Dua orang yang dipaksa hidup untuk ambisi orang lain, bertemu di tempat paling brutal: ruang operasi. Tekanan membuat mereka hancur, tapi juga satu-satunya tempat mereka jujur.
Devan Adiguna Handaru, Konsulen Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, 35 tahun. Pewaris rumah sakit swasta terbesar. Hidupnya cuma sekitar nama keluarga dan pisau bedah.
Savira, residen muda yang mimisan di tangga darurat. Tapi tetap senyum ke pasien. Hidupnya cuma jaga gawang ekspektasi mamanya.
Mampukah dua orang yang hanya kenal cairan infus dan darah... menambahkan warna untuk hidup satu sama lain? Atau ambisi Chandra Handaru yang akan menghancurkan mereka sebelum cinta sempat tumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api Skandal
Savira menyuapkan sesendok kuah soto yang terasa... Hambar. Kuah kental bersantan itu lewat di lidahnya tanpa rasa. Tidak ada gurih,. Tidak ada jahe. Hanya ada rasa serat di tenggorokan yang kering. Seperti minum air putih tapi tetap haus.
Dia kunyah pelan. Nasi dan ayam suwir di mulutnya terasa seperti kapas. Susah di telan. Tangannya masih stabil pegang sendok. Wajahnya di pasang senatural mungkin. Tapi di dalam, jantungnya masih nabrak-nabrak tulang rusuk.
Di sebelah kirinya. Feli masih cerewet. Di depan, Arlo mengulum senyum puas. Dan di sebelah kanannya, Devan diam. Tangannya sudah melepas lutut Savira. Cepat. Rapi. Seperti tidak pernah menyentuh. Ia tidak ingin skandalnya terbongkar terlalu cepat, mengingat mereka ada di kantin. Tempat umum.
Savira berusaha segera menghabiskan makanan nya dan menjauh dari meja kantin yang lebih mirip meja sidang. Namun, lagi-lagi Feli menemukan topik pembicaraan.
"Jadi, dokter Savira, dokter spesialis apa?" Suaranya ringan. Tanpa beban. Pertanyaannya juga biasa. Pertanyaan yang seharusnya mudah di jawab.
Savira menaruh sendok yang hendak di angkat nya. Pelan. Ia angkat wajah, mata jernihnya sedikit menyipit, karena ia senyum.
"Spesialis anestesi, Nona." Jawabnya pendek. "Saya residen tahun 2." Jelasnya.
"Ohh..." Feli manggut-manggut, bibirnya membulat.
Di depannya, seringai tipis muncrat di bibir Arlo. Ia akhirnya punya peluru sebagai senjatanya. "Woahhh, kamu hebat sekali dokter Savira. Baru R2, tapi sudah jadi dokter anestesi utama di operasi kolaborasi seorang tahanan negara." Matanya melirik Devan yang memasang wajah dingin.
"Pasti kemampuan kamu luar biasa. Sampai bisa berada di posisi itu." sambungnya. Sinis. Ia melempar bola api di meja makan.
Di sebelahnya, dr. Darma nahan sendok, ia melihat putranya, ia tahu jika Arlo sengaja mengatakan hal itu. Seperti memancing sesuatu. Tapi ia belum tahu. Arlo orang baru di RS ini, sehari ia tidak memiliki musuh atau seseorang yang tidak ia sukai.
Meja itu kembali hening. Feli menggigit bibirnya, merasa salah bicara lagi dan membuat situasi canggung.
Savira menatap mata Arlo sekilas. Ia angkat gelas dan menyedot jus jeruknya, menikmati setiap aliran manis segar melewati tenggorokannya. Gerakannya tenang. Elegan. Seolah tidak masalah ketika semua mata di meja itu melihatnya.
Ia menatap gelas jus yang sisa setengah. "Terimakasih atas pujiannya, dr. Arlo." Suaranya datar. Jelas. Ia membalas tatapan Arlo tanpa takut. "Lagi-lagi kebetulan." katanya tersenyum tipis. "Kebetulan nya adalah...saya termasuk orang yang cerdas. Anda bisa melihat riwayat kehidupan saya. Saat masih sekolah sampai menjalani residensi." mendengar tantangan itu wajah Arlo mengeras.
"Nilai dan dan track record saya ada di HRD rumah sakit ini. Bisa di cek kapan saja. Saya berada di posisi ini karena kompetensi. Bukan karena kebetulan lainya." Savira membelah bola api itu dengan pisau tajam. Tapi di bungkus kain sutera.
Devan menarik sudut bibirnya melihat ekspresi Arlo. Dan tidak seorang pun yang menyadari itu, dalam hatinya berkata. "That's my girl." Dengan ekor matanya , ia melirik kekasihnya. Sekali.
Savira tersenyum lebar. Menatap satu persatu orang yang ada di meja itu. "Sepertinya saya harus segera pergi." Ia melihat jam tangannya. Professional, lalu kembali menatap Arlo. " Terimakasih atas undangan makan siangnya, dr. Arlo."
Kemudian menatap Feli. Suaranya melunak. "Senang bertemu dengan anda, nona Feli." ia tersenyum hangat.
Savira berdiri sambil membawa nampan nya. "Saya permisi dr. Chandra, dr. Damar, dr. Devan." Ia sedikit membungkuk. Hormat. Lalu melangkah pergi. Dagu ke atas. Punggung tegak. Tanpa menoleh.
Feli masih menatap punggung Savira. " Dia dokter yang hebat." bisiknya kagum.
Arlo yang ada di sampingnya menatap tak suka mendengar kalimat pujian itu dari adiknya. Ia menoleh kearah dr. Chandra dan papinya.
"Saya juga permisi, dr. Chandra, Papi." Pamitnya kemudian beranjak dari kursi dan keluar dari kantin.
"Eh, Kak!" Teriak Feli melihat punggung Arlo menjauh. "Papi, Om. Feli duluan ya..." ia langsung mengejar Arlo.
Sedangkan Devan. Ia masih duduk tenang di tempat nya. Punggungnya bersandar. Tangannya di atas meja memutar-mutar gelas air putih.
Padahal kakinya gatal ingin lari mengejar Savira. Tapi ia tidak akan melakukan hal itu. Bukan di sini. Bukan sekarang. Di sebelahnya, dr. Chandra menatapnya tajam, seolah minta penjelasan atas sesuatu yang tidak ia ketahui.
"Devan, kamu tahu sesuatu? Apa yang terjadi dengan Arlo dan dokter residen itu?" suaranya berat. Datar. Ia tidak peduli sekarang mereka sedang dimana. Di kantin. Di depan umum.
Devan tarik napas pelan dari hidung. Tangannya berhenti memutar gelas. Ia menoleh ke ayahnya. Santai. Seperti orang yang tidak tahu apa-apa.
"Apa yang bisa terjadi? Mereka baru bertemu beberapa jam yang lalu di ruang Pre-op." jawabnya tenang. "Aku juga harus pergi, Pa. dr Pratama, saya permisi." Pamitnya, lalu pergi tanpa menunggu jawaban.
Dokter Chandra melihat tak suka kepergian Devan. Jawaban putranya tidak memuaskan. Rahangnya mengeras, ia memegang kuat garpu di tangannya.
Meja itu hening sampai suara dr. Darma memecah keheningan itu. "Apa yang anda pikirkan, dr. Chandra?" pertanyaan itu belum membuat wajah keras dr. Chandra melunak.
Dia menoleh dr. Darma dan meletakkan garpu ke piring. "Entahlah, saya merasa ada sesuatu yang dia sembunyikan." Kata dr. Chandra.
Di sampingnya, dr. Darma tersenyum. "Memang apa yang bisa di sembunyikan Devan dari ayahnya? Ia akan berpikir ribuan kali sebelum melakukannya."
dr. Chandra mengangguk setuju. "Semoga itu benar."
.....
Di lantai 12. Tepatnya di ruangan Devan. Pria itu bolak balik seperti setrikaan sambil melihat jam di tangannya. Sudah hampir lima menit yang lalu ia menyuruh Savira datang ke ruangannya. Tapi gadis itu belum juga datang.
Sampai, sebuah ketukan pintu membuat seulas senyum terbit di bibirnya. Lega. Ia langsung buka pintu, melihat Savira berdiri dengan sebuah map di tangannya.
"Kenapa lama sekali." Protesnya langsung menarik tubuh Savira masuk dan mengunci pintu.
"Ehhh, Dok!" Savira terkejut saat Devan mengurung tubuhnya menempel di pintu. "Dok..." Ia heran karena Devan menatapnya. Intens.
Devan mengusap pipi Savira. Pelan. Lembut. Penuh perasaan. "Kamu membuatnya saya menunggu seperti orang gila." bisiknya. Savira bisa merasakan hembusan napas hangat Devan. Jarak neraka tidak sampai satu jengkal.
"Dokter..." Savira menggigit bibir bawahnya bingung. Karena ia harus mencari alasan untuk bisa ke ruangan sang konsulen.
Tapi bagi Devan, apa yang di lakukan Savira adalah undangan. Ia mendekatkan bibirnya, dan melumat lembut bibir mungil kekasihnya. Sesaat, Savira terkejut. Tapi ia menikmati aksi Devan dan membalas lumayan itu dengan penuh perasaan.
Map yang di bawanya jatuh saat tangan Savira melingkar di leher Devan. Keduanya larut menikmati bunga asmara yang baru mekar. Dinding profesional antara konsulen dan residen, sepenuhnya runtuh. Bercampur, menjadi satu gelora api asmara yang memabukkan.
*
*
*
*
*
To be continued
Dear readers..... Please jangan judge Savira cewek murahan yaaa..... Author sayang banget taukkk sama Savira 🥹Jadi author kasih dia kebahagiaan lewat Devan....
Nanti, pelan-pelan author Spil alasan Savira mau jadi kekasih gelap Devan. Walaupun tidak di benarkan dengan alasan apapun....
Tapi. Demi. Untuk... Kelangsungan cerita novel author, maka benar gak benar, author terjang 🙈🙈🙈🙈🙈
Semoga, para readers goib author pada dukung yaaaa... jumlah kalian terus bertambah, tapi gak ada jejak sama sekali😫😫😫Kalau males komen, minimal klik like guysssss😭😭😭😭😭Minta tolong ini author ☹️