Arsyila Almahira, seorang mahasiswi tingkat pertama yang berprestasi tetapi mengalami kejadian pahit. Tersebarnya video scandal itu membuat dirinya harus pergi jauh dari ibukota. Ayahnya bahkan mengusirnya dari rumah dan tak lagi menganggapnya anak.
Arsyila memutuskan untuk merubah penampilannya menjadi wanita bercadar. Ia berpindah kuliah di universitas Islam dengan jurusan berbeda dari sebelumnya. Ia juga tinggal di pesantren untuk memperdalam ilmu agamanya. Jujur, kejadian yang menimpanya membuatnya sedikit trauma dan berniat untuk memperbaiki diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode.22
#Update santai saja ya gaess ... Mohon pengertiannya#
.
.
Setelah kejadian ini, Arsyila memutuskan untuk kembali ke pesantren lebih cepat. Malam ini ia sudah berkemas. Niatnya besok ia akan pergi. Arsyila tak ingin mendengar sesuatu yang mungkin saja membuatnya terluka kembali. Ia memilih melarikan diri.
“Semoga besok papah mengizinkanku pergi,” gumam Arsyila lalu ia keluar dari kamarnya karena merasa haus. Arsyila sengaja tak memakai cadarnya karena saat ini berada di dalam rumah. Namun, ia tetap memakai jilbabnya.
Sesampainya di dapur, Arsyila melihat seorang lelaki sedang membuka kulkas. Dari postur tubuhnya lelaki itu terlihat masih muda. Sepertinya bukan papahnya atau pun bukan pekerja rumahnya.
“Siapa kamu? Kenapa ada di rumahku?” tanya Arsyila dari arah belakang lelaki itu.
Lelaki itu yang tak lain anak dari Bu Fitri menoleh dan kini menatap Arsyila. Ia menatapnya cukup lama karena sepertinya terpesona. Sedangkan Arsyila mengernyitkan keningnya heran.
“Hei,” ucap Arsyila sehingga menyadarkannya.
“Cantik,” kata itu yang pertama kali keluar dari mulut Alvin.
“Ditanya malah bengong. Ah sudahlah.” Arsyila mengabaikannya lalu ia mengambil minum tanpa memedulikan lelaki yang masih saja memandangnya.
“Kamu siapa?” tanya Alvin.
“Aku Cila, anak dari yang punya rumah ini. Seharusnya aku yang tanya, kamu itu siapa? Kenapa bisa ada si rumahku?”
“Saya Alvin anaknya Bu Fitri,” ucap Alvin.
“Oh, jaga pandangan!” Lalu Arsyila beranjak pergi dari sana.
Alvin masih menatap kepergian Arsyila tanpa mengedipkan matanya sedikit pun.
“Kalau tahu adik tiriku secantik itu, dari dulu pasti aku mau tinggal disini. Ah sayang sekali dulu aku menolak,” gumam Alvin menyesali keputusannya dulu.
Sesampainya di kamar Arsyila langsung mengunci kamarnya. Apalagi di rumah itu sekarang ada orang asing, tentu ia harus berhati-hati.
‘Apa di rumah juga harus pakai cadar? Ah untung saja besok aku kembali lagi ke pesantren. Jadi, tidak harus berlama-lama satu rumah dengan lelaki itu,’ batin Arsyila.
Alvin yang hendak kembali ke kamar, menghentikan langkahnya saat melihat ibunya baru keluar kamar. “Mah, ada yang ingin Alvin katakan.”
“Apa sih? Kamu terlihat serius sekali?” tanya Bu Fitri.
Alvin menarik tangan ibunya sehingga kini mereka berada di ruang keluarga. “Kenapa mamah tidak bilang kalau adik tiriku cantik sekali. Kalau tahu begini dari dulu aku ikut tinggal sama mamah.”
“Kamu suka sama Cila? Lebih baik jangan deh, karena dia bukan gadis lagi,” ucap Bu Fitri.
“Jadi dia sudah menikah?”
“Belum, kamu seperti tidak tahu saja pergaulan anak jaman sekarang.”
“Tapi sepertinya dia anak baik-baik,” ucap Alvin sambil menilai apa yang ia lihat.
“Ah sudahlah mamah malas kalau harus bahas dia. Mamah ke kamar dulu.” Bu Fitri meninggalkan Alvin yang masih bergelut dengan pikirannya.
....
....
Seperti niatnya kemarin, setelah selesai sarapan Arsyila mengutarakan keinginannya kepada papahnya. Tentu Pak Wira tak mengizinkannya karena masih belum puas bertemu dengannya. Alvin pun berada di pihak Pak Wira dengan alasan masih ingin mengakrabkan diri dengan adik tirinya itu.
“Pah, Cila minta maaf tetapi Cila ingin kembali hari ini juga. Cila ingin menenangkan diri,” ucap Arsyila yang kini raut wajahnya berubah sendu.
“Kamu habis putus cinta? Atau keluarga dari calonmu itu tidak merestuimu?” Bu Fitri tampak menebak.
“Anggap saja apa yang mamah katakan itu benar,” ucap Arsyila.
Saat tahu perasaan anaknya sedang tak baik-baik saja, Pak Wira tak lagi menahannya untuk tinggal. Mungkin dengan pergi ke pesantren memang bisa membuat suasana hati Arsyila jauh lebih baik.
“Baiklah jika itu keputusanmu, Nak. Papah harap kamu selalu sehat dan dalam keadaan baik disana,” ucap Pak Wira.
“Terima kasih sudah mengizinkan Cila pergi, Pah. Insya ’Allah Cila bisa menjaga diri dengan baik disana,” ucap Arsyila.
“Mau saya antar?” tanya Alvin menawarkan diri. Sebenarnya ia ingin lebih dekat dengan Arsyila.
“Tidak usah, Mas. Cila pergi sendiri saja,” tolaknya.
“Cila, kakakmu punya niat baik loh. Lagian nantinya kalian berdua bisa saling mengakrabkan diri,” ujar Pak Wira yang tampak mendukung.
“Pah, kita bukan mahram, jadi Cila nggak mau pergi berdua saja,” tolaknya.
Pak Wira menuruti keinginan putrinya jika memang ingin pergi sendiri. Namun, sebagai syaratnya Pak Wira meminta alamat lengkap pondok pesantren tempatnya tinggal. Arsyila langsung memberitahukan alamat pesantren yang ia tinggali.
“Jadi papah sudah setuju kan kalau Cila berangkat hari ini? Nanti Cila berangkat siang saja naik Travel, Pah. Soalnya kalau naik Bus nanti sampai sana malam dan susah cari ojek buat antar ke pesantrennya,” ujar Arsyila.
“Iya, Nak. Biar biayanya papah yang tanggung,” ucap Pak Wira.
Alvin berpamitan kepada yang lainnya lalu ia pergi ke kamar. Mengambil beberapa lembar uang miliknya yang ia tabung dari kerja sampingan. Alvin kembali menghampiri keluarganya.
“Dek, ini ada sedikit uang untuk jajan kamu,” ucap Alvin sambil menyodorkan uang kepada Arsyila.
“Buat kakak saja kan kakak juga masih sekolah,” ucap Arsyila yang merasa tak enak.
“Terima saja, kakak kerja kok.” Alvin terlihat memaksa.
Arsyila menerima uang itu. “Terima kasih, Kak.”
“Sama-sama,” ucapnya sambil tersenyum ramah.
Bu Fitri memperhatikan gerak-gerik anaknya. Sepertinya anaknya menyukai Arsyila. Sebenarnya Bu Fitri tak suka, tetapi ia harus pura-pura senang dengan kedekatan mereka untuk memperlancar rencananya.
“Wah kalian ini kalau di lihat-lihat cocok juga. Benar begitu kan Pah?” ucap Bu Fitri lalu menatap suaminya.
“Mereka itu saudara, Mah,” ucap Pak Wira.
“Cuma saudara tiri, Pah. Jika berjodoh ya tidak masalah kan.”
Arsyila terlihat tak nyaman dengan pembahasan mereka. Ia berpamitan pergi ke kamar untuk beristirahat.
...
...
Pak Haris menemukan ponsel di dekat buah-buahan yang dibawa Arsyila. Ia mencoba melihat layar ponsel itu dan ternyata terpampang foto Arsyila. Pak Haris menyembunyikan ponsel itu agar istrinya tak melihatnya.
Seharian ini Pak Haris menunggu Arsyila tetapi tidak kembali juga. Padahal tadi pagi saat berkunjung Arsyila hanya berpamitan sebentar membeli minum, tetapi tak kembali juga. Berbeda dengan Bu Ratih yang sama sekali tak menanyakan keberadaan Arsyila. Tentu karena Bu Ratih yang lebih percaya dengan Kyai Irsyad selaku kakaknya. Bu Ratih percaya semua yang di katakan kakaknya itu benar.
Sedangkan Pak Haris, ia masih bisa menilai jika Arsyila itu baik. Walaupun ia juga mendengar cerita Kyai Irsyad, tetapi Pak Haris yakin jika memang benar Arsyila bukanlah gadis suci, pasti ada alasan di balik itu semua. Arsyila tidak terlihat seperti wanita nakal di matanya.
Tok tok
Pak Haris mendengar pintu ruangannya ada yang mengetuk. Lalu muncullah Adam yang datang sendirian. Adam mendekati papahnya yang sedang duduk di ranjang pasien, sedangkan mamahnya terlihat sedang tidur.
“Pah, apa kabar papah hari ini? Maaf ya Adam baru datang karena sibuk mengerjakan tugas kuliah. Walaupun Adam izin tidak masuk, tetapi tetap harus mengerjakan tugas agar tak tertinggal pelajaran,” ucap Adam.
“Kabar papah baik, Nak. Tetapi ada yang kurang baik.” Pak Haris menghela napasnya.
“Apa itu, Pah?”
Pak Haris mulai bercerita tentang kehadiran Arsyila dan cerita Kyai Irsyad mengenai Arsyila yang sudah tak suci lagi. Hingga Arsyila yang tak kembali setelah berpamitan pergi untuk membeli minum. Pak Haris juga menyerahkan ponsel milik Arsyila yang tertinggal di meja.
“Pah, jangan-jangan Cila mendengar semua pembicaraan kalian. Mungkin saja Cila hendak kembali dengan tujuan ingin mengambil ponsel yang tertinggal tetapi dia malah mendengar kalian membicarakannya. Bisa saja dia sengaja pergi karena malu. Lagian apa sih maunya itu Om Irsyad, dulu saat Arsyila dan Kak Ilham saling cinta, eh malah Kak Ilham di jodohkan. Kak Ilham juga lemah banget, lebih memilih perjodohan keluarga dari pada wanita yang dia cintai.” Adam mengepalkan satu tangannya karena kesal.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan, Nak?”
“Adam akan tetap menikahi Arsyila,” jawab Adam.
“Itu tidak akan terjadi!” sahut Bu Ratih yang ternyata sejak tadi menyimak pembicaraan mereka. Kebetulan Bu Ratih sudah bangun sejak mendengar suara orang bercerita yang tak lain suami dan anaknya.
“Mah, jangan paksa anak kita! Biarlah dia memilih sendiri pendamping hidupnya,” ucap Pak Haris.
“Pah, tapi mamah ingin anak kita menikah dengan lelaki yang belum terjamah lelaki lain, bukan seperti Arsyila itu,” ujar Bu Ratih.
“Kenapa selalu Arsyila yang disalahkan? Pertama dia harus pindah dari kampus yang lama karena tuntutan mahasiswa lain. Lalu orang tuanya mengusirnya dari rumah sehingga ia pergi ke pesantren dan memperdalam ilmu agama disana. Yang ketiga, dia selalu di sudutkan dan seolah tak pantas bersanding dengan Kak Ilham yang di gadang-gadang begitu alim oleh semua santri. Lalu sekarang, Om Irsyad berusaha memisahkanku dengan Arsyila. Memangnya apa salahnya? Dia hanya korban disini. Dia begitu kuat dan tangguh. Adam jadi merasa bersalah.” Adam mengusap air matanya yang menetes begitu saja.
“Apa maksudnya? Kamu jangan membela wanita itu!” ucap Bu Ratih penuh penegasan.
“Jika kalian mau memutuskan, tentu yang tak pantas itu Adam. Adam yang pengecut ini tak pantas untuk Cila, bukan dia yang tak pantas untukku. Adam yang bersalah, karena Adam yang telah menodainya disaat Adam mabuk dan dia juga terpengaruh obat perangsang. Disini kami hanya di jebak, tetapi selalu dia yang mendapatkan tanggapan negatif dari sekitar. Sedangkan Adam, untuk menjelaskan bahwa Adam yang telah menodainya juga tidak,” jelas Adam dengan semua rasa penyesalannya.
“Apa yang kamu katakan itu benar?” Pak Haris terlihat kecewa.
“Benar, Pah,” ucap Adam lalu ia menunduk.
Plak
Pak Haris menampar sebelah pipi Adam. Rasanya ia gagal dalam mendidik anaknya. Sedangkan Bu Ratih sejak tadi terisak, merasa bersalah kepada Arsyila.
“Adam, kamu harus bertanggung jawab. Kamu datangi rumah orang tua Arsyila lalu meminta maaf. Sebaiknya kamu juga langsung melamarnya,” ujar Pak Haris memberikan usul.
“Tapi Adam tidak tahu dimana rumah orang tuanya,” ucap Adam.
“Papah tahu, dia anak dari rekan bisnis papah. Sinih ponselmu, biar papah tuliskan alamatnya.”
Adam menyerahkan ponselnya lalu papahnya menuliskan alamat tempat tinggal Pak Wira. Lalu Adam berpamitan kepada orang tuanya sekaligus meminta doanya agar Pak Wira mau memaafkan sekaligus menerimanya sebagai calon suami Arsyila.
Bu Ratih memandang kepergian anaknya dengan kesedihan.
“Maafkan mamah, Nak. Jika mamah tahu cerita yang sebenarnya mungkin mamah akan langsung merestuimu dengan Arsyila,” gumam Bu Ratih tetapi masih terdengar oleh suaminya.
“Mamah yang sabar ya, semoga saja Cila mau memaafkan sikap mamah dan mau menerima Adam kembali,” ucap Pak Haris yang mencoba menenangkan.
“Amin, Pah.”
hahaha 🤣🤣🤣
kamana wae eta .. 🤣🤣🤣
🤣🤣🤣
saudaranya mungkinn . atau adiknyaa . 🤣🤣🤣🤣🤣
org tua ga tau apa manten baru
pake nannya lagi ga buka pntu lama ngapain . 😝😝😝😝
habs ini apalgi konflik nyaa . 🤣🤣 seruu yaaa.