°•°Serial Detektif/Kriminal°•°
Novel lanjutan dari CLBK [Cinta Lama Belum Kelar].
Alangka baiknya membaca novel tersebut di atas, sebelum membaca novel ini. Agar bisa mengikuti lanjutan kisah 'Kasus Selokan' dan 'Asmara' serta 'Problem Hidup' dari tokoh-tokohnya.
Tawa dan tangis seiring sejalan dalam hidup seseorang. Tidak selamanya ada tangis, tidak selamanya tertawa. Semuanya silih berganti menghiasi hidup. Itulah romantika kehidupan'.
Mampukah Kaliana sang detektif dan 'Team Sopape' bisa menolong Chasina yang telah ditahan sebagai pelaku pembunuhan?
Bagaimana dengan 'Kasus Hati' Marons dan Kaliana? Siapakah yang akan menyelesaikan kasus ini?
"Kebenaran selalu menemukan jalannya, untuk menolong setiap orang yang berjalan di jalan-Nya."
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Warna Sari 4.
...~•Happy Reading•~...
Pak Adolfis dan Bryan mengangguk mengerti apa yang disampaikan oleh Kaliana. Mereka bersyukur, bisa ikut dalam pemeriksaan saksi oleh Kaliana. Jadi sedikit banyak mereka memiliki gambaran tentang persidangan yang akan dihadapi oleh Chasina dan Karpin.
"Baik, Bu Kaliana. Untuk kami bisa mengingatkan Karpin, Ibu tolong beritahukan kami tentang apa yang dilakukan Chasi dan juga Karpin. Dari tadi kami ikuti, kami belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa Karpin yang jadi saksi dalam kasus ini." Pak Adolfis bertanya untuk menjawab rasa penasarannya.
"Chasi meminta Karpin tinggal di rumah ini tanpa mengatakan, kenapa dia harus tinggal di rumah dan tidak boleh keluar dari sini." Pak Adolfis berkata lagi dan Bryan hanya menyimak sambil memperhatikan Kaliana.
"Baik, Pak Adolfis. Saya akan menyampaikan garis besarnya saja, mengapa Pak Karpin diminta tinggal di sini dan tidak boleh berhubungan dengan orang lain." Kaliana ingat permintaannya kepada Chasina, setelah acara gelar perkara. Supaya Chasina mengamankan sopirnya di rumah orang tuanya.
"Saya juga akan menyampaikan garis besar saja, mengapa Bu Chasina menjadi terdakwa dalam kasus pembunuhan ini." Kaliana berkata lagi setelah pelayan mengantarkan minuman dan cemilan untuk mereka.
"Sebagaimana Pak Adolfis tahu, Bu Chasina dituduh membunuh istri Pak Marons. Bukti yang memberatkan adalah, karena Ibu Chasina orang terakhir yang bertemu dengan korban sebelum tewas. Itu sudah diakui oleh beliau sebelum penangkapan." Kaliana menjelaskan dengan serius, membuat Pak Adolfis dan Bryan terhenyak.
'Chasi sudah mengakui bertemu dengan orangnya?' Pertanyaan itu berputar di kepala Pak Adolfis dan Bryan.
"Saat kejadian itu, Pak Karpin yang mengantar Bu Chasina dan korban. Jadi yang tahu kejadian sebenarnya adalah Pak Karpin sebagai sopir dan Ibu Chasina yang memintanya untuk menjemput korban." Kaliana meneruskan penjelasannya dan berharap Pak Adolfis dan Bryan bisa mengerti penjelasannya.
"Jadi hanya mereka berdua yang tahu, apa yang terjadi dalam pertemuan itu, dan juga korban. Selain mereka bertiga, tidak ada lagi yang tahu. Semua bukti pelaku pembunuhan mengarah kepada Ibu Chasina." Kaliana memberikan penjelasan dan gambaran kasus Chasina.
"Alasan pertemuan Ibu Chasina dengan korban, karena korban berhubungan dengan suaminya..." Kaliana tidak meneruskan ucapannya, karena Pak Adolfis dan juga Bryan memotong ucapan Kaliana hampir bersamaan.
"Silahkan, Daddy." Bryan mempersilahkan Pak Adolfis berbicara, tetapi dia menahan emosinya. Bisa dilihat dari wajahnya yang mulai memerah.
"Maksud Bu Kaliana, Jaret berselingkuh dengan istri Pak Marons? Bukan karena persaingan bisnis dan terjadi kecelakaan dalam pertemuan itu?" Pak Adolfis bertanya setelah melihat Bryan dan berpikir tentang sikap Marons.
"Iya, Pak. Ibu Chasina mengetahui tentang perselingkuhan suaminya. Beliau coba menyelesaikan dengan cara bertemu korban, tanpa sepengetahuan suaminya." Kaliana menjelaskan dengan pelan, karena melihat emosi Pak Adolfis dan Bryan yang berubah-ubah.
Bryan tidak jadi bertanya atau berkata apa pun. Dia hanya diam sambil minum air mineral untuk menurunkan emosinya. Sedangkan apa yang ada dipikirkan, hanya dia dan Tuhan yang tahu. Melihat hal itu, Kaliana berpikir cepat agar tidak terjadi sesuatu.
"Pak Adolfis dan Pak Bryan. Saya harap bisa menahan diri dalam situasi ini. Kita fokus untuk menolong Ibu Chasina dulu. Jangan melakukan suatu tindakan yang menambah masalah, atau membuat Ibu Chasina dihukum berat." Kaliana mengingatkan, karena mereka bisa lakukan apa saja dalam kondisi ekonomi yang berlimpah.
"Perlu diketahui juga, sekarang Pak Jaret sedang ditahan karena kasus yang berbeda. Tidak berhubungan dengan kasus yang dihadapi Bu Chasina."
"Jadi biarkan Pak Jaret terjerat di kasus ini dulu. Selanjutnya, kita akan terus memantau perkembangan kasusnya." Kaliana berkata demikian, karena teamnya sedang memantau kasus Jaret juga.
"Jadi saya berharap, apa yang terjadi dengan Pak Ewan tidak terjadi di keluarga Pak Adolfis. Pak Ewan berusaha menjebak Pak Marons dalam kasus tewas istrinya." Kaliana memberikan contoh, agar Pak Adolfis dan Bryan tidak gegabah dalam mengambil keputusan terhadap Jaret.
"Saya makin mengerti, mengapa Pak Marons bersikap seperti itu dan mengatakan saya akan mengetahui ceritanya saat persidangan. Ternyata Jaret bermain mata dengan istrinya dan tidak enak membicarakannya." Pak Adolfis makin mengerti apa yang sedang terjadi dan mengapa Marons mau membantu Chasina.
'Mereka bukan bermain mata saja, Pak. Tetapi juga bermain ular-ularan.' Kaliana berkata dalam hati. Dia tidak mau mengatakan yang lebih, karena khawatir dengan tindakan Pak Adolfis dan Bryan. 'Biarkan hal yang lain, mereka ketahui sendiri atau saat persidangan.' Kata Kaliana dalam hati lagi.
"Kalau bapak-bapak mau tahu lebih jelas lagi, bisa tanyakan kepada Pak Karpin. Tapi saya berharap, tetap hati-hati mengucapkan sesuatu di depan Pak Karpin. Supaya Pak Karpin tidak berpikir lain, hanya yang diketahui saja. Sehingga tidak merubah kesaksiannya dan supaya sama dengan keterangan Bu Chasina." Kaliana mengingatkan lagi, karena dia tidak punya waktu untuk berbicara berulang kali dengan Karpin.
"Baik, Bu Kaliana. Tolong Chasi. Ternyata putriku mendapat pukulan yang bertubi-tubi." Pak Adolfis berkata dengan wajah yang sangat sedih. Sedangkan Bryan hanya diam menunduk, tanpa berkata apa pun. Hal itu justru mengkuatirkan Kaliana.
"Pak Adolfis. Saya minum dan pamit, ya. Ada yang mau saya kerjakan lagi. Pak Bryan. Kalau ada yang mau ditanyakan kepada saya, nomor telpon saya ada di Pak Adolfis." Kaliana mengajak bicara Bryan, agar bisa mengalihkan emosinya dari apa yang baru didengar.
"Kita tukar saja sekarang, agar anda tahu nomor saya juga." Bryan tidak mau berliku. Dia mengeluarkan ponselnya untuk mencatat nomor Kaliana.
"Missed call barusan, itu nomor saya." Ucap Bryan, setelah menghubungi nomor yang diberikan Kaliana.
"Baik, Pak. Terima kasih. Saya permisi." Kaliana langsung pamit, karena ada yang akan dikerjakan dengan teamnya.
...~°°°~ ~°°°~ ~°°°~...
Sepanjang perjalanan pulang, Kaliana terus berdoa dalam hati untuk apa yang sudah dilakukannya. Hatinya sangat terenyuh, melihat kesedihan Pak Adolfis untuk apa yang dialami putrinya.
Tiba-tiba, ponselnya di holder bergetar. Ketika melihat nama di layar ponsel, Kaliana langsung merespon.
"Ni, ada di mana?" Tanya Marons tanpa intro, saat Kaliana merespon panggilannya.
"Lagi di jalan, mau ke kantor, Arrow." Kaliana mengeryit, mendengar pertanyaan dan suara Marons yang tidak biasanya saat berbicara dengannya.
"Tidak usah ke kantor. Sekarang langsung ke rumahku dan tunggu aku di sana." Ucap Marons tegas, tidak mau dibantah.
"Arroow... Selain aku cape', ada yang mau aku bicarakan dengan yang lain." Kaliana berharap Marons mengerti.
"Pulang ke rumah dan istirahat di sana. Untuk yang lain, tunggu mereka di sana. Jadi tidak ada alasan lagi untuk tidak ke rumah." Marons berkata tegas dan serius.
"Otoriter sekali..." Kaliana bermaksud membatin, tapi terucap pelan di bibirnya.
"Kalianaaa... Aku dengar." Bentak Marons, membuat Kaliana refleks menutup mulutnya dengan tangan.
"Astagaaa... kedengaran?" Tanya Kaliana pelan dan masih menutup mulutnya dengan tangan.
"Kau kira telingaku, pangsiiittt?" Marons berkata serius, tapi membuat Kaliana tertawa.
"Hahahaha... Arrow, candaanmu membuatku lapar." Kaliana masih tertawa mengingat ucapan Marons.
"Siapa yang bercanda? Tidak usah alihkan. Langsung ke rumah!" Marons berkata lagi dengan serius.
...~°°°~...
...~●○¤○●~...