Novel ini masih dalam tahap revisi ya, Kak? Jadi maaf kalau tulisan masih berantakan. 🙏 Udah Revisi bab 1-23 ya, Kak. Yuk Cek.....
Andini terpaksa menikah dengan Rico karena di desak oleh Dinda. Itu semua karena Dinda belum bisa memberikan keturuan pada Rico. Pernikahan Rico dan Dinda selama sepuluh tahun belum juga dikaruniai keturunan. Dengan terpaksa dan tanpa cinta Rico mau menerima permintaan Dinda untuk menikah dengan Andini.
Akankah Rico bisa menerima Andini dan mencintai Andini, setelah Andini memberikan buah hati untuknya? Atau sampai kapan pun Rico tidak bisa menerima kehadiran Andinni sebagai istri keduanya, sekaligus sebagai pengganti Dinda, setelah Dinda pergi menghadap Sang Khalik karena sakit yang tidak bisa disembuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hany Honey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Andini sudah sampai di Cafenya, dia langsung memasukkan mobilnya ke garasi sampai cafenya. Andini langsung bejalan dengan tergesa untuk masuk ke dalam cafe, karena dia masih banyak sekali pekerjaan yang tertunda kemarin.
“Ah, maaf, Pak.” Andini tidak sengaja menabrak seseorang di depan pintu masuk cafenya.
“Tidak apa-apa, Mbak. Saya juga gugup, dan tidak melihat Mbak dari arah sana,” jawab pria tersebut yang mungkin seusia Rico, suaminya.
“Oh, baiklah, silakan pak masuk lebih dulu?” Andini mempersilakan tamunya untuk masuk ke dalam. Setelahnya di menyusul masuk, dan mendahuluinya dengan menunduk sopan pada tamunya itu. “Mari, Pak,” ucapnya dengan menuduk sopan.
“Tunggu!” panggil pria tersebut, yang berhasil membuat langkah Andini terhenti.
“Iya, ada apa, Pak?” tanya Andini.
“Aku seperti pernah melihat perempuan seperti mbak, di mana, ya?” tanya pria tersebut.
“Ah, mungkin bapak salah lihat kali? Atau mungkin wajahku ini terlalu pasaran di luar sana?” ucap Andini.
“Sebentar, kamu Andini?” tanya pria tersebut. “Ya aku yakin kamu Andini. Gadis kecil yang sering bermain denganku. Kamu masih ingat aku?” Pria itu benar mengenali Andini, dan bilang kalau Andini teman semasa kecilnya.
“Teman masa kecil? Sering bermain bersama?” Andini bergumam lirih sambil memikirkannya. “Ah .... Kak Bayu? Benar Kak Bayu?” tanya Andini setelah mengingat-ingat siapa teman masa kecilnya.
“Kamu masih mengingat aku, Andin? Tuhan ... akhirnya engkau mempertemukan aku dengan gadis kecil ini lagi,” ucapnya bersyukur.
“Jadi benar Kak Bayu? Masya Allah ... lama sekali tidak bertemu kakak?” ucap Andini dengan menjabat tangan Bayu.
“Kamu ke mana saja sih, Ndin? Setelah kakak pindah, kakak itu mencari kamu, ibu juga meminta aku mencarimu,” ucap Bayu.
“Ceritanya panjang, Kak. Yuk masuk, Kak? Silakan duduk di sana saja biar ngobrolnya enak. Ini cafeku, Kak,” ucap Andini dengan mempersilakan Bayu duduk.
“Ini cafe milikmu? Aku padahal sering ke sini, tapi kok aku gak pernah lihat kamu?” tanya Bayu.
“Masa sih? Lagian ke sininya jam berapa, Kak? Aku juga kalau di sini ya Cuma di dalam saja, tidak pernah keluar. Lagian pengunjung kan banyak, ya aku gak bisa lihat satu-persatu kak,” ucap Andini.
“Iya juga ya? Kan pemilik Cafe? Ngapain di luar?” ucap Bayu.
“Kakak sendiri ke sini?” tanya Andini.
“Ya sendiri, mau sama siapa lagi, Ndin?” jawab Bayu.
“Ya kali saja dengan kekasihnya, atau dengan teman mungkin? Atau jangan-jangan Kak Bayu lagi janjian sama someone nih?” ucap Andini.
“Kalau kekasih, kakak belum punya, kan kakak maunya kamu dari dulu?” ucap Bayu to the poin pada Andini.
“Idih, kakak ada-ada saja ih!” tukas Andini.
“Aku bercanda, Ndin. Aku ke sini mau bertemu sahabatku, sekaligus temanku satu kantor, dan mau ketemu klien juga di sini,” jelas Bayu.
“Oh gitu?” ucap Andini.
Andini mendengar ponselnya berdering. Iva –menegernya– dari tadi menelfonnya, karena sebentar lagi akan ada meeting dengan beberapa barista di cafenya, dan beberapa staf lainnya.
“Kak, maaf banget nih? Aku ada meeting sama karyawan, ini managerku dah telefon aku dari tadi, makanya tadi aku gugup,” ucap Andini.
“Oh ya sudah, aku gak apa-apa sendirian, nanti sebentar lagi juga teman aku datang, dan klienku datang. Kamu urus pekerjaanmu dulu,” ucap Bayu.
“Oke, Kak. Nanti kalau sudah selesai dan kakak masih di sini, aku temui kakak lagi deh,” ucap Andini.
“Ehm ... kalau begitu, kakak boleh minta nomor kamu?” tanya Bayu.
“Boleh,” jawab Andini.
“Ini ponsel kakak, ketik di sini nomor kamu, nanti kakak save dan kakak chat kamu biar kamu save juga nomor kakak,” ucap Bayu dengan memberikan ponsel miliknya.
“Baiklah.” Andini mengambil ponsel milik Bayu dan mengetik nomornya, lalu sekalian ia save. “Sudah Andin save juga kak. Andin tunggu chat kakak. Andin pamit ya, Kak?” ucap Andini.
“Oke, nanti kakak hubungi kamu,” ucap Bayu.
Andini masuk ke dalam ruangannya, karena Iva dari tadi sudah menelfonnya, sebentar lagi juga meeting akan segera dimulai.
Selesai meeting dengan beberapa staf dan karyawan, Andini kembali ke ruangannya. Dia melihat ada pesan dari Bayu, katanya temannya belum juga datang, karena anaknya sedang rewel di rumah, dan istrinya sedang sibuk dengan pekerjaannya. Andini tidak membalasnya, tapi dia tidak lupa save nomor Bayu terlebih dahulu. Andini meletakkan kembali ponselnya, setelah itu, dia bergegas keluar dari ruangnnya untuk menemui Bayu.
Andini melihat seseorang yang sudah duduk di depan Bayu. Andini seperti tidak asing dengan pria yang duduk di depan Bayu. Entah itu sahabat Bayu atau Klien Bayu yang sedang Bayu tunggu. Andini menghentikan langkahnya, setelah tahu siapa pria yang duduk di depan Bayu.
“Kok Mas Rico? Ngapain ketemu Kak Bayu? Terus kelihatannya akrab sekali dia? Lebih baik aku masuk sajalah, daripada nanti malah jadi salah paham. Dan, Mas Rico jadi tahu kalau aku pemilik cafe ini? Untung saja aku juga belum balas pesan dari Kak Bayu?” ucap Andini lirih dengan mengendap, dan langsung masuk ke dalam ruangannya lagi.
Namun, sebelum Andini kembali ke ruangannya, Andini membuatkan dulu kopi yang Rico pesan tadi sesuai selera Rico.
^^^
Rico menemui Bayu di AR Cafe. Rico agak terlambat karena dari tadi Arsyad sedikit rewel dan tidak mau ia tinggal. Untung saja Bi Ana jago merayu Arsyad agar tidak rewel lagi dan mau ditinggal Rico untuk menemui Bayu dan kliennya.
“Istri kamu memangnya kerja di mana sih, Ric?” tanya Bayu.
“Di Cafe katanya. Tapi gak tahu cafe mana, dia gak mau cerita sepertinya. Utung saja anakku mau sama bibi di rumah, kalau enggak, aku batalin pertemuan ini, Bay,” jawab Bayu.
“Kamu itu aneh, istri sendiri tapi gak tahu di mana bekerja. Jangan mentang-mentang gak cinta, Ric! Kamu jadi seenaknya saja sama dia!” ucap Bayu.
“Ya mau bagaimana lagi, Bay. Sudah ah, jangan bahas dia. Tuh klien kita sudah datang,” ucapnya.
“Iya deh iya, sorry,” ucap Bayu.
Mereka langsung menyambut klien mereka yang baru datang. Tak lama kemudian, pesanan minuman mereka datang. Bayu memberikan kopi pesanan Rico, dan kopi yang ia pesankan untuk kliennya.
Rico mengendus kopi pesanannya. Baunya semerbak harum, seperti Kopi yang Andini buatkan untuknya.
“Kok kayak buatan Andini?” ucap Rico lirih, tapi masih terdengar oleh Bayu.
“Kenapa, Ric?” tanya Bayu. “Ada yang aneh dengan kopinya?” imbunya.
“Enggak, gak apa-apa, enak kok kopinya.” Jawab Rico dengan gugup.
Setelah selesai membahas proyek kerja baru dengan kliennya dan Bayu, akhirnya klien Rico pulang, tinggalah Rico dan Bayu saja di cafe. Bayu langsung ingin menceritakan pada Rico soal gadis kecil yang ia cari selama ini, yang sangat Bayu cintai dari dulu.
“Ric, kamu tahu? Aku bahagia banget hari ini?” ucap Bayu dengan senyum kebahagiaan di depan Rico.
“Bahagia kenapa kamu? Dapat kenalan cewek di sini?” tanya Rico penasaran.
“Bukan dapat kenalan cewek, Ric. Aku benar-benar bahagia sekali hari ini. Aku bertemu lagi dengannya, aku bisa melihat wajah cantiknya lagi, melihat senyum manisnya, bibirnya yang manis, dan matanya yang indah. Aku hari ini melihatnya, Ric. Gadis kecilku sudah kembali. Aku bertemu dia lagi di sini, dan yang membuat aku kaget, ternyata dia sudah sukses, cafe ini juga miliknya,” ucap Bayu dengan bahagia.
“Pemilik Cafe ini? Wah hebat dong? Pemilik café ini ternnyata perempuan?” tanya Rico.
“Iya, dia sahabat kecilku. Pemili café ini adalah dia. Tadi aku sudah chat dia suruh ke sini kalau udah gak sibuk, tapi kok belum muncul. Mungkin masih sibuk kali, ya?” ucap Bayu.
“Sudah, sekarang kan udah ketemu. Ini kesempatan kamu Bay, untuk mendekati dia lagi, terus ajak nikah deh sana. Jangan pakai lama! Entar keburu di ambil orang!” ucap Rico.
“Iya dong pastinya. Tapi, butuh waktu juga kan, Ric? Aku juga harus tahu dia sudah menikah atau belum. Kalau dia udah nikah ya sudah, berarti bukan jodohku, kan?” ucap bayu.
“Ya dong, harus di pastikan, masih sendiri atau sudah bersuami,” ucap Rico
Bayu mendapat balasan dari Andin. Andini bilang kalau dirinya masih sangat sibuk, jadi dia tidak bisa keluar meninggalkan pekerjaannya.
“Mana nih teman kecil kamu? Jangan lama-lama, aku juga harus segera pulang nih? Anakku sendirian sama Bi Ana saja. Istriku kerja, tapi gak tau kerja di mana,” ucap Rico.
“Kamu itu, istri sendiri gak tahu kerja di mana? Ric, meski gak cinta, gak segitunya kali kamu sampai gak tahu emaknya anakmu kerja di mana?” ujar Bayu.
“Aku jarang ngobrol dengan dia. Kamu tahu, Bay? Sejak Dinda pergi, aku tidak ingin lihat wajah istriku, soalnya aku pasti ingat dengan Dinda, aku gak bisa Bay, sakit sekali hatiku kalau lihat dia. Gak tahu kok bisa gitu?” ucap Rico.
“Jangan gitu, Ric. Dia kan istri kamu juga? Pilihan Dinda lagi? Coba menerima kenyataan apa salahnya sih, Ric? Dia juga ibu dari anakmu?” tutur Bayu.
“Iya, aku akan berusaha nanti,” jawab Rico. “Mana nih teman kamu?” tanya Rico
“Ric, Sorry nih. Temanku kok sibuk banget, dia masih belum selesai meeting sama karyawannya,” ucap Bayu.
“Aku pulang ya, Bay? Anakku kasihan sendirian. Kali saja kamu mau menunggu dia, kamu di sini saja. Sekalian pendekatan dong? Pepet jangan kasih kendor, nanti di serobot orang lagi?” ucap Rico dengan tertawa.
“Sip! Sudah sana pulang, salam buat keponakanku. Kapan-kapan deh aku ajak temanku ke rumah kamu, untuk jenguk keponakanku,” ucap Bayu.
“Oke, aku tunggu kedatangan kalian, pokoknya harus bawa kabar bahagia kalau datang, ya?” ucap Rico.
“Oke-oke, tunggu saja,” jawab Bayu.
“Ya sudah, aku pulang dulu, Bay,” pamit Rico.
Rico keluar dari café. Dia dari tadi sebenarnya kepikiran soal Andini, karena kopi yang ia pesan, rasanya seperti buatan Andini. Rico semakin penasaran di mana Andini bekerja. Katanya di café. Tapi, di café mana Rico tidak tahu.
“Masa Andini kerja di café temannya Bayu?” gumam Rico dengan mengemudikan mobil nya