Rindu menerima tawaran Azahra bos di kantornya untuk menjadi surrogate mother. Walaupun pamannya melarangnya, Rindu tetap nekad menjadi surrogate mother. Karena ia ingin menebus sertifikat rumah pamannya yang digadaikan ke bank.
Namun rencana tidak seindah yang dibayangkan. Ketika Rindu sedang hamil empat bulan, Azahra meninggal dunia karena penyakit jantung. Sedangkan suami Azahra yang bernama Nizam sulit untuk dihubungi.
Bagaimanakah dengan nasib Rindu dan bayi di dalam kandungannya?
Follow ig Deche @deche62
Fb Deche
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Jalan Kaki
Nizam bangun dari tidurnya.
“Abang mau cucu muka dulu,” kata Nizam.
“Nazriel ke bawah duluan,” kata Nazriel. Nizam mengangguk. Nazriel keluar dari kamar Nizam.
Nizam beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi. Setelah dari kamar mandi Nizam langsung keluar dari kamar. Rindu langsung bernafas lega, ia bisa tidur kembali.
Ketika menjelang subuh Nizam masuk ke dalam kamar. Ia naik ke tempat tidur lalu tidur kembali. Rindu terbangun dari tidurnya ketika Nizam naik ke tempat tidur. Rindu menoleh ke samping, Nizam sedang tidur di sampingnya. Pelan-pelan Rindu turun dari tempat tidur menuju ke kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi Rindu bersiap-siap untuk sholat sibuh, ia menunggu adzan subuh berkumandang. Akhir terdengarlah suara adzan subuh. Rindu menunggu suara adzan selesai barulah ia sholat subuh.
Selesai sholat subuh Rindu membangunkan Nizam.
“Pak, bangun! Sholat subuh dulu,” kata Rindu.
“Nanti dulu! Masih ngantuk,” jawab Nizam sambil memejamkan mata.
“Tidurnya nanti lagi, kalau sudah sholat subuh,” kata Rindu.
“Kamu cerewet sekali, sih!” kata Nizam.
Nizam bangun dari tempat tidur lalu menuju ke kamar mandi. Ketika Nizam membuka pintu kamar mandi, ia melihat Rindu hendak keluar dari kamar.
“Kamu mau kemana?” tanya Nizam.
“Saya mau ke dapur, Pak,” jawab Rindu.
“Kamu jangan bantu-bantu di dapur! Kalau kamu cape nanti anak-anak saya kenapa-kenapa,” kata Nizam.
“Saya bukan mau bantu Bi Ijah. Saya ke dapur mau cari makan. Perut saya lapar,” jawab Rindu.
“Ya sudah, sana makan!” kata Nizam. Rindu pun keluar dari kamar menuju ke dapur.
Rindu membuka kulkas mencari sesuatu yang bisa dimakan.
“Cari apa, Rin?’ tanya Ibu Neri yang sedang mengambil minum.
“Cari makanan, Mah. Perut Rindu lapar,” jawab Rindu.
“Di kulkas masih ada kue, panaskan saja pakai microwave,” kata Ibu Neri.
“Iya, Mah,” jawab Rindu.
Rindu mengeluarkan kue dari dalam kulkas lalu di masukkan ke dalam microwave. Sambil menunggu kue selesai dipanaskan, Rindu membuat segelas susu. Setelah kue selesai dipanaskan Rindu mengeluarkan kue dari microwave. Ia membawa kue dan susu menuju ke ruang televisi. Ia menikmati kue dan susu sambil menonton televisi.
Ketika Rindu sedang asyik nonton televisi, ia melihat Nazriel sudah siap untuk berolah raga.
“Bang Nazriel!” panggil Rindu.
Nazriel menoleh ke Rindu.
“Abang mau kemana?” tanya Rindu.
“Abang mau jogging,” jawab Nazriel.
“Kamu mau ikiut?” tanya Nazriel.
“Rindu kan nggak bisa jogging,” jawab Rindu.
“Nggak usah jogging, jalan saja,” kata Nazriel.
“Nggak ah, nanti mengganggu acara jogging Bang Nazriel,” jawab Rindu.
“Nggak apa-apa. Ayo, Abang temani,” kata Nazriel.
“Sebentar, Rindu bilang dulu ke bibi. Takut Mamah cari Rindu,” ujar Rindu.
Kemudian Rindu bangun dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke dapur.
“Bi, kalau mamah mencari saya tolong bilangin kalau saya jalan-jalan sama Bang Nazriel,” kata Rindu kepada Bi Ijah.
“Iya, Neng,” jawab Bi Ijah.
Lalu Rindu menghampiri Nazriel.
“Ayo, Bang. Kita jalan sekarang,” kata Rindu. Merekapun keluar dari rumah melalui pintu garasi.
Rindu berjalan sambil menggerakkan kedua tanganya. Ia menghirup udara pagi yang masih segar. Mereka berjalan mengelilingi kompleks perumahan mewah. Sepanjang jalan orang-orang melihat ke arah Rindu dan Nazriel, mereka mengira Rindu dan Nazriel adalah sepasang suami istri. Ke Setelah berputar selama tiga puluh menit mereka kembali ke rumah.
Ketika masuk ke dalam rumah mereka bertemu dengan Pak Haidar dan Ibu Neri di ruang televisi. Mereka sedang menonton berita.
“Kalian darimana?” tanya Ibu Neri .
“Jalan-jalan keliling kompleks, Mah,” jawab Nazriel.
“Nizam mana?” tanya Ibu Neri.
“Pak Nizam masih tidur, Mah,” jawab Rindu.
“Oh, ya sudah,” kata Ibu Neri.
“Mah, Rindu ke kamar dulu mau mandi,” kata Rindu.
“Sekalian bangunkan suamimu! Sudah siang,” kata Pak Haidar.
“Iya, Pah,” jawab Rindu. Rindu pun berjalan menuju ke kamarnya.
Ketika Rindu masuk ke dalam kamar, ia melihat Nizam masih tidur. Rindu tidak membangunkan Nizam, ia membiarkan Nizam tidur. Rindu masuk ke dalam walking closet untuk mengambil baju lalu ia masuk ke dalam kamar mandi.
Ketika Rindu keluar dari kamar mandi Nizam sudah bangun. Ia memandangi istrinya yang baru keluar dari kamar mandi.
“Bapak sudah bangun?” tanya Rindu sambil mengeringkan rambutnya yang panjang dengan handuk.
“Hm,” jawab Nizam.
“Bapak mau minum apa?” tanya Rindu.
“Air putih saja,” jawab Nizam.
Nizam bangun dari tempat tidur lalu menuju ke walking closet untuk mengambi baju. Setelah itu baru ia menuju ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Nizam keluar dari kamar mandi. Ia melihat Rindu sedang membereskan tempat tidur. Nizam menuju meja rias untuk menyisir rambutnya.
“Pak, diminum dulu airnya,” kata Rindu sambil membereskan tempat tidur.
Nizam mengambil air minum yang berada di atas nakas lalu meminumnya. Rindu sudah selesai membereskan tempat tidur.
“Pak, kita sarapan dulu. Sarapannya sudah siap,” kata Rindu.
“Iya,” jawab Nizam.
Nizam dan Rindu keluar dari kamar, mereka menuju ke ruang makan. Di ruang makan Pak Haidar, Ibu Neri dan Nazriel sedang sarapan. Rindu dan Nizam duduk di kursi makan.
“Saya ambilkan makannya ya, Pak?” tanya Rindu.
“Boleh,” jawab Nizam.
“Bapak mau roti atau nasi goreng?” tanya Rindu.
“Nasi goreng saja,” jawab Nizam.
Rindu mengambil nasi goreng, ceplok telor dan kerupuk untuk Nizam. Pak Haidar, Ibu Neri dan Nazriel memperhatikan kedua suami istri itu.
“Mau minum apa?” tanya Rindu.
“Air putih saja,” jawab Nizam.
Rindu mengambilkan air putih untuk Nizam. Setelah itu Rindu makan.
“Rin, kalau bisa setiap hari kamu jalan kaki seperti tadi. Jangan jalan sendiri! ajak salah satu pembantu untuk menemani kamu,” kata Nazriel.
“Iya, Bang,” jawab Rindu.
Nizam makan sambil memperhatikan keduanya.
“Kalau aku sedang off aku akan temani kamu,” kata Nazriel.
“Iya, Bang,” jawab Rindu.
“Tadi kamu jalan kaki?” tanya Nizam kepada Rindu.
“Iya, Pak. Keliling kompleks,” jawab Rindu.
“Sendiri?” tanya Nizam.
“Ditemani Bang Nazriel,” jawab Rindu.
“Oh,” kata Nizam.
“Bang Nizam kalau ada waktu libur juga harus olah raga. Pak CEO harus tetap sehat untuk menghadapi masalah di perusahaan. Tidak harus jogging, jalan kaki keliling kompleks juga sudah cukup. Sekalian nemenin Rindu jalan-jalan,” kata Nazriel.
“Kan sudah ada pembantu yang menemani Rindu,” kata Nizam.
“Tidak ada salahnya nemani istri jalan-jalan, Bang,” ujar Nazriel.
“Untuk apa? Hanya membuang-buang waktu,” jawab Nizam. Semua orang yang mendengar jawaban Nizam hanya bisa menghela nafas.
Setelah selesai makan mereka berkumpul di ruang tengah ruang tengah.
“Pak, mau dibuatkan minum apa?’ tanya Rindu kepada Nizam.
“Teh susu,” jawab Nizam.
Lalu Rindu beralih ke Nazriel. “Bang Nazriel mau minum apa?’ tanya Rindu.
“Teh susu juga,” jawab Nazriel.
Lalu Rindu menoleh ke Pak Haidar. “Papah mau minum apa?” tanya Rindu.
“Kopi,” jawab Pak Haidar.
“Papah, minum kopi melulu,” ujar Ibu Neri.
“Kopi buatan Rindu enak, Mah. Mamah harus coba, pasti Mamah bakalan ketagihan,” kata Pak Haidar.
“Mamah mau coba kopi buatan kamu,” kata Ibu Neri kepada Rindu.
“Iya, Mah. Nanti Rindu buatkan,” kata Rindu.
Rindu pun beranjak menuju ke dapur bersih untuk membuat minuman keluarga barunya. Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa minuman yang mereka pesan. Rindu menaruh satu persatu minuman ke atas meja.
“Buat kamu mana, Rin? Kok nggak sekalian buatinnya? Tanya Ibu Neri.
“Tadi subuh Rindu sudah minum susu,” jawab Rindu.
“Oh, ya sudah,” kata Ibu Neri.
Hari ini Nizam tidak kemana-mana. Ia menghabiskan waktu liburnya dengan berkumpul bersama keluarganya.
.
.
.