Di usianya yang ke 27 tahun, Nattan sama sekali tidak berniat untuk menikah dan membina sebuah rumah tangga seperti pria normal pada umumnya.
Sang ibu yang notabene ingin segera memiliki menantu dari putra bungsunya, beberapa kali berusaha untuk menjodohkannya dengan beberapa gadis pilihannya yang berakhir dengan penolakan Nattan.
Hingga suatu hari saat ia berniat baik untuk menolong seorang gadis yang kala itu hampir dilecehkan oleh dua orang preman, justru malah membawanya pada sebuah tanggung jawab yang besar seumur hidupnya.
Terpaksa Menikahi Gadis SMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mawarjingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan
"Kamu lapar Nat?" ucap Dinda, saat melihat Nattan telah menghabiskan semangkuk baksonya dalam waktu singkat.
"Atau karena baksonya enak, emang enak sih kalau menurut tante." lanjut Dinda sembari meneguk es teh manis miliknya yang mulai mencair.
"Mas Nattan mau nambah?" ujar Anggia.
"Nambah lagi saja Nat, kamu kan nggak makan nasi siang ini." timpal Dinda lagi, yang diangguki Anggia.
"Iya mas, nambah lagi aja ya." Anggia beranjak menghampiri Abang penjual bakso dan kembali kepada Nattan dengan semangkuk bakso yang masih mengepulkan uap panas.
"Pelan-pelan mas, masih panas." Cegah Anggia saat Nattan hendak menyendok bakso tersebut kedalam mulutnya.
Sedangkan Nattan menurut, membiarkan sebentar semangkuk bakso itu agar sedikit lebih dingin.
"Duh manis banget sih kalian." Goda Dinda dengan senyum di kulum, entah mengapa saat melihat hal sederhana yang dilakukan suami istri muda dihadapannya membuat Dinda turut merasakan kebahagiaan yang sama yang sempat ia rasakan juga di masa lalu.
Disaat ia muda, dan untuk pertama kalinya mengenal cinta dengan pria sederhana, yang kemudian ia tinggalkan demi mengejar kemewahan dari pria lain yang ternyata tidak membuat hidupnya cukup bahagia.
"Tante senang deh lihat yang beginian, akur terus ya kalian, tante doakan pernikahan kalian bahagia selamanya."
"Aamiin Tan, tapi kalau soal kebahagiaan yang seterusnya saya rasa mungkin tidak! Karena ujian hidup itu pasti akan selalu ada, tapi saya akan mencoba untuk berusaha menjaga ikatan suci kami hingga maut memisahkan." Ujar Nattan yang membuat Anggia terdiam seketika.
Melirik suaminya yang tampak tenang, dan mulai menikmati bakso porsi keduanya.
Anggia berpikir, Nattan tidak bersungguh-sungguh dalam ucapannya, jelas seorang CEO seperti Nattan sudah sangat berpengalaman dalam mengambil hati seseorang.
Dan Anggia yakini kali ini Nattan berbicara seperti itu semata-mata karena sedang berada didepan Dinda.
"Tante kenal ibu kamu sudah lama, ayah kamu juga, ya walaupun tidak terlalu dekat dengan ayah mu tapi tante tahu beliau tipe pria yang sangat berkomitmen dengan pasangannya."
"Intinya jangan pernah meninggalkan seseorang yang sudah bersedia menemani hidup kita tanpa banyak menuntut, karena jika kita salah langkah, penyesalan itu tidak akan pernah hilang sampai kita mati sekalipun."
"Tante berbicara seperti ini, karena tante sudah pernah mengalaminya, dan tante rasa kata menyesal saja tidak akan cukup untuk menggambarkan betapa tante sangat menyesali perbuatan tante di masa lalu." Lanjut Dinda, sembari menyeka sudut matanya yang tiba-tiba basah.
"Tan." Dengan ragu Anggia menyentuh tangan Dinda, yang sontak membuat wanita tersebut mematung, namun di detik berikutnya wanita itu tersenyum lembut, dan balas menyentuh tangan Anggia.
"Maaf, tante jadi melow begini, habisnya tante gemes lihat kalian."
Anggia meringis dengan senyum tipis, seandainya tante tahu bahwa hubungan kami tidak semanis yang terlihat, batin Anggia, tiba-tiba ia merasakan nyeri saat membayangkan bagaimana sikap Nattan kepadanya selama ini.
Dan disaat yang sama, Nattan menyadari raut wajah Anggia yang berubah murung.
"Oh iya Anggia Tante penasaran deh nama lengkap Anggia apa ya, tapi maaf sebelumnya kalau pertanyaan tante ini mungkin sedikit kurang sopan."
"Tidak apa-apa tante, Anggia Aprilia Zahra nama lengkap saya."
Deg!
Bagai disambar petir di siang bolong, tubuh Dinda menegang seketika, bahkan ia merasa detak jantungnya seolah berhenti saat itu juga.
*
''Anggia boleh saya minta tolong?"
"Hah?" Anggia mematung, kemudian mendongak menatap sang suami yang berdiri dihadapannya dengan membawa sebotol minyak angin ditangannya.
"Boleh saya minta tolong?" ulang Nattan.
"B-boleh."
"Tolong kerokin punggung saya." Nattan mengulurkan minyak angin yang dibawanya.
"Se-sekarang?"
"Besok! ya sekaranglah Anggia! ayok."
"Ayok!'' ulangnya saat mendapat respon yang sama dari Anggia, yaitu hanya mengerjap-ngerjapkan kedua matanya mirip seperti orang linglung.
"K-kenapa harus di buka mas?" ucap Anggia saat melihat sang suami membuka baju dihadapannya.
"Menurut kamu, memangnya ada orang yang mau kerokan pakai baju?"
"Umm, itu_ maksud saya."
"Bisa kita mulai Anggia, kalau saya harus nungguin sampai kamu selesai bicara, bisa-bisa saya malah keburu pingsan nantinya."
"B-baik mas."
"Kenapa lagi? kamu takut? tidak usah khawatir Anggia, saya tidak tertarik dengan tubuh triplek kamu." lanjut Nattan saat melihat reaksi Anggia yang masih sama seperti semula.
"Apa, teriplek?"
"Kamu baru menyadari kalau tubuh kamu itu mirip seperti triplek?"
"Mas_" Anggia mengepalkan kedua tangannya menahan kekesalan.
"Tidak perlu komplain, saya hanya mengatakan yang sebenarnya." Nattan menaiki ranjang kemudian merebahkan tubuhnya dengan posisi tengkurap.
"CK, tunggu apalagi sih Anggia, dengar! istri yang tidak mematuhi perintah suami itu dosa lho."
Anggia berdecak dalam hati, sejak kapan suaminya itu mulai banyak berbicara seperti sekarang ini, ia baru tahu rupanya selain menyebalkan suaminya itu termasuk pria yang sangat bawel.
Dengan sedikit ogah-ogahan Anggia mulai menuangkan sedikit minyak angin keatas punggung suaminya, dan mulai memijatnya dengan gerakan perlahan, hingga dapat Nattan rasakan jemari halus Anggia menari lembut diatas punggungnya dan mengakibatkan debaran asing yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Cukup!"
"Lho kenapa mas? nggak enak ya pijatannya?" ujar Anggia begitu melihat suaminya beranjak dan memakai bajunya kembali.
"Ya, saya rasa begitu." jawabnya seraya berlalu dari kamar tersebut dengan wajah datarnya.
*
*