Terlahir dengan nama Ulyana Zahra Fitriangsih, orang tuanya berharap anak mereka tumbuh elok seperti namanya.
Namun, itu semua hanyalah angan semata. Masa lalu mengantarkannya untuk menapaki dunia hitam yang tak seharusnya ia jamah. Bahkan, ia yang memegang kendali atas semuanya.
Satu nama yang tersamarkan di publik, nama yang memuat banyak rahasia. Tidak ada yang tahu apa yang ada di balik punggungnya, tapi ketidaktahuan itu lebih baik dari pada membawa petaka.
Darel Ario Kusuma, seorang kakak yang sangat menyayangi Zahra. Gadis itu segalanya, hidupnya.
Lantas, bagaimana cara Rio menjaga Zahra tanpa kehadiran kedua orangtuanya?
****
Simak terus cerita ini, jangan lupa dukungannya dengan vote, like dan komen.
Terimakasih 🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Pertanyaan yang Sama
"Ayolah, Ra! Lima juta buat sepuluh orang. Gue cuma butuh itu buat ngalahin Universitas Anghadani."
"Murah banget lo nawarnya. Lo pikir biaya pengobatan semurah lo nawar?"
"Kan mereka pada strong, pasti ga lecet tuh."
"Heh, gue aja ketuanya modal kalo bawa mereka ke jalanan. Lah lo, nyewa masa kagak ngasih tunjangan? Idihh ... kita tuh tiap kumpul mesti masukin receh ke kas, biar kalau ada yang luka ga ngeberatin salah satu pihak. Iya, biasanya gue yang nanggung mereka. Tapi lo naikin dikit lah biar gue rela minjemin mereka ke lo."
"Gue lagi bokek, Ra. Dih, lo mah udah tajir. Buat apa juga duit banyak-banyak?"
"Lo mah udah tau bokek, ngapain pake nyewa sohib-sohib gue? Terima aja temen-temen lo, lagian gue yakin kalau mereka sanggup. Kalian pasti menang tanpa pasukan gue."
Zahra menyambar botol di sampingnya, kemudian mendekatkan ujung botol kaca ke bibirnya. Sensasi panas menyambut ujung tenggorokan begitu ia meminumnya. Ia tersenyum remeh pada sosok di depannya. "Biasanya gue kasih 10 orang 10 juta."
"Mahal amat lo, sama temen sendiri juga."
"Yehhh, kalo sama temen sendiri mah harusnya lo lebihin, bukan nawar!"
"Perhitungan banget lo. Gue naikin 1 deh, jadi 6 juta."
"Masih murah itumah. Mahalan dikit napa, lo kira sohib gue ga ada harganya?"
Mereka terus berdebat hingga sebuah suara menginterupsi keduanya.
...****...
"Terus apa yang bakal lo lakuin?" Keduanya menatap Zahra dari kaca yang tergantung di bagian atas mobil. Gadis itu mengeluarkan aura iblisnya, tersenyum kecil— lalu merogoh bagian dalam jaketnya.
Sebuah tablet berukuran kecil dengan dua buah pil mengejutkan keduanya, Zahra balas menatap mereka dengan senyum yang tak pudar dan alis yang menantang. "Sebelumnya gue udah minum levonorgestrel atau KB darurat, tapi itu cuma bisa diminum sekali. Jadi, ini gue beli dua tablet langsung, jaga-jaga kalau misalkan gue kena terkaman salah satu dari kalian.
Mendengar perkataan Zahra yang kelewat santai, membuat mereka bertanya-tanya. "Gimana lo bisa dapat levonorgestrel? Pill itu ga dijual bebas dan lo dapat dengan mudahnya," ungkap Rio.
"Ada lah, Kak." Zahra memperbaiki posisi duduknya, mulai menyandarkan tubuh kemudian menutup mata. Sebenarnya ia sudah mengantuk sedari Arkan melancarkan proses negosiasinya. Setelah memejamkan mata sejenak, ia merogoh ponsel di sakunya.
Rio memutar setir, mobil memasuki kawasan jalan utama kembali. Pria itu menambah kecepatannya supaya sampai lebih cepat di dua tujuan. "Terus lo kapan minum pil itu lagi?"
Zahra mendongak, mengalihkan pandangan dari ponselnya. "Ga tau, kan cuma buat jaga-jaga aja kalau gue jadi korban lagi. Sekarang gue tinggal nunggu datang bulan, meskipun kayaknya datang bulan yang ini akan sedikit beda dari biasanya." Setelahnya ia fokus kembali pada film yang ditontonnya.
Sebenarnya Zahra cukup terkejut saat Rio membawanya ke meja temannya yang tentu saja ada Rizki. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya, rasa sesak kembali menyeruak saat melihat Rizki tengah kesakitan. Ia kembali menguatkan dirinya sendiri. Jujur saja, sebelum pergi ke apotek ia pergi ke tempat psikiater pribadinya.
"Sebenarnya, apa yang kalian ketahui tapi gue ga tau? Apa pantas kalian menyembunyikan semuanya setelah kejadian ini?"
Rio mengerem mendadak, sedangkan Rizki terdiam. Keduanya sama-sama tak menyangka jika Zahra akan menanyakan hal itu sekarang. Mereka tidak ada yang menjawab, keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Setelah mengucapkan permintaan maaf, Rio melajukan kembali mobilnya dalam diam.
Zahra menghela berat. Sesulit itukah memberikan kebenaran untuknya?
...****...
Pagi ini seisi mansion geger, tuan putri mereka—Ulyana Zahra Fitriangsih demam tinggi. Dokter pun sudah di panggil, penyebabnya ternyata Zahra tidak tidur semalaman. Gadis itu memainkan play station hingga pukul 4 dini hari.
Bibi terkejut ketika membangunkan Zahra, wajahnya pucat dengan sekujur tubuh yang dingin. Ada beberapa sisa bear yang tergeletak di samping televisi. Tidurnya pun juga terlihat tidak tenang. Sebenarnya Zahra berbohong ketika ditanya soal makan malam ketika mereka masih di warung, artinya gadis itu hanya mengisi perutnya dengan alkohol.
Dokter yang biasa menangani keluarga Ario telah dipanggil, penyebabnya—Zahra masuk angin dengan keadaan perut kosong.
Tentu saja Rio dan Rizki yang disalahkan dalam hal ini. Terutama Rizki, tentu saja. Pria itu juga dinasehati habis-habisan oleh Bi Heni.
Waktu terus berjalan, sementara Zahra masih menutup mata—mungkin juga pengaruh cairan yang disuntikkan oleh dokter. Sebelumnya Zahra sudah memakan sarapannya, setelah itu ia kembali tidur.
Rio berangkat ke kantor setelah menyuapi Zahra, sedangkan Rizki tinggal di rumah. Ia masih proses penyembuhan. Bibi dari arah dapur, berjalan menuju Rizki yang sedang menonton siaran edukasi di televisi.
"Nihh, bibi buatin bolu." Wanita itu meletakkan sepiring kue berwarna hijau, dengan toping coklat meses—yang telah dipotong dengan bentuk balok. "Dimakan, Riz, jangan cuma dilihatin."
Rizki tersenyum. "Makasih, Bi." Tangannya menjalar, mengambil sepotong kue di ujung kiri. Satu gigitan lolos, dilanjutkan dengan proses penelanan. "Umm, enak. Lembut banget, Bi."
"Itu kue kesukaan adikmu, bolu pandan."
"Zahra ...." Rizki segera menghabiskan kue yang dikunyahnya. Kemudian turun dari sofa, mengambil tangan milik Bi Heni yang bebas dan menggenggamnya. Dahinya ia tempelkan pada tangan wanita itu.
Bibi tentu saja terkejut dengan yang Rizki lakukan. "Ka-kamu ngapain?"
"Maafin Rizki bi, Rizki ga bisa jaga Zahra di pertemuan pertama dan kedua. Rizki malah pengen menghancurkan dia," ucap Rizki dengan suara serak, matanya memandang bibi dengan berkaca-kaca.
Bibi menggeleng. "Berdiri, Sayang."
Rizki ikut menggeleng, kembali mencium punggung tangan bibi yang digenggamnya. "Semalam setelah kalian cerita semuanya, Rizki kepikiran terus. Sampai pagi tadi, ketika Zahra dikonfirmasi demam, dada Rizki sakit banget, Bi. Rizki ga tau jika Zahra ... lebih menderita dari pada Rizki. Dia cewek bi, dan–dan a–aku udah nge–han–curin dia. A–aku takut jika perbuatan ku bikin Zahra kembali ke masa gelapnya ...."
Bibi melepaskan tangannya, kemudian menghapus cairan bening yang membasahi pipi Rizki. "Adik kamu itu tangguh, percaya! Kalau dia akan baik-baik saja. Ingat nasihat bibi semalam, jangan lagi kamu sakitin dia fisik maupun psikisnya. Dia lagi proses penyembuhan, meskipun proses yang dijalaninya selama ini banyak yang bertentangan dengan kesehatannya. Biarkan dia melupakan luka batinnya, asalkan dia ga merusak tubuhnya secara berlebihan. Kamu udah minta maaf kan semalam sama dia?"
Rizki mengangguk. "Dia malah mau nangis kemarin waktu lihat Rizki kayak kesakitan. Terus sebelum pulang, waktu mau masuk mobil, dia meluk Rizki sambil nangis. Dia malahan yang minta maaf, padahal Rizki yang salah. Waktu habis nusuk Rizki, dia kelihatan shock, habis itu geleng-geleng. Matanya kosong dan cabut lagi pisau itu kemudian dibuang asal. Dia berlari keluar dengan sempoyongan. Rizki malu sama dia, Bi. Apa aku pantes dapat maafnya dia? Aku abang yang keji, abang yang mau nghancurin keluarganya sendiri. Aku udah buruk sangka sama kalian, terutama sama Papi."
"Riz, Zahra itu—"
"Bibi, pusing ...."
Seorang gadis dengan kaus abu, rambut berantakan dan wajah kucelnya tengah berdiri di tengah-tengah tangga. Kedua tangannya sibuk berpegang pada pembatas tangga, sedangkan matanya masih sedikit terpejam.
Rizki segera menghapus air matanya, pria itu berdiri kemudian menghampiri Zahra yang berjalan turun. Ia membantu gadis itu menuruni tangga kemudian membawanya ke sofa. Bi Heni tersenyum melihatnya.
"Non ngapain turun? Kan bisa telepon kalau butuh apa-apa," kata bibi.
Zahra menggeleng. "Kak Rio mana?"
"Den Rio kan sore baru pulang. Non lapar?"
Rizki yang berada di sebelah Zahra terkejut mendengar bahasa yang digunakan bibi untuk berbicara dengan Zahra. Kenapa sangat lain, bukan seperti bicaranya ketika dengan dirinya maupun Rio.
"Kak Rio tadi janji mau bawain blueberry waktu makan siang."
"Den Rio kan pulangnya sore, Non. Kemarin baru pulang langsung nyariin Non, katanya banyak kerja hari ini. Lagi pula ini juga sudah jam makan siang dan Den Rio pasti akan senang memberikan jus itu jika non telah makan siang."
Zahra mengangguk lesu, ia menyandarkan diri pada tubuh Rizki. Pria itu menyambutnya dengan baik, Rizki memperbaiki posisi duduknya kemudian merapatkan tubuh Zahra ke arahnya. Tangannya terulur menyentuh dahi Zahra. "Panasnya sudah agak turun," gumam Rizki pelan, tapi masih bisa didengar Zahra.
"Masih pusing?" tanya Rizki sambil menunduk.
Zahra memejamkan mata seraya menikmati usapan lembut di kepalanya. Usapan itu diterapkan dengan tempo yang sesuai, pijatan lembut di pelipisnya mulai menjalar.
"Bagaimana sekarang?"
"Eumm, lebih baik."
Rizki memberikan pijatan terbaiknya pada Zahra, pria itu menggunakan kesepuluh jarinya. Mereka terus menari, memberikan pijatan-pijatan kecil untuk meredakan sakit di kepala Zahra. Hal sama juga dilakukannya tadi pagi, setelah makan—Zahra mengeluarkan isi perutnya lagi. Pada akhirnya bibi memperbolehkan Zahra mengisi perutnya dengan roti dan segelas susu. Zahra terus memuntahkan makanan berat yang masuk ke tubuhnya.
Bibi membawa nampan berisi air putih dan semangkuk bubur ayam. Bibi mengisyaratkan Rizki untuk membangunkan gadis itu, perutnya kosong sejak tadi—ia tidak akan membiarkan Zahra tidur dengan perut kosong kali ini.
Rizki mengurai dekapannya lalu menepuk pelan pipi Zahra. Tiga tepukan, Zahra membuka matanya dengan mengerjab beberapa kali.
"Makan dulu, bibi bawain makan siang tuh."
Zahra mengangguk, tangannya tetap melingkari pinggang Rizki meski pria itu telah mengurai pelukannya. Zahra tetap mencari kehangatan dari pria yang kini mendekapnya. Ah, dekapan ini—hangat, begitu nyaman, entah mengapa ia malah merasa aman ketika Rizki mendekapnya—dekapan yang sama hangatnya dengan dekapan ayahnya, kakaknya, Revan dan juga Devan.
Rizki mengambil mangkuk itu dengan sebelah tangan, ia menyendok kemudian diarahkan pada mulut Zahra. Gadis itu membuka mulutnya, satu suapan lolos—begitu terus hingga mangkuk putih yang dipegang Rizki kosong. Pria itu menyodorkan 2 butir obat dan segelas air.
Zahra meraih keduanya, ia memasukkan dua butir pil sekaligus kemudian segera mengguyurnya dengan air. Bibi membawa kembali mangkuk dan gelas yang telah kosong tersebut.
"Balik ke kamar?" tanya Rizki saat Zahra menatapnya.
Gadis itu menggelengkan. "Nunggu Kak Rio aja."
Rizki mengangguk kemudian mengusap rambut Zahra pelan. Ia kembali menonton acara TV.
"Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan?"
Rizki menghela napas, ia serba salah sekarang. Sebenarnya ingin juga menceritakan yang sesungguhnya, tapi ia terlalu takut jika Zahra menganggapnya membual. Tidak cerita juga kasian, karena gadis itu pasti menduga-duga yang mengakibatkan kepalanya bertambah pusing.
"Nanti ya, kita tunggu Rio pulang. Kita dengar sama-sama."
Lagi, entahlah, ternyata mengusap rambut Zahra dan mencium aromanya bisa membuat perasaannya tenang. Mungkin ini akan menjadi kebiasaan barunya.
"Gue mau tiduran ...."
"Di kamar?"
"Di sini aja."
Rizki mengangguk, ia sedikit melepaskan dekapannya kemudian menggeser duduknya ke ujung. Zahra membaringkan tubuhnya kemudian meletakkan kepalanya pada paha Rizki. Pria itu kembali mengusap rambut Zahra, alhasil membuat gadis yang tertidur di pangkuannya itu terlelap lebih cepat. Sepertinya juga efek obat.
Rizki mendekatkannya bibirnya pada dahi Zahra. Mengecup kening itu pelan dengan penuh sayang. "Maaf dan selamat tidur, Princess."
***
TBC GAESS!!
ZAHRANYA GA BAKAL BUNTING DALAM SEKALI MAENN, DIA KAN PINTAR, CARI SOLUSI SUPAYA GA BUNTING.
SEMANGAT BUAT YANG JADI CALON MAHMUD, SEHAT2 TERUSS✨✨
JANGAN LUPA LIKE SAMA KOMENNYA 🌹