Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa Aku Di Sini?
...୨ৎ R O W E N A જ⁀➴...
Aku menatap langit-langit. Putih, kasar, penuh noda jamur di sudut-sudutnya. Punggungku nyeri karena kasurnya tipis dan enggak nyaman di bawah badanku.
Sial.
Aku sudah seperti dipenjara lagi.
Mata aku terpejam. Aku benci obat penenang.
Aku ada di ruangan tanpa jendela. Ada yang salah. Bahkan ruang tahanan saja enggak seperti ini.
Lenganku enggak bisa digerakkan. Pelan-pelan aku melihat tubuhku sendiri di ranjang. Sebuah jaket putih ketat membelit badanku, lenganku terikat, terhampar di dalam terpal kanvas sempit itu.
Pintu mulai terbuka. Seorang perawat dan seorang dokter. Duo idiot yang menyeramkan. Kalau aku enggak sedang dibius, mungkin aku udah menggeliat kesakitan.
“Rowena Scarlett. Saya Dr. Millo,” ujar cowok itu.
Dia pakai jas putih. Aku menyipit, mencoba fokus, menyusun ulang gumaman-gumaman di kepala.
Tadi aku ada di mana?
“Hari ini hari Rabu. Tadi malam kamu dibawa ke rumah sakit oleh Tante dan pamanmu. Kamu ingat sesuatu?” tanyanya.
Tante dan pamanku memasukkan aku ke rumah sakit jiwa?
Ya, jelas saja.
Mereka sering mengancam itu hampir tiap minggu. Makanya aku biasa mengurung diri di kamar dan menjauh dari mereka. Mereka pernah benar-benar memasukkan aku ke RSJ sekali, tapi itu waktu aku umur empat belas. Berarti aku pasti sudah melakukan sesuatu yang bikin mereka ketakutan.
Dua orang aneh itu gelisah menunggu jawabanku. Mata aku pindah ke perawat berseragam biru. Dia kelihatan normal dan membosankan.
“Hah?”
Mereka tanya apakah aku ingat.
Ingat apa?
Apa mereka sedang bertanya siapa diri aku?
Aku tahu kok siapa aku.
Tapi soal tadi malam … aku enggak ingat apa-apa. Bahkan beberapa hari terakhir pun kosong.
Tapi pasti ada sesuatu. Pasti aku memutuskan untuk melakukan sesuatu. Mabuk berat, terus beli narkoba?
Mungkin.
Dokter dan perawat itu saling pandang.
“Oh, aku ngerti,” kataku. “Aku telat datang ke pesta teh?” lanjutku sambil menyeringai.
“Kasih dosis berikutnya!” Tatapannya bergeser ke arahku, dan dokter itu condong ke depan.
“Selamat datang di Paragon, Rowena. Aku senang banget kamu ada di sini.”
“Aku bakal keluar dari sini,” kataku tajam sambil menjilat bibirku yang kering.
Senyum sinisnya makin lebar. Dan jujur saja, sebanyak apa pun obat penenang di dunia ini, enggak bakal bisa menghentikanku untuk mencoba kabur dari dia. Jaket pengekang ini harus dilepas. Sekarang juga.
“Enggak. Kamu enggak bakal bisa,” katanya.
Otakku tenggelam sama obat itu dan aku ketiduran lagi.
Sekitar satu jam setelah itu, perawatnya kembali. Dia bantu aku duduk di pinggir ranjang, jaket pengikat masih kencang membelit badanku. Kepalaku mulai agak jernih, dan tepat saat itu juga dia memaksaku menelan kapsul besar ke dalam mulutku. Airnya baru dikasih setelah aku menelan.
Luar biasa.
benar-benar luar biasa.
Pikiran itu lewat di kepala aku saat pilnya meluncur ke tenggorokan.
Perawat itu rambutnya cokelat muda, dikepang. Mukanya biasa saja. Enggak ada yang spesial. Nama Agnes dibordir di seragamnya.
Dia mendekat dengan wajah tegang, mulai melepas jaket pengikatku. Mataku menatap wajahnya, lalu turun ke lehernya. Bunyi dari pergelangan tangannya, itu satu-satunya hal yang menarik dari dia. Aku menjilat gusiku yang terasa geli.
“Jangan pernah mikir buat ngelakuin itu,” katanya singkat sambil melepas tanganku.
“Mikirin apa?” jawabku. “Aku cuma duduk di sini.”
Dia memutar mata, menyuruhku berdiri dan menghadap tembok, sementara dia melepas ikatan di belakang jaket pengekangku.
“Pil apa tadi?” tanyaku. “Aku enggak mau minum lithium.”
Agnes mendengus, rahangku langsung mengeras.
Aku sudah benci tempat ini. Ini jelas bukan rumah sakit jiwa yang benar. Aku bahkan belum sempat ke mana-mana, tiba-tiba sudah dibius, diikat pakai jaket pengekang, dan dipaksa minum pil yang aku enggak kenal. Aku bukan binatang. Sial, binatang saja diperlakukan lebih manusiawi.
Akhirnya jaket pengikat itu dilepas. Aku langsung meregangkan tangan ke atas kepala. Kemeja yang aku pakai cukup panjang.
Aku turunkan pandangan, bingung sama pakaianku. Aku pakai kemeja pria. Baunya enak banget. Tubuhku bahkan bereaksi ke aroma itu dengan senang hati. Sisanya, celana dalam dan lain-lain, itu milik aku sendiri.
“Baju aku di mana?”
“Ini semua yang kamu bawa ke sini,” katanya sambil jalan ke lemari besar, lalu membukanya. “Keluarga kamu yang bawain. Aku udah periksa dan ambil yang perlu.”
“Apa-apaan ini?” Aku melongo melihat lemariku.
“Kita cuma amankan catokan, sama kaleng aerosol. Semua perhiasan dan barang elektronik juga udah dikemas.”
“Siapa namanya?” tanyaku. “Yang bawain semua baju aku?”
Agnes menutup lemari, lalu menghadapku dengan tangan menyilang.
“Dokter kamu bakal jelasin semuanya,” katanya cepat. Jelas banget dia kesal sama aku, padahal satu-satunya hal yang aku lakukan cuma bangun di tempat asing dan dipaksa minum obat.
“Kalau gitu, bawa aku ke dokternya,” kataku kesal sambil tarik bulu mata palsuku yang kepanjangan.
Dia memutar mata lagi dan jalan ke pintu. Untungnya aku masih setengah teler.
“Ikut aku,” katanya.