Kirana Ardhita, 17 tahun gadis cantik yang sangat mandiri yang memiliki sifat yang sedikit arogan, Bahkan tak jarang ia sering berantam dengan laki-laki yang awalnya menyukai dirinya, Kirana masih duduk di kelas 3 SMA dia juga terkenal pintar, makanya banyak yang menyukainya. Namun sedikit nakal membuat sang ibu berkali-kali di panggil oleh pihak sekolah, ia juga dikenal si gadis tomboi bahkan para teman-teman lebih sering memanggilnya si Tomboi atau Boi itu karena memang polah lakunya yang seperti laki-laki.
Kana itulah panggilan untuk dirinya sendiri bila bersama keluarganya. Kana adalah seorang anak yatim dan Ia hidup hanya tinggal berdua saja bersama ibunya, sang Ayah, telah tiada semenjak ia duduk di bangku SMP, sedangkan sang Ibu hanya seorang buruh cuci, maka dari itu untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, Kana bekerja setiap ia pulang sekolah.
Suatu hari sang Ibu mengalami kecelakaan akibat ia menolong seorang wanita, yang ternyata wanita itu adalah teman karibnya sewaktu mereka muda, tapi pertemuan itu tak berlangsung lama karena sang ibu keburu sekarat dan sang ibu meminta Kana untuk menikah dengan anak temannya itu, yang ternyata dia adalah gurunya sendiri yang amat ia benci.
Akankah Kana menemui cinta pada sang gurunya itu?.
Jangan lupa selalu tinggalkan jejaknya ya, LIKE, VOTE, HADIAH, DAN FAVORITkan oke😉🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADA APA DENGAN JANTUNG?.
Setelah Adnan menyelesaikan masakannya. Ia pun mengajak Kirana untuk makan bersama. Pada awalnya Kirana gengsi menerima tawaran dari Adnan. Tetapi setelah Adnan memaksa akhirnya ia ikut makan. Betapa terkejutnya dia saat memakan makanan yang di masak oleh Adnan.
"Eh! Enak banget masakannya Pak Guru ternyata, humm.. berasa makan di restoran mahal ini mah" batin Kirana, yang terlihat sekarang ia begitu bersemangat memakan makanannya.
Adnan tersenyum melihat Kirana yang begitu lahap. Sehingga ia tak menyadari kalau ada nasi yang menempel di pinggir bibirnya.
"Apakah begitu enak makanannya hm?" tanya Adnan di sela-sela makan mereka. Kirana tersentak karena menyadari kalau dirinya makan begitu lahap setelah mendengar pertanyaan Adnan.
"Umm.. biasa aja pun," katanya dengan suara mulut yang penuh. Terlihat sekali ia tak mau mengakui di depan Adnan kalau masakannya suaminya memanglah enak.
"Humm... Iyakah? Tapi kenapa makannya begitu lahap yang sampai-sampai nggak sadar kalau di pinggir bibir banyak nasi nempel tuh" sindir Adnan, dan spontan Kirana langsung tersedak, mendengar perkataan Adnan.
Melihat Kirana yang terbatuk-batuk Adnan langsung memberikan air putih sambil menepuk-nepuk pelan pada punggung Kirana.
"Hati-hatilah, makan yang santai, tidak akan ada yang minta makananmu, Kana" katanya sambil membersihkan mulut Kirana dengan tisu. Membuat jantung Kirana kembali berdetak kencang.
"Apaan sih! Inikan gara-gara Pak Guru tau! Huk..huk..huk.." balas Kirana yang terlihat masih terbatuk-batuk.
"Ya sudah saya minta maaf. Sekarang minumlah air putihnya lagi" ujar Adnan dengan suara yang lembut. Sembari ia memberikan segelas air putih lagi pada Kirana. Dan langsung di ambil oleh Kirana dan langsung diminumnya. Namun matanya sesekali melirik Adnan.
"Aduh ada apasih dengan jantungku? Kenapa detaknya semakin kencang sih? Apa gue terkenak penyakit jantung ya?" batin Kirana yang terlihat enggan melirik Adnan lagi.
"Ya sudah kamu makanlah dengan tenang, saya masih banyak pekerjaan. Kalau ada yang mau ditanyakan saya ada diruang kerja disana" kata Adnan sambil menunjuk sebuah pintu yang tertutup di samping kamarnya.
"Oh iya, setelah kamu menyelesaikannya makanya jangan lupa di cucu piringnya ya, kamu bisakan? Atau jangan-jangan kamu tak bisa mencuci piring juga lagi?" lanjutnya sambil memandang Kirana sambil mengerutkan keningnya.
"Eh, saya bisa kok Pak! Kalau hanya cuci piring mah gampil" jawab Kirana secara spontan. Karena mendengar perkataan Adnan seolah ia diremehkan oleh Pria tersebut.
"Bagus! Ya sudah lakukanlah," kata Adnan sembari ia beranjak dari ruang makan tersebut dan melangkah menuju pintu yang ia sebut sebagai ruang kerjanya.
"Huh! Kenapa aku jadi panik gini sih? Dan ini lagi jantung, dari tadi kok nggak bisa tenang banget sih! Bikin gue jadi resah aja dah!" gerutu Kirana, setelah Adnan tak terlihat lagi.
"bodo ah! Lebih baik gue habisin dulu makanan gue, sayang dibuang soalnya enak banget sih" gumamnya lagi yang kemudian ia kembali melahap makanannya yang masih tersisa di piringnya.
Setelah ia menyelesaikan makannya Kirana pun mulai membersihkan meja, serta membawa piring-piring kotor bekas mereka makan, ke wastafel. Lalu ia pun mulai mencuci piring-piring tersebut. Namun dasar malang ia memberikan terlalu banyak sanbun sehingga tangannya begitu licin. Alhasil piring pun tergelincir dari tangannya.
Sehingga piring pun terjatuh dan pecah.
"Mampus gue! Semoga Pak Guru tidak mendengarnya," gumam Kirana, yang kemudian ia langsung ingin membersihkan pecahan piring tersebut agar Adnan tak mengetahuinya. Namun baru saja ia mengutip pecahan tersebut. Tiba-tiba suara Adnan mengagetkannya.
"Ada apa ini hah?" tanya Adnan, membuat Kirana tidak fokus. Alhasil tangannya malah kenak pecahan piring tersebut.
"Aakh!" pekik Kirana, membuat Adnan kaget dan cemas
"Aiiss.. nih bocah selalu bikin masalah aja ya!" umpat Adnan, sembari ia menarik tangan Kirana dan membawanya duduk disofa yang berada di ruang tamunya. "Duduk disini!" titahnya yang kemudian ia menghampiri sebuah lemari, untuk mengambil kotak P3nya.
"Saya tidak apa-apa kok Pak, ini hanya luka kecil saja" kata Kirana yang terlihat salah tingkah.
"Diamlah! Luka kecil apa hah? Sudah begini banyak mengeluarkan darah juga, masih bilang nggak papa?" tegur Adnan, sambil ia berjongkok didepan Kirana duduk. Lalu ia pun langsung membersihkan luka pada tangan Kirana. Setelah itu ia pun memberikan obat pada lukanya Kirana. Membuat Kirana berdesis menahan pedih.
"Ssssth.. perih Pak! Sssh..." keluh Kirana dengan wajah yang terlihat sedang menahan sakit. Namun tatapan matanya mengarah ke wajah Adnan yang terlihat sedang serius, memberikan obat pada tangan Adnan.
"Perih yaa? Tahan sebentar ya huuft.. huuft.." kata Adnan terdengar lembut, sembari ia meniup-niup luka tangan Kirana. Untuk menghilangkan rasa perihnya.
Kirana yang mendapatkan perlakuan itu, semakin salah tingkah. Ditambah lagi debaran pada jantungnya semakin tak terkontrol. Membuat ia merasa sangat sulit bernafas. Matanya juga sulit sekali untuk beralih dari wajahnya Adnan. Hingga akhirnya suara Adnan menyadarinya dan dengan cepat matanya langsung beralih pandang.
"Sudah selesai. Sekarang sebaiknya kamu istirahat sana, biar saya yang meneruskan cuci piringnya." ujar Adnan yang kemudian ia bangkit dari jongkoknya, lalu ia kembali membawa kotak P3 tersebut ke lemari hias yang berada di ruang tamu.
"Baik Pak" kata Kirana singkat dan ia pun langsung pergi ke kamarnya dengan cepat, tanpa ingin menoleh lagi kearah Adnan. Bahkan ia menutup pintunya kamar agak sedikit keras, membuat Adnan sedikit kaget.
"Huh! Dasar gadis ceroboh! Kerjanya nggak ada yang bernar!" gerutu Adnan sembari ia melangkah menuju ke dapur lagi untuk meneruskan pekerjaannya Kirana.
**********
Sementara Kirana yang sudah berada didalam kamarnya. Ternyata ia masih berdiri dibalik pintu kamarnya, sambil memegang dadanya. Ia juga merasa tubuhnya melemas sehingga tubuh merosot dan terduduk dengan bersandar di pintu kamarnya.
"*Aiis.. sebenarnya ada apa dengan diri gue? Mengapa gue jadi seperti ini? Oh, jantung, gue mohon tenanglah" batin Kirana, sambil ia menepuk-nepuk dadanya. Berharap agar jantungnya sedikit tenang.
"Gue harus cari tahu apa penyebab jatungku berdebar seperti ini. Masa iya sih gue terkenak sakit jantung?" gumam Kirana yang kemudian ia bangkit dari duduknya*. Kau ia mengambil benda pipihnya.
Setelah benda headphone sudah berada di tangan. Ia pun mengklik aplikasi Mbah Google dan mengetik apa penyebab jantung berdebar. Namun jawabannya begitu banyak, dan salah satunya kurang istirahat.
"Tuhkan, sebenernya gue cuma kurang istirahat aja, makanya jantung gue bermasalah," gumam Kirana terlihat sedikit lega, setelah melihat jawaban pada via internetnya.
"Ya sudah sebaiknya gue istirahat saja biar jantung gue kembali normal," gumam Kirana lagi yang kemudian ia membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Namun seketika ia teringat wajah Adnan saat sedang mengobatinya. Dan kembali lagi jantung berdebar kencang.
"Astaghfirullah..! Ada apa dengan jantung gue sih? Teringat wajah Pak Guru aja langsung berdebar!"
____________
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..🙏🥰
Jangan pelit juga dong untuk Bonusin dengan VOTE dan HADIAH bila menyukai karya Author😉.
Dan LIKE Bila ingin memberikan semangat.
"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊.
Oh iya guys, sambil menunggu author update kembali. Yuk kepoin novel teman Author paling kece, yang Ceritanya keren abis loh. cus akh kunjungi, dan jangan lupa berikan dukungannya juga oke 😉
Dan sutu lagi novel milik teman Author lainnya yang nggak kalah keren juga Cus akh kepoin Ya guys, dan jangan lupa berikan dukungannya juga ya..🙏😉
Jangan lupa ya 🙏😉 Syukron 🙏🥰.