NovelToon NovelToon
Suamiku Seorang Presdir

Suamiku Seorang Presdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.8M
Nilai: 5
Nama Author: Darmayanti

Diana seorang gadis yang tidak pernah kenal siapa orangtua kandungnya bertemu dengan Adi Pramono seorang Presdir secara tidak sengaja bertemu di taman.

****

"Diana." Teriak Beni cukup keras sehingga orang-orang melihat Beni.

Diana tersentak kaget mendengar suara papanya yang cukup keras, tiba-tiba rasa takut menghampirinya.

"Apa papa marah padaku, tidak pernah papa teriak sekeras itu padaku." pikir Diana.

Beni berjalan dengan sangat cepat, dan terlihat Meri tersenyum sangat manis pada Beni.

Seketika Meri merasa ketakutan melihat Rudi masuk bersama polisi. Beni dan Rudi telah melaporkan kejahatannya pada polisi dan bukti yang mereka miliki tidak bisa disangkal Meri meskipun kejadian bertahun-tahun yang lalu.

Meri marah pada Beni karena Diana dan akhirnya melampiaskan kemarahannya dengan mengatakan semua rahasia yang selama ini ditutupi Beni.

"Anak haram, kamu itu anak haram Diana." ucap Meri membuat Diana terkejut dan terpukul hingga memutuskan untuk lari menjauh dari mereka semua. Diana terus berlari sampai dia lelah dan akhirnya berhenti di sebuah taman dan menangis tersedu.

"Hapus air matamu. Kau mau disini terus atau ikut denganku?" ucapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darmayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode dua tiga

"Non tunggu non."

Diana tidak mendengar bi Senum memanggilnya. Dia terus setengah berlari keluar karena lapar.

"Anak itu, cepat sekali dia hilang." gumam bi Senum.

Dengan cepat bi Senum segera memberi kabar pada Beni.

Tok... Tok.... Tok

"Pak... Pak.. Pak Beni.."

"Iya, tunggu sebentar." sahut Beni dari dalam kamarnya.

Ceklek, pintu terbuka.

"Ada apa bi?"

"Anu pak , itu non Diana keluar katanya cari makan pak dia lapar."

"O, dia bilang cari makannya kemana?"

"Nggak pak."

"Oh baiklah, saya akan mencarinya."

Sementara itu, Diana yang tengah berlari keluar penginapan sibuk celingak celinguk kanan kiri bingung ke arah mana dia cari makan.

"Bukankah itu, anak yang bersama Beni kemaren. Sepertinya tak sia-sia aku menunggu lama disini." gumamnya.

Orang tersebut keluar hendak berpas-pasan dengan Diana dan dia dengan sengaja menabrakan tubuhnya pada Diana.

Bruk.....

"Oh maaf mbak, maaf kan saya. Saya tidak lihat mbak, karena buru-buru."

"Oh nggak apa-apa bu, saya tidak apa-apa."

"Terimakasih ya mbak, oh ya kenalkan nama saya Meri."

"Saya Diana Bu."

Keduanya saling berjabat tangan dan Diana tidak sedikitpun menaruh curiga pada perempuan itu.

"Diana, nama yang cantik. Oh ya berapa umurmu sekarang?"

"17 buk, umur saya 17 sekarang lagi menunggu kelulusan sekolah."

"Oh, pantas wajah mu masih imut-imut,

Panggil saya tante Meri saja ya. Kamu mau kemana?"

"Ini tante, saya mau cari makan tapi masih mikir mau ke arah mana." sambil nyengir Diana menjawab pertanyaan Meri.

"O sama gitu, kalau begitu kamu mau ikut saya cari makan?"

"Boleh tante."

Kemudian mereka berdua naik ke mobil Meri dan pergi ke restoran didekat penginapan yang kebetulan Meri tahu.

"Oh ya, papa dan mama mu mana?"

"Papa saya ada di penginapan tante kalau mama...." lama Diana terdiam tidak melanjutkan ucapannya dan matanya tiba-tiba sendu.

"Oh tidak apa jika kamu tidak ingin cerita, ayo kita sudah sampai. Tante sudah lapar banget nih."

"Iya tante, Diana juga."

Kemudian mereka berdua keluar dari mobil dan masuk ke restoran untuk makan.

"Silahkan pesan apa yang kamu mau Diana, tante yang traktir."

"Oke tante, terimakasih lho. Eh tapi nanti jangan kaget ya, masalahnya selera makan Diana sangat baik lho takutnya nanti tante kebanyakan bayarinnya." ucap Diana sambil tertawa kecil.

"Hahaha." Meri malah tertawa mendengar ocehan Diana.

Kamu lucu juga ya Diana, ya sudah kamu mau makan berapa banyak silahkan."

"Tante yang bilang lho bukan Diana yang minta."

"Hahahaha."

Mereka tertawa kompak.

"Awas saja kamu Diana, sekarang kamu bisa tertawa tapi lihat nanti kamu akan menangis dan saya akan memisahkan kamu dari Beni sama seperti ibumu yang tidak tahu diri itu." gumam Meri pelan.

Diana yang merasa mendengar sesuatu tapi nggak jelas bertanya.

"Apa tante, tante ngomong sesuatu?" tanya Diana.

"Ah enggak kok, kamu ini telingganya terlalu nyaring."

Selesai mereka makan, Meri mengajak Diana ngobrol.

"Diana, kayaknya kamu bukan orang sini deh."

"Iya tante, aku kesini sama papa dan bibi mau ketemu sama mama." jawab Diana

"Terus udah ketemu mamanya?"

"Anu tante, mama saya sudah ketemu tapi.... Mama saya sudah nggak ada, saya hanya ketemu sama makam yang ditunjukkan papa." jawab Diana sambil terisak.

"Yang sabar ya Diana, Tante turut berduka." ucap Meri dengan wajah sedikit mengiba.

"Oh ya kalau tante boleh tahu, siapa orang tuamu?"

"Nama mama saya Lily, dan papa Beni tante."

Deg.... Jantung Meri serasa berhenti mendengar pengakuan Diana.

"Tak salah lagi berarti ini anak Diana. Huh ibu sama anak sama saja. Lihat saja nanti aku akan hancurkan anakmu Lily." pikir Meri.

"Tante nggak apa-apa?"

"Oh eh iya, tante nggak apa-apa, cuma tante sedikit mengingat-ingat nama orang tuamu sepertinya tante kenal mereka."

"Serius tante, tante kenal sama mama dan papa."

"Iya, mereka berdua teman lama tante. Apa mamamu tiada sejak kamu dilahirkan?"

"Iya tante, kata papa seperti itu."

"O." jawab Meri pendek. Kemudian dengan sangat hati-hati Meri mulai meracuni pikiran Diana.

"Oh ya apa kamu tahu kapan papa dan mamamu menikah?"

"Itu Diana nggak tahu tante, emang kenapa?"

"Nggak ada, tante cuma menerka aja."

"Menerka apa tante?"

"Itu, tapi ini tante juga kurang yakin lho Diana, seingat tante ketika mamamu masuk rumah sakit dalam keadaan kritis dan waktu itu usia kandungan mamamu sepertinya sudah mau melahirkan dan tante rasa papa dan mamamu belum menikah." ucap Meri polos sambil minum jus nya.

"Maksud tante apa bicara seperti itu? Tante jangan bicara omong kosongya." ucap Diana dengah nada sedikit membentak.

"Tenang Diana, tante cuma menerka tidak pasti jadi kamu tak perlu marah. Lagi pula kejadiannya sudah sangat lama mungkin tante sudah tidak ingat." jawab Meri tanpa merasa bersalah.

1
abu😻acii
kok yg hamilin belum kelyar
Praised93
Membaca sampai Bab 22 isinya tak nyambung dengan judulnya jadi stop berhenti bacanya
Memyr 67
ibunya flora wanita hebat. berani mengakui kesalahannya, yg membuat anaknya celaka. diana tidak punya ibu yg membimbingnya, jadi bodoh, keras kepala, dan ceroboh.
Memyr 67
adi udah tau diana bodoh, kenapa masih mau? kalau mau sama cewek bodoh, ya terima aja, prilaku bodohnya itu, yg menjengkelkan, nggak usah kesel. gimana sih ni cerita? tokoh utamanya membagongkan semua karakternya.
Memyr 67
adi dah tau diana bodoh, malah mau memberi posisi bagus di perusahaannya, apa nggak bikin repot nantinya, diana?
Memyr 67
emang bener nglunjak tu anak haram. udah bodoh, nggak tau diri lagi
Memyr 67
diana anak yg bodoh dan keras kepala. memang biasanya karakter keras kepala seseorang, membuat dia bodoh dan ceroboh. jadi, jangan suka keras kepala ya?
Memyr 67
meri jahat dan licik begitu, memang beni bakalan mau? jangankan beni, cowok manapun, kalau tau ceweknya jahat dan licik, langsung ditinggal.
Eva kusrini
akhirnya ketemu juga novelnya... dicari cari nonggol juga
Chakira Silaban ❤️❤️❤️
thor 😭😭😭😭😭
Chakira Silaban ❤️❤️❤️
bawang ny banyak sekali Thor 😭😭😭😭
Chakira Silaban ❤️❤️❤️
tisu mna tisu 😭😭😭
Bundany Wuwit
jangan ada pelakor donk thor
Bundany Wuwit
gadis bodoh terus lh nyebut ny
triana. L
nona. bucin
Darmayanti Tauceng
maaf para pembaca novel suamiku seorang presdir.
lagi vakum nulis novelnya, sekali lagi maafya. mgkn nanti dilanjutkan lagi 🙏🙏🙏
Dewi Murni Manurung
thour koh tdk up....
Dewi Murni Manurung
koh lama up nya thour
Abadi Sitepu
lanjut
Dewi Murni Manurung
😭😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!