Ketika jatuh cinta, tidak ada yang bisa memberi alasan pasti. Hanya merasakan dan tidak bisa menghentikan.
Cinta Henry pada Cynthia, gadis biasa yang melamar menjadi sekretarisnya.
Benarkah itu cinta pada pandangan pertama.
Dua orang yang berbeda latar belakang. Henry Elfred seorang CEO perusahaan British Oil & Gas, keturunan Inggris dan Jawa, berasal dari keluarga kaya raya yang penuh intrik kotor dan drama, sedangkan Cynthia hanya gadis biasa dan sederhana.
Cinta mereka terhalangi karena Henry hanya bisa menikahi seorang puteri pengusaha untuk memperluas wilayah kekuasaan perusahaannya di Indonesia. Begitu banyak rintangan untuk bersama dengan wanita yang dicintainya.
Bisakah Henry menyakinkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adine Indriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 Cara Mengetahui Seseorang Mencintaimu
“Tenanglah Cynthia … tenanglah,” ucap Steven.
“Nona Cynthia, hari ini kita harus kembali ke Jakarta. Pak Henry sudah memanggil saya, ada urusan penting yang harus ditangani.”
“Cynthia, tinggallah di sini bersamaku,” tutur Steven. Menawarkan Cynthia untuk hidup di London bersamanya. Steven mengatakan jika baru kali ini merasa tenang di alam perkampungan. Dirinya enggan untuk kembali, sudah muak dengan pekerjaan yang membosankan.
“A-aku tidak bisa Steven, maaf … aku harus kembali bersama Yonglex.”
***
Cynthia sudah siap dengan bawaannya dan berpamitan dengan semua orang. Sembari menunggu Yonglex kembali dari suatu tempat, mereka duduk di atas Oak besar itu.
“Kesempatanku hanya sebentar untuk memandang semua hal yang indah di sini,” ucap Cynthia merasa sudah merindukan tempat itu. Sebelum berangkat Steven bertanya satu hal padanya.
“Cyn, boleh aku bertanya dan menyuruhmu melakukan sesuatu?”
“Apa itu?”
“Pejamkanlah matamu sebentar,” ujar Steven. Cynthia mengikutinya.
“Bayangkan wajah Henry seperti apa?”
“Kenapa kamu tanya? …,” pungkas Cynthia masih dalam keadaan memejam.
“Lakukan saja!”
Cynthia mulai menjelaskan bayangan wajah Henry yang memunculkan senyuman di bibirnya.
Baru membayangkannya saja kamu sudah tersenyum semanis itu, Cynthia.
Matanya kecoklatan, tidak begitu besar, seperti sehabis bangun tidur. Cynthia tergelak.
Bulu matanya yang lentik, hidung mancungnya yang angkuh dan bibirnya yang lembut. Henry sudah pernah merasakannya.
Rambutnya yang ikal sangat lucu ketika di pagi hari. Akan menyerupai gulali dan itu sangat lucu. Kali ini Cynthia tertawa lebar.
“Lalu, seperti apa caranya berjalan?”
Jalannya sangat cepat hingga kelelahan untuk mengikuti ritme kecepatannya. Raut cemberutnya yang menggemaskan.
Jika sedang berjalan, Henry hanya berjalan lurus tidak pernah menoleh. Matanya sangat banyak, di dahi, di kaki, mungkin juga di belakang kepalanya. Jika mengingatnya jadi sedikit kesal. Ekspresi marah yang imut.
"Tetapi, sikap angkuhnya membuat semua orang mengaguminya."
“Apa yang paling kamu ingat dari Henry?”
Suaranya. Cynthia tersenyum rapat, matanya bersinar ketika mengatakannya.
Caranya membelai dan mencium. Cynthia menerawang, jauh, seperti merindukannya.
“Sudah … buka matamu, aku menyesal telah menanyakan hal ini!” Steven menggerutu. Steven terlihat gusar, hatinya panas hanya mendengar bayangan Cynthia tentang Henry. Sungguh membuatnya frustrasi.
Ada apa dengannya, dia yang bertanya, dia pula yang kesal.
“Jadi, maksud dari menanyakan ini apa? Hah? ….”
“Enggak ada apa-apa aku hanya iseng,”
“Iseng? Dasar!” Cynthia memukulnya bertubi-tubi.
***
Yonglex datang menjemput Cynthia, mengambil barang bawaannya dan menaruhnya di dalam mobil. Tiba-tiba Cynthia teringat liontinnya yang tertinggal di buffet kamar.
“Tunggu … aku melupakan sesuatu,” Cynthia berlari ke kamarnya dan mengambil Liontin itu. Ketika dirinya berbalik Steven menutup pintu itu dan menarik Cynthia lebih dekat.
Steven.
“Cynthia berikan aku satu kesempatan,” ujar Steven.
“Apa?”
Steven menciumnya perlahan, memeluknya erat seakan memberitahukan perasaannya pada Cynthia. Rasa cintanya yang tidak berbalas dan berharap ada sedikit saja kesempatan untuk mengungkapkannya. Hingga Steven berhenti, Cynthia hanya tertegun bingung dan malu karena dirinya sempat menikmatinya.
Mereka saling berpandangan. Tiba-tiba Cynthia menginjakkan kaki Steven dengan keras lalu berlari meninggalkannya. Wajahnya yang merona, ditutupinya dengan kedua telapak. Berharap akan memadam. Rasa ciuman itu membuatnya gusar, bingung dan marah. Entahlah.
Dari kejauhan Steven melambaikan tangan dengan kaki yang pincang menahan sakit. Melempar senyuman hingga kendaraan itu hilang di tikungan.
***
Berada di dalam pesawat jet, Cynthia memasang sabuk pengamannya. Setelah take off seorang pramugari datang membawakan teh lavender untuknya.
“Kemana perginya, Ji Chang Wook?” tanya Cynthia. Pramugari itu hanya menggeleng tidak tahu apa yang dimaksudnya.
“Yonglex … kemana Ji Chang Wook?” sembari menoleh ke belakang.
“Oh … pramugara yang kemarin dipindahtugaskan oleh Henry,”
Mungkin saat ini Ji Chang Wook sedang merasa kewalahan memberi makan anjing-anjing yang banyak itu. Berani-beraninya mengobrol akrab dengan wanita kesayangan Bos. Batin Yonglex.
“Oh … oiya, Pak Henry menyuruhmu untuk tugas apa?”
“Oh … Bos … memintaku untuk membantunya mengerjakan pekerjaan karena Bos akan fokus untuk pertunangannya.”
“Apa? … jadi Henry akan bertunangan? Dengan wanita di televisi?” wanita itu memang cantik, anggun, pintar dan kaya. Perasaan Cynthia perlahan hancur, seperti vas bunga yang terjatuh ke lantai, terlepas dari genggaman dan berkeping-keping bagiannya hingga sulit disatukan lagi.
Tiba-tiba pesan singkat ke ponselnya masuk. Dari Steven.
Mau apa orang ini, masih berani setelah bersikap seperti tadi.
“Hasil dari pertanyaanku tadi, artinya kamu mencintai Henry dan begitu juga Henry kepadamu. Kalian saling mencintai. Semakin detail kamu bisa membayangkan seseorang, itu artinya orang yang kamu bayangkan juga memiliki perasaan yang sama terhadapmu. Begitu juga sebaliknya, jika seseorang yang kamu bayangkan tidak bisa muncul, artinya mungkin dia hanya mengagumimu saja tidak lebih."
“Aku sangat iri pada Henry. Henry mengambil wanita terindah yang pernah kutemui.”
Sepertinya kali ini kamu salah Steven, Henry tidak mencintaiku. Henry akan segera bertunangan.
Cynthia tidak membalas pesan Steven. Tetapi Steven mengirimkan pesan lagi untuknya.
“Henry patut diperjuangkan, jika kamu benar-benar mencintainya,”
Steven kenapa kamu seperti paham apa yang ada dipikiranku.
“Aku menyesal mengatakan itu semua … sialan!” keluhnya setelah mengirimkan semua pesan itu. Cynthia tergelak tawa sangat lebar dengan sikap Steven yang ajaib. Steven sangat lucu dan spontan uhuuyy.
Benar juga apa yang dikatakan Steven, aku yakin Henry masih mencintaiku, masa semudah itu melupakanku. Aku akan berusaha untuk merebut kembali Henry dari wanita yang terlahir kaya, cantik, pintar dan sempurna itu. Wanita sempurna adalah wanita yang membosankan. Henry tidak perlu itu semua!
Aku akan berjuang untuk mendapatkannya kembali.
Cynthia bangkit dari tempat duduk sembari mengepalkan tangan dan mengangkatnya ke udara. Menyakinkan diri bahwa aku pasti bisa!
“Nona Cynthia, kamu kenapa?” ujar Yonglex yang melihat Cynthia bersikap aneh.
“He … he … he.”
Tangan yang di angkat ke udara, yang di kepalkan dan bokong yang terangkat dari kursi, serentak secara perlahan kembali ke posisinya masing-masing. Sepertinya aku terlalu bersemangat, yah itu berlebihan.
Cynthia memanggil pramugari itu dan memesan yang sedikit kuat.
“Mba Jennie Blekping saya minta sampanye, tolong yah!”
“Baik, akan saya ambilkan.”
Yonglex mulai memperhatikan gelagat Cynthia yang tidak beres. Belum pernah dirinya mencoba minuman beralkohol.
Pramugari itu menuangkan sampanye dalam gelasnya, Cynthia meminta sedikit saja, mencicipi minuman itu di ujung bibirnya, rasanya manis. Cynthia menyuruh Mba Jennie untuk memenuhi gelasnya. Yonglex masih mengawasinya di belakang.
“Terima kasih yah!”
“Sama-sama.”
Hingga gelas ketiga, Yonglex datang memperingatinya.
“Nona, cukup Nona, anda tidak pernah seperti ini,”
Cynthia sudah tidak sadar sepenuhnya, dirinya mulai merasakan efek yang memabukkan.
“Yonglex, biarkan aku bersantai sekali ini saja tanpa aturan. Untuk mengobati hatiku yang sakit,” ucap Cynthia yang mulai berlebihan.
“Aku akan membalas dendam pada Henry yang sudah menyakitiku,” Cynthia meracau.
Yonglex meninggalkannya yang tiba-tiba merasa mulas.
***
Cynthia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang dengan menggunakan layanan video call. Tangan Cynthia bergoyang, tidak bisa tetap, pandangannya mulai berbayang.
Sombong sekali Henry tidak menjawab panggilanku.
Cynthia menghubunginya lagi hingga akhirnya dijawab.
“Halo ….”
“HALOW … Henry … hehehe … aku Cynthia,”
Henry terkejut, ternyata seseorang menghubunginya dengan video call di tengah-tengah rapat.
“Kamu enggak punya … perasaan, kamu … jahat Henry.” Cynthia mulai merengek seperti anak kecil.
“Cynthia, kamu mabuk?” tanya Henry.
“Siapa yang bilang … aku hanya meminum tiga … empat … lima … atau tujuh yah?” sembari menghitung dengan jumlah jemari yang salah.
“Aku mencintaimu Henry, kenapa kamu akan bertunangan dengan wanita sempurna. Wanita sempurna itu membosankan! Tahu!” Cynthia terjatuh ke lantai tidak sadarkan diri.
Yonglex yang baru saja keluar dari restroom sontak terkejut melihatnya. Ponsel itu diangkatnya dan melihat wajah Henry di sana. Spontan Yonglex langsung mematikan ponsel itu, ketakutan akan amukan Henry.
Bunuh saja aku Tuan Henry, jangan kirim aku ke Antartika.
boom balik karya ku
the thunder's love
🥰🥰
ditunggu lagi Kaka salam dari basecamp