NovelToon NovelToon
DI BALIK LUKA

DI BALIK LUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nathasya90

Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DBL34

PERTEMUAN YANG TAK TERHINDARKAN

Dua hari ternyata bisa terasa jauh lebih lama ketika seseorang yang biasanya hadir hampir setiap hari mendadak menghilang begitu saja.

Romi baru menyadarinya ketika pagi itu ia kembali duduk di ruang kerjanya. Tumpukan dokumen yang memenuhi meja tidak banyak berubah dari hari-hari sebelumnya. Jadwal rapat tetap padat. Telepon dari klien datang silih berganti. Semua berjalan seperti biasa, seolah tidak ada satu pun yang berubah.

Namun, di sela-sela kesibukan itu, ada jeda-jeda kecil yang terasa berbeda. Biasanya, di waktu seperti ini, layar ponselnya akan menyala karena sebuah pesan yang tidak penting-penting amat.

Mas lagi sibuk? Atau sekadar foto secangkir kopi dengan keterangan singkat yang selalu berhasil membuatnya tersenyum.

Tapi hari ini, layar itu tetap gelap.

Romi mengembuskan napas pelan, lalu kembali mengalihkan perhatian pada berkas di hadapannya. Ia sengaja menenggelamkan diri dalam pekerjaan, berharap kesibukan bisa mengusir pikiran-pikiran yang seharusnya tidak lagi datang. Namun ternyata, mengusir pikiran-pikiran itu tidak semudah yang ia bayangkan.

Pagi itu Hannah juga sudah kembali ke rutinitasnya di kantor setelah dua pekan berada di Singapura. Sebelum berangkat, mereka sempat sarapan bersama seperti biasa. Tidak ada percakapan yang istimewa. Semuanya terlihat normal, seperti kehidupan yang memang seharusnya kembali mereka jalani. Namun justru di tengah kewajaran itu, Romi menyadari ada satu bagian dari dirinya yang belum benar-benar kembali ke tempat semestinya.

"Pak." Suara Lala membuat Romi mengangkat kepala.

"Iya, La?"

"Meeting sama tim legal dimajuin jadi jam setengah dua."

Romi mengangguk singkat, "Oke."

Lala menyerahkan beberapa map yang harus ditandatangani. Namun setelah meletakkannya di atas meja, wanita itu tidak langsung pergi.

Romi menatapnya sekilas.

"Masih ada lagi?"

Lala tersenyum canggung.

"Bapak lagi banyak pikiran ya?"

Pertanyaan itu membuat Romi terkekeh pelan.

"Emang kelihatan?"

"Sedikit."

"Segitu jelasnya?"

"Soalnya Bapak dari tadi baca halaman yang sama hampir lima menit."

Romi spontan menunduk. Tatapannya memang masih tertahan pada satu lembar laporan yang sejak tadi belum benar-benar ia baca. Ia tersenyum tipis, lalu menutup map itu.

"Mungkin lagi capek."

Lala mengangguk pelan meski tidak sepenuhnya percaya. Selama hampir tiga tahun bekerja bersama, ia cukup mengenal atasannya. Romi memang bukan tipe orang yang mudah menunjukkan apa yang sedang dirasakan. Justru ketika pria itu berkata baik-baik saja, biasanya ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan.

"Kalau gitu saya siapin kopi dulu ya, Pak."

"Boleh. Makasih ya, La."

Setelah pintu tertutup, ruangan kembali sunyi. Romi menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya tanpa sadar kembali jatuh pada ponsel yang tergeletak di sisi laptop. Ia tidak mengambilnya dan tidak juga membuka ruang percakapan yang selama dua hari terakhir sengaja ia hindari.

Menjaga jarak adalah keputusan yang sudah mereka sepakati, meski tidak pernah benar-benar diucapkan. Lalu kenapa justru ia yang paling sulit menjalaninya?

Di sisi lain kota, Jelita juga sedang berusaha melakukan hal yang sama. Sejak pagi ia sudah berada di ruang rapat bersama beberapa anggota tim. Di layar proyektor terpampang gambar denah sebuah kawasan komersial yang sedang dalam tahap pengembangan.

"Kalau akses kendaraan servis tetap lewat sisi barat, loading area bakal bentrok sama jalur keluar tamu," ujar salah seorang arsitek.

Jelita mengangguk sambil memberi beberapa catatan di atas gambar kerja.

"Kalau begitu kita geser jalur servis ke belakang gedung. Area drop-off utama jangan diubah. Investor maunya akses tamu tetap bersih dan langsung terlihat dari pintu masuk."

Beberapa anggota tim segera mencatat masukannya. Diskusi berlangsung hampir satu jam sebelum akhirnya rapat selesai. Begitu semua orang keluar, Deva masuk membawa sebuah tablet.

"Bu, ini jadwal site visit minggu ini."

Jelita menerimanya sambil berdiri.

"Yang mana dulu?"

"Presentasi investor hari Jumat, Bu."

Jelita membuka jadwal tersebut. Belum sempat membaca seluruh isinya, Deva kembali berbicara.

"Oh iya, Bu, ada perubahan lokasi."

Jelita mengangkat kepala.

"Benarkah? Bukannya semuanya sudah final?"

"Hotel yang sebelumnya dipakai lagi ada gangguan operasional. Klien minta dipindah ke lokasi lain."

"Jadi lokasi penggantinya sudah ditentukan?"

"Sudah, Bu."

Deva menyerahkan surel yang baru saja masuk dan Jelita membukanya. Lalu tatapannya langsung berhenti pada satu nama.

Graha Mahardika.

Ruangan mendadak terasa jauh lebih sunyi. Ia mengenal gedung itu. Bukan hanya karena termasuk salah satu properti premium di pusat Jakarta, tetapi juga karena seluruh pengelolaannya berada di bawah perusahaan milik Romi.

Sesaat ia hanya terdiam sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan.

"Ternyata benar ya… dunia memang sempit."

Deva menatap atasannya heran.

"Iya, Bu?"

Jelita segera menggeleng sambil menutup layar tabletnya.

"Nggak apa-apa."

Ia memaksakan senyum kecil.

"Oke. Kita siapin semua kebutuhan presentasinya."

"Baik, Bu."

Deva kembali keluar membawa beberapa dokumen, sementara Jelita tetap berdiri di tempatnya. Tatapannya kembali jatuh pada nama yang masih tertera di layar.

Graha Mahardika.

Entah kenapa, baru membaca nama gedung itu saja sudah membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Padahal ia belum tahu… bahwa pertemuan yang selama dua hari terakhir berusaha mereka hindari ternyata tinggal menunggu waktu.

Sore mulai merayap turun ketika kesibukan di Graha Mahardika belum juga berkurang. Dari balik dinding kaca ruang kerjanya, Romi masih bisa melihat lalu lalang kendaraan yang memenuhi jalan utama Jakarta. Beberapa dokumen kerja sama baru saja selesai ia tandatangani ketika suara ketukan terdengar dari balik pintu.

"Pak."

"Masuk."

Lala melangkah masuk sambil membawa tablet dan sebuah map tipis.

"Ada jadwal yang perlu Bapak konfirmasi."

Romi meletakkan penanya.

"Jadwal apa?"

"Site visit untuk presentasi investor hari Jumat."

Romi mengangguk pelan. Ia memang sudah menerima laporan bahwa lokasi presentasi dipindahkan ke Graha Mahardika. Hal seperti itu bukan sesuatu yang luar biasa. Gedung tersebut memang cukup sering digunakan untuk kegiatan bisnis berskala besar.

"Tim konsultan minta survei lokasi besok pagi sebelum finalisasi layout."

"Oke, jam berapa?"

"Jam sepuluh pagi, Pak."

"Oke, La. Siapkan saja semuanya seperti biasa."

Lala belum menutup tabletnya.

"Tapi… mereka juga minta Bapak ikut langsung."

"Kenapa?" tanya Romi heran. Biasanya penyesuaian seperti itu sudah diputuskan jauh sebelum hari pelaksanaan.

"Soalnya ada beberapa penyesuaian area yang harus diputuskan langsung di lokasi, Pak."

Romi hanya mengiyakan dengan anggukan kecil sebelum bertanya, "Lalu siapa PIC dari pihak konsultan?"

Lala menurunkan pandangannya ke layar tablet.

"Bu Jelita."

Ruangan seketika terasa sunyi. Romi tidak langsung bereaksi. Tangannya masih memegang pena, tetapi tidak lagi bergerak. Hanya ada jeda beberapa detik sebelum akhirnya ia meletakkan pena itu perlahan.

"Oh."

Hanya satu kata, tidak lebih. Namun Lala menangkap perubahan kecil di wajah atasannya.

"Pak... perlu saya alihkan ke Pak Dimas saja?"

Pertanyaan itu membuat Romi mengangkat kepala.

"Kenapa harus dialihkan?"

"Nggak ada alasan khusus... cuma saya pikir Bapak lagi banyak agenda lain."

Romi tersenyum tipis.

"Masih bisa. Jadwal saya masih aman, kan?"

"Aman, Pak. Sebelum saya konfirmasi ke Bapak, saya sudah cek jadwalnya."

Lala segera mencatat konfirmasi itu.

"Kalau begitu saya kabari pihak konsultan dulu."

"Iya."

Setelah pintu kembali tertutup, Romi mengembuskan napas panjang. Ia sebenarnya tahu kalau benar ingin menjaga jarak, inilah kesempatan paling mudah. Tinggal meminta manajer operasional menggantikannya dan selesai. Tidak akan ada pertemuan atau kecanggungan yang terjadi. Tidak akan ada alasan untuk kembali mengingat perempuan yang dua hari terakhir justru semakin sulit ia lupakan.

Namun kenapa ia tidak melakukannya?

Romi menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya mengarah ke langit Jakarta yang mulai berubah jingga.

"Ini cuma urusan kerja."

Kalimat itu terdengar pelan. Lebih seperti usaha meyakinkan dirinya sendiri. Sayangnya, semakin sering ia mengulanginya, semakin ia sadar bahwa dirinya sendiri tidak benar-benar percaya.

Di sisi lain kota, Jelita baru saja selesai meninjau revisi desain sebuah kawasan mixed-use development ketika ponselnya bergetar. Surel baru dari kantor pusat. Ia segera membukanya.

Konfirmasi Site Visit – Graha Mahardika

Jelita membaca isi surel itu perlahan.

Lokasi. Waktu. Daftar peserta.

Hingga matanya berhenti pada satu nama yang tercantum sebagai penanggung jawab dari pihak pengelola gedung.

Romi Prasetyo.

Jelita memejamkan mata beberapa saat. Jadi... mereka benar-benar akan bertemu?

Ia lalu meletakkan ponselnya di atas meja sebelum menyandarkan tubuh ke kursi. Selama dua hari terakhir ia berkali-kali berkata pada dirinya sendiri bahwa semua akan kembali seperti semula. Bahwa jarak adalah keputusan yang paling benar. Bahwa tidak saling menghubungi adalah cara terbaik untuk mengakhiri semuanya sebelum terlambat. Namun besok… semua keyakinan itu akan diuji.

Tok. Tok. Tok.

Deva kembali masuk tanpa menyadari perubahan ekspresi atasannya.

"Bu, saya sudah koordinasi sama tim investor. Besok mereka langsung ke Graha Mahardika jam sepuluh."

Jelita mengangguk pelan. "Oke."

"Mau saya dampingi dari awal?"

"Iya."

"Kalau ada revisi layout, kita bahas langsung di lokasi."

"Siap, Bu."

Deva hendak keluar, tetapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara Jelita memanggil.

"Dev."

"Iya, Bu?"

"Besok kita ke sana buat kerja."

Deva tersenyum bingung.

"I-iya, Bu."

"Nggak lebih."

"Siap, Bu."

Setelah pintu kembali tertutup, Jelita terkekeh pelan pada dirinya sendiri. Seolah-olah ucapan itu lebih ia tujukan untuk dirinya daripada untuk Deva. Ia kembali menatap nama yang masih terpampang di layar.

Romi Prasetyo.

Perlahan ia menarik napas panjang.

"Profesional, Jelita..."

Ia mengucapkannya lirih.

"Besok kamu cuma ketemu klien."

Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu kalimat itu tidak akan cukup membuat pertemuan besok terasa biasa saja.

Keesokan paginya, langit Jakarta masih diselimuti mendung tipis ketika mobil Jelita memasuki area parkir Graha Mahardika.

Ia mematikan mesin, tetapi tidak segera turun. Kedua tangannya masih menggenggam setir, sementara pandangannya lurus menatap bangunan kaca menjulang di hadapannya.

Sudah dua hari. Hanya dua hari. Namun entah mengapa, langkah untuk memasuki gedung itu terasa jauh lebih berat dibanding biasanya.

Jelita mengembuskan napas perlahan.

"Fokus."

Satu kata itu meluncur pelan dari bibirnya.

"Hari ini kamu datang buat kerja."

Ia meraih map berisi dokumen presentasi, memastikan semua berkas sudah lengkap, lalu membuka pintu mobil.

Begitu memasuki lobi, seorang petugas resepsionis langsung menyambutnya.

"Selamat pagi, Bu Jelita."

"Pagi."

"Tim dari Graha Mahardika sudah menunggu di ruang meeting lantai dua belas."

"Terima kasih."

Jelita mengangguk kecil sebelum melangkah menuju lift.

Selama lift bergerak naik, pantulan wajahnya terlihat samar di dinding cermin. Ia mencoba mengatur napas. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Pertemuan ini tidak berbeda dengan puluhan site visit yang selama ini ia jalani. Ia hanya akan berdiskusi mengenai kebutuhan investor, meninjau fasilitas gedung, lalu kembali ke kantor. Sesederhana itu. Setidaknya, begitulah yang ingin ia yakini.

Di ruang rapat lantai dua belas, Romi sudah lebih dulu berada di sana. Beberapa gambar denah bangunan terbentang di atas meja. Di layar presentasi, tampak tampilan tiga dimensi area ballroom beserta jalur sirkulasi tamu. Lala berdiri di sampingnya sambil memeriksa daftar kebutuhan yang dikirim pihak investor.

"Pak, semua data yang mereka minta sudah siap."

"Oke, bagus."

"Tim konsultan juga sebentar lagi sampai. Baru saja security kabari saya."

Romi hanya mengangguk. Ia berusaha terlihat setenang mungkin. Pandangannya sesekali beralih ke arah pintu ruang rapat, lalu kembali pada denah yang terbentang di atas meja. Ia bahkan tidak benar-benar membaca apa yang sedang dilihatnya.

Tok. Tok.

Suara ketukan itu membuat ruangan seketika terasa lebih sunyi.

"Pak, kayaknya Bu Jelita sudah datang," kata Lala memberitahu.

"Ya sudah, persilakan masuk." Nada suara Romi terdengar datar, tenang, dan profesional.

Pintu perlahan terbuka.

Jelita melangkah masuk bersama Deva. Pandangan mereka bertemu. Hanya beberapa detik, namun dua hari yang mereka habiskan untuk saling menjauh membuat tatapan singkat itu terasa jauh lebih lama daripada seharusnya.

Romi menjadi orang pertama yang memecah keheningan.

"Selamat pagi, Bu Jelita," sapanya formal.

Jelita terdiam sesaat. Pada detik berikutnya, ia mengembangkan senyum tipis sebelum menyambut uluran tangan pria di hadapannya.

"Selamat pagi, Pak Romi."

Lala dan Deva tidak menyadari apa pun. Bagi mereka, dua orang yang baru bertemu dalam urusan pekerjaan memang biasanya berbicara seperti itu. Hanya Romi dan Jelita yang tahu bahwa dua hari sebelumnya mereka masih saling berkirim pesan hampir setiap hari.

"Silakan duduk."

Romi membuka pembicaraan sambil menggeser denah bangunan ke tengah meja.

"Terima kasih."

Jelita duduk di seberangnya, lalu membuka tablet.

"Kalau boleh, saya ingin memastikan kembali kebutuhan klien sebelum kita mulai site visit."

"Tentu."

Jelita mulai menjelaskan beberapa poin.

"Investor menginginkan area presentasi yang tetap memberi akses visual ke proyek utama. Selain itu, jalur tamu VIP dan peserta umum harus dipisahkan supaya pergerakannya lebih efektif."

Romi mengangguk.

"Itu memungkinkan. Ballroom utama terhubung langsung dengan ruang VIP melalui koridor timur, jadi tamu undangan tidak perlu melewati area registrasi."

"Bagaimana dengan akses servisnya?"

"Kami siapkan lewat loading dock belakang. Jalurnya terpisah, jadi aktivitas vendor tidak akan mengganggu tamu yang datang."

Jelita mencatat poin itu di tabletnya.

"Baik. Itu sesuai dengan kebutuhan kami."

Pembahasan berlangsung hampir tiga puluh menit sebelum mereka akhirnya turun langsung meninjau lokasi.

Ballroom utama masih kosong. Beberapa teknisi terlihat memeriksa sistem pencahayaan, sementara petugas kebersihan sibuk merapikan lantai marmer yang mengilap.

Romi berjalan beberapa langkah di depan.

"Kalau panggung ditempatkan di sisi utara, seluruh peserta tetap bisa melihat layar utama tanpa terhalang kolom."

Jelita memperhatikan arah yang ditunjuknya.

"Iya, saya setuju."

Ia kemudian melangkah ke sisi lain ruangan.

"Kalau meja registrasi dipindahkan ke dekat pintu masuk sebelah sini, antrean tamu juga lebih rapi."

"Benar."

"Jalur evakuasi tetap aman?"

Romi menoleh ke arah jalur evakuasi sebelum mengangguk.

"Masih memenuhi standar."

Mereka berpindah ke area lobi.

Jelita berhenti di depan dinding kaca besar yang menghadap taman.

"Kalau investor ingin sesi networking setelah presentasi, area ini cukup nyaman."

"Biasanya memang dipakai untuk itu."

"Berarti kita tinggal menyesuaikan furniturnya ya?"

"Betul."

Percakapan mereka mengalir singkat, padat, dan jelas. Seluruhnya berkaitan dengan pekerjaan.

"Aneh ya."

Deva menoleh.

"Aneh kenapa, Bu?"

"Itu, mereka. Mereka cocok banget kalau diskusi kerja."

Deva ikut tersenyum.

"Iya. Nyambung."

"Makanya itu saya bilang aneh."

"Hah?"

Lala tersenyum kecil.

"Biasanya kalau dua orang baru kerja bareng, masih ada basa-basi dulu."

"Kalau mereka?"

"Kayak udah saling tahu cara mikir masing-masing."

Deva hanya terkekeh pelan.

"Mungkin karena sama-sama profesional, Bu."

Lala akhirnya memilih tidak memikirkannya lebih jauh. Baginya, yang terpenting survei hari itu berjalan lancar.

Namun Lala tidak pernah tahu bahwa beberapa menit setelah ia dan Deva meninggalkan Romi serta Jelita, sesuatu mulai bergeser. Bukan situasi di antara mereka, bukan pula hubungan profesional yang selama ini mereka jaga, melainkan keputusan yang selama dua hari terakhir susah payah mereka pertahankan.

1
Eneng Farida
cari sana romi s jelitamu itu kalian sma mandul jd cocok banget jgn nanti nyesel hanna kalau sdh pergi
Susi Yanti
jalan untk selingkuh memang lebih mulus dan terasa indah,untk mempertahankan kesetiaan butuh pengorbanan yg tdk semua org bisa
Nathasya90
rakus sih ini. mau dua-duanya 🤣
Nathasya90
nggak sabar juga pengen ketok pala Romi/Hammer/🤣
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
iih ternyata jelita nih maksa ya orgnya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
wah enak ini makan siangnya
Eneng Farida
romi sm jelita memang cocok sm2 busuk nya hanna wanita baik cocoknya sm laki2 baik jga buruan cepat ketahuan atuh thor perselingkuhan romi laki2 tak thu dri
Nathasya90: setuju
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
aku juga pasti mikir yg ngga2 kalau jadi hannah
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
lihat jelita nih
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
aku juga. lebih milih kerja drpd masak. 😄
Nathasya90: setuju
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
aku jd hannah pasti mikir macam2 liat reaksi suami begitu
Nathasya90: nah iya kk, kentara banget sih itu.
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
kok aku jd deg2an ya. lanjut deh
Nathasya90: lanjut ka bacanya😍
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
lantas.. hanna yg dihujat terus masa ga kasian😞
Nathasya90: lalu tega gitu namanya dong ya. lebih milih jaga biar dia nggak terluka tapi nggak apa2 kalau istrinya yang terluka?
total 3 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
swmoga selalu baik2 aja seterusnya
Nick: mampir kk ke cerita aku 🙏🗿
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
memang begitu harusnya. menikah itu krn untuk mendapatkan pendamping hidup. senang dan susah bersama. hanya saja ada saja kerikil2 yg mengganggu. seperti pertanyaan mertua atau org2 disekitar kita. yang tadinya hati kita tidak apa2 lama kelamaan menjadi gelisah dan merasa minder
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
ayo romi.. periksa.
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
lelah sih kalau berjuang sendirian. lanjut
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
pasti lama kelamaan tekanan batin rasanya
Eneng Farida
romi laki2 tak tau dri udh untung ada istri yg mau nerima apa adanya ini mlh kesemsem sm org naru pantes nanti d tinggal hanna
Nathasya90
Haii guys... othor kembali lagi dengan judul buku baru. Semoga suka ya dengan anak baru aku🫰🏻❤️🥰

Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.

Ditunggu semua komenannya.

Love sekeboon buat kalian💐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!