Ig: @nabilakim28
"Bukan mau gua jadi brandalan kayak begini!" -Hera-
Hera adalah seorang siswi SMA yang dikenal sebagai badgirl, langganan pindah sekolah dan hobi berantem sama cowok.
Bukan karena brokenhome, bukan karena dihianati, bukan karena dendam .... Terus kenapa dia jadi bad girl? Apa alasannya?
"Gue gak bisa janji untuk bahagiain lo selamanya, ataupun bersama lo untuk selamanya. Tapi gue janji cinta gue cuma milik elo" -Sean-
Sean cowok dingin yang paling ganteng, irit ekspresi dan bicara, ngomong lebih dari lima kata aja adalah satu kejadian yang langka!
Terus ngimana jadinya kalo bad gril kayak Hera ketemu sama ice kayak Sean?
Note: ini bukan cerita dimana cewek berusaha untuk mencairkan si pria es ..., tapi si pria es yang berusaha untuk membuat si bad girl tobat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keduapuluhdua
Hari yang paling ku benci adalah hari di mana kamu berhenti tersenyum
-Sean-
S E L A M A T M E M B A C A
Gina sekarang sedang duduk termenung sambil melihat gedung\-gedung pencakar langit yang terlihat seperti melewati mobil yang dia tumpangi ..., atau mungkin lebih tepat, mobil yang dia dan Chandra tempati. Chandra terus saja mengoceh, namun Gina hanya tenggelam dalam renungannya. Dia masih terkejut.
"Apa daddy mengejutkanmu? Maaf ya, biasanya daddy tidak banyak berbicara ... tapi sepertinya dia tidak bisa diam setelah melihatmu." Itu Chandra yang berbicara dengan mata yang masih fokus ke jalan.
"A\- apa?" tanya Gina setengah sadar. Tolong katakan ini mimpi! Kejadian ini terjadi begitu cepat sehingga Gina tidak bisa mencernanya dengan baik.
Flashback on,
Gina duduk dengan memasang ekspresi wajah terkejut, sementara Chandra tetap konsisten dengan wajah sumringahnya. Situasi apaan ini?! Gina ingin bersembunyi saja.
Tapi sepertinya bukan cuma Gina yang terkejut. Keluarga tirinya pun terkejut bukan main, dan yang bikin Gina kesal adalah dengan sikap Vanessa yang sok kecakepan di depan Chandra. Habisnya siapa sih yang gak suka sama cowok bule ganteng kayak modelan Chandra begini? Dan yang anehnya, Gina baru sadar kalau Chandra itu ternyata bule juga sama seperti sepupunya Andrew.
"Jadi Gina, kamu maukan dengan anak saya yang jelek ini?" tanya ayahnya Chandra sambil tersenyum. Tolong! ayahnya Chandra terlihat seperti preman yang sedang tersenyum ketika mau malak.
"Eh? I\- itu ...," Gina melihat ke arah Chandra sebentar lalu kembali melanjutkan kalimatnya, "a\- aku nggak tau," Gina menundukkan kepalanya.
Jauh di dalam hati Gina dia sudah mengatakan iya, tapi apalah dikata ... sekarang dia sudah tau siapa pemilik hati Chandra yang sebenarnya.
Ayah Chandra masih tersenyum lalu menatap anaknya tajam. Sepertinya beliau ingin meminta penjelasan tentang situasi ini. Chandra hanya menghela napas sebentar lalu menatap Gina yang sedang tertunduk,
'Imut banget!' batin Chandra.
"Kamu tidak tahu?" tanya Chandra kepada Gina, dan bukannya menjawab Gina malah menatap Chandra balik. "Kalau gitu aku akan balik pertanyaanya," Chandra menatap Gina dalam, mata birunya terlihat sangat indah, seindah samudra yang luas dan menenangkan.
"Gina, apa kamu membenciku?" tanya Chandra lagi. Gina langsung menjawab pertanyaan itu dengan segera, "enggak! Mana mungkin aku ... benci kakak," bantah Gina."K\- kakak kan tau perasaanku ...," cicitnya halus.
Chandra tersenyum penuh kemenangan setelah mendengar suara Gina, sementara Vanessa dan ibunya hanya bisa menatap Gina dengan benci ... namun mereka tetap tidak bisa memotong pembicaraan dua anak manusia itu, karena ayah Chandra terus menatap mereka tajam.
"Kalau begitu," ujar Chandra, "kamu mau kan jadi tunangan kakak?"
Gina menatap Chandra, Gina dapat mengetahui bahwa Chandra sedang serius saat ini ... dia tidak berbohong sama sekali. Gina akhirnya mengangguk pelan untuk mengiyakan pertanyaann Chandra tadi. Chandra tersenyuk puas, ingin rasanya memeluk Gina saat ini saja ... tapi tidak mungkin sekarang kan? Di sini ada orang tua.
Flashback off.
Mereka berdua berakhir dengan jalan\-jalan sebentar sebelum mengantar Gina pulang ke rumah. Tapi masih banyak pertanyaan di benak Gina. Dan jika ada yang bertanya apakah dia ragu atas pertunangan ini, maka dia akan menjawab: iya aku ragu.
"Ada yang ingin kau tanyakan?" tanya Chandra, dia tau Gina sedang memendam banyak pertanyaan sekarang.
"Eh?" Gina terkejut, bagaimana Chandra tau isi hatinya. "I\- itu, kakak bukannya balikan sama kak Friska ya? Tapi kenapa kakak malah ke sini?" tanya Gina pelan. Chandra yang mendengarnya langsung menghentikan mobilnya ke pinggir jalan. Ya ini adalah masalah pertama yang harus di luruskan.
"Ok, jadi menurutmu aku balikan sama Friska?" tanya Chandra balik, Gina mengangguk pelan. Chandra menghela napas dan memijit pelan pangkal hidungnya. Seharusnya dia meluruskan masalah ini dari awal.
"Enggak, aku nggak balikan sama Friska!" jawab Chandra mantap. Gina yang terkejut dengan pernyataan Chandra hanya bisa menunduk, "bohong." Cicitnya pelan. Chandra mengusap kepala Gina sebentar.
"Kamu pikir begitu karena aku mengejar Friska waktu itu kan?" Gina hanya mengangguk, toh benar apa yang dikatakan Chandra. "Jadi gini ya Gina, waktu itu aku emang ngejar Friska ... tapi aku kejar dia untuk memberi tahu bahwa aku udah punya orang lain yang aku suka, dan nyuruh dia untuk berhenti ngajak aku balikan ...," jelas Chandra. Tapi ada yang aneh, "trus kenapa kakak ngelak waktu kak Friska nanya apa kita pacaran?" Chandra tersenyum sebentar lalu menangkup pipi tembem Gina dengan tangannya yang besar.
"Kan waktu itu kita belum pacaran," Chandra terkekeh, "tapi beda dengan sekarang." Chandra mengusap kepala Gina sebentar sebelum kembali menghidupkan mesin mobilnya.
"Maaf," Gina menoleh ke arah Chandra ketika mendengar kata maaf dari mulut tunangannya itu. "Aku ... tau kamu nangis waktu itu, seharusnya aku nggak ninggalin kamu." Gina tersenyum manis ....
Cup!
Hanya kecupan singkat yang diberikan oleh Gina di pipi Chandra, tapi berhasil membuat Chandra tersipu malu dibuatnya. Chandra langsung menoleh ke arah Gina. "Yang bener bawa mobilnya, liat jalan!" ujar Gina, sebenarnya gadis itu juga malu atas perbuatannya tadi ... tapi melihat wajah memelas Chandra itu\-\-\-lucu banget! "O\-ok," jawab Chandra, cowok blonde itu memfokuskan kembali matanya ke jalan.
"Ekhem, by the way ... aku baru tau kalau mata kakak itu biru," seru Gina mencoba mencairkan suasana.
"Emm ini?" Chandra menunjuk ke arah matanya sesaat. "Emang warnanya biru, keturunan dari daddy ... aneh ya?" tanya Chandra lagi. Gina langsung menggeleng dengan antusias. "Cantik," balas Gina sambil tersenyum manis. Tahan Chandra! \-batin Chandra.
"Trus rambut kakak emang blonde gitu?" tanya Gina lagi, entah kenapa rasanya dia ingin mengetahui banyak hal tentang Chandra. "Iya, rambutku emang begini dari lahir ... mataku juga, tapi aku nggak suka. Aneh, kayak bule nyasar. Dan akhirnya aku pilih pakek softlens deh," jelas Chandra.
"Ihh padahal bagus gitu kok, makin ganteng hehe." Ya ampun ... Gina ngomong gitu dengan wajah tanpa dosanya, kan Chandra jadi gemes pengen karungin trus bawa pulang \(bercanda\).
"Kamu ya, belajar gombal dari mana?" Chandra langsung menarik hidung mancung Gina gemes. Gina hanya terkekeh geli. Dan begitulah, sepanjang perjalan mereka tertawa hanya karena hal\-hal kecil.
🤓🤓🤓
"Jahat banget nggak sih? Seharusnya pasangan baru itu bilang makasih sama kita," keluh Hera sambil merentangkan tangannya yang pegal.
"Atau gak setidaknya kasih pj!" tambah Brian yang masih berkutat dengan komputernya.
"By the way, gimana caranya kalian yakinin calon tunangan Gina yang sebenarnya untuk batalin pertunangan?" tanya Henry, sebenarnya dia udah penasaran dari tadi.
Hera melirik ke arah Sean yang sedang fokus dengan gamenya, "noh tanyakan langsung sama orangnya ...." sontak semua yang ada di ruangan itu langsung mengalihkan perhatiannya ke arah Sean. Sean yang sadar akan hal itu hanya mengangkat bahunya tanda tidak tahu.
"Baik, karena pororo terlalu males jelasin ... gue bakal cerita ulang plus reka adegan," sahut Andrew. Yang lain langsung mengangguk setuju.
"Jadikan gini, Sean sama Hera langsung ke perusahaan itukan. Nah mereka itu gak punya rencana sama sekali, \*\*\*\* banget!" cerita Andrew, Hera hanya mengangguk mengiayakan. "Trus, pas sampai di sana mereka ajak diskusi calon tunangannya Gina ... karena Sean sama Hera lumayan terkenal di dunia bisnis, jadi mereka dengan gampang dapat langsung ketemu sama om\-om genit itu," lanjut Andrew. "JADI BENERAN OM\-OM GENIT!" Itu Brian yang heboh.
"Diam dulu woi," Andrew mengambil napas sebentar sebelum melanjutkan cerita, "habis itu, Sean sama Hera langsung ngajak om itu diskusi kan. Tapi, om itu kayak meremehkan mereka karena mereka masih SMA, padahal dia tau latar belakang Hera sama Sean." Andrew jeda sesaat sebelum melanjutkan kisahnya. "Wah parah, pewaris HN dan SKY grub diremehkan! Otw kasih tau kakek ini mah," Henry yang kasih tanggapan itu langsung kena tampol Hera. "Denger dulu makanya!"
"Dan selanjutnya adalah," Andrew bertingkah seperti pura\-pura mengambil sesuatu di kantong bajunya. "Dia dengan santainya Sean keluarin Ipad trus bilang gini 'batalin atau saya sebarkan semua file ini'. Beneran Sean ngomong gitu dengan ekspresi yang datar banget." Hera langsung mengangguk setuju, jujur dia sendiri baru pertama kali liat Sean sedatar itu, itu adalah muka dia sedang meremehkan lawannya. Memang pewaris SKY grub ... dia bahkan dengan mudah meremehkan petinggi perusahaan lainnya.
File yang jadi bahan ancaman Sean itu berisi tentang data penggelapan dana perusahaan om itu, mulai dari penggelapan pajak sampai penyalahgunaan dana perusahaan ke kantong pribadi om itu. "Tapi, aku masih bingung dari mana kamu dapat file itu?" tanya Hera kepada Sean. Sean melihat Hera dengan tatapan lembut, lalu mengusap kepala Hera pelan sebelum berkata, "nanti kamu tau sendiri kok ...." jiwa jomblo Brian, Henry, dan Andrew meronta\-ronta saat itu juga. Sementara Hera langsung ngeblush pas Sean ngomong gitu karena Sean pas ngomongnya dekat banget dengan muka Hera, kan dia malu.
💕💕💕
Setelah semua masalah Gina selesai, akhirnya Sean dan Hera bisa menghabiskan waktu berdua saja. Itu yang ngajak Sean duluan, gak tau kenapa Sean tiba\-tiba jadi manja banget sejak kemarin. Contohnya aja, masa kemarin pas Sean habis main basket, Hera kan dengan baik ngasih botol minum sama handuk buat lap keringat eh ... Sean malah bilang 'lap in dong sayang.' Trus hari ini, Sean nempel mulu sama Hera ... sekarang aja Sean terus gandeng tangan Hera kuat banget, kayak emak\-emak yang gak mau anaknya hilang.
"Lain kali kalau kita keluar kamu pakek topi deh," ujar Sean. "Kenapa?" tanya Hera bingung.
"Liat tuh, banyak cowok yang liatin kamu ... aku gak suka!" Hera sabar kok. Hera sabar punya cowok yang cemburuan kayak Sean. Tapi maunyakan dia juga sadar kalau dari tadi yang banyak liatin bukan cowok, tapi cewek\-cewek ganjen yang mau cari kesempatan untuk dekatin Sean. "Trus kamu maunya gimana? Aku nggak bawa topi," balas Hera. Sean langsung membuka topinya dan memakaikannya kepada Hera, namun bukan hal itu yang berhasil membuat Hera ngeblush ... tapi perlakuan Sean sebelum memakaikannya topi itu, Sean nyium kening Hera agak lama sebelum memakaikan gadis itu topinya. Demi apa Sean bertingkah sangat manis hari ini.
"Ini di tempat umum!" Hera memukul bahu Sean pelan, lalu langsung kabur sambil menutup mukannya malu. Sean yang melihat hal itu hanya tersenyum ... pacarnya kenapa imut banget sih?
"Cari tempat makan yuk," ajak Sean. Sean langsung merangkul bahu Hera, Hera hanya mengangguk saja ... dapat dilihat kalau mukanya masih memerah.
Akhirnya mereka berhenti di sebuah restoran makanan Itali\-\-\-kesukaannya Sean. Kalau Hera sih lebih suka makanan Asia, seperti Jepang dan Indonesia tentu saja! Favorite nya adalah nasi padang.
Pasangan itu memilih tempat duduk di dekat jendela, restoran itu memiliki suasana yang klasik, sehingga mudah membuat pelanggan nyaman. Jangan lupa live music yang membuat Hera terpana. Alunan halus dari biola membuat dia melupakan penat seharian.
"Kamu suka?" tanya Sean sambil memperhatikan Hera yang fokus menonton permainan biola. Hera langsung mengangguk lucu. Sean tersenyum melihatnya\-\-\-sepertinya dia harus belajar main biola.
"Aku ke toilet dulu." Sean langsung bangun dari duduknya.
Baru sebentar Sean ke toilet, smartphone nya berdering. Hera mengalihkan perhatian ke arah smartphone itu, "dasar ceroboh," ujar Hera. Hera mengambil hp Sean, tertulis di layar depan sebuah huruf yang membuat Hera penasaran.
"X" is calling ....
"X? Siapa?" Hera langsung mengangkat telpon itu, siapa tau itu? Tidak mungkin selingkuhannya Sean kan? Mungkin itu yang dipikirkan Hera saat ini.
Hera langsung mengangkat telponnya, terdengar suara berat di seberang sana. Hera mengerinyit heran. Siapa? Suaranya terdengar seperti suara radio rusak.
"Hai Sean, lama tidak bertemu ... aku terlalu sibuk membereskan mata\-mata mu itu, dia cukup menyusahkan juga haha. Namanya siapa? Tristan? Tapi dia cukup hebat, dia hampir menemukan tempat tinggalku," ujar suara di seberang sana.
"....."
"Haha, seperti Sean yang biasanya\-\-\-dingin. Tapi, ini adalah peringatan terakhir dariku ... Hera, pewaris HN grub itu, berhentilah menyembunyikannya di sampingmu. Aku tau maksudmu dari awal, kau ingin melindunginya kan? Kau juga tahu targetku selanjutnya adalah gadis itu haha. Kalian pewaris\-\-\-" Hera tidak dapat mendengar kelanjutan omongan orang misterius itu karena Sean dengan kecepatan kilat langsung mengambil hp yang sebelumnya menempel di telinga Hera.
"Lo makin banyak omong ya X?" sindir Sean sebelum mematikan panggilan telponnya.
Sean mengalihkan pandangan kepada pacarnya yang sedang menyesap teh. Oh tidak, Hera yang terlihat tenang bahkan lebih mengerikan dari sisi badgirl\-nya. "Kamu ... dengar semuanya?" tanya Sean untuk memastikan. "Ya, tapi tidak semuanya," Hera mengalihkan pandangannya ke arah pacarnya itu sebelum melanjutkan kalimatnya, "karena lo langsung ambil handphone\-nya." Ok, sekarang Hera beneran marah. Semua itu terbukti karena dia menggunakan lo\-gue saat bicara dengan Sean.
"Aku akan jelasin semuanya," ujar Sean. Hera hanya menatapnya, seperti mengatakan: ayo jelaskan semua!
"Tapi tidak sekarang," sambung Sean. Hera mengeriyit, sebenarnya apa yang disembunyikan Sean sampai dia menyembunyikan hal itu rapat. Hera dapat melihat Sean menunduk, pacarnya itu seperti sedang memikirkan banyak hal.
"Ok kalau gitu," Hera bangun dari duduknya, "mungkin lo belum sepercaya itu sama pacar lo sendiri." Hera langsung mengambil tasnya, berniat untuk pergi saja, namun tangan Sean yang memengang tangannya langsung menghentikan langkahnya.
"Bukan begitu," Sean menatap Hera lembut.
"Lepasin gue!" ujar Hera tegas. Sean terkejut dengan intonasi Hera, hanya saja dia memakluminya\-\-\-ini salahnya. Sean melepaskan tangan Hera, dan gadis itu langsung berjalan menjauh.
Hera keluar dari restoran itu meninggalkan Sean yang sedang terduduk di meja dengan terlarut di dalam pikirannya.
"Ihhh kok gak dikejar sih?" seru Hera kesal sambil menghentakkan kakinya ke tanah, sebelum pergi dari restoran itu.
\-TBC\-
ps: maaf telat up, kouta ku abis tadi pagi... ini baru isi
tapi aku ingin mereka berdua putus aja dulu.