Pengorbanan seorang istri demi kebahagiaan sang suami, mengharuskan Hanum berbagi bukan cuma raga tapi juga hati. "Saya terima nikah dan kawinnya Amalia binti Ahmad dengan seperangkat alat sholat di bayar tunai."
"Sah.... sah"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🕊R⃟🥀Suzy.ೃ࿐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana
"Ka … kamu. Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Amel resah
"Hanya menunggu kekasih yang sudah lama tak bertemu," ucap Rio santai.
"Bagaimana bisa, maksudku bukan nya kamu masih kuliah di luar negeri?"
"Seharusnya masih tapi bagaimana ya? aku terlalu pandai untuk mengulur waktu hanya untuk berjumpa denganmu."
"Ri … rio kita bisa bicara di tempat lain?" ajak Amel.
"Sure, kenapa tidak! banyak yang ingin ku ceritakan kepadamu, tentang diriku yang sekarang." ucap Rio sambil tersenyum.
Amel berjalan sedikit mengambil jarak dari Rio, ia tak ingin orang lain melihat kalau dia dan Rio sudah lama saling kenal, satu sama lain nya.
"Naik mobilku saja?" tawar Rio.
Amel pun mengangguk mengiyakan tawaran dari Rio. Dan mulai berjalan mengitari mobil untuk duduk di jok belakang.
"Aku bukan sopir mu nona, kamu bisa pindah duduk di depan!"
Sekilas Amel memberengut, sedikit tak nyaman bila harus duduk di depan bersama dengan Rio yang ada di balik kemudi.
"Oh, ayolah aku tidak akan memakanmu nona!" ejek Rio.
Akhirnya dengan sangat terpaksa Amel pindah dan duduk di samping Rio, "Sudah Tuan kita bisa langsung berangkat." ucap Amel.
Rio hanya terkekeh melihat tingkah Amel, untuk sejenak ia teringat dengan kenangan mereka dulu, tapi sebelum kenangan itu menghancurkan rencananya Rio bergegas menggelengkan kepalanya.
"Kita mau kemana?" tanya Amel. Saat melihat mobil yang ditumpangi nya menjauh meninggalkan area perkantoran.
"Hanya makan siang, kamu belum makan kan?" jawab Rio sambil menatap Amel sekilas.
"Aku masih kenyang lain kali saja?" ucap Amel, yang menolak ajakan Rio.
"Kenapa kamu takut sama bos mu?" pancing Rio.
"Bu … bukan begitu, tapi aku memang masih kenyang."
"Ya sudah kalau begitu kamu saja yang temani aku makan, sekalian kita mengenang cinta kita dulu."
Amel yang merasa tak enak hati akhirnya menyanggupi permintaan Rio, tapi disaat ia kembali menatap jalanan. Amel merasa melihat seseorang yang ia kenal duduk berdua dengan laki-laki yang ia tak kenal siapa?"
"Kamu lihat apa?" tanya Rio heran saat melihat Amel sampai memutar kepalanya saat melihat keluar jendela mobil.
"Ah, nggak ku pikir aku kenal sama orang yang duduk di depan taman itu," tunjuk Amel. "Tapi ya sudahlah mungkin hanya mirip."
"Oh"
Sesampainya mereka di lobi sebuah hotel, Amel terheran "Kenapa kita ke hotel?"
"Kita cuma makan sayang, restoran yang ada disini menu makanannya enak banget. Dulu aku pernah berjanji dalam hatiku, kalau aku sukses aku akan membawamu untuk makan disini." ucap Rio sendu.
Dan kepura-puraan Rio sukses membuat Amel percaya, kalau yang tadi dia ucapkan itu benar adanya.
Amel dengan menghela nafas, akhirnya setuju untuk makan bersama dengan Rio. "Huft, ya sudah yuk makan."
Amel berjalan masuk meninggalkan Rio yang tersenyum licik, "Akhirnya pembalasan untuk mu akan segera dimulai sayang." ucap Rio dalam hati.
Rio memesan satu meja khusus VVIP untuk makan dan juga untuk memuluskan rencananya.
Untuk pertama kalinya, Amel menatap takjub akan kemewahan yang dia lihat saat pertama kali menginjakkan kakinya di dalam ruang yang di pesan oleh Rio.
"Suka?" bisik Rio.
Dan tanpa sadar, Amel menganggukan kepala nya dengan senyum yang tercetak jelas di kedua sudut bibirnya.
"Ayo duduk kita makan dulu, setelah itu baru aku antar pulang! anggap saja ini hadiah pertemuan kita kembali setelah sekian lama."
"Baiklah tapi setelah itu kamu janji antar aku pulang ya?"
"Oke."
***
Di lain tempat Sakha masih termenung memikirkan kata-kata Hanum barusan. "Saya pamit dulu ya bang dan terima kasih untuk yang kemarin."
Sakha bergumam sendiri, "Terima kasih untuk yang kemarin, apa yang dimaksud hanum." Tak lama setelah ia berpikir keras akhirnya ia sadar, "ah, sapu tangan itu." Sakha tersenyum saat mengingat itu.
Saat Sakha masih asik melamun dan tersenyum sendiri, sekretarisnya datang memberi tahu kalau masih ada meeting yang akan dilaksanakan pukul dua siang.
Sakha melirik pergelangan tangannya, "Oke ayo berangkat!" ajak Sakha.
***
"Assalamualaikum, Bu."
"Waalaikumsalam, ya Allah akhirnya kamu datang juga Num." sambut bu Surti dari dalam rumah.
"Mana Ilham Num? inikan akhir pekan katanya janji mau menginap disini?"
"Hanum tadi dari panti Bu, jadi mas Ilham nya nggak ikut, kan mas ilham kerja."
"Oh iya, Ibu lupa Num tapi nanti kamu telpon ilham ya biar dia kesini."
"Iya Bu, nanti Hanum telpon mas ilham."
"Yaudah, sekarang kamu makan dulu sana nanti keburu dingin makanan kesukaan kamu.
Hanum berjalan ke arah meja makan, tapi sebelum Hanum bersiap makan terdengar suara gawai nya berbunyi.
Kring … kriing … kriing
Hanum melihat gawai nya dan melihat nama ilham terpampang di layar gawai nya.
"Hallo Assalamu'alaikum, Mas."
"Waalaikumsalam, kamu di mana sayang sudah pulang belum?" tanya Ilham diseberang sana.
"Alhamdulillah sudah Mas, tapi Hanum pulang kerumah Ibu."
"Lho kenapa tumben, ibu sehat kan sayang?"
"Alhamdulillah sehat Mas, ardi tadi bilang kalau ibu masak kesukaan Hanum sama Mas Ilham jadi Hanum mampir untuk makan."
"Oh begitu Mas pikir kenapa?"
"Mas?"
"Ya sayang ada apa?" tanya Ilham.
"Mas gak lupa kan, kalau Mas udah janji sama ibu mau menginap disini?"
Ilham menepuk kepalanya, ia lupa kalau dia sudah berjanji sama ibu mertuanya kalau dia akan menginap di rumahnya akhir pekan.
"Iya sayang, Mas gak lupa tapi pekerjaan Mas belum selesai, nanti kalau sudah selesai Mas kesana ya?"
"Ya sudah kalau begitu, Mas jangan lupa makan ya? telpon nya Hanum tutup dulu, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Klik
Ilham memijat kepala nya pelan, "Kenapa aku bisa lupa begini, mana udah janji sama Amel untuk pulang malam ini." Ilham merasakan sakit kepala yang tiba-tiba menyerang dan bingung harus melakukan apa.
Disaat Ilham dilanda kebingungan, muncul satu pesan di layar gawai nya.
"Mas, aku ada urusan sama temanku dan kayaknya malam ini aku akan pulang terlambat, kamu gak papa?"
"Kamu ada urusan apa?"
"Teman ku lagi mendapat musibah, jadi aku ingin menemani nya malam ini, kemungkinan juga tidak pulang."
"Oh, ya sudah kamu hati-hati ya! jangan lupa kabari Mas kalau kamu butuh bantuan."
"Iya, Mas terima kasih."
Ilham menarik nafasnya lega, karena tak perlu membuat alasan untuk tidak datang ke rumah ibu mertuanya.
Ditempat lain, seseorang tersenyum licik setelah berbalas pesan dengan laki-laki yang telah menjadi suami dari wanita yang kini sedang terlelap disampingnya.
"Ini baru permulaan sayang," ucapnya sembari menyentuh tulang pipi wanita yang ada di sampingnya, "Bahkan pembalasan ku belum sampai seujung kuku, untuk membuatmu kembali padaku."
Flashback
Setelah acara makan malam berdua antara Amel dan Rio. Amel merasa badan nya sedikit ringan, padahal ia hanya minum sedikit.
"Rio," panggil Amel lemah.
"Hmm."
"Apa aku mabuk?" tanyanya saat Amel merasa sedikit pusing.
Rio mengangkat kedua bahunya, "Entah, mungkin kamu mabuk Lia, kamu minum terlalu banyak."
"Aku harus pulang." ucapnya sambil berdiri, mencoba menyeimbangkan kaki dan badan nya yang mulai tak bisa dikendalikan.
"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Rio berdiri dan segera menangkap tubuh Amel yang mulai limbung.
"Kau masih sama seperti dulu, tetap tampan dan baik hati." rancau Amel.
"Aku selalu seperti itu, tapi kamu salah tentang satu hal. Aku bukan lagi orang yang baik hati, tapi aku jadi orang yang sangat licik saat ini." ucap Rio dengan menunjukan seringaian di wajahnya.
Tapi Amel yang dalam keadaan mulai tak sadarkan diri, cuma mengangguk tanpa tahu apa yang dimaksud Rio.
Dan disini lah mereka, di dalam kamar hotel yang menjadi tempat Rio melancarkan niatnya untuk membuat kekasih, yang dulu sangat dicintainya menderita sedikit demi sedikit.
***
itu anak siapa?