Dijodohkan dari sebelum lahir, dan bertemu tunangan ketika masih di bangku SMA. Aishwa Ulfiana putri, harus menikah dengan Halim Arya Pratama yang memiliki usia 10tahun lebih tua darinya.
Ais seorang gadis yang bersifat urakan, sering bertengkar dan bahkan begitu senang ikut tawuran bersama para lelaki sahabatnya.
Sedangkan Halim sendiri, seorang pria dingin yang selalu berpembawaan tenang. Ia mau tak mau menuruti permintaan Sang Papi.
Bagaimana jika mereka bersatu? Akankah kehangatan Ais dapat mencairkan sang pria salju?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dari Iqra Lima, turun ke Iqra Tiga.
"Anak-anak, besok praktek agama islam. Tolong persiapkan diri kalian sebelum penilaian. Terutama kamu, Aishwa." lirik sang guru padanya.
"Kok, Ais?"
"Ya,. Nilai agama kamu parah. Makanya harus rajin belajar. Terutama ngaji dan shalat. Minta ajari Nisa, tuh."
"Iya, Bu." jawab Ais, pasrah.
Sang guru segera pergi, dan Ais duduj merenung di bangkunya.
"Yok, ke kantin." ajak Nisa, dengan menggandeng tangannya.
Tapi, Ais tetap diam bergeming.
"Lah, kenapa?" tanya Nisa.
"Ujian praktek agama, apa aja?"
"Ya, ngaji, shalat, baca alquran. Kenapa?"
"Loe bisa? Ajarin gue."
"Hah? Loe ngga bisa?"
"Bisa, dulu. Tapi lupa." jawab Ais.
"Banyak berantemnya, daripada ibadahnya."
"Huuussst... Stop. Pokoknya ajarin gue. Nanti sore, gue kerumah Loe. Oke?"
"Loe ngga bisa asal pergi sekarang.. Harus izin dulu sama suami. Atau, gue aja kesana?" tanya Nisa, dengan mata berkedip-kedip.
"Mau apa Loe?"
"Kali aja, ketemu Kak Dimas yang ganteng. Boleh, ya?" pinta Nisa.
"Oke, Loe kerumah nanti sore. Hari ini ngga ada les kan?" tanya Ais, dan Nisa hanya menggelengkan kepalanya.
Kesepakatan telah di setujui. Nisa akan kerumah Ais usai shalat ashar. Dan Ais, hanya tinggal mencari alasan agar diperbolehkan membawa sahabatnya ke rumah itu.
" Ngga akan dimarahin. Kan mau belajar. Pasti boleh sama Papi." gumamnya.
Bel pulang berbunyi. Ais pun mempersiapkan dirinya untuk pulang, dengan kembali memakai trening panjangnya.
"Mau pulang, Ais?"
"Ya, kenapa?" tanya Ais pada salah seorang temannya.
"Ad tawuran noh, bentar lagi. Ngga ikutan?"
Ais melirik. Jiwa petarungnya meronta ronta, tapi Ia tak mungkin bisa melakukannya.
"Lain kali aja, ya? Ada tugas, gue. Mana mau ujian praktek lagi." tolak nya dengan halus.
"Oh, oke lah. Hati-hati di jalan."
Ais hanya mengacungkan jempolnya, lalu mengendarai motornya untuk pulang.
Ais mengebut, hingga segera sampai di rumah. Ia lalu meminta izin Papi mertuanya untuk membawa sahabatnya kerumah dan membimbingnya belajar.
"Tanya sama Lim, kok sama Papi."
"Kan, Papi yang punya rumah."
"Tapi kamu itu tanggung jawab, Lim. Jadi kalau ada apa-apa, tanya sama Lim. Kalau Papi sih, boleh aja. Kan belajar."
Ais menghela nafas panjang. Dirinya serasa di oper bagaikan bola kesana kemari. Dan akhirnya, Ia harus menelpon Lim untuk meminta izin.
"Lelaki, atau perempuan?"
"Nisa, Kak. Yang kemarin temenin Ais di pernikahan. Inget?"
"Ya, mau belajar apa?"
"Mau belajar agama. Shalat, ngaji."
"Kenapa baru belajar sekarang? Kemarin, kemana aja? Ais muslim kan?" tanya Lim, yang sesekali bicara cukup panjang pada sang istri.
"Muslim, Kakak. Biar begini, Ais juga pernah belajar ngaji. Buktinya, riwayat ngaji Ais ada. Dari Iqra Lima, turun ke Iqra Tiga." ucapnya dengan bangga.
Lim menghendus nafas kesal. Memijat kepalanya yang terasa berat.
"Nisa 'kan? Yasudah, suruh dia ke rumah. Pesan kan taxi, nanti Aku yang bayar." ucap Lim.
Ais pun tersenyum gembira, ketika permintaannya dituruti.
"Terimakasih, Suami..." ucapnya dengan manis. Dan hanya di balas Lim dengan berdehem.
Ia kemudian mematikan hp, lalu kembali pada pekerjaannya..
"Istriku? Astaga...." gumam Lim. Memikirkan, fakta apa lagi yang akan Ia dapat dari istri kecilnya itu.
Perjanjian telah di lakukan. Nisa telah siap menunggu jemputan taxinya. Ia semangat, karena membayangkan bertemu dengan Dimas yang tampan dan rupawan. Curi-curi pandang, dan sesekali curi perhatian.
"Cinta pertama, dari pandangan pertama, sentuhan pertama yang mendebarkan." lirih Nisa. Teringat ketika Dimas menutup matanya kala itu.
biar je...