Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.
Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.
Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: KUNJUNGAN TAK DIUNDANG KE KANTORNYA
Keesokan paginya, berita tentang kecelakaan di lokasi proyek menyebar cepat. Kabar bahwa Rian selamat tanpa luka fatal membawa napas lega bagi banyak pihak, namun juga memancing rasa penasaran yang makin besar—terutama setelah terdengar kabar bahwa CEO Nadia sendiri yang memantau langsung evakuasi dan menunggunya semalaman di rumah sakit.
Siang harinya, setelah izin pulang diberikan dokter, Rian tak langsung pulang ke rumahnya. Dengan perban yang masih melingkar di kening dan tubuh yang masih terasa pegal, ia meminta sopir mengantarnya langsung ke gedung pusat Grup Arka. Ia tahu tindakannya mungkin dianggap mendadak, bahkan tak sopan, namun ia tak ingin menunda lagi. Ada sesuatu yang harus ia sampaikan sebelum keraguan kembali datang merayap.
Saat ia melangkah masuk ke lobi, para staf yang mengenalnya langsung menatap penuh heran. Banyak yang berbisik pelan—mengapa pria yang hampir celaka kemarin justru datang ke sini terlebih dahulu, bukan beristirahat? Petugas keamanan sempat ragu mengizinkannya naik, namun Pak Haris yang kebetulan lewat hanya mengangguk pelan, memberi isyarat agar ia dipersilakan.
"Bu Nadia sedang rapat dengan tim hukum," ucap Pak Haris singkat sambil berjalan di sampingnya. "Tapi beliau titip pesan: jika Tuan Rian datang, silakan tunggu sebentar di ruang istirahat pribadi beliau."
Perlakuan itu membuat dada Rian terasa sesak. Bahkan saat ia tak ada di dekatnya, Nadia tetap memikirkannya. Padahal ia adalah orang yang dulu sering melupakan keberadaan wanita itu begitu saja.
Setelah menunggu sekitar setengah jam, pintu terbuka dan Nadia masuk. Ia sudah kembali tampil rapi dengan setelan jas kerja yang tegas, namun sorot matanya terlihat sedikit lebih lembut dari biasanya saat melihat Rian duduk di sana.
"Kau seharusnya istirahat di rumah," ucapnya tanpa bertele-tele, meletakkan map berkas di meja kecil. "Kepala kau masih terbentur keras."
"Aku tidak bisa tenang hanya dengan berbaring," jawab Rian sambil berdiri perlahan. "Ada hal yang terus mengganggu pikiranku sejak kemarin. Dan aku tak bisa membiarkannya berlalu begitu saja tanpa mengatakannya langsung padamu."
Nadia duduk di kursi seberang, melipat tangan di pangkuan, menunggu.
"Kau tahu sendiri bagaimana dunia luar memandang kita sekarang," lanjut Rian pelan namun tegas. "Mereka membuat cerita sendiri, menebak-nebak hubungan kita, bahkan menuduhmu bermacam-macam yang tidak benar. Dan aku sadar... selama ini kau diam saja, kau menyembunyikan identitas kita, sebagian karena kau masih menghargai harga diriku yang sudah hancur itu."
Nadia terdiam, menatap keluar jendela kaca yang menghadap ke arah kota. "Aku melakukannya bukan untuk menjaga harga dirimu, Rian. Aku melakukannya karena aku butuh waktu untuk berdiri tegak kembali sebagai diriku sendiri, bukan sebagai mantan istri yang kau buang."
"Aku tahu. Tapi sekarang biarkan aku yang melindungimu," potong Rian dengan suara bergetar namun mantap. "Besok, saat kita bertemu dengan para investor dan rekan bisnis, biarkan aku yang berbicara duluan. Biarkan aku yang menjelaskan semuanya. Biarkan semua orang tahu bahwa kau tidak pernah memanfaatkan jabatanmu, kau tidak pernah memaksakan kehendak, dan kau tidak pernah berbuat curang. Bahwa satu-satunya kesalahan yang pernah terjadi... adalah kesalahanku sendiri yang membuang wanita paling setia hanya karena ambisi bodohku."
Nadia menoleh perlahan, menatap mata Rian lekat-lekat. Di sana tak lagi ada kesombongan atau ambisi yang membutakan. Yang terlihat hanyalah ketulusan yang datang terlambat, namun nyata adanya.
"Kau tahu risikonya?" tanyanya pelan. "Reputasi usahamu bisa hancur. Orang-orang akan meremehkanmu lebih dari sebelumnya."
"Biarlah," jawab Rian tegas. "Lebih baik dihina dengan kebenaran, daripada dipuji dengan kebohongan. Dan bagiku, kehilangan rasa hormatmu jauh lebih menyakitkan daripada segala tatapan merendahkan orang lain."
Di saat itu, ketukan pintu terdengar. Diana berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat dan matanya merah. Ia mendengar semuanya. Dan ia sadar sepenuhnya—bahwa perang yang ia lawan selama ini sudah berakhir. Ia kalah bukan karena ia kurang berusaha, melainkan karena hati Rian sejak awal sudah tertanam di tempat yang pernah ia tinggalkan, namun kini kembali dengan segala keindahan yang tak pernah ia bayangkan.
(Lanjut ke Bab 23?)