NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Lagi, Altair

Jangan Jatuh Cinta Lagi, Altair

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Romantis / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Mengubah Takdir / Pernikahan Kilat
Popularitas:84
Nilai: 5
Nama Author: Ladies_kocak

Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.

Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.

Akankah dendamnya terbalaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 : Eksekutor yang membangkang

Pulang dari kampus, motor Ducati hitam Altair baru saja memasuki gang rumahnya ketika ponselnya bergetar. Satu pesan masuk dari nomor yang tidak pernah ia simpan, tetapi selalu ia kenali.

Mr. Daniel: Menghadap ke mansion Andrea’s. Sekarang.

Altair menatap layar ponsel selama tiga detik. Wajahnya datar, dingin seperti biasa. Tanpa membalas, ia memutar motor dan melaju ke arah sebaliknya.

Mansion Andrea’s berdiri megah di atas bukit. Dinding marmer putih, pilar-pilar tinggi, dan taman yang dirawat lebih baik daripada taman kota. Begitu motor Altair berhenti di pelataran, beberapa pengawal yang berjaga saling melempar pandang. Pelayan yang sedang membawa nampan pun menoleh.

Mereka heran.

Setelah pernikahan Altair dengan Aquilla, putri angkat Tuan Daniel, semua orang mengira Altair akan mengundurkan diri. Melepas status sebagai eksekutor keluarga Andrea’s. Namun nyatanya, laki-laki itu masih datang, dengan jaket kulit hitam dan tatapan yang sama mematikannya.

Di depan ruang kerja Daniel, seorang pria paruh baya berdiri tegak. Martin, asisten pribadi Daniel. Rambutnya sudah memutih di sisi, tetapi posturnya tetap kaku seperti tentara.

Martin mengangguk hormat. Altair hanya membalas dengan anggukan sekilas sebelum mendorong pintu kayu jati itu dan masuk.

Ruangan yang sama. Bau cerutu, rak buku berisi dokumen legal dan ilegal, dan meja kerja besar dari kayu mahoni. Di balik meja itu, Daniel Andrea's duduk di kursi kulit. Usia lima puluh awal, rambut disisir rapi, jas abu-abu tanpa dasi. Ia menatap Altair dengan senyum tipis, seolah sedang menyambut anak yang pulang.

Altair berhenti di depan meja. Kedua tangannya masuk ke saku jaket. Punggung tegak, wajah tanpa ekspresi, mata menatap lurus ke arah Daniel.

“Siapa kali ini?” tanya Altair to the point, tanpa basa-basi. Suaranya datar, dingin.

Daniel terdiam. Ia mengamati Altair dari atas sampai bawah, lalu sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum miring. “Kau semakin dingin, Altair.” Kalimat itu penuh arti, seperti sedang menimbang sesuatu.

Altair hanya mengangkat bahu. “Dari dulu saya memang seperti ini.”

Daniel tidak membantah. Ia membuka laci, mengambil sebuah foto, lalu melemparkannya ke atas meja. Foto itu meluncur dan berhenti tepat di depan Altair.

Di dalam foto, seorang pria berotot dengan kepala plontos. Di lengan kanannya, tato burung gagak hitam membentang dari bahu hingga siku. Raven Claw. Gengster terbesar di pelabuhan utara. Brutal, kejam, dan dipimpin oleh Zander, laki-laki berusia tiga puluhan yang namanya saja membuat polisi memilih memalingkan muka.

Zander adalah musuh utama Daniel. Kekuasaan mereka hampir seimbang. Dan pria di foto ini adalah target yang harus Altair temui di kehidupan pertama, diam-diam, untuk berpindah haluan ke pihak Raven Claw dan melawan Daniel dari dalam.

Altair mengambil foto itu. Wajahnya tetap datar, tetapi otaknya berputar cepat. “Kapan saya bisa melakukannya?”

“Malam ini,” jawab Daniel. Ia mencondongkan tubuh, menangkupkan kedua tangan di atas meja. “Menurut keterangan orang kepercayaanku, dia adalah tangan kanan Zander. Habisi dia. Dia ancaman besar bagi kita. Malam ini dia berada di Club Vortex, club milik musuh kita.”

Altair mengangkat alis. “Kau menyuruhku menghabisi orang ini di kandang sendiri?”

Ingatannya kembali ke kehidupan pertama. Tugas yang sama. Club Vortex. Ia berhasil membunuh pria ini, tetapi ketahuan. Hasilnya, ia ditangkap anak buah Zander, disiksa selama tujuh hari tujuh malam di gudang pelabuhan. Tulang rusuk patah, kuku dicabut, sampai Daniel menebusnya dengan uang dan perjanjian kotor.

Kali ini tidak akan terjadi. Ia tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Entah dengan membunuh pria itu tanpa jejak, atau justru memanfaatkan situasi untuk berbicara langsung dengan Zander.

“Kau ingin menjebak saya?” tanya Altair, matanya menyipit.

Daniel tertawa pelan. “Tidak, Altair. Saya punya pilihan untukmu. Kau bebas tidak menerimanya. Tapi kau akan kehilangan uang lima puluh ribu dolar.”

Altair diam, berpura-pura berpikir. Padahal di dalam kepalanya, ia sudah menyeringai licik. _Kita mulai permainannya, Mr. Daniel._

“Saya ambil,” jawab Altair akhirnya. Ia melipat foto itu dan memasukkannya ke saku jaket. Tanpa basa-basi, ia berbalik untuk pergi.

“Altair.”

Langkah Altair terhenti. Ia menoleh, kedua tangan masih di dalam saku, wajah tetap tanpa emosi.

“Saya punya penawaran bagus untukmu,” kata Daniel. Ia bersandar di kursi, memutar cincin di jarinya. “Menambah gajimu.”

Altair hanya menaikkan sebelah alis, tidak menjawab.

“Jadi pengawal pribadi putriku. Ruby.” Daniel ikut menaikkan sebelah alis, menantang.

Di kehidupan pertama, tawaran ini tidak pernah ada. Ini hal baru.

“Saya tak berminat, Mr,” jawab Altair dingin. “Saya tidak bisa mengawal orang. Saya hanya bisa membunuh orang.”

“Pekerjaan itu sangat mudah,” desak Daniel. “Kau juga mendapat gaji fantastis. Terimalah.”

“Maaf, Mr,” Altair menggeleng sekali. “Menurut saya putri Anda tak perlu pengawal. Karena saya yakin musuh Anda tak mengenal Ruby sebagai anak Anda. Tapi mereka mengenal anak Anda adalah istri saya. Aquilla.” Ia berhenti, menatap Daniel lekat. “Dari pada saya harus mengawal putri Anda, lebih baik saya menjaga istri saya dari musuh Anda.”

Tangan Daniel mengepal di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih. Altair secara terang-terangan menolak putrinya. Padahal dulu Altair tergila-gila pada Ruby. Mengekor seperti anjing, melakukan apa pun demi senyum gadis itu.

“Saya tidak butuh pekerjaan itu,” lanjut Altair. “Cukup menjadi eksekutor sudah memenuhi kebutuhanku dan istri saya. Lagian saya tidak ingin melukai hati istri saya dengan cara melindungi wanita lain.”

“Kau menolaknya?” tanya Daniel sekali lagi, suaranya merendah, berbahaya.

“Benar, Mr,” jawab Altair tanpa ragu. “Banyak pengawal yang lebih baik dari saya. Anda juga bisa meminta satu pengawal ke tunangan putri Anda. Bukankah Evan memiliki usaha pengawal?”

Daniel terdiam, lalu mendengus. “Mungkin saja kau ingin menerimanya. Mengingat istrimu itu menyukai uang dan matre.”

Mata Altair menyipit. Suhu di ruangan itu turun beberapa derajat. “Dia tidak matre,” ucapnya, pelan tetapi tegas. “Tapi wanita memang membutuhkan banyak uang. Dan saya yang akan memberikannya. Bukan Anda lagi.”

“Padahal pekerjaan itu permintaan putri saya sendiri,” Daniel berkata, seolah kecewa. “Tapi ya sudahlah.” Di dalam hatinya, darahnya mendidih. Dulu Altair penurut. Sekarang laki-laki di depannya tidak lebih dari anak buah yang membangkang.

“Permisi,” Altair pamit. Ia berbalik dan keluar dari ruangan tanpa menunggu jawaban.

Begitu pintu tertutup, Daniel membanting tangan ke meja. “Bocah itu mulai menjadi pembangkang,” desisnya kepada Martin yang masuk.

Sementara itu, di koridor marmer yang panjang, Altair berjalan dengan langkah tenang. Belum lima meter, ia berpapasan dengan seseorang.

Ruby Andrea's.

Gaun selutut berwarna pastel, rambut dikeriting, wajah cantik seperti boneka. Di kehidupan pertama, setiap kali bertemu Ruby, Altair akan otomatis tersenyum hangat, matanya berbinar.

Kali ini tidak.

Wajah Altair datar. Dingin. Tidak ada jejak cinta di matanya. Karena rasa suka itu sudah mati, bersama dengan tubuhnya yang dulu disiksa.

Ruby tersenyum lebar, melangkah mendekat. “Al, kamu terima nggak tawaran papa?”

Altair tersenyum miring. Bukan senyum hangat. Senyum yang membuat orang bergidik. “Saya tidak butuh. Cukup menjadi eksekutor. Lagian saya tak ingin membuat istri saya merasa cemburu.”

Ruby tertegun. Matanya membelalak. Bukankah laki-laki di depannya ini sangat menyukainya? Bukankah dulu Altair rela mati demi dia? Kenapa sekarang berbeda?

“Maaf, aku nggak bermaksud, Al,” kata Ruby, suaranya melemah.

Altair melangkah satu langkah lebih dekat. Jarak mereka hanya sejengkal. Ia menunduk, berbisik tepat di telinga Ruby. Nadanya berubah total. Rendah, berat, dan mengancam.

“Gue harap lo jangan ganggu istri gue di kampus.”

Ruby membeku.

“Menarik semua temannya di pihak lo dan diam-diam mempermalukan dia? Jangan.” Altair menarik diri, menatap Ruby lurus. Matanya hitam, kosong, berbahaya. “Karena gue nggak tahu harus bagaimana cara nahan amarah kalo lo nyentuh dia.”

Setelah mengatakan itu, Altair berjalan melewati Ruby begitu saja, meninggalkan gadis itu pucat di tengah koridor.

Di saku jaketnya, foto pria Raven Claw terasa panas.

Malam ini, Club Vortex.

Dan permainan baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!