Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.
Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.
Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.
Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.
Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.
Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?
(148 kata Indonesia)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Satu Kamar
Rayhan benar-benar tidak pergi.
Kiara tahu karena setiap kali ia membuka mata, bayangan lelaki itu masih ada di sofa panjang dekat jendela. Lampu tidur hanya menyala setengah, cukup untuk membuat garis bahu Rayhan terlihat tegas di balik kaus hitamnya. Ponsel ada di tangan kanan, laptop tipis terbuka di meja kecil, tetapi matanya lebih sering jatuh ke arah ranjang daripada ke layar.
Malam sudah lewat jauh.
Di luar pintu, Kopi beberapa kali menggeser tubuh di lantai. Kalungnya berbunyi kecil, lalu hening lagi. Seolah anjing itu juga ikut berjaga, hanya tidak diizinkan masuk karena Rayhan takut bulunya membuat Kiara tidak nyaman.
Kiara menarik napas pelan. Obat nyeri membuat kepalanya berat, tapi pergelangan kaki kanannya tetap terasa panas di dalam immobilizer. Ia mencoba menggerakkan jari kaki seperti instruksi dokter. Jempolnya bergerak sedikit. Sakit, tetapi masih bisa.
"Sakit?"
Suara Rayhan langsung muncul.
Kiara terkejut. "Aku kira Kak Rayhan tidur."
"Belum."
"Dari tadi?"
Rayhan menutup laptop. "Kamu bergerak."
Hanya itu. Bukan pertanyaan panjang, bukan teguran, tetapi Kiara tiba-tiba merasa seperti anak kecil yang ketahuan menyentuh stoples kue.
"Aku cuma cek kaki," gumamnya.
Rayhan bangkit. Dalam dua langkah, ia sudah berada di sisi ranjang. Tangannya tidak langsung menyentuh, hanya menggantung beberapa senti di atas immobilizer. "Kesemutan?"
"Sedikit panas."
"Kebas?"
"Enggak."
"Jari kaki bisa digerakkan?"
Kiara menggerakkan pelan. Wajahnya menegang.
Rahang Rayhan ikut mengeras, seakan nyeri itu pindah ke tubuhnya. Ia menekan tombol lampu samping ranjang sampai cahaya sedikit lebih terang, lalu mengecek posisi bantal penyangga di bawah betis Kiara. Gerakannya hati-hati sekali. Ujung jarinya hanya menyentuh kain, bukan kulit, tetapi jarak mereka cukup dekat untuk membuat Kiara menahan napas.
"Obat berikutnya jam tiga," katanya.
Kiara melirik jam digital di nakas.
02.17.
"Masih lama."
"Kalau sakitnya naik, aku hubungi Dokter Raka."
"Jangan. Nanti dikira aku manja."
Rayhan menatapnya.
Kiara langsung menyesal.
"Kamu jatuh dari tangga darurat, kaki kanan direposisi, baru keluar rumah sakit sore tadi." Suara Rayhan rendah, tidak keras, tetapi cukup membuat Kiara diam. "Tidak ada bagian dari itu yang namanya manja."
Kiara menunduk. Selimut di atas tubuhnya terasa terlalu rapi, terlalu bersih, terlalu milik Rayhan. "Aku cuma... tidak mau merepotkan."
"Kamu sudah merepotkan aku sejak enam bulan lalu."
Kiara mengangkat wajah.
Rayhan mengambil gelas air di nakas, memasukkan sedotan, lalu menyodorkannya ke bibir Kiara. "Bedanya, sekarang kamu tidak perlu pura-pura tidak tahu."
Panas di dada Kiara naik lebih cepat daripada nyeri di kaki. Ia minum dua teguk, lalu berhenti karena tatapan Rayhan terlalu dekat. Air terasa dingin di tenggorokan, tetapi telinganya malah panas.
"Kak Rayhan selalu bicara begitu kalau aku tidak punya tenaga buat membantah."
"Bagus. Jadi efektif."
Kiara hampir tertawa. Hampir, karena tiba-tiba perut bagian bawahnya terasa tidak nyaman. Ia menahan diri beberapa detik, berharap rasa itu hilang sendiri.
Rayhan langsung menangkap perubahan di wajahnya. "Apa lagi?"
"Tidak apa-apa."
"Kiara."
Satu kata itu lebih tajam daripada bel kecil di nakas.
Kiara memejamkan mata sebentar. "Aku mau ke kamar mandi."
Keheningan turun.
Bukan hening canggung yang dingin. Lebih seperti dua orang sama-sama sadar bahwa satu kamar berarti bukan hanya tidur di ruangan yang sama. Ada hal-hal kecil yang selama ini bisa diselesaikan sendiri, sekarang harus melewati tangan orang lain.
Rayhan menarik napas pelan. "Oke."
"Aku bisa sendiri kalau kursi rodanya dekat."
"Tidak."
"Kak Rayhan..."
"Aku bantu sampai pintu kamar mandi. Di dalam, kamu pakai pegangan. Aku tunggu di luar dengan pintu tertutup. Kalau pusing atau sakit, panggil." Ia menatap Kiara lurus. "Kamu tidak menapak."
Kiara menggigit bibir, lalu mengangguk.
Rayhan mengambil kursi roda yang sudah disiapkan Aldi dekat lemari. Roda kecilnya bergerak tanpa suara di atas lantai kayu. Setelah mengunci rem, Rayhan menyibak selimut dan menahan ujung immobilizer agar kaki Kiara tidak bergeser.
"Pegang bahuku."
"Aku berat."
"Aku polisi, bukan pajangan ruang tamu."
Kalimat datar itu membuat Kiara akhirnya tertawa kecil. Ia melingkarkan tangan ke leher Rayhan. Begitu tubuhnya terangkat, aroma sabun dan sisa hujan di kaus Rayhan menyergap pelan. Dada Kiara menempel sebentar ke bahunya. Bukan pelukan seperti di rumah sakit, bukan juga pelukan yang bisa diberi nama. Hanya perpindahan dari ranjang ke kursi roda.
Tetapi jantung Kiara tidak peduli pada penjelasan.
Rayhan menaruhnya dengan hati-hati. Tangannya menahan pinggang Kiara sampai ia benar-benar duduk stabil. "Pusing?"
"Enggak."
"Sakit?"
"Sedikit."
"Sedikit versi kamu biasanya berarti lumayan."
Kiara tidak menjawab.
Rayhan mendorong kursi roda ke kamar mandi. Lantai sudah kering, karpet anti-slip diletakkan di jalur pintu, dan pegangan portabel sudah menempel di sisi wastafel. Aldi benar-benar menyiapkan semuanya seperti mengikuti daftar operasi.
Di depan pintu, Rayhan berhenti. "Aku tunggu di sini. Pintu aku tutup. Jangan kunci."
Pipi Kiara memanas. "Kak Rayhan!"
"Kalau kamu jatuh di dalam, pintu terkunci, aku harus dobrak. Kamu mau satu rumah bangun?"
Kiara tidak punya jawaban.
"Jangan kunci," ulangnya, lebih pelan.
Akhirnya Kiara mengangguk.
Proses yang biasanya hanya beberapa menit berubah menjadi urusan panjang. Rayhan menunggu di luar tanpa suara. Tidak mengetuk, tidak bertanya tiap detik, hanya berdiri di sana seperti pagar hidup. Ketika Kiara memanggil pelan, pintu terbuka setelah satu ketukan singkat.
"Sudah?"
"Sudah."
Matanya tidak berkeliaran. Rayhan hanya menunduk mengecek posisi kaki Kiara, lalu membawanya kembali ke ranjang. Sederhana. Tenang. Justru karena itu Kiara merasa matanya panas.
Saat tubuhnya kembali di atas kasur, rasa aman datang begitu kuat sampai ia hampir menangis.
Rayhan menarik selimut sampai ke pinggangnya. "Kenapa?"
"Tidak ada."
"Kiara."
"Aku cuma..." Kiara menatap jarinya sendiri. "Dulu kalau sakit, aku selalu hitung sendiri. Jam obat, tagihan, naik ojek ke klinik, semua sendiri. Sekarang cuma mau ke kamar mandi saja ada yang menjaga pintu."
Wajah Rayhan tidak berubah banyak. Hanya matanya yang meredup.
Ia duduk di tepi ranjang, cukup dekat sampai lututnya menyentuh seprai. "Mulai sekarang, hal seperti itu tidak perlu kamu hitung sendirian."
Kiara menelan sesuatu yang mengganjal di tenggorokan. "Aku takut kebiasaan."
"Bagus."
"Bagus?"
"Biar kamu terbiasa dijaga."
Kalimat itu jatuh pelan, tetapi menetap lama di kamar.
Di luar pintu, Kopi menggonggong pendek.
Kiara buru-buru mengusap sudut matanya. "Dia dengar?"
"Dia pensiunan K9. Kemungkinan besar dia menilai kamu lebih jujur daripada aku."
Kali ini Kiara benar-benar tertawa.
Rayhan membuka pintu sedikit. Kepala Kopi langsung muncul dari celah, telinganya tegak, mata cokelatnya menatap Kiara dengan serius. Ia tidak masuk. Hanya duduk di ambang pintu, ekornya bergerak pelan.
"Kopi, jaga luar," kata Rayhan.
Kopi mengeluarkan suara rendah, seperti protes.
"Tidak. Kamu belum boleh naik kasur."
Kopi menatap Kiara.
Kiara mengangkat tangan kecil. "Aku juga belum boleh turun kasur. Kita senasib."
Ekor Kopi bergerak lebih cepat, lalu ia rebah tepat di luar pintu. Rayhan membiarkan celah pintu terbuka sedikit, cukup agar Kiara bisa melihat bayangannya.
Ketika jam tiga berbunyi pelan dari alarm ponsel, Rayhan sudah siap dengan obat dan air. Ia tidak membiarkan Kiara duduk sendiri. Satu tangan menopang punggungnya, tangan lain mengatur sedotan. Setelah obat tertelan, ia mencatat sesuatu di ponsel.
"Kak Rayhan tidak tidur sama sekali?"
"Tidur nanti."
"Nanti kapan?"
"Saat kamu tidak keras kepala."
"Berarti Kak Rayhan tidak akan tidur."
Sudut mulut Rayhan bergerak tipis. "Aku sudah tahu risikonya waktu menikahi kamu."
Kiara membeku.
Rayhan seolah baru sadar kalimatnya terlalu mudah masuk ke tempat yang lembut. Ia meletakkan gelas kembali ke nakas dan berdiri. "Tidur."
"Kak Rayhan."
"Hm?"
"Terima kasih."
Rayhan mematikan lampu samping ranjang sampai kamar kembali redup. "Simpan terima kasihmu untuk kontrol dokter. Kalau kamu nurut, itu lebih berguna."
Namun ia tidak kembali ke sofa.
Ia berdiri beberapa detik di antara sofa dan ranjang. Kiara melihat matanya bergerak dari bantal penyangga, bel kecil, kaki Kiara, lalu ke jarak tiga meter menuju sofa.
Tiga meter yang tadi terasa sopan.
Sekarang, setelah satu malam penuh rasa sakit kecil dan panggilan tertahan, tiga meter itu mendadak tampak terlalu jauh.
Rayhan mengambil selimut tipis dari sofa, lalu menaruhnya di sisi paling kanan ranjang. Masih ada jarak lebar di antara mereka. Bahkan dua bantal panjang disusun seperti batas.
Kiara menahan napas. "Kak Rayhan...?"
"Sofa terlalu jauh kalau kamu bergerak lagi." Rayhan duduk di tepi ranjang, tidak melewati batas bantal itu. Suaranya tetap tenang, tetapi tangannya yang merapikan selimut terlihat lebih kaku dari biasanya. "Aku tidur di sini. Selimut sendiri."
Jantung Kiara memukul pelan, berat, seperti hujan yang belum selesai di luar jendela.
Rayhan menoleh kepadanya. "Kalau kamu tidak nyaman, aku kembali ke sofa."
Kiara melihat garis kosong di sisi ranjang, lalu melihat bel kecil di nakas yang sejak tadi tidak pernah sempat ia tekan.
Pelan sekali, ia menggeleng.
Rayhan tidak berkata apa-apa.
Ia hanya berbaring di sisi paling jauh, menyisakan jarak yang sopan, tetapi cukup dekat sampai Kiara bisa mendengar napasnya.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, mereka benar-benar berada di ranjang yang sama.