Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.
Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.
Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.
Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 ~ Daddy Axel Sangat Tampan
Sore itu...
Rumah yang telah disiapkan Nyonya Chatarina akhirnya siap ditempati. Lokasinya tidak terlalu jauh dari kediaman keluarga Harley, sehingga Evan tetap bisa menjalankan pekerjaannya di Harley Group tanpa kesulitan.
Pak Darto sudah menunggu di halaman depan bersama mobil yang akan mengantar mereka.
Beberapa koper terakhir telah dimasukkan ke dalam bagasi.
Nyonya Chatarina menghampiri Evan yang tengah menggendong Axel.
"Evelyn..." Wanita itu sengaja memanggil nama asli putrinya dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh orang lain.
"Bi Lusi akan ikut tinggal bersama kalian." Nyonya Chatarina tersenyum lembut.
"Mulai besok kau akan bekerja di Harley Group. Selama kau bekerja, harus ada seseorang yang menjaga Axel. Bi Lusi sudah bersamamu sejak kecil. Mama lebih tenang jika dia ikut menemani kalian."
Evan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Terima kasih, Ma."
Nyonya Chatarina mengusap lembut pipi chubby cucunya.
"Hati-hati di jalan."
"Kalau ada apa pun, segera kabari Mama."
Tatapannya kemudian beralih kepada Evelyn. Sorot matanya berubah jauh lebih serius.
"Dan satu hal lagi..."
Evelyn ikut menatap sang ibu.
"Jangan sampai ada seorang pun yang mengetahui siapa ayah Axel... Termasuk Damian."
Jantung Evelyn berdegup pelan.
Nyonya Chatarina melanjutkan dengan suara lirih, "Wajah Axel semakin hari semakin mirip dengan ayahnya. Mama takut... suatu hari nanti Damian akan mengenalinya."
Evelyn menundukkan kepalanya pelan.
"Iya, Ma."
Tangannya tanpa sadar mengusap lembut punggung Axel yang masih nyaman berada dalam gendongannya.
"Selama aku masih bisa melindunginya... Damian tidak akan pernah tahu."
Nyonya Chatarina mengangguk pelan. "Semoga saja."
Wanita itu kemudian mengembuskan napas panjang sebelum tersenyum lembut kepada cucunya.
"Axel... jangan nakal ya."
Bocah kecil itu langsung mengangguk semangat. "Iya, Oma!"
Nyonya Chatarina mengecup keningnya sekali lagi. "Kalau kangen Oma, nanti kita bertemu lagi."
"Acel mau main lagi cama Oma."
"Tentu sayang.." Senyum hangat menghiasi wajah Nyonya Chatarina, meski matanya mulai berkaca-kaca.
Evelyn tahu, perpisahan ini bukanlah perpisahan yang sebenarnya. Rumah yang akan mereka tempati hanya berjarak beberapa menit dari kediaman keluarga Harley.
Namun tetap saja... Perasaan seorang ibu tak pernah bisa berbohong. Baru saja wanita itu merasa bahagia sekaligus lega, setelah tiga tahun lebih Evelyn di London.. Kini putrinya telah kembali.
Namun justru mereka tidak bisa tinggal bersama kembali.
Pak Darto yang sedari tadi menunggu di samping mobil akhirnya membuka pintu belakang.
"Tuan Evan... semuanya sudah siap."
Evelyn mengangguk.
"Ayo, Axel."
"Iya."
Ia membopong putranya masuk ke dalam mobil, disusul Bi Lusi yang membawa beberapa tas kecil berisi perlengkapan Axel.
Setelah memastikan semuanya lengkap, Pak Darto menutup bagasi.
Mobil pun perlahan meninggalkan halaman rumah keluarga Harley.
Di teras Tuan Harley masih berdiri dengan kedua tangan di belakang punggungnya. Tatapannya mengikuti mobil itu hingga menghilang di balik gerbang.
Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya. Namun entah mengapa, rumah yang biasanya terasa begitu besar kini mendadak terasa jauh lebih sepi.
"Hm..." Gumam pelan keluar dari bibirnya. "Wajah anak itu..."
Keningnya kembali berkerut. Semakin ia mengingatnya, semakin kuat perasaan bahwa ia pernah melihat wajah yang sama.
Tetapi bayangan itu tetap samar. Seolah berada tepat di ujung ingatannya, namun tak mampu ia raih.
•••••
Sekitar tiga puluh menit kemudian...
Mobil yang ditumpangi Evan akhirnya memasuki sebuah kawasan perumahan elite yang tenang.
Tak lama kemudian, kendaraan itu berhenti tepat di depan sebuah rumah dua lantai bergaya modern minimalis.
Pak Darto segera turun lebih dulu, lalu membukakan pintu belakang. "Tuan Evan... kita sudah sampai."
Evan mengangguk pelan. Ia turun sambil menggendong Axel yang sejak tadi tertidur di bahunya.
Bi Lusi ikut turun dari kursi depan. Pak Darto segera membuka bagasi dan mulai menurunkan koper-koper mereka.
"Bi, tolong bawa barang-barang ke dalam," ujar Evan pelan.
"Baik, Tuan."
Bi Lusi mengangguk, lalu bersama Pak Darto mengangkat koper satu per satu memasuki rumah. Sementara itu, Evan melangkah masuk sambil tetap menggendong Axel.
Rumah itu memang tidak sebesar kediaman keluarga Harley. Namun suasananya jauh lebih hangat.
Setidaknya di tempat inilah ia bisa kembali menjadi dirinya sendiri.
Evan langsung menuju kamar utama.
Baru setelah pintu kamar tertutup rapat, ia mengembuskan napas panjang.
Perlahan, ia melepaskan kacamata yang sejak tadi menempel di wajahnya. Setelah itu, kedua tangannya meraih ujung wig rambut pendek yang menutupi rambut panjangnya.
Dalam hitungan detik sosok Evan kembali menghilang. Rambut hitam panjangnya terurai hingga melewati bahu.
Evelyn kemudian membuka jas dan kemeja yang dikenakannya, lalu berganti dengan kaus rumahan berwarna krem dan celana panjang yang nyaman.
Begitu selesai, ia menoleh.
Axel masih duduk di atas ranjang sambil memeluk boneka dinosaurus kesayangannya. Kedua matanya berbinar begitu melihat sang Mommy kembali dengan rambut panjangnya.
"Mommy..." panggilnya riang.
Evelyn tersenyum hangat. "Iya, Sayang?"
"Main penyamalannya cudah celecai, ya?"
Evelyn seketika terdiam.
Ia cukup terkejut mendengar pertanyaan polos putranya. Di usianya yang baru menginjak dua tahun, Axel ternyata mampu menangkap bahwa penampilan "Evan" hanyalah bagian dari sebuah permainan.
Sudut bibir Evelyn perlahan terangkat. Ia terkekeh pelan, lalu mengangguk.
"Iya... sudah selesai."
"Acel juga mau main penyamalan!"
"Hm?" Evelyn mengangkat sebelah alisnya.
Axel buru-buru mengambil selimut dari atas ranjang, lalu menutupi seluruh tubuhnya hingga hanya matanya yang terlihat.
"Hehe... Acel jadi hantu!"
Melihat tingkah polos putranya, Evelyn tak kuasa menahan tawa.
"Bukan begitu namanya penyamaran."
"Kalau begitu..." Axel berpikir sejenak. Tiba-tiba ia mengambil bantal dan menutupinya di atas kepala. "Sekalang Acel jadi Opa!"
Evelyn tertawa semakin lepas.
"Kenapa jadi Opa?"
"Coalnya Opa tadi galak..." jawab Axel polos sambil berusaha meniru wajah datar Tuan Harley.
Evelyn langsung menutup mulutnya, berusaha meredam tawanya.
Untuk sesaat ia melupakan semua beban yang memenuhi pikirannya. Di hadapan putranya, ia bukan Evan Harley, bukan pula pewaris keluarga Harley.
Ia hanya seorang ibu yang ingin melihat anaknya tumbuh dengan tawa seperti ini selama mungkin.
Evelyn mengusap lembut rambut putranya yang mulai berantakan.
"Axel..."
"Iya, Mommy?"
"Mommy mau minta tolong sama Axel, boleh?"
Bocah kecil itu langsung mengangguk semangat. "Boleh!"
Evelyn tersenyum tipis. "Kalau Mommy sedang memakai rambut pendek dan kacamata seperti tadi... Berarti Mommy lagi main penyamaran."
Axel mengangguk kecil. "Iya."
"Nah... kalau Mommy sedang main penyamaran, Axel harus panggil Mommy dengan sebutan apa?"
Bocah itu mengerucutkan bibirnya, berpikir keras. "Hmm..."
Evelyn tersenyum, lalu menunjuk dirinya sendiri. "Daddy."
Mata Axel langsung berbinar. "Ohhh... Kalau lanbut pendek Daddy!"
"Kalau rambut panjang?" lanjutin Evelyn.
"Mommy!"
Evelyn mengangguk puas. "Pintar."
Axel langsung terkikik senang. "Acel bica!"
"Tapi ingat ya..." Evelyn mengangkat jari telunjuknya. "Ini rahasia kita berdua."
Axel spontan ikut mengangkat telunjuk mungilnya ke depan bibir.
"Sssttt... Lahasia Mommy cama Acel."
Melihat tingkah putranya, Evelyn tak kuasa menahan tawa. Ia memeluk Axel erat dan mengecup puncak kepalanya.
"Terima kasih, Sayang. Mommy janji... suatu hari nanti kita tidak perlu bermain penyamaran lagi."
Axel memiringkan kepalanya sambil memeluk boneka dinosaurusnya.
"Mommy..."
"Hm?"
"Apa Daddy Acel juga tampan cepelti Mommy caat pakai lanbut pendek?"
Pertanyaan itu membuat senyum di wajah Evelyn perlahan memudar.
Ia terdiam. Pikirannya tanpa sadar melayang pada sosok pria yang selama ini berusaha ia lupakan.
Damian Foster.
Wajah tampan dengan rahang tegas. Sorot mata tajam yang selalu memancarkan wibawa. Hidung mancung... Dan tatapan dingin yang sulit ditebak.
Tak bisa dimungkiri.. Damian memang pria yang sangat tampan. Bahkan hingga detik ini, wajah itu masih tergambar jelas di dalam ingatannya.
Evelyn mengembuskan napas pelan, lalu kembali menatap putranya sambil tersenyum lembut.
"Iya... Daddy Axel sangat tampan."
•
•
❤️
gemess sama Axel
tapi jadi Evelyn juga pasti tidak akan mudah, dibawah tekanan keluarga,.dia harus melakukan semuanya