Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.
"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”
Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.
***
"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.
Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.
Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.
"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSA 12
“Oh, sang suami datang untuk membela istrinya,” sarkas Kamila.
Wanita itu tak bermaksud menyinggung Amelia dan tentu saja sasarannya hanya pada Rosa dan Hanan.
“Berhenti mengganggu istriku.”
Kamila berdecih sinis sambil merotasikan matanya. “Istri yang mana? Pertama atau yang kedua? Oh, maaf. Tentu saja yang pertama, ‘kan. Matahari mungkin saja terbit dari barat jika kamu membela Amelia kami.”
Kamila secepat kilat mengalihkan pandangannya pada Amelia. Tampak enggan bertukar kata lebih banyak dengan adiknya sendiri. “Kalau begitu kami berangkat dulu, Mel. Jaga diri dan tetap bertukar kabar dengan kami. Jangan sungkan.”
“Benar. Jangan menganggap kami orang asing.”
Setelah mengucap salam perpisahan, Ibu Hanan dan Kamila berangkat dari rumah sakit menuju bandara.
Amelia kembali dihinggapi rasa kesepian. Dia benar-benar berharap bisa kembali ke kehidupan normalnya, meski monoton dan tak banyak hal menarik, tapi setidaknya dia masih memiliki kendali atas dirinya sendiri.
“Aku datang.”
Jetro mendorong pelan pintu ruangan Rosa. Seperti yang Amelia duga, kakaknya begitu antusias hingga matanya berbinar mendapati kehadiran sosok yang sudah lama tak dia lihat.
“Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?” Suara Jetro mengalun lembut. Sebuah kontras saat berbicara dengannya yang membuat gadis itu merinding.
“Sudah, aku merasa sangat baik sekarang, apalagi karena kamu akhirnya datang ke mari setelah belasan tahun. Benar-benar, kamu bahkan tidak menghubungiku selama di luar negeri.” Rosa sama sekali tak menyembunyikan ekspresi sebal di wajahnya.
“Maaf, ada satu dan dua hal yang membuatku tak bisa mengabarimu, tapi lihat, aku di sini sekarang ... hanya untukmu.”
Amelia mundur diam-diam. Dia memilih pergi karena tentu saja dia tak ingin dan tak akan dilibatkan dalam pembahasan apa pun. Jika pun ada, itu adalah Rosa yang selalu bertanya padanya. Ketidaknyamanannya justru meningkat dua kali lipat.
Begitu sampai di lorong rumah sakit, Amelia akhirnya bisa sedikit bernapas lega. Berada di ruangan Rosa seperti duduk di kursi eksekusi. Napasnya tidak pernah teratur dan pikirannya enggan untuk tenang.
Gadis itu berjalan-jalan sebentar dan melihat sosok anak kecil berlari kencang ke arahnya. Amelia tak sempat menghindar dan tubuh kecil itu menubruk kakinya.
“Kakak, tolong! Mereka ingin menyuntikku. Aku tidak mau!” Anak itu histeris-berusaha naik ke gendongan Amelia. Gadis itu tak punya pilihan lain melihat tubuh kecilnya gemetaran—membuktikan betapa takutnya dia saat ini.
“Angkasa!”
Seorang perawat laki-laki datang dengan napas memburu. Keringat mengalir deras di wajahnya yang kuyu. Kelelahan dapat terlihat jelas di sana. Sepertinya perawat itu telah bekerja keras dalam merawat pasiennya.
Amelia menatap anak laki-laki di gendongannya yang berusaha menyembunyikan wajahnya di bahu Amelia.
“Tidak mau, Kakak. Disuntik itu sakit.” Anak itu menangis dan menolak melihat sang perawat.
“Maaf merepotkan Anda, Nona. Angkasa sedikit sulit ditangani dan selalu membuat keributan sejak pertama kali dirawat. Dia terus berontak tiap kali akan diberikan c perawatan. Biarkan saya membawanya.” Perawat itu mencoba mengambil alih Angkasa, tapi anak itu malah mengamuk.
“Bisa beri saya waktu sebentar? Saya akan mencoba membujuknya.” Amelia memberi tepukan halus di punggung anak itu yang mulai sesenggukan.
“Baiklah, Nona.”
“Jadi, namamu Angkasa?” Amelia bertanya lembut. Gadis itu bisa merasakan anggukan lemah di bahunya.
“Kenapa tidak mau dirawat? Kakak perawat itu baik, Asa tahu?” Amelia mulai berjalan pelan sembari memberi pendekatan pada anak di gendongannya.
Angkasa menggeliat pelan dan bergumam, “Mereka mau menyuntikku. Aku tidak mau, rasanya benar-benar sakit.”
“Benarkah, bagaimana jika kita coba sekali lagi? Kalau tidak mau disuntik nanti akan sakit terus.” Amelia mengikuti arahan sang perawat menuju ruangan rawat Angkasa.
“Sakit, Kakak.” Angkasa lagi-lagi merengek.
“Mau coba bersama? Kakak akan menemani Asa. Jika Asa berhasil menahannya akan Kakak beri hadiah.” Amelia mencoba membujuk.
Punggung Angkasa menegak sempurna mendengar kata ‘hadiah’ yang diucapkan oleh Amelia.
“Hadiah? Aku akan mendapat hadiah?” Mata anak itu berbinar.
“Iya, tapi Asa harus mau dirawat dulu. Jangan menolak jika disuntik. Ini juga demi kesehatanmu. Paham, ‘kan.”
Angkasa tampak berpikir. Wajahnya begitu bimbang seperti orang dewasa yang tengah dilanda kebingungan. Dia masih takut dengan jarum suntik, tapi hatinya lebih menginginkan hadiah yang dijanjikan oleh Amelia. Setelah pergolakan batin akhirnya dia memutuskan.
“B-baiklah, tapi Kakak tidak boleh bohong. Aku mau hadiahnya nanti setelah diperiksa.”
Senyum Amelia terbit. Dia menurunkan Angkasa di brankar. Sejak tadi saat dia membujuk Angkasa, mereka sudah sampai di ruang rawat anak itu.
Sang perawat tampak sigap mengambil peralatan yang tadi sudah dia siapkan. Tak ingin menyia-nyiakan waktu sedetik pun selagi pasien kecilnya itu telah setuju.
Angkasa masih tampak ketakutan melihat jarum suntik, Amelia memegang wajah anak itu dengan lembut dan mengarahkannya untuk menatap ke arahnya.
“Tidak perlu dilihat. Kita belum berkenalan dengan benar. Nama Kakak, Amelia. Jadi, sekarang kita berteman?”
Angkasa menatap tangan Amelia yang terulur. Dia menyambutnya dengan senang hati dan menyadari bahwa dia secara impulsif merengek pada orang asing. Dia mendadak malu.
“Ada apa?” Amelia langsung menyadari perubahan ekspresi anak itu.
“Itu ... maaf tadi aku merengek pada Kakak. Ibu dan Ayah bilang aku tidak boleh sembarangan berbicara pada orang asing, tapi tadi aku benar-benar takut.” Angkasa menunduk penuh penyesalan.
“Tidak apa-apa. Anak-anak memang begitu. Tidak boleh menyapa orang asing sembarangan. Jadi, di mana orang tuamu?”
Perawat itu mendongak, tampak ingin mengatakan sesuatu sebelum akhirnya kembali mengatupkan bibirnya. Matanya seolah menyiratkan sesuatu.
“Ayah dan Ibu sedang beristirahat. Tidak bisa diganggu.” Suara anak itu begitu tenang, tapi Amelia langsung menyadari ada sesuatu yang aneh. Dia mengalihkan pandangannya pada sang perawat.
Perawat itu menggelengkan kepala pertanda untuk menunda pembahasan itu. Amelia menunduk memperhatikan anak kecil di depannya dengan ekspresi rumit.
“Kakak, apa sudah selesai? Kapan aku disuntik?” Angkasa menarik lengan baju Amelia pelan.
“Eh, sudah selesai. Kamu sudah disuntik.” Sang perawat tersenyum lebar karena tugasnya berlangsung begitu mudah dengan bantuan Amelia.
“Sungguh? Kenapa tidak terasa?” Angkasa melirik lengannya yang memang terdapat bekas suntikan, tapi dia benar-benar tak merasakan apa pun saat jarum itu menusuk lengannya.
“Lihat, ‘kan? Tidak sakit. Kamu bahkan tidak merasakannya. Jadi, nanti tidak perlu berlari ke sana ke mari jika ingin diobati.” Amelia memberi elusan pelan di kepala bocah itu.
Angkasa tampak begitu semringah. Tak lama kemudian anak itu tertidur di brankarnya dengan tenang.
Amelia dan perawat itu meninggalkan Angkasa ke luar ruangan.
“Terima kasih bantuannya, Nona Amelia. Benar-benar melelahkan untuk membujuk Angkasa, tapi berkat Anda semuanya berlangsung cepat.” Perawat bernama Ilyas itu tersenyum lega.
“Jangan terlalu formal. Anak-anak terkadang memang sulit ditangani. Aku harap setiap anak di dunia akan selalu sehat.” Amelia tampak tak mempermasalahkannya sama sekali.
“Tentang orang tua Angkasa tadi, sebenarnya mereka sudah meninggal seminggu yang lalu akibat kecelakaan mobil. Sementara Angkasa sendiri memang pasien di rumah sakit ini sejak setengah bulan yang lalu. Dia mengidap kanker darah. Orang tuanya saat itu sedang keluar untuk membeli beberapa keperluan Angkasa saat tragedi terjadi.”
Setelah kepergian orang tuanya, Angkasa selalu tampak tenang dan memberikan jawaban yang sama seperti yang diberikan kepada Amelia. Awalnya dia masih diantar oleh pengasuhnya, tapi perempuan itu sudah tiga hari tidak pernah muncul.
“Jadi ... Angkasa sudah tahu jika orang tuanya meninggal?”