NovelToon NovelToon
Di Bawah Bibirnya, Aku Gila

Di Bawah Bibirnya, Aku Gila

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Wanita perkasa / Raja Tentara/Dewa Perang / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Kembang

Lim Mei Li bukan wanita biasa.

Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.

Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.

Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.

Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.

Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.

Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.

"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."

Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.

Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.

🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30

Mei Li membawa pulang kebaya sutra putih itu seperti membawa sesuatu yang bisa bernapas.

Kotaknya ia letakkan di kamar, bukan di ruang kerja. Foto Lim Yun disimpan di dalam laci meja samping tempat tidur, tempat yang seharusnya terlalu pribadi untuk dokumen perang. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak kembali ke Jakarta, benda paling penting di kamarnya bukan peta aset Tan, bukan tablet terenkripsi, bukan pistol kecil di laci bawah.

Melainkan selembar foto lama.

Dan satu kebaya putih.

Ia duduk di tepi tempat tidur lama sekali.

Air matanya sudah kering, tetapi dadanya masih terasa terbuka. Bukan luka yang berdarah. Lebih seperti ruangan gelap yang tiba-tiba dibuka jendelanya, membuat cahaya masuk tanpa izin.

Itu lebih menakutkan daripada ancaman Tan Bao Shan.

Ancaman bisa dihitung. Cinta tidak.

Ponselnya bergetar.

Sinta.

Mei Li mengangkat setelah dering kedua.

"Jie," suara Sinta langsung pelan, berbeda dari godaan biasanya. "Kak Amy bilang kamu sudah pulang. Kamu baik-baik saja?"

Mei Li menatap kotak kebaya. "Aku tidak tahu."

Di seberang, Sinta diam beberapa detik.

"Dia membuatmu menangis?"

"Tidak seperti itu."

"Tapi kamu menangis?"

Mei Li memejamkan mata. "Dia memberi sesuatu dari Mama."

Sinta menarik napas kecil. "Oh."

Satu kata itu cukup. Sinta tidak perlu tahu detail untuk memahami bahwa Arka telah menyentuh tempat yang selama ini bahkan Sinta hanya bisa berdiri di depannya.

"Jie," katanya lembut, "mungkin itu bukan hal buruk."

"Aku tahu."

"Tapi kamu takut."

Mei Li membuka mata.

Di luar jendela, rumah Arka masih menyala. Ruang kerjanya tampak dari sela pohon. Lampu yang beberapa minggu lalu hanya menjadi tanda tetangga, kini terasa seperti titik yang bisa menarik pandangannya tanpa izin.

"Duniaku terlalu berbahaya, Sinta."

"Duniamu memang berbahaya."

Jawaban itu terlalu jujur sampai Mei Li hampir tertawa pahit.

"Tapi kamu tidak pernah berhenti melindungi orang yang kamu sayang," lanjut Sinta. "Pertanyaannya, apa kamu akan membiarkan seseorang juga memilih untuk tetap di dekatmu?"

"Kalau pilihan itu membuatnya terluka?"

"Maka dia tetap punya hak tahu risikonya."

Mei Li tidak menjawab.

Sinta terbatuk kecil. Mei Li langsung duduk tegak. "Minum air."

"Sudah." Sinta terdengar tersenyum. "Jangan alihkan topik terus. Aku tidur sekarang. Tapi Jie, kalau dia membuatmu ingat Mama tanpa membuatmu hancur, mungkin dia tidak seburuk itu untuk hatimu."

Panggilan berakhir.

Mei Li tetap memegang ponsel.

Tidak seburuk itu untuk hatimu.

Kalimat yang terlalu lembut untuk seseorang yang hidupnya dibangun dari strategi bertahan.

***

Di rumah sebelah, Arka belum tidur.

Ia duduk di ruang kerja, menatap layar laptop tanpa benar-benar membaca. Di meja, ada salinan foto Lim Yun yang tidak ia berikan pada Mei Li, hanya catatan kecil dari Bu Ratih tentang asal foto dan penjahit tua dari Puncak. Ia menyimpan itu bukan sebagai rahasia, melainkan sebagai bukti jika Mei Li suatu hari ingin tahu prosesnya tanpa harus meminta.

Dimas mengirim pesan.

Jadi? Dia suka hadiahnya?

Arka menatap pesan itu lama.

Ia membalas:

Dia menangis.

Dimas tidak menjawab selama hampir satu menit. Ketika balasannya datang, tidak ada candaan.

Mas, jangan main-main kalau sudah sampai situ.

Arka menutup mata sebentar.

Aku tahu.

Ia tidak pernah berniat bermain-main.

Masalahnya, perempuan yang ia dekati bukan hanya perempuan yang membuat jantungnya bergerak dengan cara yang tidak pernah ia kenal. Ia juga perempuan yang membawa perang di setiap langkah, rahasia di setiap nama, dan luka yang bisa memotong siapa pun yang ceroboh menyentuhnya.

Namun saat Mei Li memegang kebaya putih tadi, Arka melihat sesuatu yang membuatnya tidak bisa mundur.

Ia melihat anak kecil yang selamat.

Dan ia ingin, dengan seluruh kehati-hatian yang ia punya, berdiri di sisi perempuan dewasa yang dibentuk dari anak itu.

Arka membuka ponsel, mengetik pesan, menghapus, lalu mengetik lagi.

Tidak terlalu panjang. Tidak menuntut balasan. Tidak menyebut air mata.

Akhirnya ia mengirim:

Selamat ulang tahun, Mei Li. Apa pun dirimu, aku di sini.

***

Pesan itu masuk pukul 00.17.

Mei Li sedang berdiri di depan cermin, kebaya putih masih terlipat di meja belakangnya. Ia membaca kalimat itu sekali. Dua kali. Tiga kali.

Apa pun dirimu, aku di sini.

Kalimat itu berbahaya.

Karena Arka tidak tahu semuanya. Ia tidak tahu Evelyn sepenuhnya. Tidak tahu darah yang pernah menempel di tangannya, keputusan yang pernah ia ambil, nama-nama orang yang hilang dari peta karena ia memerintahkan satu kalimat. Ia tidak tahu Max seperti apa. Tidak tahu bahwa orang yang mencari Evelyn bukan hanya musuh bisnis, melainkan seseorang yang pernah membentuk masa remajanya dengan besi dan rasa takut.

Namun bagian paling menakutkan bukan itu.

Bagian paling menakutkan adalah Mei Li ingin mempercayainya.

Ia mengetik balasan.

Terima kasih.

Jarinya berhenti.

Terlalu dingin.

Ia menghapus.

Aku membaca pesanmu.

Terlalu bodoh.

Ia menghapus lagi.

Akhirnya ia hanya menulis:

Aku tahu.

Sebelum ia sempat mengirim, pintu kamar diketuk.

Tiga ketukan cepat.

Bella.

Mei Li mengunci layar. "Masuk."

Bella masuk dengan wajah yang membuat udara kamar langsung berubah. Amy ada di belakangnya, memegang tablet.

"Boss," kata Bella. "Ada pergerakan."

Amy meletakkan tablet di meja. Di layar, rekaman CCTV bandara Soekarno-Hatta diputar tanpa suara. Seorang pria berjas gelap berjalan melewati imigrasi jalur diplomatik palsu. Wajahnya tampak biasa, tetapi cara ia memeriksa sudut kamera tidak biasa.

Sean sudah memberi tanda merah di samping wajahnya.

Nama kode: Vulture.

Bekas jaringan Max.

Mei Li menatap layar.

Tubuhnya yang beberapa menit lalu hangat karena pesan Arka mendadak kembali dingin.

"Kapan?" tanyanya.

"Tiga jam lalu," jawab Amy. "Dia tidak datang sendiri."

Rekaman berganti. Dua orang lain muncul di area kedatangan berbeda. Satu perempuan dengan rambut pendek. Satu pria membawa koper kecil berwarna perak. Ketiganya tidak saling menyapa, tetapi bergerak menuju hotel yang sama di Sudirman.

Joanna mengirim pesan baru.

Ini tim pelacak lama Max. Mereka mencari Evelyn.

Bella menatap Mei Li. "Instruksi?"

Mei Li memandang ponselnya yang masih menyala di sisi meja.

Pesan Arka belum terkirim.

Aku tahu.

Dua kata itu tiba-tiba terasa terlalu kecil untuk dunia yang kembali membuka rahangnya.

Ia menghapus pesan itu.

Lalu mengetik balasan baru untuk Arka.

Selamat malam.

Netral. Aman. Jauh.

Ia mengirim sebelum dirinya sempat berubah pikiran.

***

Di rumah sebelah, Arka menerima balasan itu hampir seketika.

Selamat malam.

Ia menatap dua kata itu lama.

Tidak ada yang salah dengan kalimat itu. Sopan. Ringkas. Wajar untuk tengah malam. Namun Arka sudah mulai mengenal jarak dalam pilihan kata Mei Li. Tadi malam, di depan kebaya putih, jarak itu sempat runtuh. Sekarang ia kembali berdiri, lebih tinggi dan lebih rapi.

Dimas mungkin akan menyuruhnya mengejar.

Arka tidak.

Ia meletakkan ponsel di meja, lalu memandang ke arah rumah sebelah. Lampu kamar Mei Li menyala, tetapi tirainya tertutup.

"Baik," katanya pelan pada ruangan kosong. "Aku tetap di sini."

Ia tidak mengirim pesan kedua.

Karena jika Mei Li sedang menutup pintu untuk melindungi sesuatu, mengetuk terlalu keras hanya akan membuatnya mengunci lebih dalam.

***

Di hotel bisnis kawasan Sudirman, pria dengan nama kode Vulture masuk ke kamar tanpa menyalakan lampu utama.

Ia meletakkan koper perak di atas meja, membuka kuncinya, lalu mengeluarkan perangkat komunikasi kecil yang tidak terdaftar pada jaringan lokal. Dua orang lain masuk lima menit kemudian dari lift berbeda. Mereka tidak saling menyapa sampai pintu tertutup dan alat pendeteksi sinyal menyala hijau.

"Target?" tanya perempuan berambut pendek.

Vulture menyalakan layar. Foto Lim Mei Li muncul, diambil dari kamera jarak jauh saat ia keluar dari Koh Tower. Foto lain menampilkan nama Evelyn dari arsip lama Grobe, sebagian data masih terkunci.

"Belum konfirmasi visual penuh," katanya. "Tapi pola cocok."

Pria dengan koper kecil menatap layar. "Max ingin hidup?"

Vulture memandangnya dingin. "Max ingin dia ditemukan dulu. Setelah itu, instruksi baru."

"Dia punya perlindungan lokal?"

"Terlalu banyak."

Perempuan itu tersenyum tipis. "Berarti dia memang Evelyn."

Vulture menggeser layar ke daftar foto berikutnya. Amy di lobi Koh Tower. Bella di basement Menteng Regency. Ricky Koh keluar dari mobil. Lalu satu foto yang membuat perempuan itu berhenti tersenyum sejenak: Arka berdiri di teras rumahnya, memayungi Mei Li saat hujan.

"Siapa pria ini?"

"Belum jelas," jawab Vulture. "Tapi dia muncul terlalu sering."

Pria dengan koper kecil mendekat. "Pakai dia?"

Vulture menatap foto itu. "Belum. Orang seperti Evelyn tidak mudah diguncang. Kita cari dulu mana yang benar-benar membuatnya bergerak."

Di antara semua foto, hanya foto Arka yang tidak dihapus dari layar cadangan malam itu, sengaja disimpan terpisah oleh mereka semua, diam-diam.

Vulture menutup layar.

"Besok kita mulai dari orang terdekat."

Kemudian Mei Li menutup kotak kebaya putih, perlahan, seolah menutup kembali bagian paling lembut dari dirinya.

"Pantau mereka," katanya. "Jangan bergerak sampai kita tahu siapa yang memberi mereka akses."

Amy mengangguk. "Baik, Nona."

Bella menunggu.

Mei Li menatap layar CCTV, matanya kembali dingin.

Di luar, lampu ruang kerja Arka masih menyala.

Di layar, orang-orang Max sudah berada di Jakarta.

1
Hagia Sophia
sukaa bgt sama ceritanya.. semangat kak... 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!