Nazifah Elyana, gadis berusia 19 tahun yang harus menerima takdirnya yaitu menjadi istri kedua setelah dinodai oleh majikannya sendiri.
Apakah akan ada cinta setelah pernikahannya? Bagaimana perjalanan cinta Nazifah yang terpaksa menjadi simpanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf, Aku Pergi!
Keesokannya, Vita dan Adam sudah bersiap untuk wisata. Keduanya pamit pada Rima.
Setelah kepergian anak dan menantunya itu, Rima menanyakan rencana Titin yang dianggapnya gagal.
"Mungkin untuk saat ini Nyonya Vita masih dapat menyembunyikan perasaannya, kita lihat saja nanti, Nyonya."
Rima pun mempercayai Titin dan memilih untuk ke kamarnya.
Sementara itu, Di bandara, Adam sedang menunggu salah satu sahabatnya, ia adalah Bastian dan istrinya.
Adam menghadiahkan liburan ini sebagai kado pernikahan, dua pasangan itu akan pergi ke pulau komodo.
Melihat Bastian membuat Vita sedikit merasa canggung, tetapi, wanita itu kembali seolah tak ada apapun dengan pria itu.
Sementara Bastian, ia tersenyum pada Vita seraya merangkul pinggang istrinya, menunjukkan kemesraannya.
Bastian yakin itu akan membuat Vita merasa iri, Bastian paham betul dengan sifat iri dari Vita karena Vita sendiri yang sering menceritakannya.
Benar saja, Vita langsung melingkarkan lengannya ke lengan Adam. Seolah tak mau kalah mesra, tetapi, Adam bukanlah pria yang mudah menunjukkan kemesraannya di depan umum, cenderung dingin dan terlihat cuek.
****
Di rumah Rima, wanita itu kedatangan tamu tak diundang, tamu itu adalah David yang ingin bertemu dengan Nazifah.
Sayangnya, David tak menemukan yang dicari. Rima mengatakan kalau Nazifah sudah dipecat, mendengar itu David menjadi merasa tidak tega pada Nazifah.
Sudah dinodai dan sekarang dibuang! Begitulah pikir David.
"Adam!" geram David, pria itu pun mencoba menghubungi Adam walau ponsel temannya itu tak dapat dihubungi.
David pun pergi dari rumah itu membawa pertanyaan di hatinya, "Di mana Nazifah?"
"Apa sekarang lo sebejad itu, Dam? Atau lo takut kehilangan Vita sampai setega itu sama Nazifah?" David seolah menjadi orang benar dan berprikemanusiaan pada Nazifah, padahal awal mula penderitaan Nazifah adalah darinya yang menantang Adam taruhan.
****
Di rumah Nazifah.
Nazifah yang tidak memiliki kegiatan itu hanya belajar mengurus tanaman dari Mirah untuk menghilangkan rasa bosannya.
Di sela-sela belajar menanam itu, Mirah menanyakan sesuatu pada Nazifah.
"Zifah? Apa kamu bahagia dengan pernikahan ini?"
Mendengar pertanyaan itu, Nazifah terdiam, ia sendiri tidak tau, awalnya ia hanya tau untuk menutupi aibnya dan sekarang selalu memikirkan Adam.
Mungkinkah ini yang dinamakan cinta karena terbiasa bersama? Bersama yang seperti apa? Bahkan waktu yang Adam berikan untuk Nazifah tidak sebanyak waktu yang ia berikan pada Vita.
"Kenapa? Kalau kamu enggak bahagia bilang saja, kita bisa pulang, Nak!" ucap Marwah, ia meyakinkan putrinya, ingin Nazifah bisa mengambil keputusan.
Entah mengapa, mendengar kata pulang berarti Zifah akan meninggalkan Adam.
Bertahan pun tak ada kata cinta dari pria itu, pria itu hanya menemuinya untuk meniduri saja.
Nazifah meneteskan air mata dan Mirah yang sedang duduk di jongkok kecil itu memeluk Nazifah.
"Menangis lah, ibu sudah tau semua!" kata Mirah yang ikut menangis, wanita itu merasakan kesedihan anak satu-satunya itu.
Dan Supardi yang baru datang dari dalam itu mendengar semua apa yang dikatakan oleh Mirah, Supardi menjadi ingin tau apa yang sebenarnya mereka sembunyikan dari Nazifah.
"Bapak," lirih Nazifah seraya melepaskan pelukan Mirah. Keduanya segera menghapus air mata dan mencoba mencari alasan.
"Jadi cuma bapak yang engga tau apa-apa?" tanya Supardi, terdengar sangat kecewa dengan keduanya.
"Bukan begitu, Pak. Ibu takut bapak akan emosi," kata Mirah seraya bangun dari duduk.
Ia menghampiri Supardi yang berdiri di depan pintu rumah.
"Ada apa? Bapak merasa harus tau! Katakan ada apa? Apa ini menyangkut dengan pernikahan Nazifah?" geram Supardi. Sebenarnya, lelaki itu sudah mencium aroma keanehan dari pernikahan Nazifah dan Adam.
Apalagi keduanya tak kunjung mengesahkan pernikahannya di pengadilan agama.
Mirah yang didesak oleh Supardi itu pun akhirnya menceritakan apa yang diketahuinya.
"Betul itu, Nazifah?" tanya Supardi pada Nazifah, ia ingin mendengar sendiri jawaban itu dari anaknya.
Bukannya menjawab, tetapi Nazifah menangis, ia menundukkan kepala dan Supardi membawa anaknya masuk ke rumah, tidak ingin ada tetangga yang melihat putrinya sedang menangis.
Melihat Nazifah yang menangis itu membuat Supardi menjadi tau jawabannya.
Supardi pun keluar dari rumah, ia ingin pergi menemui Adli.
"Pak, mau kemana?" tanya Mirah seraya mengejar Supardi yang terlihat sangat marah.
"Ke rumah besan, kalian tunggu saja di rumah, berkemas! Kita akan pulang!" tegas Supardi dan Nazifah pun masuk ke kamar, ia menangis sesenggukan.
Nazifah benar-benar tidak tau harus menurut pada siapa, ayahnya atau suaminya yang tanpa kejelasan atas hubungannya.
"Bahkan aku enggak tau, diantara kita adalah cinta?" tanya Zifah dalam hati.
Nazifah pun ingin menghubungi Adam, tetapi, Nazifah teringat dengan pesan Adam yang melarangnya. Nazifah pun hanya meninggalkan sepucuk surat di atas nakas.
"Aku pergi, maaf aku membawa anak kita," tulis Nazifah.
****
Di rumah Adli, pria itu yang sedang bekerja harus pulang karena Sabrina mengatakan kalau ada tamu dari jauh.
Sabrina menawarkan minuman yang sudah tersaji, tetapi, Supardi hanya melihat minuman itu tanpa menyentuhnya.
Bahkan Supardi tidak menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari Sabrina.
Tidak menunggu lama yang ditunggu pun datang.
Adli mengulurkan tangannya pada Supardi, tetapi pria yang sedang tersulut emosi itu tidak menerima uluran tangan itu.
"Ada apa ini? Sepertinya sangat serius?" tanya Adli seraya mengajak Supardi kembali duduk.
"Saya sudah mengetahui semuanya! Tidak perlu lagi ada yang ditutupi! Dan saya sangat tidak terima dengan apa yang anak bapak lakukan terhadap anak saya!"
"Saya mengerti maka dari itu anak saya tanggung jawab," jawab Adli seraya menatap Supardi.
"Tanggung jawab apa kalau anak saya cuma jadi selingan! Jadi simpanan! Kalian pikir saya tidak sakit hati?" Supardi pun kembali bangun dari duduknya.
"Begini, Pak. Kita bicarakan baik-baik, silahkan duduk," kata Adli.
"Maaf, saya sangat kecewa, apalagi saya tidak tau apa-apa dari awal! Saya mohon sama bapak, jangan beritahu di mana alamat saya tinggal! Kami tidak butuh yang namanya hanya status!" ucap Supardi yang kemudian pergi.
Supardi yang diantar tetangga itu pun segera kembali ke rumah Nazifah.
Sesampainya di rumah, Nazifah dan Mirah sudah selesai berkemas.
"Pak," lirih Nazifah yang seolah berat meninggalkan rumah itu, ia berpikir kalau tiga hari lagi Adam akan datang untuk menemuinya.
"Apalagi, Zifah! Apa kamu mau hanya dijadikan mainan Adam?" geram Supardi pada Nazifah, Mirah yang berdiri di samping Nazifah itu membenarkan ucapan Supardi.
"Kita pulang, Nak!" ajak Mirah dan Nazifah dengan berat hati mengikuti orang tuanya.
"Selamat tinggal, Mas!" ucap Nazifah dalam hati.
Bersambung.
Apakah Adam akan merasa kehilangan? Akankah Adam mencari Nazifah?
Jangan lupa like dan komen, ya.
Maafkeun typonya ya 😁🤗🤗🤗
lagian..nazifah jg hamil...
sukses
semangat
mksh
Di tunggu karya² bucin selanjutnya🥰
Semangat mbk Mal😍😍