Mitos dilangkahi adik perempuan menikah, merupakan momok yang menakutkan bagi Bening Embun Pagi. Belum lagi anggapan orang-orang yang akan melabelinya sebagai perawan tua, begitu menkutkan baginya.
keadaan yang membuatnya sangat terdesak ini, membuat Bening akhirnya, mengambil jalan pintas, dengan menjebak pria incarannya di coffee shop miliknya.
Sayangnya penjebakan itu berujung petaka bagi hidup bening, pria yang masuk dalam jebakannya bukanlah pria idamannya melainkan seorang pengusaha perkebunan teh asal Kota Kembang Bandung yang terkenal dengan sifatnya yang arogan.
Bagaimanakah nasib Bening selanjutnya? apakah ia akan menikah dengan pria idamannya atau justru terjebak pernikahan dengan pria arogan yang masuk perangkapnya?
Cerita selengkapnya hanya ada di novel Salah Sasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Ketika jalanan melebar, Bening menjajarkan kudanya dengan Surya. "Perkebunanmu indah sekali," ucapnya sembari melihat sekeliling. "Perkebunan ini begitu luas."
"Ya," sahut Surya tanpa melihat ke arah Bening, tatapannya tetap tertuju pada jalanan di depannya.
Surya terlihat begitu pelit berbicara, namun Bening tidak menyerah. "Sepertinya kau punya cukup banyak sapi dan domba." Bening melihat hewan-hewan itu berkeliaran di area perkebunan.
"Ya cukup banyak," Surya mengangguk.
Suasana kembali hening, hal ini justru membuat Bening tertantang untuk menaklukan kekakuan Surya. "Bagaimana jika kita meningkatkan kecepatan?"
"Maksudnya?"
Bening tersenyum. "Maksudku, melarikan kuda ini dengan cepat," sahut Bening. "Aku dan kudaku sudah tidak sabar." Ia memacu kudanya agar lebih kencang, sementara Surya sama sekali tidak menambah kecepatan, pria itu kini berada di belakang Bening.
Kuda yang di tunggangi Bening bersemangat mematuhi keinginan Bening, bahkan ketika Bening mengarahkan kudanya mengitari Surya dalam lingkaran besar, dan Surya mengamati Bening dengan pasif.
"Sayang, apa kuda ini punya nama?" seru Bening pada Surya dengan riang.
"Sky," jawab Surya singkat.
"Nama yang bagus."
"Ya, lebih baik daripada nama minuman untuk seekor anak anjing."
Bening terbahak mendengar ucapan Surya. "Tapi tadi malam saat aku menanyakan pedapatmu, kau setuju dengan nama itu." Ia mengekangi kudanya agar menurunkan kecepatannya dan kembali berjajar dengan Surya. "Apakah kau tidak mau tahu, dari mana aku mendapatkan kemampuan berkuda sebagus ini?"
"Tidak."
"Tapi aku akan tetap memberitahumu, bahwa aku mendapatkan kemampuan ini dari instruktur terbaik di Surabaya," ujar Bening. "Aku dan saudara-saudaraku sering ikut balapan kuda, bahkan aku pernah memenangkan lomba pacuan kuda. Mereka menjulukiku Sang Lady." Bening kembali tertawa.
Surya menatap Bening dengan tatapan heran.
Bening kembali memacu kudanya dengan membuat putaran mengelilingi Surya. "Aku pikir cerita itu bisa membuatmu tertarik."
"Aku sudah tahu, aku pernah melihatmu dalam lomba itu," ucap Surya, ia menatap jalanan di depannya.
"Kalau kau tahu mengapa kau meremehkan aku?"
Surya hanya diam, pria itu bahkan tidak melihat ke arah Bening.
"Demi Tuhan, kenapa kau tidak mau bicara denganku?" Kesabaran Bening hampir habis menghadapi suaminya yang begitu dingin dan irit bicara.
"Kau menungguku bicara?" tanya datar.
"Ya tentu saja, aku bertanya padamu dan menunggu jawabanmu. Aku bukan burung beo yang hanya mengoceh sendirian, aku perlu tahu mengapa kau meremehkanku padahal kau sendiri pernah melihatku di pacuan kuda?"
Senyum tipis akhirnya muncul di wajah Surya. "Itu karena aku khawatir padamu." Ia memacu kudanya kebih cepat, mendahului Bening.
Bening terdiam mendengar ucapan suaminya, di balik sikapnya dingin ternyata Surya mengkhawatirkannya. Bening tersenyum malu-malu, kemudian ia memacu kudanya lebih cepat untuk menyusul suaminya yang sudah berada beberapa meter di depannya. "Sayang, tunggu!!"
Saat Bening berhasil sejajar dengan suaminya, mereka melihat para petani teh yang bekerja. "Selamat pagi," sapa Surya ramah.
"Selamat pagi, Tuan." para petani itu membungkuk seraya memberi hormat kepada Bening.
Surya menarik tali kuda untuk menghentikan lajunya. "Kalian sedang memetik teh?" tanyanya.
"Iya Tuan, hari ini pemetikan produksi."
Bening yang merasa jika para petani tak mengenalnya, menyentuh ringan tangan Surya. "Apa kau tidak ingin mengenalkan aku dengan para pekerjamu?"
Surya mengerutkan keningnya, kemudian ia menatap para pekerjanya. "Kenalkan ini istriku, Nyonya Magenta."
Wajah Bening berseri-seri menatap mereka. "Senang bertemu dengan kalian, aku harap kalian bisa mampir ke rumah."
Para petani saling pandang, dengan wajah herannya. " Terima kasih, Nyonya," ucap salah satu dari mereka. "Kami doakan semoga kalian bahagia selalu. Maaf kami tidak tahu jika Tuan sudah menikah."
"Ya." Surya menjawab tak lebih dari itu.
"Kami baru menikah," Bening menambahkan, lalu meraih tangan Surya. Surya berusaha untuk mengelak, namun Bening mencengkram pergelangan tangan Surya dengan erat. "Kami sebenarnya ingin mengadakan pesta pernikahan besar-besaran tapi karena kita saling tergila-gila, maka kami langsung menikah."
Perkataan itu membuat Bening mendapatkan remasan keras di tangannya, namun Bening balas meremas tangan pria itu. "Kami berniat mengadakan pesta di rumah kami, kalian semua di undang."
Sekarang Surya meremas tangan Bening lebih kuat hingga membuat wanita itu meringis kesakitan.
"Oh!" ucap salah seorang petani sembari tersenyum. "Terima kasih banyak Nyonya, itu pasti sangat menyenangkan."
"Kami akan pergi supaya kalian bisa kembali bekerja," ucap Surya sembari melirik ke arah Bening. "Aku harus membawa istriku pulang."
Bening membalas tatapan Surya, ia melihat kilatan di mata suaminya, namun wanita itu mengabaikannya. "Senang berjumpa dengan kalian," ucap Bening dengan ramah dan riang.
"Selamat pagi." Surya menarik kuda Bening sembari memacu kudanya untuk berbelok ke arah kediamannya. Ketika mereka mulai menjauh, Bening membalik tubuhnya dan melambaikan tangannya kepada para petani tadi.
Para petani pun membalas lambaian tangan Bening dengan senyuman, kemudian Bening menatap Surya. "Tidak bisakah kita bercengkrama lebih lama dengan mereka, sepertinya mereka penasaran dengan pernikahan kita yang terkesan mendadak?"
"Kita saling tergila-gila?" ulang Surya tak percaya sembari menatap langit.
"Apa kau mau mengatakan yang sebenarnya kepada mereka?"
"Tidak akan pernah! Bahkan aku tidak akan pernah menceritakan apa pun tentang hidupku kepada mereka."
"Mereka orang-orang yang mengerjakan perkebunanmu, setidaknya bersikaplah ramah kepada mereka, dengan memperkenalkan istrimu yang tidak mereka tidak kenal."
"Urusan aku dengan mereka hanya sebatas pekerjaan, aku tidak suka membahas urusan pribadi," Surya menarik tali kekangnya menurunkan kecepatan kudanya.
"Kau memang tidak suka bicara dengan siapa pun karena sifat pemalumu..."
"Sifat apa?" raung Surya, ia langsung menoleh ke arah Bening.
"Sifat pemalu."
"Aku sama sekali tidak pemalu, aku hanya tidak suka bercakap-cakap hal yang tidak penting apa lagi menyangkut urusan pribadi."
"Mengenalkan aku sebagai istrimu bukanlah hal pribadi yang harus di tutupi!" Bening meninggikan nada bicaranya, ia memacu kudanya dengan kecepatan tinggi, hingga meninggalkan Surya jauh di belakang.
Surya yang begitu khawatir dengan istrinya, ikut memacu kudanya dengan lebih cepat, sebab ia tahu Sky begitu liar dan sulit di kendalikan.
Surya menghembuskan napas lega ketika sampai di depan gerbang, ia melihat istrinya berderap masuk ke kediamannya. "Hei Nyonya Magenta!" teriaknya dengan kencang hingga membuat Bening menoleh ke arah gerbang.
"Apa kau melupakan anak anjing nakalmu?" tanya dengan nada meledek.
semoga sukses selalu karya karyanya 🤲
begitulah mereka