Lima tahun lalu, Reihan Wijaya—pewaris konglomerat paling berkuasa di Jakarta—lenyap tepat di hari kontrak triliunannya diteken, meninggalkan Nathania yang tengah mengandung dan seluruh utang keluarga Lie yang mencekik.
Lima tahun kemudian, Nathania pulang. Bukan lagi gadis yang dulu terpuruk, tapi pendiri Astera Group yang berdiri di atas kakinya sendiri—dengan satu rahasia kecil bernama Meira, putrinya yang berusia lima tahun.
Di sebuah sudut jalan, Meira menarik tangan seorang pria gembel yang kehilangan ingatan. "Ma… itu Papa," katanya, sambil menggenggam sehelai foto lusuh.
Hasil DNA membuat tangan Nathania gemetar: 99,99%.
Pria "bodoh" yang ia bawa pulang, yang mencuci piring dan menjaga Meira, yang dijuluki "suami simpanan" oleh keluarganya sendiri—ternyata adalah taipan yang seluruh kota kira sudah mati. Dan di tangannya, tergenggam brankas, dendam lima tahun, serta satu Surat Perjanjian yang pernah mengunci Nathania dalam sangkar emas.
Saat topeng terbuka di depan seluruh Jakarta, saat kebohongan lima tahun terkuak… apakah Nathania akan memaafkan pria yang membiarkannya menyalakan dupa untuk "mendiang"-nya sendiri?
Dengan satu putri kecil sebagai mak comblang paling nekat, sang konglomerat siap menurunkan seluruh harga dirinya—demi merebut kembali istri dan anaknya.
"Berapa pun maharnya, akan kubayar. Asal kalian pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22: Kalung dari 'Kaki Lima'
"Rp 9.900."
Nathania menatap kotak beludru kecil di tangan Han. "Apa?"
"Harganya."
"Kotaknya saja kelihatan lebih mahal dari itu."
Han duduk di ujung sofa, wajahnya terlalu serius untuk orang yang baru saja mengaku membeli hadiah dari kaki lima. Meira langsung merangkak naik ke sofa, matanya bundar melihat kotak itu.
"Untuk Mama?"
"Untuk Mama."
"Mei dapat?"
"Mei dapat cerita."
Meira mengerucutkan bibir. "Cerita tidak bisa dipakai."
Nathania hampir tertawa. Seharian ia rapat, menolak vendor yang mencoba menaikkan harga, lalu pulang dengan kepala berat. Melihat Han duduk kaku seperti anak sekolah yang menyembunyikan nilai jelek membuat lelahnya sedikit turun.
"Kamu beli apa?" tanyanya.
Han membuka kotak itu.
Di dalamnya, sebuah kalung berkilau merah gelap, seperti bara kecil yang diam di atas kain hitam. Batu di tengahnya tidak besar berlebihan, tetapi cahayanya dalam. Rantai tipisnya jatuh rapi, terlalu halus untuk barang murah.
Nathania langsung menutup kotak itu.
"Han."
"Tidak suka?"
"Ini bukan barang kaki lima."
"Kaki limanya bagus."
"Jangan bercanda."
"Aku tidak bercanda."
Meira menempelkan pipi ke lengan Nathania. "Mama, warnanya seperti permen stroberi mahal."
"Permen tidak semahal ini."
"Berarti stroberi sultan?"
Han menunduk, menyembunyikan senyum.
Nathania menatapnya tajam. "Dari mana?"
"Aku lihat. Aku beli."
"Dengan uang siapa?"
"Uangku."
"Kamu punya uang?"
"Sedikit."
"Han."
Ia diam.
Nathania tahu pola itu. Setiap kali Han masuk ke wilayah yang tidak ingin ia jawab, ia akan diam seperti pintu yang dikunci dari dalam.
"Kalau ini hasil kamu minta uang ke orang lain, aku tidak mau."
"Bukan."
"Kalau ini barang pinjaman, aku tidak mau."
"Bukan."
"Kalau ini barang curian, aku lapor polisi."
Han mengangkat mata. "Nia."
Satu kata itu rendah dan terluka. Nathania berhenti.
Meira menoleh ke ibunya. "Mama, Papa bukan pencuri. Papa cuma suka cuci piring pelan-pelan."
Kali ini Nathania benar-benar tertawa kecil.
Han memegang kotak itu dengan dua tangan, lalu mendorongnya pelan ke arah Nathania. "Aku ingin kasih sesuatu."
"Kenapa?"
"Karena Nia selalu kasih tempat."
"Tempat?"
"Sofa. Makan. Nama."
Nathania tidak siap mendengar itu.
Han menyentuh sisi kotak. "Aku tidak ingat banyak hal. Tapi aku tahu rasanya tidak punya apa-apa. Nia membuatku punya rumah."
Suasana ruang tengah mendadak lembut.
Meira yang tidak tahan diam mengangkat tangan. "Mei juga kasih Papa boneka kelinci dua menit."
"Iya," kata Han. "Itu paling mahal."
"Kalau begitu Mama pakai. Biar Papa senang."
Nathania menatap kalung itu lagi. Ia seharusnya menolak. Logikanya menolak. Perempuan yang membangun Astera dari sisa nama baik keluarganya tidak boleh menerima benda tanpa asal jelas.
Tetapi Han duduk di depannya dengan mata yang tidak meminta dibalas, hanya meminta diterima.
"Sekali ini," kata Nathania. "Besok kita cek toko asalnya."
"Tokonya jauh."
"Di mana?"
"Dekat kaki lima."
"Han."
"Nanti aku lupa."
"Kamu sudah licik sekarang."
"Belajar dari Mei."
Meira bangga. "Mei pintar."
Nathania menyerah. Ia mengambil kalung itu. Saat ujung jarinya menyentuh batu merah itu, sesuatu yang dingin dan panas sekaligus menyentak di bawah kulitnya.
Suara hujan.
Koridor kampus.
Seorang pria muda tertawa pelan di belakangnya.
"Nanti, setelah kamu lulus, aku yang pakaikan sendiri."
Nathania mematung.
Han langsung berdiri. "Nia?"
"Aku..."
"Sakit?"
"Tidak." Ia menekan pelipis. "Cuma seperti pernah dengar kalimat."
"Kalimat apa?"
Nathania menatap batu merah itu. "Seseorang bilang akan memakaikan sesuatu setelah aku lulus."
Han tidak bergerak.
Meira memegang ujung baju ibunya. "Mama pernah sekolah tinggi?"
"Pernah."
"Papa juga sekolah?"
Han menjawab pelan, "Mungkin."
Nathania mendengar jeda itu. Ia menatap Han. "Kamu tahu sesuatu?"
"Aku ingin tahu."
"Itu bukan jawaban."
"Itu jawaban yang aku punya."
Ia tidak puas. Tetapi malam itu, wajah Han terlalu terbuka dan terlalu tertutup sekaligus. Seperti orang yang berdiri di depan pintu rumah sendiri, tetapi tidak berani mengetuk.
"Pasangkan," kata Nathania akhirnya.
Han menahan napas.
"Apa?"
"Kalau kamu yang memberi, kamu yang pasangkan. Tapi kalau besok ternyata ini barang mahal yang tidak masuk akal, aku akan paksa kamu bicara."
"Baik."
Ia berdiri di belakang Nathania. Jari-jarinya dingin saat mengangkat rambut Nathania sedikit. Rantai tipis itu menyentuh kulit lehernya, ringan tetapi membuat punggungnya meremang.
Han mengaitkan pengaitnya dengan hati-hati.
Meira bertepuk tangan kecil. "Mama cantik!"
"Sebelumnya tidak?"
"Sebelumnya cantik biasa. Sekarang cantik merah."
Nathania mencubit pipi anaknya. "Mulut kamu."
Han masih berdiri di belakangnya. Ia melihat batu itu jatuh tepat di dada Nathania. Di belakang batu, tersembunyi ukiran kecil N.L. yang tidak terlihat dari depan.
Nathania Lie.
Nama yang pernah ia simpan ketika dunia mereka masih belum terbakar.
"Han?"
Ia tersadar. "Iya."
"Kamu menatap apa?"
"Kalungnya cocok."
"Atau kamu takut aku kembalikan?"
"Takut."
Jawaban jujur itu membuat Nathania terdiam.
Meira menyandarkan kepala di paha ibunya. "Jangan kembalikan, Ma. Nanti Papa sedih. Kalau Papa sedih, cuci piringnya tambah pelan."
"Kamu tahu saja."
"Mei tahu semua."
"Tidak semua."
"Tahu Mama suka Papa."
Ruang tengah hening.
Nathania tersedak. "Meira."
Han menatap lantai, tetapi telinganya memerah.
Meira menguap seolah baru saja mengatakan hal paling biasa di dunia. "Kalau tidak suka, Mama tidak marah pas Papa lupa taruh sendok."
"Itu namanya sabar."
"Sabar itu suka yang pakai napas panjang."
Han batuk kecil.
Nathania mengambil bantal kecil dan menutup wajah Meira. "Tidur."
"Mei belum salah."
"Justru itu masalahnya."
Malam itu akhirnya turun dengan hangat. Nathania tetap memakai kalung itu sampai Meira tertidur. Saat ia mengantar dokumen ke ruang kerja kecil, Denny muncul lewat panggilan video untuk membahas revisi kontrak Astera.
"Bu Nathania, maaf malam-malam. File vendor sudah saya..."
Kalimat Denny berhenti.
"Kenapa?" tanya Nathania.
"Kalung Ibu."
Nathania menyentuh batu merah di dadanya. "Hadiah dari Han. Katanya kaki lima Rp 9.900."
Denny diam terlalu lama.
"Denny?"
"Boleh saya lihat lebih dekat?"
Nathania mendekatkan kamera. "Jangan bilang kamu juga mau beli."
Denny tidak tersenyum. "Bu, batu seperti itu tidak dijual di kaki lima."
"Aku tahu."
"Bukan hanya mahal. Potongannya... saya pernah lihat katalog private collection waktu menangani aset lama klien."
Nathania perlahan menurunkan ponsel. "Apa maksudmu?"
"Saya perlu cek dulu. Jangan panik."
"Kalimat jangan panik biasanya alasan untuk panik."
Denny menghela napas. "Besok saya datang. Tolong jangan lepas kalung itu dulu."
Panggilan berakhir.
Nathania berdiri di ruang kerja dengan kalung merah di dada dan suara hujan yang entah dari mana kembali berdengung di kepalanya.
Di ruang tengah, Han menidurkan Meira di sofa. Anak itu memeluk boneka kelinci sambil bergumam, "Papa jangan pergi."
Han menjawab sangat pelan, "Tidak."
Nathania melihatnya dari ambang pintu.
Kalung di dadanya terasa tiba-tiba lebih berat.
Rp 9.900, katanya.
Untuk pertama kalinya, kebohongan kecil Han tidak terasa lucu.
Kebohongan itu terasa seperti pintu lain yang sengaja ia tutup.