Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.
Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.
Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.
Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...
...kecuali dia.
"Kau adalah hartaku yang paling berharga."
Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.
Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.
Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 027
Di Bawah Meja
Dan Seraphina mulai curiga, Reynard sama sekali tidak berniat membuatnya mudah.
Kecurigaan itu terbukti bahkan sebelum ia sampai ke tempat Jason.
Sore berikutnya, sebuah mobil hitam berhenti di depan lobi apartemennya. Bukan mobil Reynard. Pengemudinya bukan Stanley. Yang turun justru seorang staf Hartono Group yang pernah ia lihat sekilas di gedung SCBD, dengan sikap formal dan wajah tidak tahu apa-apa.
"Bu Seraphina?" pria itu membungkuk sedikit. "Pak Jason meminta saya menjemput. Katanya supaya tidak ada yang terlambat."
Seraphina menatap mobil itu, lalu menatap ponselnya.
Pesan Reynard masuk hampir bersamaan.
Jangan cemberut. Kalau aku yang menjemput, Natasha akan tahu sebelum kau duduk.
Seraphina mengetik cepat.
Kau terlalu menikmati permainan ini.
Balasan datang saat ia masuk mobil.
Aku menikmati kau.
Seraphina langsung menutup layar, tetapi panas di telinganya tidak mau bekerja sama.
Tempat Jason berada di lantai atas sebuah restoran privat di Senopati, bukan klub malam, bukan ruang pesta yang berisik. Ruangannya luas, kaca tinggi menghadap lampu kota, satu meja panjang sudah dipenuhi makanan: sate lilit, cumi bakar, sup buntut, nasi daun jeruk, dan beberapa piring kecil dessert yang jelas dipilih Jason hanya agar terlihat niat.
Natasha sudah duduk di salah satu sisi meja, memakai gaun hitam sederhana dan ekspresi seperti hakim sidang.
"Akhirnya datang juga, Bu CEO," katanya. "Gue pikir lo kabur karena takut ditagih cerita."
Seraphina meletakkan tas. "Aku datang untuk makan."
"Semua orang bilang begitu sebelum diinterogasi."
Jason muncul dari ujung ruangan dengan dua gelas mocktail. "Tasha, jangan ganggu tamu kehormatan. Sera baru menyelamatkan proyek Dinas dari serangan licik. Biarkan dia makan dulu, baru kau kunyah."
"Ko Jason, reputasi lo sebagai tuan rumah turun setiap kali lo buka mulut."
"Reputasiku justru hidup karena mulutku."
Seraphina tertawa kecil. Suasana seperti ini berbeda dari acara sosial keluarga Lim yang selalu penuh penilaian. Di sini, orang-orang mengejek satu sama lain tanpa membuatnya merasa sedang dipotong pelan-pelan.
Lalu pintu terbuka lagi.
Reynard masuk.
Kemeja hitam, jas gelap, wajah dingin yang membuat pelayan di dekat pintu otomatis berdiri lebih tegak. Di belakangnya ada Stanley sebentar, hanya untuk menyerahkan satu map pada Jason, lalu pergi. Reynard menyapu ruangan dengan pandangan singkat, berhenti sepersekian detik pada Seraphina, lalu berpaling seolah ia hanya kolega biasa.
"Terlambat," kata Jason.
"Masih sebelum makanan utama," jawab Reynard.
"Alasan klasik orang penting."
Reynard menarik kursi di seberang Seraphina, persis seperti pesannya semalam.
Seraphina menatap gelas di depannya. Jangan bereaksi, katanya pada diri sendiri. Jangan tersenyum. Jangan memperlihatkan bahwa jarak satu meja ini justru membuat napasnya lebih pendek.
"Bu Sera," sapa Reynard tenang.
Seraphina mengangkat mata. "Pak Rey."
Natasha langsung menoleh, matanya bergerak dari Seraphina ke Reynard, lalu kembali lagi. "Formal banget. Kita ini makan malam atau rapat pemegang saham?"
Jason tertawa. "Tasha, biarkan dua orang profesional mempertahankan martabat mereka."
"Martabat itu sering jadi topeng. Gue alergi topeng."
Seraphina mengambil sendok. "Kalau begitu makanlah supaya alergimu reda."
"Lihat, dia menghindar."
"Aku lapar."
Makan malam dimulai dengan tawa dan obrolan ringan. Jason sengaja membuat semua orang bercerita tentang krisis paling memalukan saat bekerja. Natasha menceritakan bagaimana ia pernah salah masuk meeting keluarga orang lain dan tetap duduk sepuluh menit karena terlalu gengsi untuk keluar. Michelle yang datang belakangan menambahkan cerita tentang klien yang meminta krisis PR hilang dalam satu jam seperti menghapus story Instagram.
Seraphina ikut tertawa, tetapi ia sadar setiap gerakannya diawasi oleh dua orang berbeda.
Natasha mengawasinya seperti mencium rahasia.
Reynard mengawasinya seperti sedang menahan diri untuk tidak menyentuh.
"Sera," panggil Jason tiba-tiba. "Versimu?"
"Krisis memalukan?"
"Ya. Jangan bilang hidupmu selalu elegan. Itu tidak adil untuk manusia biasa."
Seraphina berpikir sebentar. "Hari pertama presentasi investor, proyektor mati. Aku harus menjelaskan model prediksi demand logistics sambil menggambar node jaringan di tissue restoran."
Jason menunjuknya dengan kagum. "Itu bukan memalukan. Itu mengintimidasi."
Michelle tersenyum. "Investornya masuk?"
"Masuk, tapi hanya seed kecil. Dua bulan kemudian dia minta porsi lebih besar. Aku tolak."
Natasha menepuk meja. "Nah, ini baru temanku."
Di seberang, Reynard tidak berkata apa-apa. Namun di bawah meja, sesuatu menyentuh ujung sepatu Seraphina.
Seraphina berhenti setengah detik.
Ia menunduk sedikit, pura-pura mengambil napkin. Sepatu Reynard tidak bergerak lagi. Mungkin tidak sengaja.
Lalu ponselnya menyala di pangkuan.
Aku di sini.
Seraphina menahan napas. Ia tidak boleh membalas. Jason sedang bicara, Natasha sedang menuang sambal matah ke piringnya, Michelle sedang menanyakan detail vendor. Semua orang terlalu dekat.
Tetapi tangan kiri Reynard bergerak di bawah meja.
Seraphina merasakannya sebelum melihat. Jari-jari Reynard menyentuh sisi kursinya, mencari dengan hati-hati, tidak memaksa. Sentuhan itu berhenti di dekat lututnya, menunggu.
Gila, batin Seraphina.
Ia seharusnya menarik tangan.
Ia justru menurunkan tangan kirinya perlahan dari pangkuan.
Ketika ujung jari mereka bersentuhan, seluruh kebisingan meja seperti mengecil. Jason masih tertawa keras. Natasha masih bertengkar dengan pelayan soal tingkat pedas saus. Michelle masih tersenyum pada Jessica yang baru mengirim voice note karena tidak bisa datang.
Di bawah meja, Reynard menggenggam tangan Seraphina.
Tidak erat. Tidak kasar. Hanya cukup untuk membuatnya tahu bahwa laki-laki itu ada, menyeberangi jarak formal yang mereka bangun sendiri.
Seraphina menatap piringnya. Ia takut jika mengangkat mata, semua orang akan melihat api kecil itu.
"Bu Sera," kata Reynard dari seberang meja, suaranya sangat datar. "Menurut Anda, integrasi lapangan tahap kedua sebaiknya dimulai dari koridor mana?"
Seraphina hampir menendang kakinya.
Jason mengerang. "Rey, demi semua makanan di meja ini, jangan bawa pekerjaan."
"Aku bertanya pada partner proyek."
Natasha menyipit. "Partner proyek? Ya Tuhan, kalian berdua membosankan sekali."
Di bawah meja, ibu jari Reynard bergerak pelan di punggung tangan Seraphina.
Seraphina menggigit pipi bagian dalam. "Koridor Tanjung Priok lebih masuk akal," jawabnya setenang mungkin. "Volume datanya padat, risiko keterlambatan tinggi, dan dampaknya terlihat jelas."
"Saya setuju," kata Reynard.
Ibu jarinya berhenti sejenak, lalu menekan lembut.
Seraphina hampir lupa cara bernapas.
Natasha meletakkan gelas. "Sera, muka lo merah."
Semua mata beralih padanya.
Seraphina menarik napas, menatap mangkuk kecil di samping piring. "Sambalnya pedas."
"Lo belum makan sambal."
Jason langsung menyodorkan air. "Tasha, jangan mengintimidasi orang yang baru terkena sambal spiritual."
Michelle tertawa pelan. "Biarkan dia bernapas."
Di bawah meja, Seraphina mencubit jari Reynard.
Reynard tidak bergerak, tetapi sudut bibirnya hampir naik. Hampir. Sialnya, hanya Seraphina yang melihat.
Malam berjalan lebih panjang daripada seharusnya. Setiap kali Seraphina mencoba menarik tangan, Reynard melepaskan dengan patuh. Setiap kali ia menurunkannya lagi tanpa sadar, tangan itu sudah ada di sana, hangat dan sabar. Permainan mereka tidak pernah melewati batas yang bisa dilihat orang lain, tetapi justru karena tersembunyi, rasanya lebih berbahaya.
Ketika acara hampir selesai, Jason mengajak Reynard melihat koleksi wine di ruang sebelah. Michelle menerima telepon. Tinggal Natasha dan Seraphina di meja, dengan piring dessert yang nyaris tidak tersentuh.
Natasha menyandarkan dagu di telapak tangan. "Lo tahu, gue punya banyak teori malam ini."
Seraphina mengambil sendok kecil. "Simpan untuk dirimu."
"Teori pertama, lo lagi jatuh cinta."
Sendok Seraphina berhenti.
"Teori kedua, orangnya ada di ruangan ini."
"Tasha."
"Teori ketiga, kalau gue paksa sekarang, lo bakal lari. Jadi gue nggak paksa."
Seraphina menatap sahabatnya. Natasha yang biasanya seperti kembang api mendadak terlihat sangat serius.
"Tapi kalau rahasia itu mulai berat," kata Natasha lebih pelan, "jangan tunggu sampai lo sendirian baru cerita. Gue sahabat lo, bukan penonton."
Dada Seraphina menghangat dengan cara yang berbeda dari sentuhan Reynard. Ia meletakkan sendoknya.
"Besok," katanya.
Mata Natasha berkedip. "Besok?"
"Aku akan cerita. Bukan di sini."
Natasha menahan senyum kemenangan dengan sangat buruk. "Oke. Besok. Gue cuma akan teriak empat menit."
"Katamu lima."
"Diskon karena lo jujur sebelum gue paksa."
Pintu ruang sebelah terbuka. Reynard kembali bersama Jason. Tatapannya langsung menemukan Seraphina, singkat, tersembunyi, tetapi cukup.
Besok, satu orang akan tahu.
Malam ini, di bawah meja yang sudah kosong, hangat telapak tangan Reynard masih tertinggal di kulit Seraphina seperti tanda yang tidak bisa dilihat siapa pun.