Sean kira wanita itu terlambat sehingga tidak bisa menyambut para murid seperti biasanya. Tetapi apa ini? Wanita itu bahkan juga tidak mengajar. "Daddy tidak tahu," lirih Sean.
"Sky rindu Aunty," ucap bocah itu dengan lesu. Jemari kecilnya meremas kaos yang dikenakan oleh ayahnya. Daddy juga rindu, ucap Sean di dalam hati.
"Ayo tidur. Semoga besok kita bisa bertemu Aunty," ajak Sean kepada anaknya. Yang mana langsung di berikan anggukan lemah oleh sang anak.
Baru kali ini pria itu merasakan apa itu rindu. Setelah kepergian istrinya dia bahkan tidak merasakan kerinduan sampai sekarang. Padahal wanita itu pernah mendampinginya selama satu tahun. Justru wanita yang baru dia kenal selama 4 bulan itu mampu memporak-porandakan hatinya.
Sepertinya memang ada yang tidak beres. Setelah menidurkan Sky di atas kasur, Sean kembali melangkah keluar dan mengambil ponselnya yang masih berada di meja ruang tamu. Pria itu dengan cepat mengetik sebuah pesan kepada seseorang.
Keesokan paginya, Sky terserang demam. Kemarin sampai tadi malam anak itu masih baik-baik saja. Tetapi pagi ini tiba-tiba anak itu jatuh sakit. Karena mereka masih berada di apartemen, Sean meminta ibunya agar datang merawat Sky di sini.
"Bagaimana dia bisa demam?" tanya ibu Sean dengan tangan yang memeras handuk kecil untuk mengompres cucunya.
"Aku juga tidak tahu, Mom. Semalam dia masih baik-baik saja," jawab Sean dengan jujur. Dia sendiri juga heran, padahal anaknya itu tidak memakan es krim beberapa hari ini.
"Pergilah ke kantor, Mommy yang akan menjaga Sky," perintah sang Ibu.
Sean sudah rapi dengan setelan kantornya. Ketika akan membangunkan anaknya untuk sekolah, dia justru mendapatkan fakta bahwa anaknya sakit. "Aku titip anakku ya, Mom. Aku usahakan pulang cepat," jawab Sean.
Di belahan bumi yang lain, dengan perbedaan waktu 5 jam lebih cepat. Ayana sedang berada di dalam taksi untuk menuju rumah yang dulunya merupakan rumah neneknya. Rumah itu sekarang sudah dijual setelah kepergian neneknya itu untuk selamanya.
Sampai ditempat tujuan, Ayana hanya memandang rumah itu dari kejauhan. Rumah neneknya berada di pedesaan dengan hamparan rumput hijau yang membentang luas. Sangat indah dan asri.
Niatnya pergi sampai sejauh ini untuk menenangkan hati serta pikirannya. Ternyata hal itu tidak berhasil. Nyatanya setelah 2 hari kepergiannya, justru rasa rindu begitu membuncah di hatinya. Dia mulai bingung dengan perasaannya sendiri.
Dulu dia begitu yakin untuk bersama dengan pria itu, hingga membuat rencana sedemikian rupa. Haruskah dia menyerah? Bagaimana dengan perjuangannya selama ini? Hanya karena cacian seperti itu dia mundur begitu saja?
...****************...
Setelah memimpin rapat pagi ini, Sean kembali masuk ke dalam ruangannya. Pria itu melepaskan jas dan menyandarkan tubuhnya di sofa. Kepalanya terasa pening karena perusahaannya sedikit mengalami kerugian akibat tikus berdasi yang menggelapkan dana perusahaan.
Belum lagi anaknya yang sakit tanpa sebab, dan juga sosok wanita yang berhasil mencuri hatinya. Benar, dia dengan mantap mengakui jika wanita itu berhasil meluluhkan hatinya.
Dia sudah berniat melamar wanita itu saat makan malam bersama keluarganya, tetapi harus tertunda akibat kedatangan adiknya secara tiba-tiba. Di saat dia sudah membuat rencana lain, sekarang wanita itu entah pergi ke mana.
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruangannya diketuk dari luar. Tak lama kemudian pintu ruangannya terbuka dan masuklah pria tinggi berpakaian serba hitam yang pernah di panggilnya.
Melihat Tuannya yang memejamkan matanya, pria tinggi itu meletakkan amplop coklat di atas meja dan kembali melangkah keluar. Sean tidak tidur, hanya saja dia terlalu malas untuk berbicara.
Setelah beberapa saat, Sean membuka matanya dan mengambil amplop coklat itu. Semalam dia sudah menyuruh seseorang untuk mencari keberadaan Ayana. Tebakannya tidak salah, wanita itu memang sedang tidak ada di apartemennya. "Selandia baru?" guman Sean.
Untuk apa wanita itu pergi hingga sejauh itu? pikirnya. Tetapi yang membuat dirinya lega adalah wanita itu hanya pergi untuk berlibur. Bukan kabur untuk meninggalkannya.
Ketika sibuk berpikir, ponselnya berdering dan terdapat panggilan masuk dari ibunya. Tanpa menunggu lama, dia menjawab panggilan itu. Raut khawatir seketika memenuhi wajah lelahnya. Tanpa berpikir dua kali, dia segera menyambar jasnya dan pergi.
Ibunya baru saja mengabari jika anaknya dilarikan ke rumah sakit akibat kejang dan demam yang semakin tinggi. Orang tua mana yang tidak khawatir mendengar berita seperti itu.
Di rumah sakit, Sky sedang berada dalam penanganan dokter. Mrs. Jerens menunggu dengan khawatir, tangannya bahkan sampai gemetaran. Dia takut sesuatu yang buruk terjadi kepadanya cucunya.
Dia baru saja akan kembali ke kamar setelah selesai membuat bubur. Tapi yang dia lihat justru cucunya sudah kejang-kejang dengan mata mendelik. Tanpa menunggu lama, dia menggendong dan membawa cucunya itu ke rumah sakit.
Sean sampai di rumah sakit dengan penampilan yang tidak bisa di katakan baik. Pria itu mengendarai mobilnya seakan menantang maut. "Bagaimana keadaan Sky, Mom?" tanya pria itu saat sudah berada di dekat ibunya.
"Dokter masih menanganinya di dalam," jawab ibunya. Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka, keluarlah dokter dan juga 2 orang perawat. Melihat dokter itu, Sean segera menyerbunya dengan pertanyaan.
"Bagaimana keadaan anak saya, dok? Kenapa dia bisa sampai kejang? Tidak ada hal buruk yang akan terjadi, kan?"
Sang dokter tersenyum lembut. "Tenang, Tuan. Anak anda baik-baik saja. Kejang ketika demam pada anak adalah hal lumrah, apalagi ketika demamnya sangat tinggi. Untung saja dia cepat di bawa ke rumah sakit."
"Saya sudah memberikan penurun demam dan juga obat penenang. Anda tidak perlu khawatir. Anak anda sedang tertidur sekarang. Anda sudah bisa menjenguknya sekarang," lanjut dokter pria itu.
Sean dan juga ibunya bernapas lega. "Terima kasih, dok." ucap Ibu Sean.
"Oh ya! Apa kalian mengenal Aunty Aya? Anak anda terus menggumamkan nama itu," ujar dokter tersebut.
Sean tersentak kaget, sedangkan ibunya menatap Sean dengan pandangan bertanya-tanya. "Jika kalian mengenalnya, tolong panggil orang itu ke sini. Sepertinya anak Anda merindukan orang tersebut," lanjut dokter itu. Setelahnya dia berpamitan untuk pergi.
"Ada apa ini? Sean? Di mana Ayana?"
Baru saja Sean bernapas lega, sekarang pria itu sudah kembali merasakan sesak di hatinya. Jadi penyebab anaknya demam karena merindukan wanita itu? Dia terlalu menyepelekan ucapan anaknya semalam.
"Mom. Aku titip Sky untuk beberapa hari," ucap Sean dengan cepat. Tanpa menunggu ibunya menjawab, pria itu langsung berlari pergi begitu saja.
Ibu Sean yang tidak tahu menahu, menatap kepergian anaknya dengan raut khawatir dan juga bingung.
Bersambung dan semoga masih nyambung...
Terimakasih sudah membaca dan memberikan like