“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.
Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.
“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.
“Apa maksudmu butuh aku?”
Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“
Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.
Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 17.
Liora benar-benar ingin menangis. Ia mengusap wajahnya pelan, lalu menatap Dewangga yang masih menunggu jawaban dengan penuh harap.
"Dewangga nggak boleh mandi sama Liora."
"Kenapa?"
"Karena... Dewangga sudah besar."
Pria itu memiringkan kepala. "Tapi Dewangga suka dimandiin Codet."
"Codet itu laki-laki."
Dewangga tampak berpikir keras. Keningnya sampai berkerut, seolah sedang menyelesaikan soal yang sangat sulit.
"Tapi Liora keluarga Dewangga, kalau keluarga boleh bantu."
Liora menepuk dahinya pelan. Benar-benar mustahil menjelaskan konsep menjaga batasan kepada seseorang yang pola pikirnya masih seperti anak lima tahun.
Untunglah Codet muncul tepat waktu.
"Maaf mengganggu."
Liora menoleh pada pengawal pribadi Dewangga itu dengan tatapan penuh harapan. "Codet!"
Wania itu berseru senang karena akhirnya ada penyelamat. Codet langsung memahami situasi hanya dari ekspresi wajah Liora.
"Ada masalah, Nyonya?"
"Dewangga minta aku mandiin."
Codet mengangguk tenang, seolah itu hal yang sudah biasa.
"Tuan, saya yang akan memandikan Anda lagi seperti biasa."
"Tapi Dewangga maunya Liora."
"Lain kali saja, bagaimana kalau Nyonya membantu memilihkan baju."
Dewangga menggeleng kuat. "Nggak mau! Pokoknya Dewangga mau sama Liora."
"Kalau Dewangga mau mandi sama Codet... nanti Liora ajak makan es krim diluar?" Bujuk perempuan itu.
“Es krim?“ akhirnya mata Dewangga berbinar.
"Iya."
"Oke!"
Dewangga berlari menuju kamarnya dengan wajah penuh kegembiraan. Codet dan beberapa pengawal segera menyusul di belakangnya, memastikan pria itu tetap dalam pengawasan.
Liora hampir menjatuhkan diri ke sofa saking leganya, ia mengembuskan napas panjang sampai bahunya turun. "Ya ampun...."
Keivan yang sejak tadi menyaksikan semuanya sambil membaca dokumen, akhirnya menutup map di tangannya.
"Kau mulai memahami kesulitan dalam merawat ayahku, kan?"
Liora menoleh dengan bibir sedikit mengerucut. "Aku pikir semalam sudah yang paling berat, rupanya aku terlalu cepat lega."
"Kecelakaan itu mengubah semuanya." Suara Keivan kali ini jauh lebih serius. "Awalnya kami mencoba memperlakukannya seperti orang dewasa. Memaksanya belajar lagi, memaksanya mengingat banyak hal."
"Lalu?"
"Dia malah menangis setiap hari, kakek akhirnya memanggil beberapa dokter. Kesimpulannya sama, kemampuan berpikir Papa sudah tidak akan kembali seperti dulu. Kalau terus dipaksa hidup sebagai orang dewasa, justru kondisi mentalnya akan semakin buruk."
"Itu sebabnya kalian mengikuti dunianya?"
Keivan mengangguk. "Kami hanya mengajarinya mana yang berbahaya dan mana yang tidak. Selebihnya... kami membiarkannya menjadi dirinya yang sekarang."
Liora menghela nafas, tak heran seluruh penghuni mansion selalu berbicara lembut kepada Dewangga. Tak heran pria itu begitu mudah tersenyum, karena semua orang sedang berusaha menjaga satu-satunya bagian diri Dewangga yang masih utuh... hatinya.
Liora kembali ke kamarnya sendiri, namun tak lama kemudian suara langkah kaki berlarian terdengar dari lorong.
Brak!
Pintu kamar perempuan itu terbuka keras.
"Lioraaa!"
Dewangga masuk dengan rambut yang masih setengah basah sambil tersenyum bangga.
"Lihat!" Dewangga mengangkat kedua tangannya. "Dewangga mandi sendiri!"
Codet yang berdiri di belakang hanya tersenyum kecil. "Saya hanya membantu membilas rambutnya, baru pertama kali Tuan ingin mandi sendiri."
"Wah... Dewangga hebat." Liora spontan tersenyum.
Wajah Dewangga langsung berseri-seri setelah mendapatkan pujian. "Dewangga hebat?"
“Iya dong! Dewangga keren!"
"Aku hebat! Codet dengar! Liora bilang Dewangga hebat!" Ia bertepuk tangan sendiri sambil tertawa puas, lalu berlari keluar mencari semua orang di mansion. “Kei! Dewangga hebat!"
Suara riangnya menggema sampai ke lantai bawah, Liora hanya bisa menatap kepergian pria itu dengan senyum tipis.
"Tuan memang selalu seperti itu, satu pujian kecil bisa membuatnya bahagia seharian." Ujar Codet.
Liora mengangguk pelan, ia sudah mengerti. Setahun yang lalu, pria itu masih hidup sebagai orang dewasa yang memimpin banyak perusahaan. Setelah kecelakaan itu, semuanya berubah. Di balik sikap polos dan tingkah pria itu yang seperti anak kecil, pernah ada Dewangga yang menjalani hidup sebagai pria dewasa. Namun dalam satu kecelakaan, pria itu kehilangan semua itu.
Malam itu, setelah semua orang kembali ke kamar masing-masing, mansion akhirnya tenggelam dalam keheningan.
Liora tetap tidur di ranjang yang sama dengan Dewangga, seperti malam sebelumnya. Barangkali karena kelelahan, perempuan itu tertidur jauh lebih cepat. Tanpa sadar, kepalanya bersandar di bahu Dewangga, sementara salah satu tangan pria itu masih melingkar longgar di pinggangnya seperti kemarin malam. Napas Liora terdengar pelan dan teratur, wanita itu benar-benar sudah terlelap.
Beberapa menit berlalu.
Kelopak mata Dewangga perlahan terbuka, tatapan polos yang biasanya menghiasi wajahnya lenyap begitu saja. Berganti dengan sorot mata yang tenang, tajam, dan penuh kesadaran.
Ia menoleh ke samping, Liora masih tertidur pulas. Dengan sangat hati-hati, Dewangga mengangkat lengannya dari pinggang Liora, lalu menggeser tubuh perempuan itu sedikit agar tetap nyaman tanpa membangunkannya. Barulah ia duduk di tepi ranjang, tangannya kembali menyentuh pelipis yang sejak kemarin malam terasa seperti akan pecah.
Namun kali ini rasa sakit itu perlahan memudar, berganti dengan gelombang ingatan yang datang bertubi-tubi. Wajah mendiang istrinya, tangisan pertama Keivan saat lahir. Puluhan rapat direksi, ribuan dokumen perusahaan yang pernah ia tanda tangani.
Hari ketika kecelakaan itu merenggut hampir seluruh hidupnya. Lalu, potongan-potongan kejadian beberapa menit sebelum ia berteriak di koridor melihat seseorang.
"Jadi... kaulah orangnya, yang merenggut nyawa istriku dan mengubah hidupku menjadi seperti ini." Dewangga mengepalkan tangannya erat. Rahangnya mengatup kuat, giginya bergemeletuk menahan emosi.
Dan suara rendah yang keluar dari bibirnya sama sekali tidak menyisakan kepolosan pria dengan kemampuan intelektual anak kecil yang selama ini dikenal semua orang.
Dewangga memejamkan mata sesaat. Benturan keras di kepalanya telah merusak sebagian ingatan dan kemampuan berpikirnya. Ditambah trauma karena kehilangan sang istri, pikirannya seolah mengunci semua kenangan. Namun kejadian di rumah Tuan besar, menjadi pemicu yang menghancurkan dinding itu. Sejak malam kemarin, sedikit demi sedikit... seluruh kesadarannya kembali utuh.
Tatapannya kemudian beralih kepada Liora. Perempuan itu bergumam pelan dalam tidurnya, lalu tanpa sadar bergeser mendekat hingga kepalanya kembali menyentuh lengan Dewangga.
Sudut bibir Dewangga terangkat tipis, matanya memperhatikan wajah Liora cukup lama. Semakin lama dipandang, semakin ia tertarik pada perempuan itu. Selain wajah perempuan itu yang cantik, Dewangga juga menyukai keberanian Liora yang selalu membelanya dan sikapnya yang apa adanya.
Di tengah seluruh keluarga yang selalu memperlakukannya seperti anak kecil, hanya Liora yang berani memarahinya, menegurnya, mengajarinya, bahkan menolak permintaannya tanpa rasa takut. Sifat itulah yang justru membuat Dewangga mulai tertarik pada istri barunya.
"Ck..." Tangannya perlahan terangkat, nyaris menyentuh pipi Liora. Namun sebelum jemarinya mengenai kulit perempuan itu, ia menghentikan gerakannya.
Tatapan matanya semakin dalam, senyum tipis yang sulit diartikan muncul di sudut bibirnya. “Kau memang gadis pemberani, Liora. Tapi sayangnya, kau masih bisa aku tipu. Hari ini... pertama kalinya aku berpura-pura. Aku sempat mengira kau akan langsung sadar sejak pagi kalau aku sedang menipumu. Ternyata—"
Pria itu kembali menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, belum saatnya siapa pun mengetahui bahwa dirinya telah pulih. Tatapan Dewangga berubah dingin, seperti pria yang dahulu memimpin kerajaan bisnisnya tanpa belas kasihan. Ia menarik tubuh Liora ke dalam pelukannya, lalu memejamkan mata.
Esok pagi, yang akan dilihat semua orang kembali hanyalah Dewangga yang polos, kekanak-kanakan, dan mudah tertawa. Tak seorang pun akan menyangka bahwa di balik senyum lugu itu, sang pemilik kerajaan bisnis telah kembali... dan sedang menunggu pengkhianat itu menampakkan diri.
pasti bekerja sama dgn ibu tirinya Liora
untk menekan hati dan mental Liora yang paling salam adalah ibunya🤔🤔🤔
antara siapa yang melakukan kecelakaan
dan bagaimana sikap Liora jika tau dewangga sudah sadar sepenuhnya
tau jika ada perubahan dari ayahnya
karna mengingat semuanyaa
sengaja akan dibunuh kembali
atau ada obat yang tukar🤔🤔
dihadapan tetua 🏃
kalo emnk si ibu tiri terlibat baik dg liora maupun dewangga ,, berarti masalah ny gx semudah yg di bayang kn ,,
malu ny sampe ke ubun2 ,, 😒😒😒😒😒😒😒
semoga kamu akan kembali pulih seperti sedia kala