NovelToon NovelToon
Obsesi Adik Ipar

Obsesi Adik Ipar

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta Terlarang / Obsesi / Tamat
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Yolanda Liem baru 23 tahun ketika menjadi janda.

Suaminya—Kevin Liem, putra sulung keluarga konglomerat Liem—meninggal karena sakit setelah lima tahun pernikahan tanpa cinta (dan tanpa konsumasi). Yola memilih tetap tinggal di mansion keluarga, mengurus rumah tangga, dan menjalani masa berkabung dengan tenang.

Sampai Rayhan Liem kembali.

Adik iparnya. CEO Liem Group. Pria paling dingin dan berbahaya di Jakarta.

Rayhan menatapnya bukan seperti kakak ipar. Tatapannya gelap, posesif, dan penuh rahasia. "Sejak kapan kau melihatku seperti itu?" tanya Yola dengan suara gemetar. Rayhan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum — senyum yang membuat Yola ingin berlari.

Dan Yola memang berlari. Dua kali.

Tapi Rayhan selalu menangkapnya kembali.

Di antara ciuman paksa dan pengorbanan diam-diam, di antara luka pisau yang ditanggung demi Yola dan rahasia yang tak pernah ia ucapkan — Yola mulai mempertanyakan segalanya.

Apakah ini obsesi? Atau cinta yang sudah terlalu lama ditahan?

Ketika akhirnya ia berdiri di depan nisan Kevin dan berkata, "Aku sudah jatuh cinta pada orang lain" — apakah dunia akan memaafkannya?

⚠️ Peringatan: Mengandung adegan dewasa (steamy), hubungan possessive, dan grey-area consent di beberapa chapter. HE guaranteed.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 029

Di Dekat Kolam

Rayhan berdiri di dekat kolam.

Lampu taman jatuh di separuh wajahnya. Separuh lainnya tertinggal dalam gelap. Kemeja putihnya masih sama seperti di hotel, hanya lengannya kini digulung sampai siku. Di pergelangan tangannya ada bekas merah tipis, mungkin dari saat ia mencengkeram Marco terlalu keras.

Yola berhenti beberapa langkah darinya.

"Pak Rayhan."

Rayhan menatap jas hitam yang tergantung di lengan Yola, lalu turun ke pergelangan tangannya yang sudah diberi salep.

"Dokter bilang apa?"

Tidak ada salam. Tidak ada penjelasan kenapa ia berada di taman seolah memang menunggunya. Hanya pertanyaan itu.

"Tidak ada tulang yang retak."

"Sakit?"

"Sedikit."

Rayhan bergerak seperti ingin mendekat, tetapi berhenti sebelum jarak mereka terlalu pendek. Gerakan itu kecil, namun Yola melihatnya.

Ia tidak tahu harus merasa lega atau semakin takut.

"Kenapa kamu di luar?" tanya Rayhan.

Yola melihat air kolam. Pantulan lampu bergerak pelan di permukaannya.

"Saya butuh udara."

"Sari tidur?"

"Di depan kamar."

"Harusnya kamu membangunkannya."

Yola mengangkat mata. "Untuk apa? Agar semua hal yang saya lakukan malam ini tetap ada penjaganya?"

Rayhan diam.

Kalimat itu keluar lebih tajam daripada yang Yola rencanakan. Ia seharusnya berterima kasih. Ia tahu itu. Rayhan sudah melindunginya di hotel, membatalkan pertunangan, menanggung amarah Hendra Tan. Namun rasa terima kasih dan sesak ternyata bisa hidup di dada yang sama.

Rayhan menatapnya lama.

"Aku tidak menyuruh Rizal menjagamu agar kamu merasa terkurung."

"Tapi itu yang terjadi."

Angin malam bergerak di antara mereka.

Daun basah bergesekan pelan. Dari dalam mansion, tidak ada suara. Seolah seluruh rumah memberi ruang bagi pertengkaran yang tidak boleh didengar siapa pun.

Rayhan berkata, "Kalau malam ini tidak ada Rizal, tidak ada Sari, tidak ada Ardi, kamu mungkin masih berada di hotel itu dengan cerita yang mereka buat untukmu."

"Saya tahu."

"Kamu tidak terdengar seperti tahu."

Yola menatapnya. "Karena tahu bukan berarti saya tidak boleh marah."

Sesuatu berubah di wajah Rayhan. Bukan tersinggung. Lebih seperti ia baru menyadari bahwa rasa takut Yola tidak berhenti hanya karena orang yang menakutinya sudah dihukum.

Yola mengulurkan jas hitam itu.

"Ini milik Anda."

Rayhan melihat jas itu, tetapi tidak mengambilnya.

"Pakai dulu."

"Saya sudah di rumah."

"Malam masih dingin."

"Jakarta tidak sedingin itu."

"Yola."

Namanya terdengar berbeda di mulut Rayhan. Tidak seperti panggilan staf, tidak seperti Celine yang mengucapkannya penuh racun, tidak seperti Naomi yang cepat dan hangat. Di mulut Rayhan, namanya terdengar seperti sesuatu yang sudah lama disimpan.

Yola menggenggam jas lebih erat.

"Jangan panggil saya begitu."

Mata Rayhan menggelap. "Harus bagaimana aku memanggilmu?"

Pertanyaan itu terlalu pelan.

Terlalu dekat dengan sesuatu yang tidak seharusnya dibuka.

Yola menelan ludah. "Seperti biasa."

"Kak Yola?"

Kata itu jatuh di antara mereka.

Kak.

Satu suku kata yang seharusnya menjadi dinding.

Namun dari bibir Rayhan malam itu, dinding itu terdengar retak.

Yola tiba-tiba teringat Kevin.

Kevin yang bahkan ketika sakit dan menggigil tetap mengetuk pintu kamarnya dari luar, menunggu jawaban sebelum masuk. Kevin yang pernah berkata, pernikahan tanpa rasa aman hanya membuat dua orang tinggal di ruangan yang sama sebagai orang asing. Kevin tidak pernah menuntut Yola menjadi istri dalam arti yang tidak bisa ia berikan kembali.

Karena itu kata kakak ipar bukan hanya status bagi Yola.

Itu sisa pagar terakhir dari pernikahan yang dulu melindunginya.

Dan Rayhan berdiri terlalu dekat dengan pagar itu.

Yola mundur setengah langkah. "Ya. Karena memang itu tempat saya."

"Tempatmu?"

"Di keluarga ini. Di depan orang lain. Di depan Mama." Suara Yola bergetar, tetapi ia memaksa setiap kata keluar. "Saya janda Kevin. Saya kakak ipar Anda. Semua orang malam ini sudah bertanya kenapa Anda membatalkan pertunangan karena saya. Jangan membuat pertanyaan itu punya jawaban yang lebih buruk."

Rayhan tidak langsung bicara.

Air kolam di belakangnya bergerak ketika angin lewat.

"Mereka akan bertanya apa pun yang mereka mau," katanya akhirnya.

"Mudah bagi Anda mengatakan begitu."

"Tidak mudah."

"Anda Rayhan Liem. Kalau orang bicara, Anda bisa membuat mereka diam."

"Aku tidak bisa membuatmu diam."

Yola tertegun.

Rayhan seolah juga menyadari kalimat itu keluar terlalu jujur. Rahangnya mengeras, tetapi ia tidak menariknya kembali.

"Saya tidak sedang melawan Anda," kata Yola.

"Tapi kamu selalu mundur."

"Karena Anda selalu maju."

Kali ini heningnya tajam.

Rayhan melangkah satu langkah.

Yola tidak bergerak, tetapi tubuhnya menegang.

Rayhan berhenti lagi. Tangannya terkepal di sisi tubuh, seolah ia sedang menahan diri dengan seluruh tenaga yang tersisa dari malam panjang itu.

"Aku tidak menyesal membatalkan pertunangan."

"Saya tidak meminta Anda menyesal."

"Aku juga tidak menyesal mematahkan tangan Marco."

"Saya tahu."

"Tapi kamu menatapku seperti aku membuat hidupmu lebih sulit."

Yola tertawa kecil, lelah dan nyaris patah. "Karena memang begitu."

Wajah Rayhan berubah.

Yola langsung menyesal, tetapi kalimat itu sudah jatuh. Ia sudah terlalu lelah untuk memungutnya.

"Malam ini saya hampir dijadikan bahan skandal," lanjutnya, lebih pelan. "Lalu Anda menyelamatkan saya dengan cara yang membuat semua orang bertanya apakah saya alasan Anda meninggalkan tunangan Anda. Saya berterima kasih. Sungguh. Tapi saya juga takut."

"Takut padaku?"

Yola menatapnya.

Jawaban yang jujur berdiri di tenggorokannya.

Ya.

Takut pada Marco berbeda dengan takut pada Rayhan. Marco membuatnya ingin lari. Rayhan membuatnya tidak tahu ke mana harus lari.

Yola tidak menjawab.

Rayhan memahami diam itu sebagai jawaban.

Ia tersenyum tipis, tanpa senang. "Setelah semua yang kulakukan malam ini, kamu tetap takut padaku."

"Justru karena semua yang Anda lakukan."

Jarak di antara mereka terasa semakin pendek meski kaki Rayhan tidak bergerak.

Yola menaruh jas hitam itu di bangku taman terdekat.

"Saya harus kembali ke kamar."

Ia baru berbalik satu langkah ketika Rayhan berkata, "Kalau aku membiarkanmu pergi, besok kamu akan kembali menatapku seperti orang asing."

Yola berhenti.

"Kita memang tidak seharusnya menjadi lebih dari itu."

Di belakangnya, napas Rayhan berubah.

"Katakan lagi."

Yola memejamkan mata sebentar, lalu berbalik. "Kita tidak seharusnya menjadi lebih dari kakak ipar dan adik ipar."

Rayhan mendekat.

Kali ini ia tidak berhenti.

"Pak Rayhan," suara Yola turun menjadi peringatan.

Rayhan menatap bibirnya, hanya sepersekian detik, tetapi Yola melihatnya. Jantungnya menghantam dada.

"Jangan," bisiknya.

Rayhan mendengar.

Namun malam itu, mendengar tidak cukup untuk membuatnya mundur.

Ia mengangkat tangan, berhenti di sisi wajah Yola tanpa menyentuh, seolah masih ada bagian dirinya yang mencoba meminta izin terlambat. Napas Yola tersangkut.

Lalu Rayhan menunduk dan mencium Yola.

1
Nia Nara
Dalam budaya chindo, belum pernah nemu adik ipar menikahi cici ipar (soso)nya. Menikahi koko iparnya (cihu), di generasi mama saya masih ada. Generasi saya tidak pernah saya dengar lagi.
Nia Nara
Thor, bakcang gak afdol kalau gak pake daging babi, setidaknya itu di keluarga saya. Jarang yg suka ayam kecuali saya 🤣
Nia Nara
Pas baca festival makan bakcang, baru ngeh ini cerita keluarga chindo ya.. Liem.. Tan… baru ngeh 😄
Nia Nara
Apa Rayhan sudah ada rasa jauh sebelum Yola jadi istri Kevin ya?
👣Sandaria🦋
novel yg benar-benar tidak bisa membuatku berhenti👍
👣Sandaria🦋
tiga bab sehari, Author. pliss🤗😅
Lily
keknya seru nih
👣Sandaria🦋
Novel ter-epic yg kubaca di 2026 ini👍
up lagi, Author. banyak-banyak!😅
👣Sandaria🦋
seharusnya Adrian bilang "silahkan panik!" 🤣
👣Sandaria🦋
gaya tulisan authornya punya aura magis😅
👣Sandaria🦋
wow. sepertinya aku jatuh cinta dengan cerita ini, Kak😍
Fitri Yastuti
lanjutt kak, lg seru ini
Fitri Yastuti
bagus ceritanya, nm bahasanya jg bgus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!