"Lo tau Asam Sulfat? Tapi, itu belum cukup buat lelehin hati lo yang beku. Tapi, gue juga gak bakal Nyerah semudah itu"
~ Arfenik Arkasa
Arfen, si Bocah Sains sang badboy ahlinya PHP, Pemecah rekor murid terlambat setiap hari. Paling enggak bisa patuh sama peraturan.
Arfen yang gak bisa nurut peraturan terlalu hobi mengganggu Lathifa si gadis Hukum yang identik dengan peraturan dari kelas IPS Satu.
Siapa yang sangka, Gangguan iseng Arfen setiap harinya berakibat jatuhnya ia terlalu dalam pada cinta nya Lathifa.
Mampukah Arfen menaklukan Hati beku Lathifa? Apakah Lathifa si gadis hukum mau menerima sang BadBoy?
Ingin tau kisah nya?
Cek yuk ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
***
"Thif, kan gue udah bilang. Arfen bukan cowok baik - baik. Dia itu playboy. Sadar dong" seru seseorang dari sebelah Thifa. Thifa agak familiar dengan suara orang itu. Namun, Thifa sendiri tidak jelas. Siapa orang itu. Thifa menoleh.
"Zefan?! Ngapain lo di sini?! " pekik Gadis mungil ini , saat menyadari orang yang di sebelah nya adalah sahabat nya.
"Gue dari tadi ngikutin elo. Dan lihat, tuh si Arfen lagi godain adek kelas. Gue udah bilang dia tuh gak baik. Lo kenapa enggak dengerin gue sih?! " kekeuh Zefan.
"Terserah dia lah mau ngapain, kita enggak pacaran kok. Kita cuma temen" sahut Thifa, namun ada hati yang sedikit terkoyak di sana.
"lah? Jadi elo enggak pacaran sama Arfen? Seriusan Thif?! " Seru Zefan antusias. Thifa mengangguk, meski telihat agak lesu.
"Bagus lah. Emang Arfen gak cocok buat elo" tambah Zefan. "udah lah, yuk gue anter ke kelas lo"
"Enggak usah deh Zef. Gue mau kantin aja. "
"Yah udah gue anter ke kantin. Entar lo tersesat lagi"
"Halah enggak usah lah, gue kan udah gedek. Enggak tersesat santai aja. Lagian nih kan sekolah gue. Masa iyah enggak tau jalan. " entah kenapa, Thifa merasa Zefan terlalu lebay. Membuat gadis manis ini sedikit eneg.
" Lo kok gitu Sih Thif? Gue ini sahabat lo. Lu dulu enggak gini ke gue. Tapi, semenjak masuk nya Arfen di kehidupan lo. Lo semakin ngejauh dari gue. Kenapa sih Thif?! Lo suka sama Arfen?!!"
Thifa terdiam, ini sudah kedua kalinya dalam satu hari. Ada yang bertanya tentang perasaan nya pada Arfen.
Jangan tanya gue. Gue juga bingung.
Batin nya.
"Thif?! Kenapa? Kenapa lo diam aja?! Lo beneran suka sama Arfen! Dia tuh cowok gak baik. Thif, dia playboy! Lo jadian sama dia, lo bakal sedih terus. Lo bakal nangis terus! " Frustasi Zefan, ingin cowok jangkung itu menarik tangan Thifa. Untuk menggenggam nya, dan menyadarkan nya dari kekeliruan menurut Zefan.
"Kalo dia suka nya ke gue. Lo mau apa? Dan lo bisa apa? " Sambar cowok itu, berdiri di depan Thifa, menghalangi Tangan Zefan.
"Ohh, udah mau sok jagoan lo?! Ha?! Denger yah Fen, sampai kapan pun. Gue gak bakal Ikhlasin Thifa buat lo. Dia itu sahabat gue, gua gak akan biarin siapapun nyakitin dia. Termasuk elo!! " Mata Zefan ia buka lebar - lebar, berjarak cowok yang ada di depan nya gemetar.
"Dan lo juga denger yah. Gue itu sayang ke Thifa. Thifa perempuan yang gue sayangi. Kalo lo emang sahabat yang baik buat Thifa. Tunjukin dong, tunjukin kalo lo sahabat yang baik. " sahut Arfen, kini ia terlihat lebih intens menatap Zefan.
Zefan diam, ia sedang memikirkan kata - kata untuk melawan Argumen nya Arfen.
"Kalo lo emang sahabat yang baik. Lo harus nya dukung hubungan Thifa dong, bukan nya ngehasut dia. "
"Gue dukung kok dia pacaran, sama siapapun! Tapi enggak sama elo! Elo itu playboy! Suka mainin perasaan cewek!! Elo gak baik buat Thifa! Thifa bisa menderita kalo jadian sama elo!! Bukti nya itu, belum apa - apa aja Elo udah godain adek kelas!! Mau gimana lagi alesan lo?! " Zefan menunjuk Aurel yang masih setia ada di sana.
"Gue cuman ngomong sama dia! Gue enggak ngapa - ngapain! Thif, lo percaya kan ke gue? " kini Arfen menoleh menatap Thifa. Tapi Thifa sendiri masih diam membeku.
Pikiran nya terbenam Akan ucapan Zefan, benar adanya bahwa Arfen dulu adalah Playboy. Tapi, Itu dulu. Arfen sekarang? Thifa tentu tau bagaimana jelas nya.
"Kalo kalian mau cekcok yah cekcok sana, tapi... Jangan bawa - bawa nama Gue yah. Nama gue bisa tercemar, gue balik ke kelas dulu " kilah Thifa, entah lah. Rasanya ia sama sekali tak bisa menjawab pertanyaan Arfen kali ini. Thifa melenggang begitu saja, kembali ke kelas nya.
Thifa... Lo? Masih enggak yakin ke gue?
Batin Arfen, menatap nanar punggung Gadis mungil itu, yang kian lama menghilang dari pandang. Ada rasa kecewa yang terpancar dari matanya. Tanpa sepatah kata pun, Arfen meninggal kan Zefan di tempat. Zefan sendiri tersenyum puas. Puas sekali rasanya melihat Arfen dan Thifa jauh, apalagi mendengar pengakuan Thifa, bahwa mereka tidak berpacaran.
---
Di kelas nya, hanya ada Thifa sendiri. Yang lain masih keluar, tentu karna jam istirahat masih berlangsung.
Gadis mungil itu duduk manis di tempat biasanya ia duduk. Ia menunduk lemas, menempelkan pipi kanan nya ke meja, mood nya kali ini benar - benar buruk.
Kenapa? Kenapa sama gue?! Kenapa?! Kenapa sekarang gue jadi orang yang gak jelas! Enggak punya pendirian dan prinsip!! Kenapa gue gak bisa jawab pertanyaan Raisa?! Zefan?!!bahkan Arfen!!Payah! Bodoh! Bodoh!
Umpat Thifa untuk dirinya sendiri, air matanya sudah jatuh ke meja.
***
Next?
Lanjutt?