Karena sebuah kesalahan satu malam, Ayaneru terjebak bersama seorang pria asing yang membuatnya hamil.
Namun Ayaneru yang sebenarnya sudah dijodohkan dengan seorang pria terhormat, memutuskan untuk pergi ke luar negeri karena merasa kotor dan tak pantas. Hingga dia ingin menggagalkan perjodohan itu dan malah berniat untuk merawat bayinya seorang diri.
Namun, 5 tahun kemudian Ayaneru kembali ke Tokyo dengan membawa kedua buah hatinya yang sangat jenius.
Apakah takdir akan mempertemukan mereka dengan sang ayah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anezaki Igarashi Ricky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Kesepakatan
Mendengar ucapan dari Reo, tentu saja membuat Ayaneru sedikit merasa syok dan cemas luar biasa. Selama 5 tahun Ayaneru meninggalkan Jepang dan bersembunyi hanya untuk menghindari sang presdir utama dari Fukushi Group, namun kini Reo dengan mudahnya akan berkoar-koar dan ingin menyampaikan niatnya untuk memberitahu sang presdir utama, jika Reo sudah menemukan gadis itu.
Tentu saja hal itu membuat Ayaneru merasa cemas dan khawatir luar biasa. Terlebih hal itu pastinya akan melibatkan kedua orang tuanya kembali, yang bahkan saat ini sudah mengusirnya dari rumah besar keluarga Ryusei.
"Tolong jangan lakukan itu, Tuan!" pinta Ayaneru merasa begitu terpaksa karena harus memohon kepada pria arogan itu.
Karena ucapannya ini berarti secara tidak langsung Ayaneru sudah mengiyakan jika dia adalah memang wanita yang pernah dijodohkan oleh presdir utama dari Fukushi Group 5 tahun yang lalu.
Senyuman licik dan misterius mulai terukir menghiasi wajah tampan Reo. Dan sepertinya Reo memang sengaja untuk melakukan semua ini untuk memperalat Ayaneru.
"Jadi itu semua adalah benar ya? Hhmm ... menarik sekali." gumam Reo masih dengan senyum misteriusnya. "Itu artinya aku sedang menggenggam rahasiamu, Neru!"
Ayaneru masih terpaku dan tak bisa menjawabnya. Karena wanita ini masih benar-benar merasa cemas saat ini.
Apa yang sebenarnya sedang dia rencanakan? Apa dia tidak sadar? Apa dia tidak ingat? Bahwa dialah penyebab semua yang telah terjadi saat itu?! Dia yang menghancurkan hidupku di masa lalu! Namun kini dia malah sedang mengancam dan memperalatku? Hah?? Dasar benar-benar pria iblis!
Batin Ayaneru memaki Reo di dalam hati.
"Aku hanya ingin kita melakukan sebuah perjanjian saja. Aku akan tetap menjaga rahasiamu. Rahasiamu akan tetap aman padaku, namun jika kamu tetap mengijinkan aku untuk menemui Leon dan Leona kapanpun aku mau. Bagaimana, Neru? Syarat yang sangat mudah bukan?" ucap Reo mulai bernegosiasi dan memasang seulas senyuman miring.
Apa?? Jadi pria iblis ini memakai cara licik ini untuk bisa bertemu dengan Leon dan Leona? Jika mereka sering bertemu sebenarnya akan sangat berbahaya. Namun jika sampai presdir utama dari Fukushi Group sampai tau jika aku sudah kembali, itu akan lebih berbahaya lagi! Huft ... aku tak memiliki pilihan lain lagi. Jadi aku harus menyetujui perjanjian bersama pria iblis ini.
Batin Ayaneru menggigit bibir bawahnya dan masih memperlihatkan ekspresi kebingungan.
"Hhm? Bagaimana? Sepertinya kamu sangat keberatan ya jika aku dekat dengan Leon dan Leona. Huft ... baiklah. Aku akan segera menghubungi presdir utama dari Fukushi Group dan mengatakan jika wanita yang mencampakkan dia 5 tahun yang lalu, kini sudah ada di perusahaan cabangnya di Yokohama. Dia akan segera datang dan mengurusmu, Neru." ucap Reo dengan senyum licik dan segera meraih ponselnya lalu berusaha untuk menghubungi seseorang.
"Baiklah! Aku setuju dengan semua perjanjian yang telah tuan ajukan!! Jadi jangan hubungi dia!" ucap Neru dengan cepat dan seketika jantungnya berdegup semakin cepat dan keras karena gugup dan gelisah.
"Pilihan yang bagus!" Reo menyauti dengan senyuman penuh dengan kemenangan dan mulai menyimpan ponselnya kembali.
Belum sempat terjadi perbincangan diantara mereka berdua kembali, kini mulai terdengan sebuah ritme teratur yang berasal dari arah pintu.
Tok ... tok ... tok ...
"Masuk!" perintah Reo masih dengan suasana hati yang baik.
Bahkan Reo mulai tak terlihat beraura kelam lagi, namun wajahnya sangat berbinar sejak melakukan perjanjian bersama dengan Ayaneru beberapa saat yang lalu.
"Tuan Reo. Kedua anak itu sudah sampai." ucap seorang pria berpakaian rapi setelah memasuki ruangan.
"Hhm. Suruh saja mereka masuk!" sahut Reo mulai duduk bersandar dengan posisi lebih santai.
"Baik, Tuan." sahut pria berpakaian super rapi itu mulai undur diri kembali.
Baru beberapa saat, tiba-tiba saja dua anak kembar yang begitu manis dan menggemaskan mulai memasuki ruangan begitu saja. Mereka adalah Leon dan Leona.
Leona terlalu kegirangan karena tiba-tiba saja Reo mengutus seseorang untuk mrnjemputnya di kontrakan beberapa saat yang lalu. Bahkan gadis kecil itu kini melangkah riang seakan menari-nari saat mendekati meja kerja Reo.
Leona bahkan terlalu gembira dan hanya fokus pada sosok pria yang baru saja diketahuinya, jika sebenarnya Reo adalah papa biologosnya. Leona juga tak menyadari jika di dalam ruangan ini juga ada Ayaneru.
"Paman Reo!!" sapa Leona berjingkrak menari-nari mendekati Reo.
Sementara Reo mulai bangkit dari duduknya dan melangkah ke depan untuk menyambut Leona. Sedangkan Leon terlihat masih berjalan cool memasuki ruangan ini, dengan wajah dingin dan kedua tangan yang saling disematkan di dalam saku celananya.
Mama? Aduh ... bahaya! Mengapa ada mama disini?
Batin Leon yang mulai menyadari keberadaan Ayaneru yang melongo saat melihat kedekatan antara Leona dan Reo.
"Kalian ... bagaimana bisa datang ke tempat ini?" tanya Ayaneru hampir saja tak percaya melihat semua ini.
Leona yang mendengar suara yang sangat tidak asing ini, kini mulai beralih menatap ke arah suara itu. Dan betapa terkejutnya Leona ketika melihat sosok sang mama di dalam ruangan ini.
"Ma-mama ..." gumam Leon dan Leona bersamaan.
"Mengapa hanya diam dan tidak menjawab?!" tanya Ayaneru lagi karena kedua anak kembarnya malah terdiam karena syok telah bertemu dengan mamanya.
"Neru, aku yang meminta orangku untuk menjemput mereka berdua. Lagipula bukankah kamu sudah memberikan ijin untuk kami saling bertemu?" ucap Ren yang saat ini sudah jongkok di hadapan Leona.
Apa?!! Jadi sebenarnya pria licik ini sudah merencanakan semua ini dari awal ya? Bahkan dia merasa begitu percaya diri jika aku akan menyetujui perjanjian ini. Dam dia juha sudah mengutus anak buahnya untuk menjemput Leon dan Leona? Sungguh pria licik!!
Batin Ayaneru merasa cukup kesal.
"Tapi jika mama tidak mengijinkan , maka aku dan Leona akan pulang lagi kok, Ma." ucap Leon tiba-tiba sambil menatap sang mama dari kejauhan.
Jika aku tidak mengijinkan mereka, itu artinya aku malah menggali kuburanku sendiri. Pria licik ini pasti akan segera menghubungi presdir utama dari Fukushi Group jika aku menghalangi mereka bertemu.
Batin Ayaneru lagi.
"Tid-tidak, Leon sayang. Mama mengijinkan kalian kok. Lagipula mana mungkin mama tidak memberikan ijin?" jawab Ayaneru berusaha untuk tersenyum di depan kedua buah hatinya.
"Aku hanya akan mengajak mereka jalan-jalan kok. Dan aku akan segera mengantarkan mereka pulang sebelum senja. Kamu tenang saja, Neru!" ucap Reo masih dengan wajah penuh binar. "Ayo, Leon ... Leona! Kita berangkat!"
"Ayo, Paman! Dahh, Mama ..." teriak Leona tersenyum lebar menatap Ayaneru.
"Mama, aku dan paman Reo pergi dulu ya. Sampai jumpa di rumah, Ma ..." ucap Leon mulai mengikuti Leona dan Reo yang sudah beranjak meninggalkanruangan ini.