Bahaya!
Seorang gadis manis menjual dirinya sendiri pada kakak iparnya. Kirana namanya dia mendapat perlakuan sadis dari sang suami yang menyuruhnya menjadi wanita malam.
Kirana tidak pernah di sentuh oleh suaminya, sehingga hubungan terlarang antara dirinya dan kakak iparnya perlahan menjadi sebuah kerangka cinta.
Mampukah cinta mereka meruntuhkan norma, dan membebaskan Kirana dari cengkeraman suaminya?
Simak kisah lengkapnya dalam Novel Pelacur tapi Perawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersama
Suasana siang itu sangat indah dengan warna jingga yang nampak indah di upuk mata, semilir angin menghembus halus memghempas beban yang seolah menaungi kegelapan selama ini, wajah manis berambut panjang dengan kulit putih dan tubuh mungil nan indah itu melangkah dengan pasti.
Kirana menatap langit dan menyeret sebuah koper besar, di sampingnya berdiri seorang anak remaja yang beriringan bersamanya.
"Kak biar aku saja." Pinta remaja itu dengan wajah super tampannya merebut koper sang Kakak, ya dialah Keenan.
"Waah.. adik ku ini sudah besar ya?" Kirana memeluk Keenan dari sampingnya.
"Kakak, aku sudah besar jangan seperti ini, ini memalukan!" Bantah Keenan mengibaskan tangan sang kakak.
Selama 5 tahun mereka melarikan diri dari dunia mereka, awalnya Kirana hanya berencana akan meninggalkan kota itu selama kurang dari satu tahun namun melihat bagaimana Alvin berjuang menjadi salah satu orang terkaya di dunia membuat Kirana pamit dan bersumpah akan kembali setelah 5 tahun, dan tepatnya hari itu.
"Apa kabar kak Alvin ya?" Keenan berbisik pada Kirana yang sontak membuat wajah Kirana memerah, Kirana memang sangat merindukan Alvin dan dia sangat tersiksa selama ini karena jauh dari Alvin.
"Ah.. aku sudah tahu jawabannya kau sangat merindukannya kan kak?" Usil Keenan menyenggol lengan sang Kakak.
"Berisik!" Kirana berjalan cepat meninggalkan Keenan, nampak di luar seorang pria menjemput mereka.
"Ran?" Bisik pria itu Kirana tersenyum bahagia dan berlari ke arah pria tersebut, Kirana memeluk pria tersebut dan menjatuhkan satu kecupannya di bibir pria tersebut yang tak lain adalah Alvin.
"Kita pulang ya?" Bisik Alvin, Kirana mengangguk mengikuti langkah Alvin menggandeng tangan pria itu, bersamaan dengan itu seorang remaja menepuk pundak Alvin.
"Hai kakak ipar?" Keenan nyengir kuda, Alvin terkekeh dan mengacak acak rambut Keenan yang berwarna hitam serta kulit putih itu terkekeh bersama.
"Kau makin besar Keenan, aku benar benar kalah saing sekarang." Alvin mencapit leher Keenan di ketiaknya, dia memoles kepala Keenan.
"Aw.. sakit kak!" Keenan berontak dan merapikan kembali rambutnya yang berantakan.
"Ya ampun, kau sangat perfeksionis adik, hahahahha..." Alvin tertawa melihat kelakuan sang adik, akhirnya mereka berjalan dalam sebuah kendaraan mewah.
Mereka melesat membelah keramaian kota siang itu, Kirana merasa dirinya sangat beruntung memiliki sosok pria seperti Alvin, orang yang sabar dan sangat mencintainya.
Mereka sampai di sebuah rumah mewah yang sangat tidak asing bagi mereka, Kirana di sambut hangat oleh seisi penghuni rumah, drama air mata terjadi di sana. Semua orang merasa senang karena Nyonya rumah itu akhirnya kembali.
"Nyonya kami sangat merindukan anda." Seorang pria yang tidak lain adalah kepala pelayan datang menghampiri Kirana, Kirana tersenyum lembut.
"Terimakasih semuanya sudah menyambut ku, apa kabar?" Mendengar sapaan dari Kirana mereka semua akhirnya menangis berjamaah, wajah Kirana memerah penuh haru dia memeluk para pelayannya dan semua pelayan pun akhirnya mengerumuni Kirana memeluknya satu demi satu, berbeda dengan para penjaga yang malah menangis sambil berdiri.
"Kalian tidak punya malu ya?" Singgung Keenan yang mana saat itu hidungnya saja sudah memerah akibat terharu, semua penjaga menatap Keenan dan mereka juga beberapa kali sempat memergoki Keenan mengusap air matanya.
"Tuan muda..." Teriak semua penjaga dan tanpa permisi langsung berebut memeluk Keenan, Keenan kewalahan dan akhirnya tertawa bersama para penjaga.
"Kita gak boleh cengeng woi!" Keenan seraya menangis, tertawa, dan marah yang membuat remaja itu nampak sangat menggemaskan.
"Tuan muda kau sudah besar sekali." Mata para Penjaga itu nampak berbinar binar menatap Keenan, Keenan yang merasa bingung mengerutkan keningnya.
"Mereka meminta oleh oleh adik." Bisik Alvin di telinga Keenan yang nampak masih belum mengerti dengan maksud para penjaga itu. Keenan menepuk jidatnya, siapa yang memeberi contoh seperti ini pada para penjaga, dia melirik Alvin yang terkekeh.
"Cih, pria ini memang sangat menyebalkan." Bisik Keenan bersungut sungut tidak jelas, dia mengeluarkan sumpah serapahnya dalah hati pada pria yang tak lain calon kakak iparnya itu.
"Jangan mengutuk ku seperti itu Keenan, kau akan menyukai ku nanti." Keenan membelalakan matanya dengan kedua alis terangkat.
"Gak salah denger ni telinga?" Keenan mendekatkan telinganya ke wajah Alvin membuat Alvin tertawa.
"Tidak adik!" Teriak Alvin yang sontak membuat semua orang tertawa menatap mereka dan Keenan menutup telinganya karena tiba tiba suara itu mampu membuat telinganya berdengung.
"Kakak laknat! Sial kau!" Keenan mengejar Alvin yang mana pria itu tiba tiba berlari, sontak semua orang tertawa dengan kelakuan mereka yang sangat mirip seperti anak kecil yang berebut mainan tersebut.
"Kalian kenapa hahahah..." Momy tertawa melihat kelakuan kedua orang yang nampak tertawa bersama.
"Momy jangan lepaskan kakak laknat itu, sial!" Keenan mencapit Alvin di ketiaknya sama dengan ketika Alvin melakukan itu pada Keenan di Bandara.
"Hahahah ampun adik sayang maaf.." Alvin tertawa bersamaan dengan Keenan, yang sama tertawa. Kirana yang baru masuk ke rumah langsung menarik tangan Keenan dan membawa Alvin.
"Jangan menyiksa pacar ku, dasar adik bodoh!" Kirana menapak tangan Keenan dan membawa Alvin masuk ke kamarnya yang semula.
"Sayang, kau tidak merindukan ku?" Kirana menekan dada Alvin ke belakang pintu dan menerkam pria itu.
"Tentu saja." Alvin menarik pinggang Kirana sedangkan Kirana sendiri melingkarkan tangannya di leher Alvin, mereka saling bertatap-an cukup lama hingga rasa rindu mereka meluap dan tanpa sadar air mata Kirana menetes.
"Jangan menangis sayang, kita tidak akan terpisahkan lagi." Alvin menarik Kirana ke dalam pelukannya dan merasakan bagaimana wanitanya itu menangis sesegukan.
Setelah Kirana tenang, dia menunduk dan merogoh sesuatu dari saku celananya, dia membuka sebuah kotak dan menunduk memperlihatkan sebuah cincin cantik berwarna biru laut.
"Sayang ku Kirana, maukah kau menikah dengan pria ini. Pria yang mencintai mu, dan sangat menanti mu sayang." Kirana menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Aku cinta kamu Alvin ku sayang." Bukan menerima cincin itu Kirana justru menghamburkan tubuhnya ke pelukan Alvin dan mengecup bibir pria itu sekilas.
"Hahah.. kau merusak momen indah ku sayang." Alvin memeluk Kirana dan mengeratkan pelukannya, mereka berdua merasakan dada mereka sesak yang membuat Alvin buru buru menjauh dari Kirana.
"Kenapa menjauhi ku sayang?" Kirana bertanya dengan wajah yang bingung karena Alvin tiba tiba menjauhinya.
"Aku tidak apa apa, hanya saja aku takut kebablasan. Kamu terlalu menggoda." Alvin menyembunyikan wajahnya yang memerah dengan tangannya. Kirana terkekeh melihat perubahan sikap Alvin dan tersenyum misterius, dia berencana mengerjai Alvin.
Mbak baru mau maraton lagi dikarya kak Nuah yang sudah tamat
ceritanya bagus👍👍