NovelToon NovelToon
Di Balik Seragam Yang Sama

Di Balik Seragam Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Tazaya

Sebuah kisah 2 orang anak SMA, dibalik seragam yang sama ternyata kehidupan mereka sangat bertolak belakang

dengan kisah anak gadis bernama Naira dengan kehidupan nya yang sunyi dan dingin
dan kisah anak lelaki yang berkerja keras sambil bersekolah tapi dikelilingi keluarga yang hangat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tazaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jebakan di Rumah Kosong dan Bayangan Penyelamat

Tiba waktu Sepulang sekolah, atmosfer di sekitar Naira terasa semakin mencekam. Kata-kata bijak Rama di kelas XI-A tadi siang memang sempat membungkam mulut anak-anak kelas, tetapi di luar kelas, badai gosip justru semakin digoreng sengaja oleh pihak lain.

​Saat Naira sedang berjalan sendirian di koridor belakang menuju loker, tiba-tiba jalurnya dihadang oleh gerombolan siswi pembully anak-anak suruhan Tirta yang sudah disogok uang jajan tebal.

​"Eh, liat nih, cewek yang katanya Putri Keraton tapi aslinya gampangan lewat," cibir salah satu dari mereka, sengaja menyenggol bahu Naira dengan keras hingga buku-buku di dekapan Naira jatuh berserakan di lantai.

​"Kemarin nempel si anak ruko, sekarang nempel anak hits XI-B. Murahan banget ya, gak bisa hidup tanpa cowok apa gimana?" timpal yang lain sambil tertawa sinis, bahkan sengaja menginjak salah satu buku Naira.

​Naira mematung. Dadanya sesak, dan air mata yang sejak kemarin dia tahan sekuat tenaga kini mulai menggenang di pelupuk matanya. Di tengah rasa sakit hatinya pada Rama, tuduhan-tuduhan kejam ini benar-benar menghantam titik paling rapuh dalam dirinya. Dia merasa sendirian, telanjang dihakimi oleh satu sekolah atas kesalahan yang bahkan tidak dia lakukan. Naira menunduk, bahunya bergetar hebat, siap untuk runtuh saat itu juga.

​Tepat di saat Naira berada di titik paling bawah, sebuah langkah kaki tegap mendekat.

​"HEI! Apa-apaan kalian, hah?!"

​Suara lantang itu membuat gerombolan pembully langsung pura-pura panik dan buru-buru pergi tentu saja, itu semua bagian dari akting yang sudah dibayar.

​Tirta datang. Dengan wajah yang dipasang seolah-olah penuh rasa khawatir dan amarah, dia langsung berlutut di depan Naira, membantu memunguti buku-buku gadis itu yang kotor.

​"Ra, kamu gak apa-apa? Bajingan banget mereka!" ucap Tirta dengan nada yang terdengar sangat tulus, seolah dia adalah satu-satunya orang di dunia ini yang peduli pada Naira.

​Tirta berdiri, lalu memegang kedua bahu Naira yang sedang bergetar karena menangis. "Kamu liat sendiri kan, Ra? Di sekolah ini gak ada yang bener-bener berpihak sama kamu. Mereka semua cuma bisa ngehakimi kamu. Bahkan cowok yang kemarin kamu belain itu... dia gak ada di sini kan pas kamu diginiin?"

​Mendengar nama Rama disebut, tangis Naira semakin pecah. Kata-kata Tirta perlahan mulai meracuni pikirannya.

​"Udah, Ra. Mulai sekarang, kamu gak usah dengerin mereka. Kamu punya aku. Aku bakal jagain kamu dan mastiin gak ada satu pun orang yang bisa ngatain kamu lagi," bisik Tirta, mengulas senyum manis yang menyembunyikan kepuasan luar biasa di hatinya.

​Di dalam kepalanya, Tirta tertawa menang. Skenarionya berhasil total. Dengan membuat Naira merasa terasingkan dari seluruh sekolah, Naira akan bergantung sepenuhnya pada dia. Perangkap psikologisnya sudah terpasang sempurna, dan Naira, tanpa sadar, baru saja berjalan masuk ke dalam cengkeraman sang malaikat palsu.

Naira yang sudah telanjur down parah akhirnya pasrah saat Tirta menuntunnya menuju area parkiran. Tatapan matanya kosong, lelah karena dihantam badai rumor seharian penuh.

"Ra, kamu masuk mobil duluan aja, ya? Tenangkan diri kamu di dalam," ucap Tirta dengan suara yang lembut, membukakan pintu mobilnya untuk Naira. "Aku mau ke kamar mandi sebentar, sekalian mau beliin kamu air minum biar agak tenangan. Tunggu ya, Sayang."

Naira hanya mengangguk lemah, lalu duduk di jok mobil sambil menyembunyikan wajahnya di lipatan tangan. Dia mengabarkan pada supirnya, pak joko. Kalau dia pulang bersama Tirta sore ini. Dia benar-benar merasa Tirta adalah satu-satunya pelindung yang dia miliki saat ini.

Namun, begitu pintu mobil ditutup dan Tirta berbalik, senyum malaikat di wajah cowok itu langsung luntur, berganti dengan seringai licik yang penuh kemenangan. Tirta tidak berjalan ke arah toilet murid, melainkan melipir menuju koridor belakang dekat gudang sekolah yang sepi.

Dia tidak tahu, bahwa sejak tadi, ada sepasang mata hitam pekat yang terus mengawasinya dari balik bayangan pohon palem parkiran. Rama.

Rama yang sejak jam istirahat tadi merasa ada yang tidak beres dengan gosip yang mendadak terorganisir untuk menyerang Naira, memutuskan untuk mengikuti Tirta diam-diam. Langkah kaki Rama sangat ringan, terlatih untuk bergerak tanpa suara.

Di dekat gudang, Tirta berhenti. Tak lama, tiga siswi pembully yang tadi melabrak Naira keluar dari balik dinding.

"Gimana? Akting kita mantap, kan? Si Naira langsung nangis bombay tadi," ucap si ketua geng sambil terkekeh, menagih janji.

"Bagus. Kerja kalian rapi banget," sahut Tirta santai. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu, lalu mengulurkannya pada mereka. "Ini bayaran kalian. Inget, mulut kalian harus tetap rapat. Jangan sampai ada yang tahu kalau aku yang nyuruh kalian buat neror Naira."

"Beres, Tir! Kalau ada job begini lagi, hubungi kita aja," jawab mereka kegirangan sambil menerima uang tersebut, lalu buru-buru pergi lewat jalan pintas.

Di balik pilar koridor, tangan Rama yang mengepal di dalam saku jaketnya mengeras hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengatup rapat menahan amarah yang mendidih.

‘Bajingan,’ batin Rama bergemuruh.

Ternyata dugaannya seratus persen benar. Tirta sengaja menghancurkan mental Naira agar gadis itu merasa tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, lalu datang sok menjadi pahlawan. Sebuah taktik manipulasi psikologis yang sangat kotor.

Rama bersiap untuk keluar dan langsung menghajar Tirta saat itu juga. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Tirta menerima sebuah telepon. Rama menajamkan pendengarannya di tengah keheningan koridor sepuh itu.

"Halo? ... Iya, beres. Target udah di dalam mobil gue," ucap Tirta pada si penelepon di seberang sana, suaranya terdengar penuh obsesi jahat. "Gue bakal bawa dia ke rumah kosong pinggiran kota yang biasa anak-anak pakai. Setelah malam ini, Naira Danendra bakal sepenuhnya jadi milik gue, dan bokapnya yang kaya raya itu gak akan punya pilihan selain nurutin mau kita."

Jantung Rama berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena insting protektifnya yang melonjak tajam. Aksi lain. Tirta mau nekat menculik atau menjebak Naira secara fisik malam ini.

Tirta mematikan teleponnya, lalu berjalan terburu-buru kembali ke arah parkiran.

Rama tidak langsung melabraknya di sana. Jika dia ribut di sekolah sekarang, Tirta bisa saja berkilah atau membuat skenario lain yang memperburuk posisi Naira. Rama memilih bermain cantik.

Naira yang saat itu emosinya masih tidak stabil dan ingin menunjukkan pada dunia terutama pada Rama bahwa dia baik-baik saja, akhirnya mengangguk setuju. Dia mengirim pesan pada Pak Joko bahwa dia akan pulang bersama Tirta.

Rama tidak langsung melabraknya di sana. Jika dia ribut di sekolah sekarang, Tirta bisa saja berkilah atau membuat skenario lain yang memperburuk posisi Naira. Rama memilih bermain cantik dan bergerak cepat.

Dia berlari memotong jalur lewat taman belakang menuju area parkir khusus motor di sudut sekolah. Rama menyambar helm hitamnya, lalu menaiki motor kopling miliknya yang berwarna hitam legam. Begitu kunci diputar, mesin motornya menderu rendah, seolah ikut merasakan amarah yang sedang membakar dada pemiliknya.

Rama memakai helmnya dengan cepat, menutup kaca visor hingga sepasang mata tajamnya tersembunyi di balik kaca gelap.

Creeek.

Dia menginjak pedal gigi, menarik tuas kopling, dan menggas motornya keluar dari gerbang sekolah tepat saat mobil hitam milik Tirta bergerak membelah jalanan sore yang mulai temaram.

Sambil melesat di atas motornya, mata Rama terus mengunci mobil Tirta dari jarak aman agar tidak dicurigai. Kecepatan motornya stabil, menyelip di antara kepadatan kendaraan dengan lincah. Setiap kali lampu rem mobil Tirta menyala, dada Rama bergemuruh oleh rasa khawatir yang luar biasa pada Naira yang saat ini sedang berada di dalam sana bersama seorang serigala berbulu domba.

Jalur yang dilewati Tirta semakin lama semakin sepi, beralih dari jalan raya kota menuju daerah pinggiran yang dipenuhi bangunan tua dan ruko-ruko mangkrak. Rama menajamkan instingnya. Dia tahu persis daerah ini area luar kota yang rawan dan jarang dilewati orang.

Begitu mobil Tirta berbelok ke sebuah pekarangan kotor yang ditumbuhi ilalang tinggi di depan sebuah rumah kosong, Rama langsung mematikan mesin motornya dari jarak beberapa puluh meter. Dia menyembunyikan motor hitamnya di balik rimbunnya pohon pisang liar agar tidak memicu kecurigaan Tirta.

Rama melepas helmnya, meletakkannya di atas spion, lalu melangkah cepat dengan gerakan yang sangat ringan dan tanpa suara mendekati rumah kosong itu. Amarah di dalam dada sang juara karate sudah mencapai puncaknya, bersiap diledakkan bersama gerakan fatalnya begitu dia melangkah masuk ke dalam nanti. Skenario malaikat palsu Tirta harus berakhir dengan tragis sore ini juga.

GRama tidak langsung melabraknya di sana. Jika dia ribut di sekolah sekarang, Tirta bisa saja berkilah atau membuat skenario lain yang memperburuk posisi Naira. Rama memilih bermain cantik dan bergerak cepat.

​Dia berlari memotong jalur lewat taman belakang menuju area parkir khusus motor di sudut sekolah. Rama menyambar helm hitamnya, lalu menaiki motor kopling miliknya yang berwarna hitam legam. Begitu kunci diputar, mesin motornya menderu rendah, seolah ikut merasakan amarah yang sedang membakar dada pemiliknya.

​Rama memakai helmnya dengan cepat, menutup kaca visor hingga sepasang mata tajamnya tersembunyi di balik kaca gelap.

​Creeek.

​Dia menginjak pedal gigi, menarik tuas kopling, dan menggas motornya keluar dari gerbang sekolah tepat saat mobil hitam milik Tirta bergerak membelah jalanan sore yang mulai temaram.

​Sambil melesat di atas motornya, mata Rama terus mengunci mobil Tirta dari jarak aman agar tidak dicurigai. Kecepatan motornya stabil, menyelip di antara kepadatan kendaraan dengan lincah. Setiap kali lampu rem mobil Tirta menyala, dada Rama bergemuruh oleh rasa khawatir yang luar biasa pada Naira yang saat ini sedang berada di dalam sana bersama seorang serigala berbulu domba.

​Jalur yang dilewati Tirta semakin lama semakin sepi, beralih dari jalan raya kota menuju daerah pinggiran yang dipenuhi bangunan tua dan ruko-ruko mangkrak. Rama menajamkan instingnya. Dia tahu persis daerah ini area luar kota yang rawan dan jarang dilewati orang.

​Begitu mobil Tirta berbelok ke sebuah pekarangan kotor yang ditumbuhi ilalang tinggi di depan sebuah rumah kosong, Rama langsung mematikan mesin motornya dari jarak beberapa puluh meter. Dia menyembunyikan motor hitamnya di balik rimbunnya pohon pisang liar agar tidak memicu kecurigaan Tirta.

​Rama melepas helmnya, meletakkannya di atas spion, lalu melangkah cepat dengan gerakan yang sangat ringan dan tanpa suara mendekati rumah kosong itu. Amarah di dalam dada sang juara karate sudah mencapai puncaknya, bersiap diledakkan bersama gerakan fatalnya begitu dia melangkah masuk ke dalam nanti. Skenario malaikat palsu Tirta harus berakhir dengan tragis sore ini juga.

Sebagai cowok yang terbiasa hidup keras di jalanan, Rama tahu persis reputasi buruk Tirta di luar sekolah yang suka bermain licik dengan perempuan. Tanpa memedulikan jam kerjanya yang akan dimulai, Rama langsung berlari kencang. Dia menyetop ojek motor yang lewat, meminta sang pengemudi mengejar ke arah kompleks sepi itu dengan kecepatan penuh. Keselamatan Naira jauh lebih penting daripada ego atau ancaman Tuan Danendra saat ini.

BRAK!

Naira tersentak kencang saat Tirta mendorong pintu rumah kosong itu dan langsung menguncinya dari dalam. Suasana di dalam rumah itu remang-remang, kotor, dan sangat sunyi.

"Tir... kita ngapain ke sini? Ini bukan tempat kumpul anak-anak," ucap Naira, melangkah mundur dengan rasa takut yang mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Topeng angkuhnya seketika luntur.

Tirta berbalik, senyum menawannya kini berubah menjadi seringai menyeramkan yang dipenuhi obsesi. Dia berjalan mendekati Naira yang terus memundur sampai punggung gadis itu membentur dinding berdebu.

"Kamu pikir aku mau jadi pacar pura-pura kamu tanpa imbalan, Ra?" bisik Tirta, nadanya terdengar sangat posesif dan jahat. "Kamu itu Putri Danendra. Sekalinya kamu masuk ke perangkapku, kamu gak akan bisa lari lagi. Mulai hari ini, kamu bakal sepenuhnya jadi milikku, dan bokap kamu yang kaya raya itu terpaksa harus nurutin semua mauku karena kamu udah ada di tanganku."

Tirta mengulurkan tangannya yang kasar, hendak mencengkeram bahu Naira. Naira memejamkan matanya rapat-rapat, air matanya menetes deras, berteriak ketakutan dalam hati, meratapi kebodohannya yang telanjur masuk ke kandang macan demi membalas dendam pada Rama.

BRAAAKKKK!!!

Pintu kayu rumah kosong itu hancur berantakan dalam satu hantaman tendangan yang luar biasa keras. Debu-debu beterbangan di udara.

Tirta tersentak, langsung menoleh ke arah pintu.

Di ambang pintu yang hancur, berdiri seorang cowok dengan napas memburu. Seragam sekolahnya sedikit berantakan, namun sorot matanya yang hitam pekat tampak sangat menyala, sedingin iblis yang siap mencabut nyawa.

"Jauhkan tangan kotor lu dari dia," ucap Rama. Suaranya rendah, bariton, dan bergetar hebat oleh amarah yang sudah mencapai ubun-ubun.

"R-Rama...?" lirih Naira dari balik tangisnya. Dia menatap tidak percaya pada sosok cowok lempeng yang tadi pagi mengusirnya di kelas, kini berdiri di sana bagaikan pelindung yang nyata di tengah kegelapan.

Tirta berdecak kesal, merasa rencananya diganggu. "Anak ruko sialan! Mau jadi pahlawan lu, hah?!" Tirta langsung melayangkan pukulan mentah ke arah wajah Rama.

Namun, Rama bukan cowok biasa. Gerakan yang terlatih secara refleks membuat dia menghindar dengan sangat tenang namun cepat. Rama menangkap pergelangan tangan Tirta, memutarnya ke belakang hingga terdengar bunyi klik sendi yang nyeri, lalu memberikan satu tendangan telak ke perut Tirta hingga cowok manipulatif itu tersungkur keras ke lantai ubin, mengerang kesakitan.

Hanya dalam satu gerakan tunggal, Tirta berhasil dilumpuhkan total.

Rama tidak melanjutkan serangannya. Dia berbalik, melangkah cepat menghampiri Naira yang sudah terduduk lemas di lantai sambil menangis sesenggukan. Rama melepas jaketnya, lalu menyampirkannya ke bahu Naira yang gemetar untuk menutupi seragam gadis itu.

Rama berjongkok di depan Naira. Tatapan matanya kembali melembut, persis seperti tatapan hangat di warteg kemarin malam. Dia menatap lurus ke mata Naira yang basah.

"Aku udah bilang, Ra... jangan pernah mikir yang aneh-aneh lagi. Dan jangan pernah nekat kayak gini cuma buat ngetes aku" ucap Rama lempeng, namun nadanya menyiratkan rasa khawatir yang luar biasa dalam. "Ayo pulang."

Rama mengulurkan tangan yang sama yang kemarin menggandeng Naira ke warteg. Dan malam itu, di tengah reruntuhan rumah kosong, Naira menyambut uluran tangan itu dengan erat, menyadari bahwa sekeras apa pun dunia mencoba memisahkan mereka, bayangan Rama akan selalu ada untuk menjaganya.

Sebelum pulang

Rama berjongkok tepat di samping Tirta, mencengkeram kerah seragamnya dengan satu tangan hingga Tirta terpaksa mendongak.

"Dengerin gue baik-baik, Tirta," bisik Rama. Suaranya sangat rendah, bariton, dan begitu tenang namun justru ketenangan itulah yang membuat bulu kuduk Tirta berdiri tegang.

"Mulai besok, jangan pernah muncul lagi di sekolah... atau lo gak akan pernah punya kesempatan buat liat dunia luar lagi."

Ancaman Rama tidak terdengar seperti gertakan sambal. Sorot matanya menunjukkan bahwa dia bener-bener sanggup melakukan apa yang baru saja dia katakan.

"G-Gue... gue gak bakal ganggu dia lagi, Ram... ampun..." cicit Tirta dengan suara bergetar, benar-benar kena mental.

Rama mengempaskan tubuh Tirta kembali ke lantai dengan kasar. Dia berdiri, lalu melangkah pulang bersama Naira

Rama kembali mengulurkan tangan nya untuk mempersilahkan Naira menggandengnya Dia menyambut uluran tangan Rama yang kekar dan hangat. Begitu tubuhnya tegak, kakinya yang masih lemas membuat dia agak limbung, dan secara refleks Rama menahan pinggang Naira agar gadis itu tidak terjatuh lagi.

Rama melepas jaket hitamnya, lalu menyampirkannya ke bahu Naira yang gemetar untuk menutupi seragam gadis itu yang sedikit kotor.

1
Wawan
Sepertinya ini sama persis degan bab di depan 💪✍️
Wawan
Nah kena Amor lu 😍😄✍️
tazayaa: hahaha🤭
total 1 replies
Wawan
Kok mirip ceritaku ya ... "Pada Suatu Masa" 💪✍️
Wawan: Panjang kalau di ceritaku 😄 ... But ide tulisamu menarik dan menyenangkan Thor 💪✍️
total 2 replies
Wawan
Satu ilklan plus mawara buat yang lagi klepek klepek 😄✍️
tazayaa: hihii terimakasih 💪😄
total 1 replies
Wawan
Suit suiiit 😍
tazayaa: hihiii🤣
total 1 replies
Wawan
Rama dan Naira 😍😍😍
tazayaa: jangan lupa baca kisah selanjutnya yaa😍😍😍
total 1 replies
Protocetus
Bibit2 timnas 💪
Protocetus
Gk sekolah mau kerja apa bossku 😂
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
tazayaa: siapp, sama-sama👍
total 3 replies
Dhatu Lukita
terus semangaattt 💪💪💪
tazayaa: terimakasih kak, semangat jugaa 💪
total 1 replies
Dhatu Lukita
haloo thor aku mampir nih, semangat terus berkarya ya 💪💪💪
tazayaa: siapp kak, makasihh yaa
total 1 replies
tazayaa
bantu follow ya supaya admin semangat update niii🤭🤭
cila_aa
aduhh ada yang mulai tumbuh tapi bukan pohon nihh 🤭
tazayaa: wkwkw
total 1 replies
tazayaa
BAGUSSS POLLL!!!🩷🩷
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!