Siapa sangka. Hidup bahagia bersama pria yang sangat dicintai Lala kandas begitu saja hingga akhirnya dia dijuluki sebagai pelakor. Kesabarannya telah habis hingga ia memutuskan menikah dengan pria lain. Sayangnya, Rama tidak membiarkan Lala bahagia. Dia terus mengusik hidup Lala karena baginya Lala adalah miliknya.
Bukan hanya itu saja. Pria yang dinikahi Lala juga memiliki segudang rahasia. Lala merasa frustasi melihat takdir hidupnya yang tidak pernah memihak kepadanya.
Akankah Lala bisa meraih kebahagiaan yang selama ini ia impikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BP. Bab 23
"Namanya?" Rama bertanya balik untuk memastikan kalau memang Robi ingin tahu siapa nama wanita yang ia cintai. Rasanya Rama masih tidak percaya. Kalau pria sukses seperti Robi bisa seingin tahu itu tentang masalah pribadi rekan bisnisnya.
Sedangkan Rama sendiri, tidak terlalu suka membahas masalah pribadinya secara detail kepada orang lain. Terutama pria. Dia hanya tidak mau sampai Robi penasaran dan mencari tahu soal Lala. Hal-hal buruk terlintas begitu saja di dalam benaknya hingga akhirnya dia memutuskan untuk tidak memberi tahu nama Lala.
"Namanya Anna," jawabnya asal saja. "Dia sudah tidak bekerja lagi di resto itu. Saya memintanya berhenti waktu itu."
"Anna?" Robi seperti sedang mengingat-ingat. Sebenarnya ada atau tidak karyawan yang bernama Anna. Namun, dia juga orang baru di resto itu.
"Sepertinya yang tadi saya bilang. Pernah bekerja. Mungkin anda tidak mengenalnya karena dia sudah lama keluar," sahut Rama lagi agar Robi tidak kelihatan seperti orang kebingungan.
Robi tertawa mendengar jawaban Rama. "Ya, anda benar. Saya pemimpin baru di resto itu. Saya tidak terlalu ingat nama-nama karyawan yang sekarang bekerja di sana. Hanya beberapa saja. Bagaimana bisa saya kenal dengan mantan karyawan resto," jawab Robi. "Tapi, anda sangat hebat. Jarang saya temui pria seperti anda. Memilih wanita sederhana dan meninggalkan wanita berkelas yang sudah di nikahi. Tapi, jujur saja. Sampai sekarang saya belum pernah jatuh cinta. Jadi, saya tidak tahu segila apa kita sebagai seorang pria ketika sudah jatuh cinta. Apa memang benar, cinta itu buta?"
"Bukan hanya buta, Tuan. Kau bisa kehilangan segalanya ketika seseorang yang kau cintai pergi. menghilang tanpa kabar. Meninggalkan tanpa alasan. Ini sangat buruk. Saya harap anda tidak pernah mengalaminya."
"Benarkah seperti itu?" Robi masih terlihat tidak percaya dengan jawaban Robi.
"Setiap pria pasti akan pernah merasakan jatuh cinta. Ada yang hanya sekali. Ada yang bisa sampai dua kali-"
"Ada yang berulang kali?" sahut Robi yang lagi-lagi dengan tawa meledek. Sebenarnya pria itu hanya ingin mencairkan suasana saja.
Tidak ada niat untuk memperkeruh keadaan. Sejak pertama kali bertemu dengan Rama. Pria itu terlihat sangat tegang dan stres. Maka dari itu Robi berusaha mengajak pria itu bercanda. Walau tidak bisa membantu Rama, setidaknya dia bisa membuat Rama tersenyum. Robi sama sekali tidak berpengalaman soal cinta. Dia tidak akan mampu membujuk rekannya, jika masalah itu berhubungan dengan percintaan.
"Tuan, saya belum pernah menemui pria yang jatuh cinta hingga berulang kali. Karena sejatinya seorang pria hanya satu atau dua kali mencintai seorang wanita dengan tulus. Selebihnya pasti pria itu berbohong. Atau sekedar rayuan semata," sahut Rama.
Robi melihat ke arah pengawal yang ia tugaskan berjaga di kamar Lala dan Rena. Wajah pria itu terlihat sangat khawatir hingga membuat Robi menjadi panik.
"Ada apa?"
"Nona Lala kritis, Tuan," jawab penjaga itu.
"Lala?" Rama yang berdiri lebih dulu di bandingkan Robi.
Robi berdiri dan menepuk pundak Rama. "Lala karyawan baru saya. Saya mau ke dalam dulu melihat keadaannya, Tuan. Maaf jika harus saya tinggal sendiri di sini."
Rama masih berdiri seperti orang bingung. Pria itu memandang Robi dan pengawalnya pergi menuju ke sebuah ruang VVIP.
"Lala? Apa aku tidak salah dengar?" batin Rama. Ia berusaha berpikir positif lagi. "Tidak. Lala baik-baik saja. Mungkin hanya kebetulan saja namanya sama. Tadi malam aku masih sempat menghubungi Lala. Itu berarti dia berada di tempat yang aman.
Mungkin ... memang kebetulan saja namanya sama. Ada banyak nama Lala di kota ini. Tidak mungkin Lala yang di maksud adalah Lala yang aku miliki. Tetapi, kenapa aku ingin sekali melihat wajahnya? Apa aku masuk saja ke dalam dan memastikan sendiri kalau Lala yang mereka maksud berbeda dengan Lala yang aku miliki?"
...***...
Maya tidak berselera menghabiskan sarapan paginya. Wanita itu memandang ke depan dengan tatapan tidak terbaca. Satu tangannya terus saja mengaduk-aduk nasi goreng yang masih hangat. Kedua orang tua Maya terlihat bingung.
Memang masalah perceraian ini masih di simpan rapat-rapat oleh Maya. Dia tidak mau kedua orang tuanya sampai tahu. Waktu itu kedua orang tua Maya sempat tidak setuju ketika Maya menerima lamaran keluarga Rama. Namun, demi kebahagiaan putrinya mereka akhirnya memberi restu hingga mereka bisa sampai menikah dengan acara resepsi seadanya. Tidak terlalu mewah dan besar.
"Pernikahanmu dan Rama baru seumur jagung. Tetapi, sampai sekarang mama tidak pernah dengar ada rencana untuk bulan madu. Apa Rama benar-benar mencintaimu, Maya?" tanya seorang pria paruh baya yang tidak lain adalah ayah kandung Maya.
"Pa, semua baik-baik saja."
"Kau selalu berkata seperti itu. Tetapi, sikapmu terlihat seperti orang yang tidak baik-baik saja," sahut sang ibu.
Maya menghela napas panjang. "Bukankah di dalam pernikahan pasti ada perselisihan paham? Hari ini aku dan Mas Rama sedang berselisih paham. Besok juga baikan lagi kok," sahut Maya asal saja. Yang penting kedua orang tuanya tenang. Tidak terus-menerus memikirkannya dengan wajah khawatir.
"Mama sama Papa pernah lihat gosip di televisi. Katanya Rama selingkuh. Apa itu benar?"
Maya mematung. Dia mengukir senyuman manis untuk mengelabuhi kedua orang tuanya. "Mama sama papa percaya?"
"Jika mama dan papa percaya, kami akan langsung menemui Rama dan meminta penjelasan pria itu!" sahut sang ibu.
"Bagus dech kalau gitu. Media memang selalu seperti itu. Dekat wanita dikit di bilang selingkuh. Padahal wanita yang lagi digosipin sebagai selingkuhan Mas Rama itu hanya seorang pelayan resto Ma. Kebetulan jam Mas Rama ketinggalan dan wanita itu menyimpankannya. Karena jam kesayangan, Mas Rama jemput itu jam besoknya. Tiba-tiba saja media muncul dan-"
"Kenapa Rama harus mengejar wanita itu?" sahut sang ayah.
"Karena Mas Rama gak mau wanita itu sampai jelek di mata media," dusta Maya lagi.
"Lalu, kenapa Rama gak Klari saja masalah ini Maya?" Kali ini ibu kandung Maya sudah semakin tidak percaya dengan jawaban putrinya.
"Karena itu tidak benar dan wanita itu tidak penting Ma!" Maya beranjak dari kursi. "Maya mau ke rumah Mama Asri. Ada yang ingin Maya sampaikan Ma." Maya mengecup pipi kedua orang tuanya.
"Gak sarapan dulu?" tanya sang ibu.
"Maya buru-buru Ma!" teriak Maya sambil berlari. Setelah Maya sudah menjauh, sepasang suami istri itu saling memandang satu sama lain.
"Sejak kapan dia bisa menutupi kesedihannya? Sekarang dia sudah lebih dewasa," puji sang ayah. "Papa yakin, Maya merasa sedih sekarang ini Ma."
"Gak ada yang bisa kita perbuat selain berdoa agar anak kita selalu diberi kemudahan, Pa."