Ayu Lestari tidak pernah bermimpi menjadi miliarder. Sebagai chef muda di hotel bintang lima Jakarta, hidupnya sudah cukup sibuk — memasak rendang untuk tamu-tamu kaya sambil merindukan kampung halaman di Sumatera Barat yang sudah lama ia tinggalkan.
Tapi takdir punya rencana lain. Undian berhadiah dari sebuah bank nasional menghadiahkannya 50 miliar rupiah. Jumlah yang bisa membeli apartemen mewah, mobil sport, dan kehidupan glamor seumur hidup.
Ayu memilih pulang kampung.
Di Nagari Sungai Tanang, ia merenovasi rumah gadang peninggalan keluarga, membuka Restoran Padang dengan resep warisan ibunya, dan memulai channel TikTok yang tak disangka-sangka viral. Nenek Sari yang gila belanja online dan Datuk Harun yang pendiam menyambutnya dengan tangan terbuka — bersama seekor Golden Retriever, dua anjing lain, dan tujuh ekor kucing.
Lalu datanglah Raka Pratama.
Pria Jawa berkacamata ini memesan homestay Ayu untuk "mencari inspirasi menulis." Kenyataannya? Ia sedang melarikan diri dari keluarga yang berantakan — ayah yang menikah lagi, ibu tiri yang manipulatif, dan luka masa kecil yang tak pernah sembuh. Di NovelMe, ia dikenal sebagai KentangGila, penulis novel romantis dengan jutaan pembaca. Di dunia nyata, ia bahkan tidak berani memesan makanan sendiri.
Ayu yang blak-blakan bertemu Raka yang pemalu. Chef yang jago masak bertemu pria yang bisa membakar air. Pewaris tradisi Minangkabau bertemu anak Jakarta yang tidak tahu cara makan dengan tangan.
Tapi di balik perbedaan mereka, ada kesamaan yang lebih dalam: dua orang yang kehilangan orang tua terlalu cepat, dan sedang belajar bahwa "rumah" bukan soal alamat — tapi soal siapa yang menunggumu di depan pintu.
Antara sawah hijau, aroma rendang, dan pertengkaran soal siapa yang cuci piring malam ini — cinta tumbuh pelan-pelan. Dan kali ini, Ayu tidak perlu undian untuk tahu bahwa ia sudah menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
Lebih Cepat Pulang
Hari kedua tanpa Raka, Ayu mulai kesal pada dirinya sendiri.
Bukan karena restoran kacau. Restoran tetap berjalan. Pesanan baralek tetap ia urus. Konten tetap ia unggah. Nenek Sari tetap mengomel tentang cabai yang kurang pedas untuk tamu dari Padang. Datuk Harun tetap membuat Teh Talua dengan takaran yang sama. Semua normal.
Justru karena semuanya normal, Ayu makin sadar ada satu suara yang hilang.
Tidak ada langkah pelan turun dari tangga setelah magrib.
Tidak ada pertanyaan sopan, "Mbak Ayu, ada yang bisa saya bantu?"
Tidak ada laki-laki berkacamata yang duduk di meja pojok, mengetik dengan wajah serius lalu diam-diam tersenyum saat Nenek memarahi Luna.
Pada malam kedua, Ayu menatap kamar nomor tiga dari halaman dan menghela napas panjang.
"Kalau kangen, telepon," kata Nenek Sari dari belakang.
Ayu hampir melompat. "Nek! Jangan muncul diam-diam."
"Nenek jalan biasa. Kamu yang pikirannya jauh."
"Ayu tidak kangen."
"Nenek belum bilang siapa."
Ayu langsung masuk restoran dengan alasan mengecek kulkas. Nenek tertawa kecil di belakangnya, terdengar puas seperti orang yang baru memenangkan permainan kartu tanpa uang.
Raka memang mengirim kabar. Pesannya selalu rapi.
`Saya sudah sampai Jakarta.`
`Kontrak selesai besok pagi.`
`Dendengnya enak. Saya makan dengan nasi hangat di kos.`
`Luna masih mencari saya?`
Ayu membalas seperlunya, atau setidaknya ia berusaha terlihat seperlunya.
`Masih. Dia pikir Kak Raka kabur dari utang makan.`
Balasan Raka datang cepat.
`Saya akan membayar dengan cuci piring saat pulang.`
Ayu membaca pesan itu sambil tersenyum sendirian. Lalu ia sadar tersenyum, dan langsung meletakkan ponsel terbalik di meja.
Pada hari ketiga, Raka seharusnya masih di Jakarta. Ia bilang mungkin pulang besok atau lusa, tergantung jadwal editor. Ayu sudah menyiapkan dirinya untuk satu malam kosong lagi.
Menjelang asar, hujan turun tipis. Restoran sepi. Ayu sedang memeriksa stok ayam di freezer ketika Angin menggonggong pendek dari halaman, disusul Luna yang tiba-tiba berlari seperti melihat keajaiban.
"Luna!" teriak Ayu, keluar dari dapur.
Ia berhenti di ambang pintu.
Di depan gerbang, Raka berdiri dengan ransel hitam di bahu, koper kecil di samping kaki, dan dua kantong besar di tangan. Rambutnya sedikit basah terkena gerimis. Kemeja abu-abunya kusut setelah perjalanan, tapi senyumnya muncul begitu melihat Ayu.
"Saya pulang lebih cepat," katanya.
Pulang.
Kata itu seharusnya bukan miliknya di rumah ini.
Namun ketika Raka mengucapkannya, Ayu tidak langsung mengoreksi.
Luna sudah lebih dulu menghukum Raka dengan menjatuhkan hampir seluruh berat tubuhnya ke kaki laki-laki itu. Raka tertawa sambil mencoba menjaga kantongnya agar tidak jatuh.
"Luna, saya cuma pergi tiga hari."
Anjing itu menggonggong seperti tidak menerima alasan.
Ayu berjalan mendekat, berusaha membuat wajahnya biasa. "Katanya besok atau lusa."
"Dokumennya selesai lebih cepat. Editor saya ada rapat mendadak, jadi pertemuan dipercepat. Saya pikir..." Raka berhenti sebentar. "Lebih baik kembali."
"Karena naskah?"
"Iya. Dan karena kamar nomor tiga lebih tenang."
Jawaban itu aman. Terlalu aman.
Ayu mengangkat alis. "Cuma kamar nomor tiga?"
Raka menatapnya, lalu menunduk ke Luna. "Dan karena Luna bisa menyimpan dendam kalau saya terlalu lama."
"Alasan yang masuk akal."
Nenek Sari keluar dari rumah dengan langkah cepat. "Nak Raka! Sudah pulang?"
Raka segera menegakkan badan. "Iya, Nek. Maaf mendadak."
"Bagus. Kalau mendadak pergi baru masalah. Mendadak pulang tidak apa-apa."
Raka tersenyum dan menyerahkan salah satu kantong. "Saya bawa oleh-oleh dari Jakarta. Tidak banyak."
Nenek menerima, lalu membuka sedikit isinya. Matanya langsung membesar.
"Ini abon sapi kemasan yang Nenek lihat di Shopee?"
"Iya. Mbak Ayu pernah bilang Nenek suka lihat-lihat tapi belum checkout."
Ayu menoleh tajam. "Kak Raka ingat itu?"
"Saya kebetulan mendengar."
"Kebetulan ingat juga?"
Raka tampak malu. "Mungkin."
Nenek sudah tidak peduli pada percakapan mereka. Ia sibuk memeriksa kantong lain. Ada kopi bubuk untuk Datuk, vitamin sendi yang pernah Nenek sebut sambil lalu, beberapa buku resep lama dari toko buku bekas, dan mainan kunyah untuk Luna.
Datuk Harun keluar saat mendengar namanya disebut. Raka menyerahkan kopi dengan kedua tangan.
"Untuk Datuk. Katanya Datuk suka kopi tubruk yang tidak terlalu asam."
Datuk menerima, membaca label sebentar, lalu mengangguk.
"Terima kasih."
Itu saja. Tapi bagi Datuk, itu sudah pidato panjang.
Raka lalu mengeluarkan kantong terakhir, lebih kecil dari yang lain.
"Ini untuk Mbak Ayu."
Ayu refleks menatap Nenek, seolah butuh saksi. "Untuk saya?"
"Iya. Bukan barang besar." Raka menyerahkan kantong itu. Di dalamnya ada sekotak jeruk manis premium yang dibelinya di bandara Jakarta, dibungkus rapi agar tidak rusak. "Mbak Ayu pernah bilang suka jeruk."
Ayu memegang kotak itu, lalu berusaha memasang wajah biasa. "Kak Raka ini pergi ke Jakarta atau jadi notulen semua ucapan orang?"
"Saya penulis. Mendengar termasuk pekerjaan."
"Jeruk di sini juga banyak."
"Kalau begitu ini jeruk yang terlalu jauh merantau."
Nenek Sari tertawa keras. Ayu ingin ikut tertawa, tapi dadanya terlalu penuh oleh sesuatu yang kecil dan manis.
Ayu melihat semua itu dengan dada yang aneh. Raka bukan sekadar membawa oleh-oleh mahal. Barang-barang itu kecil, tapi tepat. Ia mendengar. Ia mengingat. Ia memperhatikan orang-orang di rumah ini seolah mereka penting.
"Kak Raka repot sekali," kata Ayu, suaranya lebih pelan.
"Tidak. Saya senang memilihnya."
Nenek Sari melirik Ayu, lalu melirik Raka, kemudian tersenyum dengan cara yang membuat Ayu ingin menyembunyikan wajah di balik kulkas.
Malam itu, rumah terasa kembali penuh. Raka makan di meja biasa. Nenek menanyakan Jakarta seperti wartawan. Datuk membuka kopi baru meski hari sudah malam. Luna tidur di bawah kursi Raka, memastikan laki-laki itu tidak menghilang lagi.
Setelah makan, Raka benar-benar membantu mencuci piring.
Kali ini busanya tidak sebanyak dulu.
"Ada kemajuan," kata Ayu.
"Saya belajar dari kritik dapur."
"Bagus. Besok naik level ke mengelap meja."
"Saya siap."
Ayu tertawa, dan suara itu membuat Raka menatapnya lebih lama daripada yang ia rencanakan.
Di luar dapur, hujan berhenti. Udara malam masuk lewat jendela kecil. Ayu berdiri di samping Raka, mengeringkan piring yang ia cuci. Jarak mereka sopan, tapi jauh lebih dekat daripada sebelum Raka pergi.
"Jakarta melelahkan?" tanya Ayu.
Raka mengangguk. "Bising."
"Cuma tiga hari."
"Ternyata cukup untuk membuat saya sadar saya lebih ingin berada di sini."
Tangan Ayu berhenti di atas lap.
Raka seperti baru sadar ucapannya sendiri. Ia cepat-cepat menambahkan, "Maksud saya, untuk menulis."
"Tentu," kata Ayu, terlalu cepat.
Mereka sama-sama diam.
Di ambang pintu, Nenek Sari melintas sambil membawa kantong abon, pura-pura tidak melihat apa pun.
Tapi senyumnya mengatakan ia melihat semuanya.