NovelToon NovelToon
Bukan Rahim Bayaran

Bukan Rahim Bayaran

Status: tamat
Genre:CEO / Poligami / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:355.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Linda manik

Mendapatkan kasih sayang yang cukup dari kedua orang tua angkatnya tidak lantas membuat Marissa tidak lepas dari beban pikiran. Wanita itu terlihat bahagia hidup bersama dengan kedua orang tua angkatnya.

Baru saja dirinya. Duduk di bangku Kelas XII di sebuah sekolah swasta ternama di kotanya. Marissa menemukan dirinya sedang hamil satu bulan. Dia tidak mengetahui siapa yang menjadi Ayah dari janin yang dikandung bahkan dirinya merasa tidak pernah melakukan perbuatan dosa hina itu.

Jadi siapakah yang tega menghamili Marissa yang terkenal baik dan murah hati di sekolahnya itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perlawanan Marissa

Perubahan suasana hati bisa dirasakan oleh setiap manusia. Begitu lah yang dirasakan oleh Arjuna saat ini. Rasa sayangnya kepada Marissa ketika masih berstatus putri angkatnya kini lenyap tidak bersisa. Arjuna tidak merasakan apapun terhadap gadis belia itu saat ini. Yang dia inginkan. Marissa melahirkan penerusnya dengan selamat. Dan setelah itu. Dia mengharapkan Marissa tidak menunjukkan diri di hadapannya karena Arjuna tidak ingin rumah tangganya terganggu. Sikap perduli yang luar biasa yang dimiliki dirinya untuk Marissa lenyap dengan persekongkolan mama Nisa dengan Dino dan yang lainnya.

Cinta membuat Arjuna buta akan kelicikan istrinya. Dan yang lebih parah, Arjuna menurut dengan apa yang sudah direncanakan oleh Nisa tentang sang janin setelah lahir nanti.

Arjuna bahkan tidak kasihan melihat Marissa yang terlihat sangat menyedihkan saat ini. Gadis belia itu tidak ubahnya seperti patung bernafas. Setelah mereka tiba di paviliun itu. Marissa dibantu mama Nisa untuk duduk di ranjang kecil yang sepertinya baru dipindahkan ke paviliun itu.

"Marissa. Kamu seperti ini karena pilihan kamu sendiri. Aku akan mengawasi kamu. Jangan sampai terjadi sesuatu yang membahayakan janin itu. Ingat Marissa. Hanya itu balasan yang aku harapkan dari kebaikan yang sudah kamu terima dari kami. Dan satu lagi jangan pernah mencoba melarikan diri dari kami," bisik mama Nisa tepat di telinga Marissa. Perkataannya seolah olah bahwa Marissa lah yang bersalah dalam hal ini.

Marissa tidak menunjukkan reaksi apapun. Tatapan kosong ke arah dimana Arjuna menutup gorden. Gorden itu menutupi dinding kaca besar yang berhadapan dengan taman bunga di sebelah paviliun itu.

Marissa merasakan hatinya sakit luar biasa. Kehamilan itu bukan keinginannya. Tapi kehamilan itu sudah membuat Marissa merasa di buang dan kini tidak berharga. Roda kehidupannya benar benar berputar cepat menjadikan dirinya di tahap yang paling terendah seperti ini. Bukan hanya hamil, dirinya juga sudah difitnah menggoda papa angkatnya itu.

Marissa ingin membantah semua tuduhan itu tapi ancaman Nisa benar benar menakutkan. Tidak ada jalan lain selain menuruti keinginan mama angkatnya itu. Seperti keinginan mama Nisa, Janin itu akan dia serahkan nantinya kepada Arjuna dan mama Nisa.

"Ayo pa. Kita keluar," ajak mama bisa setelah Arjuna selesai menutup gorden itu. Arjuna pun menurut tanpa menoleh kepada Marissa.

Setelah Arjuna dan Nisa keluar dari paviliun. Marissa tidak dapat lagi menyembunyikan kesedihannya. Marissa menangisi takdirnya yang kini sudah menjadi istri kedua dari Arjuna. Marissa sadar dirinya terlalu muda untuk ini tapi dia juga tidak berdaya untuk menolak. Keberadaan janin itu membuat Marissa tidak bisa berkutik. Terlebih dengan video yang ditunjukkan oleh mama Nisa kepada dirinya. Di video itu jelas terlihat mereka melakukan itu bukan karena paksaan. Yang terlihat justru dirinya terlihat menikmati. Mama Nisa mengancam akan menyebarkan video itu jika Marissa berani menolak keinginan atau melarikan diri dari mama Nisa dan Arjuna.

Kini dirinya akan menempati paviliun ini selama kehamilan itu. Semua fasilitas yang sebelumnya diberikan kepada Marissa ditarik kembali oleh Nisa. Bahkan saat ini, Marissa tidak mempunyai ponsel. Marissa juga tidak diperbolehkan keluar dari paviliun itu.

"Bagaimana, aku bisa menjalani ini," gumam Marissa. Matanya berkeliling melihat penjuru paviliun itu. Paviliun itu tidak terlalu luas, tapi di dalamnya sudah lengkap dengan perabotan.

"Andaikan mereka orang tua kandungku. Mungkin kasih sayang mereka tidak seperti ini."

Akhirnya Marissa menyadari jika kasih orang tua kandunglah yang lebih tulus. Mengingat orang tua kandung membuat Marissa kembali bersedih. Bayang bayang samar tentang tentang wajah ibu kandungnya terlintas di pikirannya. Marissa berharap mukzijat hadir dalam hidupnya. Dalam situasi banyak beban pikiran dan dipojokkan seperti ini. Marissa berharap sang ibu kandung yang tidak tahu dimana keberadaannya hadir di hidup dan menyelamatkan diri dari tempat ini.

Marissa berjalan ke arah tirai yang tertutup. Marissa menyibakkan tirai itu dan menikmati keindahan bunga bunga yang terhalang dinding kaca. Dari dalam paviliun itu. Marissa bisa melihat bunga mawar berwarna warni dan bunga bunga lainnya yang sedang bermekaran. Satu bulan yang lalu, dirinya masih seperti bunga bunga bermekaran itu. Gadis perawan yang sedang mekar. Tapi hari ini. Marissa bukan lagi gadis perawan melainkan wanita yang sedang mengandung.

Marissa mengalihkan pandangannya dari bunga bunga itu karena ada suara yang memanggil dirinya. Karena mengenali suara itu. Marissa tidak menjawab. Marissa berubah menjadi sosok yang pendendam.

"Marissa, mengapa kamu tidak menjawab Bibi?" tanya ibu Nilam yang langsung membuka pintu itu. Marissa tidak menjawab. Marissa kembali menatap bunga bunga itu. Bagaimana pun dirinya bukanlah seorang malaikat yang masih bisa bersifat baik kepada ibu Nilam dan Dino. Marissa menduga dirinya bisa hamil seperti ini karena campur tangan wanita itu bersama putranya.

"Marissa, kamu dipanggil ke rumah. Seorang teman sekolah mu ada di ruang tamu saat ini. Tuan Arjuna meminta kamu menemui dan beliau juga berpesan jangan sampai kamu menceritakan apapun kepada nya."

"Siapa namanya?"

"Dewi."

Marissa bergegas masuk ke kamar mandi. Dia membersihkan wajahnya dari riasan pengantin. Bagaimana pun, Marissa tidak ingin mendapatkan banyak pertanyaan dari Dewi tentang riasan itu.

Setelah keluar dari kamar Mandi. Marissa melangkah mendahului Bibi Nilam yang sedari tadi berdiri menunggu dirinya di tempat itu.

Setelah tiba di rumah itu, Marissa melihat Dewi duduk berhadapan dengan Arjuna. Hanya mereka berdua tanpa mama Nisa.

"Ada apa wi," tanya Marissa pelan. Dia duduk di sebelah dewi.

Dewi menatap dan tersenyum canggung kepada Marissa. Kemudian Dewi juga menatap Arjuna yang duduk bersanfar Dan bersilang kaki yang sedang menatap mereka berdua.

"Sa, aku minta bantuan kamu. Saat ini, aku sangat butuh uang," bisik Dewi.

Marissa meremas tangannya. Hatinya gelisah karena kedatangan dewi untuk meminta bantuan Arjuna lewat dirinya. Yang membuat Marissa cemas adalah bagaimana dirinya hendak mengatakan maksud kedatangan dewi sementara hubungannya dengan Arjuna dalam keadaan tidak baik. Arjuna memang sudah berjanji hendak memberikan bantuan itu. Tapi untuk kembali mengingatkan Arjuna. Marissa sama sekali tidak ada nyali.

"Bilang saja langsung ke papaku. Dia sudah tahu jika kamu butuh bantuan," jawab Marissa dengan berbisik juga. Saat ini, dia sedang tidak ingin berbicara apapun dengan Arjuna.

Dewi terlihat membulatkan matanya mendengar perkataan Marissa. Jelas terlihat ketakutan di wajahnya. Tapi setelah berpikir beberapa menit. Akhirnya Dewi memberanikan dirinya mengutarakan maksud dari kedatangannya.

Arjuna terlihat tidak terkejut karena masih mengingat tentang kesanggupannya untuk membantu Dewi.

"Berapa yang kamu butuhkan?" tanya Arjuna. Dewi pun menyebutkan angka nominal yang dia butuhkan untuk bisa membawa ibunya pulang dari rumah sakit esok hari. Tanpa berpikir. Arjuna langsung mentransfer sejumlah uang yang dibutuhkan dewi langsung ke rekening rumah sakit.

"Terima kasih om. Terima kasih banyak," kata Dewi. Dia bahkan menangkupkan tangannya di dada ketika mengucapkan terima kasih itu.

"Sama sama. Kalau kamu tidak ada keperluan lain lagi. Kamu boleh pulang," kata Arjuna secara tidak langsung mengusir Dewi secara halus.

Dewi terlihat canggung dan sebenarnya masih ingin duduk sebentar lagi di ruang tamu itu untuk berbicara sebentar dengan Marissa. Dia ingin bertanya mengapa Marissa tidak masuk sekolah hari ini dan ingin juga memberitahukan tentang tugas tugas sekolah yang diberikan guru tadi siang. Tapi pengusiran halus dari Arjuna membuat dirinya tidak boleh lagi duduk berlama lama di ruang tamu itu.

"Duduk Marissa," kata Arjuna tegas ketika Marissa hendak beranjak mengantarkan Dewi hingga ke depan rumah. Akhirnya Marissa hanya dapat melihat kepergian temannya itu dari sofa dia duduk.

"Sok baik," kata Marissa sinis. Dia tidak merasa simpati lagi atas kebaikan kebaikan Arjuna setelah dirinya diperlakukan seperti ini.

"Jangan kurang ajar kamu Marissa," kata Arjuna marah karena Marissa mengatakan dirinya sok baik.

Marissa tidak perduli dengan kemarahan Arjuna. Wanita itu justru beranjak dari duduknya. Tapi dengan cepat. Marissa bisa merasakan jika tangannya ditahan oleh Arjuna.

"Apa maksud kamu mengatakan itu," kata Arjuna setelah langkah Marissa tertahan.

"Kamu dan istri pertama mu itu adalah orang orang yang sok baik," kata Marissa tidak takut. Setelah menyadari dirinya diasingkan dan tidak dihargai. Maka Marissa juga tidak ingin menghargai mantan kedua orang tua angkatnya itu. Bagi Marissa balas budi yang diharapkan oleh Nisa sangat keterlaluan.

"Kurang ajar kamu Marissa."

"Kurang ajar. Aku kurang ajar?. Asal kamu tahu pak Arjuna yang terhormat. Dengan sikap kurang ajar itulah yang mengantarkan kamu menjadi orang tua nanti. Satu hal yang tidak bisa diberikan oleh istrimu tercinta?" tantang Marissa berani.

Marissa berubah menjadi sosok yang antagonist. Dia merasa menjadi orang baik membuat dirinya diperlakukan seperti ini. Dia sudah tidak dianggap lagi jadi untuk apa harus bersikap baik kepada orang yang menghancurkan masa depannya. Bukan niatnya tidak ingin membalas kebaikan Arjuna dan mama Nisa selama menjadikan dirinya sebagai putri angkat. Marissa sudah berusaha untuk menjadi anak yang baik dan membanggakan bagi Arjuna dan mama Nisa. Tapi setelah Marissa melihat video itu secara langsung. Marissa menduga jika video itu sengaja direkam untuk menjebak dirinya.

"Jangan mengatakan hal menghina istriku, Marissa."

Arjuna merapatkan giginya karena marah dengan perkataan Marissa. Dia tidak terima jika istrinya dikatakan tidak bisa memberikan keturunan bagi mereka. Arjuna masih mempunyai pengharapan jika dirinya dan Nisa akan mempunyai anak kandung. Usia mereka masih dibawah empat puluh membuat Arjuna optimis.

"Kenyataannya seperti it...."

Arjuna tidak ingin mendengar apapun dari mulut Marissa yang menghina Nisa. Arjuna tidak marah. Karena rasa amarah yang memuncak itu, ingin rasanya Arjuna menampar wajah Marissa. Tapi otaknya berkata lain. Bukan menampar mulut istri keduanya. Justru Arjuna menyumpal mulut istri keduanya itu dengan bibirnya. Arjuna mencium bibir Marissa dengan kasar bahkan menggigit bibir gadis belia itu karena amarahnya itu.

Marissa terkejut ketika menyadari bibir Arjuna mendarat di bibirnya. Marissa tidak terima dan berontak. Dia memukul dada Arjuna supaya melepaskan bibirnya tapi pria itu seakan tidak perduli atau bahkan tidak merasakan sakit atas pukulan Marissa.

"Jangan mengatakan aku dan Istriku sok baik jika kamu yang sok baik. Lihat dirimu. Kamu sok menolak ciuman ku tapi kamu menginginkan lebih. Dasar bocah kurang ajar. Menyesal aku memungut kamu jadi putri angkatku dulu," kata Arjuna setelah melepaskan bibirnya dari bibir milik Marissa. Arjuna bahkan mendorong Marissa sehingga terduduk di sofa.

"Kalau begitu, lemparkan aku ke jalanan pak Arjuna yang baik," kata Marissa sinis. Dia berharap Arjuna semakin marah dan mengusir dirinya dari rumah itu.

"Tidak semudah itu perempuan licik. Lahirkan dan tinggalkan anak itu terlebih dahulu. Maka aku akan melemparkan kamu ke jalanan tanpa sepeser uang," jawab Arjuna. Pria itu semakin mendekati Marissa. Tidak ada lagi sorot kedamaian di kedua mata Marissa maupun di kedua mata Arjuna. Mereka berdua terlihat saling membenci karena perkataan masing masing.

Marissa tersenyum sinis. Menyadari anak yang di rahimnya itu adalah hal paling berharga bagi Arjuna dan mama Nisa. Maka Marissa pun menemukan ide untuk mengungkap dibalik adanya video panas antara dirinya dan Arjuna. Dia akan mencoba bertahan terkurung di paviliun itu demi membersihkan nama baiknya.

"Apa yang kamu pikirkan. Apa kamu berharap kita melanjutkan kan di kamar?" tanya Arjuna mengejek Marissa.

Marissa memalingkan wajahnya supaya tidak bertatapan dengan Arjuna. Dia malu mendengar perkataan Arjuna karena yang terdengar risih di telinganya. Di saat seperti ini. Marissa menganggap Arjuna masih papa angkatnya dan sepantasnya tidak berkata seperti itu.

"Jangan harap, meskipun hal itu bisa dan halal. Aku tidak akan sudi melakukan dengan kamu. Cukup sekali itu saja," kata Arjuna seakan merendahkan harga diri Marissa. Seakan akan adegan di video itu benar benar karena Jebakan Marissa atas dirinya.

Tapi apa dikatakan oleh Arjuna tidak seperti yang dia katakan. Melihat Marissa tersenyum sinis kepada dirinya. Arjuna kembali tersulut amarah. Bukan tangannya yang memberikan pelajaran kepada Marissa tapi kini bibirnya yang menghajar Marissa.

"Lepaskan aku pak Arjuna," kata Marissa kencang setelah berhasil mendorong tubuh Arjuna. Dia berharap mama Nisa muncul di ruang tamu itu supaya Arjuna tidak lagi memancing dirinya. Tapi lagi lagi Arjuna menahan kaki Marissa dengan kaki miliknya sehingga Marissa tidak bisa bergerak untuk berdiri. Marissa berniat hendak meninggalkan Arjuna di ruang tamu itu supaya tidak menperpanjang masalah.

"Arjuna. Apa yang kamu lakukan di sini".

Ternyata yang diharapkan Marissa untuk menyelamatkan dirinya dari kemarahan Arjuna muncul di ruang tamu itu meskipun bukan mama Nisa. Nenek Rosa muncul di hadapan mereka.

1
Siti Yatimatin
sungguh kejam
Desi Eka s
Luar biasa
Nurlaila Hasan
keren lah...
mom's Azril
udah 1 tahun gak ada sambungan ceritanya y thor
Arni
y ini gmn ceritanya kak, jd penasaran
Yayi Maryati
klo aku ko geli yah bacanya ,,,anak adopsi mengandung benih papah angkat,,,kesannya gimana gitu ,,waloupn ini cmn novel ,, tpi yg d BCA BKN cmn kisah cintanya aja ,,tpi alur dari kehidupn sebuah Kel ,,klo seorang ayah yg baik mungkin ga bkln tega menggauli anaknya sendri Yach
Arni: y, emang pasti g tega kan saat menggauli nya lg pd g sadar akibat terobsesi pengen punya keturunan jd otaknya O
total 1 replies
Nunik Juliastuti
Kaka author ini ada lanjutannya ngkk Kaka aq masih penasaran ceritanya 🤗
Mami Al
nungguin nih...., tumben lama bgt up nya Thor....
mom's Azril
Thor knpa GK lanjut LG ceritanya
Arni: da lama nungguin gmn kelanjutannya, da g dilanjut apa
total 1 replies
Hanizar Nana
😂😂😂😂
aku dewe
lanjut
sriefah muliani
mana janji mu thorrrr yang katanya diusahakan selalu up..dah mau sebulan ini belum ada up nya
Sͨυͪɦͣυᷡ ǪḺǝͷḡ✨𝒜⃟ᴺᴮE𝆯⃟🚀HIAT
lama gak up ya Thor 😐
.
lama gak up
Mesra Jenahara
aassyyiikk .cinta mmng terasa indah..😍😍❤️❤️
m. adibai bai
cieee, Arjun berasa muda lagi punya istri abg
Nurbaiti Nurbaiti
bagus
Dewita
koq udH end ya Thor kan blm slsai crita ny
Linda ma: Tetap lanjut kok kak.
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ❀∂я🤎AnitaPraditaM⃟3💋
☺seyum2 sendiri bc y
Arjun dah berasa seperti ABG lg krn menikah dengan yg msh ABG
Beruntung km Arjun dpt Marissa yg msh ori😆
Nana Conley loehat
q jd ikutan kasmaran ahaiii😆😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!