Aku yang terjebak hubungan terlarang di luar nikah dan di tipu kekasihku yang membawaku kabur dari rumah ke kota, Tiba-tiba di lamar dan di nikahi oleh seorang Polisi yang terpaut 9 tahun lebih tua dariku. Polisi yang membantuku pulang ke rumah dan berdamai kembali dengan ayah.
Menjalani Pernikahan kilat dengan seorang pria asing yang sama sekali belum ku kenal sebelumnya, demi menebus dosa pada ayah yang sudah ku buat sedemikian hina.
"Kenapa kakak mau menikahi dan bertanggung jawab untuk seseorang yang tidak kamu kenal dengan baik?" ~ Karunia
"Karena aku tahu rasanya tidak punya orang tua." ~Anta Reza
meski begitu dia bukan sosok yang sempurna, dia memiliki kelemahan permanen yang membuatku akhirnya paham bahwa tidak ada seorang pria mau menikahi wanita asing yang mengandung anak dari orang lain dengan sukarela, sebagaimana pemikiran orang lain pada umumnya. hingga akhirnya aku mengetahui, bahwa ia memiliki alasan lain yang lebih masuk akal, selain dari yang telah dia ucapkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon unchihah sanskeh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 - Aku Benci Anta Reza!
...****************...
"Katakan padaku bahwa kamu masih mencintaiku."
"Aku masih mencintaimu. Tapi, ada beberapa hal yang tak bisa ku sampingkan."
"Itu bukan anakmu, kan? Kalau begitu tinggalkan dia!" Tanya mbak Isma kepada Kak Anta.
"Ya, tapi ..."
Kak Anta melirikku yang ada di belakangnya, menatapku dengan penuh iba lengkap dengan raut wajahnya yang penuh duka. Dan ketika ku tangkap sorot mata itu, aku tak bisa berbuat apa pun selain hanya tersenyum. Tersenyum untuk melepaskan yang dari awal memang bukan milikku, mengembalikan dia pada pemilik hatinya yang sesungguhnya.
Dengan gerakan anggun sekaligus maskulin yang sangat menyakitkan untuk ku cermati, Kak Anta menghampiriku, mengambil tangan kananku lalu tiba-tiba dia menanggalkan cincin kawin kami dari jemari manisnya dan meletakkan benda sakral itu di telapak tanganku.
"Maaf, karena aku tak bisa belajar mencintaimu."
Tubuh kak Anta yang jangkung membuat gerak-geriknya terkesan ringan. Aku mengalihkan tatapan dari Kak Anta, tetapi semakin sulit berada di dekat pria ini tanpa menginginkan pelukan darinya. Walau sekadar pelukan terakhir ... sementara cincin itu tersembunyi, hilang dalam kepalan tanganku.
"Aku bisa mengerti, kak. Kembali lah pada Mbak Isma." Kataku sambil berusaha tersenyum.
Berusaha tersenyum dan mengikhlaskannya, sementara tubuhku menjerit mendambakan sentuhan Kak Anta yang bisa meluluhlantakkanku. Jika aku tidak mengakhiri siksaan itu sekarang juga.
"Waktumu tidak banyak, Pergilah Kak. Mbak Isma menunggumu di sana."
Kak Anta menuruti perintah ku, dia memutar badannya bahkan sebelum aku mampu memeluknya untuk yang terakhir kali. Dia pergi menjauh sebelum aku sempat mengatakan bahwa aku menginginkan dia selamanya;
"Kamu mencintaiku kan, Mas?" Pekik Mbak Isma di ujung sana. Mendengar panggilannya itu, Kak Anta mempercepat langkah kakinya, dia berlari menghampiri kekasih hatinya itu.
Begitu sampai, dia menarik pinggang Mbak Isma, bagai sambaran petir yang cepat. Kak Anta memeluk tubuhnya, mencium pipinya bertubi-tubi, dan dia pun memutar tubuh Mbak Isma di udara, sementara Mbak Isma tenggelam dalam dadanya, memeluk tubuhnya erat agar tidak terjatuh. Menggambarkan gairah kerinduan yang sama hebatnya. Dan di tengah-tengah mereka itu, aku terbakar menjadi debu, melayang-layang di udara.
"Kamu masih mencintaiku, Isma?"
Ya kak, aku begitu mencintaimu, aku sangat mencintaimu.
Tanyakan kalimat itu padaku juga Kak Anta. Ku pastikan akan menjawabnya dengan lantang.
Mbak Isma mengangguk penuh haru.
"Kalau begitu katakan dengan lantang sambil berdiri di atas meja ini."
"Di atas meja?" Tanya Mbak Isma padanya.
"Ya, agar semua orang tahu bahwa kamu mencintaiku, dan aku juga begitu. Agar semua orang tahu bahwa kita adalah sepasang yang tak terpisahkan. Agar semua orang tahu, bahwa sejauh apa pun kita terpisah, cintamu hanyalah milikku." Kak Anta menjawab dengan tersenyum.
"Baiklah. Kalau begitu bantu aku naik ke atas meja." Kata Mbak Isma.
Lalu dengan sigap Kak Anta membantu dia naik ke atas meja. Pertama dia, berdiri di kursi. kemudian Kak Anta memegang pinggangnya agar tidak goyah. Mbak Isma naik ke atas meja dan berdiri layaknya malaikat yang sesungguhnya.
"Aku mencintaimu Mas Reza, selamanya akan terus mencintaimu. Kamu adalah milikku dan hatiku ini sepenuhnya adalah milikmu."
Di saat itulah seluruh indraku mati, jantungku berhenti berdebar seketika itu. Kemesraan mereka tak lain bagai Semerbak bunga beracun yang membunuhku.
Aku terdiam, tak bisa bernapas. Kemudian tiba-tiba tanpa gerakan yang tak terduga, Kak Anta menarik tangan Mbak Isma hingga dada mereka saling merapat. Oh, Siapa pun tolong bawa lah aku pergi, atau malaikat cabutlah nyawaku sekarang. Lebih baik mati sekarang sebab Aku tak sanggup melihat kemesraan mereka.
Dan ketika mereka ingin berciuman, dari arah yang tidak jauh terdengar seseorang mengagetkan ku.
"Karunia Avisha,"
"Kania, sadarlah."
Kak Anta berlutut di hadapanku dengan raut wajah yang masygul. Dimana aku? Apakah aku sudah mati sungguhan? syukurlah, rupanya Tuhan masih menyayangiku. Setidaknya aku masih bisa melihat wajah Kak Anta, walau sudah di alam baka.
"Kamu ini, mengapa selalu membuatku khawatir! Aku sampai pecahkan kaca jendela karena melihat kamu tergeletak di lantai."
Akhirnya, sadarlah aku dalam mimpi buruk yang menghanyutkan. Mimpi yang terasa begitu nyata sampai menyakitiku ke dalam-dalam.
"Lihat!" Kak Anta menunjuk ke arah jendela yang kacanya sudah hancur berantakan.
"Kenapa kakak sampai begitunya. Lepaskan! Jangan menyentuhku."
Mataku menghindar dari sorot matanya yang dalam. Seakan ada begitu banyak pertanyaan dan ucapan yang ingin ia lontarkan. Tetapi, jauh lebih dalam dari itu ... di balik tatapannya yang tajam, terdedah ekspresi penuh duka.
"Aku tidak perduli, Kamu boleh marah padaku tapi sebelum itu aku ingin kamu makan dulu."
Dengan tanpa terduga, dan gerakan cepat yang tak bisa ku hindari. Kak Anta mengambil kaki ku dan menaikkan tubuhku di samping pinggulnya.
Kami saling berhadapan. Aku di gendong romantis dengan posisi gendong depan. Sekarang aku tidak kesulitan lagi untuk mendapati tiap detail wajahnya, karena kini posisi tinggi kami tak jauh berbeda. Wajahku merah padam, jantung ku berdetak kencang saat memperhatikan detail wajah Kak Anta yang sempurna. Pahatan hidungnya yang bagus di atas garis bibir yang sempurna, seimbang dengan latar belakang rahang yang kokoh dan menawan.
Namun begitu aku tenggelam dalam kesempurnaannya, ingatan tentang peristiwa yang terjadi beberapa jam yang lalu, kembali menyakitiku. Membenamkanku dalam Kesakitan yang tak berujung.
"Lepas! Lepaskan aku Kak!"
Aku memberontak dalam kuasa tubuhnya. Ku pukul-pukul dada bidangnya yang menakjubkan. Tapi alih-alih menuruti kehendakku, dia malah semakin erat mengangkat tubuhku.
Kak Anta baru menurunkan tubuhku saat kami sampai di meja makan. Dia mendudukkan ku di atas meja, di tengah-tengah kedua tangannya yang memblokade tubuhku dari kiri dan kanan.
"Diam sebentar saja! dengarkan aku, ya. Kamu boleh lanjut marah padaku, setelah makan dan minum susu."
Dia menatapku lekat-lekat. Dan lagi-lagi aku tak mampu untuk menerima sorot mata itu. Tidak akan sanggup... Aku hanya diam sambil berpaling muka.
"Luka?" Tiba-tiba dia menarik lengan kananku, "Bekas gigitan? Kamu menggigit tangan sendiri?"
Menyadari itu, sontak aku berusaha menarik lenganku dari kuasanya, namun ototnya jauh lebih hebat dan kuat dari yang ku duga. Setelah menatapku beberapa saat, dia menarik tanganku hingga dadaku merapat ke dadanya. Dia segera memelukku, sentuhan yang baru pertama kali ku dapatkan dari dia, suamiku.
"Maafkan aku karena bersikap kasar. Aku menyesal karena tak memberimu waktu untuk bicara. Maafkan aku karena menyakitimu." bisiknya di telingaku.
Jantungku berpacu cepat dan hebat, bagai seekor kuda liar yang berlomba, rasanya jantungku mau copot. Perasaan berdebar itu kian kencang ketika ku sadari Air mata memenuhi mataku dan mulai berjatuhan.
"Aku benci Kak Anta!" Kataku.
Lantas ku angkat dagu ke bahunya. Dan dengan tanpa ragu, serupa seekor Vampir yang kelaparan. Ku gigit bahu kekarnya Kuat-kuat, ku lepaskan kekesalan, amarah dan kecewa ku padanya seketika itu juga.
"Iya, tak apa. Aku pantas mendapatkannya. Luapkan sampai kamu puas, asalkan setelah itu kamu maafkan aku."
Begitulah dia berusaha Kuat di depanku, menahan sakit.
...****************...
Hai Besstt...
Selamat malam, jangan lupa mampir ke sini yak 😊🤙👇