Kata kunci masuk GC : Siapakah nama paman Almira?
Pernikahan yang dibina Almira selama setahun kandas di tengah jalan. Tomy. suami yang dicintainya menghamili sekertarisnya. Almira yang kecewa dengan suaminya langsung kabur dari rumah untuk menghindari suaminya dan mertuanya.
Tanpa sengaja Almira bertemu kembali dengan Tomy di kantor tempat Almira bekerja, karena atasan Almira adalah teman Tomy. Semenjak itu Tomy kembali mendekati Almira. Almira tidak ingin kembali ke mantan suaminya dan hanya ada satu cara agar Tomy berhenti mengejar Almirah lagi, yaitu menikah dengan atasannya yang bernama Faisal Yudhatama.
Faisal Yudhatama adalah pemilik perusahaan tempat Almira bekerja Faisal adalah seorang duda yang memiliki tiga anak, istrinya meninggal karena sakit kanker yang di deritanya.
Demi menolong Almira dari gangguan Tomy, Faisal meminang Almira. Akankah Almira menerima pinangan Faisal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Tempat Aman
Faisal kaget ternyata Tomy menutup pergaulannya dari Almira. Bahkan Tomy sering pergi ke café itupun Almira tidak tau. Tidak aneh jika Tomy menyeleweng, karena Almira mantan istrinya tidak tau apa-apa
“Iya. Dia sering ke café itu,” jawab Faisal.
“Dia ke café dengan siapa Mas?” tanya Almira penasaran.
“Dulu sewaktu kalian sebelum menikah Tomy sering datang dengan teman wanitanya. Setelah kalian menikah pernah sih Mas melihat Tomy dengan beberapa wanita katanya sih klien. Pernah juga dengan Tita beberapa kali,” jawab Faisal.
Mendengar jawaban Faisal, Almira diam. Tiba-tiba Almira menangis air matanya mengalir. Almira menghapus air matanya.
“Permisi. Mbak, Mas ini pesanannya.” Tiba-tiba penjual bakso mengantarkan pesanan es teller mereka.
“Terima kasih,” ucap Almira sambil mengambil pesanan itu.
Almira langsung menyeruput es tellernya.
“Saya saja bekas istrinya tau café itu karena diajak Mas Faisal,” kata Almira dengan sedih.
Melihat Almira habis menangis Faisal mengambil tissue yang berada di sebelahnya lalu diberikan kepada Almira.
“Maafkan saya, Mir. Kalau tau begini jadinya saya tidak akan membawamu ke café itu,” ucap Faisal dengan menyesal.
“Saya tidak ada niat apa-apa mengajakmu ke sana. Saya membawamu ke sana karena makanannya enak dan tempatnya bagus,” kata Faisal.
“Kita batalkan saja niatan kita untuk mengadakan pesta pernikahan Dini dan Rafi di sana. Masih banyak café-café yang lain kok yang bisa dijadikan tempat pesta pernikahan,” kata Faisal lagi.
Almira menoleh ke arah Faisal.
“Masih banyak café yang seperti itu Mas?” tanya Almira dengan senang.
“Iya dan tempatnya malah lebih luas. Bahkan ada hotelnya. Dini dan Rafi bisa langsung bulan madu di sana,” jawab Faisal.
“Sekarang kita ke sana, Mas,” kata Almira dengan tidak sabar.
“Jangan sekarang, Mir. Menang perutmu nggak kenyang?” ujar Faisal.
“Loh, kita kan hanya mau lihat cafenya bukan makan,” seru Almira.
Faisal menghela nafas.
“Almira, kita cicipi dulu makanan café. Baru kita memutuskan mau mengadakan pesta di situ atau tidak,” kata Faisal dengan sabar.
“Oh…begitu, ya Mas. Oke deh, besok kita makan siang di sana,” kata Almira.
“Nah, gitu dong. Ayo habiskan dulu es tellernya.nanti keburu nggak enak karena esnya sudah mencair,” kata Faisal.
Setelah mereka menghabiskan es teller mereka kembali ke kantor. Karena masih banyak pekerjaan kantor yang harus mereka selesaikan.
💐💐💐💐
Keesokan harinya sesuai dengan janji Faisal mengajak Almira ke sebuah café lain untuk makan siang. Mereka berangkat setelah sholat dzuhur. Café yang akan mereka kunjungi kali ini cukup jauh, yaitu berada di luar kota Jakarta tepatnya di kota kecil di sebelah Jakarta Selatan.
Almira memperhatikan jalan yang mereka lalui. Jalannya sama persis dengan jalan sewaktu ia kabur dari rumah Tomy.
“Mas, apa tempatnya tidak kejauhan untuk dijadikan tempat resepsi pernikahan?” tanya Almira.
“Nggak. Kan ada jalan tol,” jawab Faisal.
“Tapi mereka yang tidak punya mobil bagaimana?” tanya Almira.
“Bisa lewat jalan lain malahan lebih cepat,” jawab Faisal sambil fokus menyetir mobilnya karena mobil yang ia kemudikan sedang melaju cukup kencang.
Beruntung tol lingkar luar siang itu tidak macet, jadi mereka bisa cepat sampai ke tempat tujuan.Tak lama kemudian Faisal menyalakan sein mobil ke kiri,menandakan sebentar lagi mereka akan keluar dari jalan tol. Dengan sigap Faisal menyetir kendaraannya pindah ke jalur sebelah kiri hingga menemukan pintu keluar tol.
Faisal mengarahkan mobilnya menuju kawasan elit di Tangerang Selatan. Faisal memperlambar laju kendaraannya dan masuk ke dalam sebuah hotel dan resto. Almira membaca tulisan yang terpampang yang menempel pada bangunan Rangga’s Hotel and Resto.
“Ini tempat yang Mas maksud?” tanya Almira.
“Iya,” jawab Faisal sambil memarkirkan mobilnya.
Almira memperhatikan bangunan di depannya dengan seksama.
“Kira-kira mahal, nggak Mas?” tanya Almira.
“Kalau makanannya sih harganya standart dengan restaurant dan café-café yang lainnya,” jawab Faisal kemudian mematikan mesin mobilnya.
“Turun, yuk!” Faisal membuka seat beltnya.
Almira membuka seat belt lalu keluar dari mobil. Almira berdiri di sisi mobil menunggu sampai Faisal keluar dari mobil. Setelah mengunci mobilnya Faisal menghampiri Almira.
“Kalau di sini kamu aman, tidak akan bertemu dengan Tomy,” kata Faisal.
“Sudah pasti itu, Mas. Kemarinkan sewaktu saya menghilang tinggal di daerah sini,” jawab Almira.
Faisal kaget dan menoleh ke Almira.
“Oh, ya?”
“Dan kamu sukses menghilang ditelan bumi?” tanya Faisal.
“Tentu saja, Mas. SIM card saya ganti, GPS saya matikan. Bahkan saya hanya menghubungi Nina dan Rafi hanya melalui email,” jawab Almira.
“Waktu saya kabur saya sempat menginap di hotel itu, Mas." Almira menunjuk sebuah gedung hotel terlihat karena menjulang tinggi.
“Kamu berani menginap di hotel sendiri?” tanya Faisal dengan tidak percaya.
“Saya kan ditemani Mbok Silah, makanya saya berani kabur. Kalau sendirian mendingan pulang saja ke rumah Mamang,” jawab Almira.
karena setiap hari ketemu....
pepatah Jawa mengatakan tresno jalaran seka kulino....
mbah putri
uti