NovelToon NovelToon
Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mandul / Konflik etika
Popularitas:622
Nilai: 5
Nama Author: Vitamaya

Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.

Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.

Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu sekretaris genit

Setelah pertemuannya dengan Nadia usai, Zulfa tidak lupa membungkus beberapa porsi makanan untuk dibawa ke kantor suaminya. Hari itu ia memang sengaja tidak memasak, sehingga memilih membeli makanan favorit Arslan sebagai bekal makan siangnya.

Dengan membawa dua kotak makan yang masih hangat, bahkan uap tipisnya masih terlihat mengepul, Zulfa segera melajukan mobilnya menuju kantor Arslan. Perjalanan yang tidak terlalu jauh membuat makanan itu tetap terasa hangat saat ia tiba.

Setibanya di sana, ia disambut ramah oleh seorang sekretaris muda berparas cantik yang dikenalnya sebagai sekretaris baru Arslan. Senyum manis perempuan itu terulas sempurna di wajahnya, seolah ingin meninggalkan kesan baik pada siapa pun yang ditemuinya.

Namun, entah mengapa Zulfa tidak pernah benar-benar menyukai wanita itu. Bukan karena penampilannya yang selalu rapi dan anggun, melainkan ada sesuatu yang sulit dijelaskan—sebuah firasat yang membuatnya merasa tidak nyaman setiap kali berhadapan dengannya.

Tatapan mata yang terlalu lembut, senyum yang terasa dibuat-buat, dan cara perempuan itu memperlakukan Arslan membuat naluri Zulfa terusik. Aura pelakor wanita itu terasa begitu kuat.

Jika saja Arslan bukan sosok yang berhati baik dan tak ingin memutus rezeki seseorang tanpa alasan yang jelas, mungkin sekretaris itu sudah lama ia singkirkan dari lingkungan kerja suaminya. Setidaknya, itulah yang sering terlintas dalam benaknya setiap kali melihat perempuan tersebut berada terlalu dekat dengan Arslan.

 Ah, lagi-lagi Zulfa merasa beruntung dianugerahi seorang suami seperti Arslan—pria yang tidak mudah tergoda oleh pesona wanita lain.

Bagi Arslan, yang hidupnya nyaris sempurna, Zulfa tetap menjadi wanita tercantik yang pernah hadir dalam hidupnya. Bukan hanya cantik di mata, tetapi juga memikat hatinya dengan cara yang tidak mampu dilakukan perempuan lain.

Di mata Arslan, tidak ada senyum yang lebih menenangkan daripada senyum istrinya, tidak ada tatapan yang lebih mampu membuatnya luluh selain tatapan istrinya sendiri. Bahkan setelah bertahun-tahun bersama, pesona wanita itu seolah tidak pernah pudar.

Mungkin itulah salah satu alasan mengapa Arslan tidak pernah tertarik melirik wanita lain. Baginya, semua yang ia cari telah ada pada diri Zulfa. Ketika seseorang telah menemukan rumah bagi hatinya, untuk apa lagi mencari tempat singgah yang lain?

"Maaf Bu Zulfa, Pak Arslan baru saja selesai makan siang bersama kliennya." Vania memberitahu saat mata bulatnya melihat godie bag yang dibawa Zulfa. Tentu saja Vania paham kalau perempuan yang ada di hadapannya ini selalu rutin mengantar bekal makan siang untuk atasannya tersebut.

"Nggak apa-apa kok, kan bisa dibuat makan nanti. Lagian suami saya nggak pernah nggak makan masakan saya. Sekalipun nggak enak selalu di bilang enak." Sambil melirik sinis ke arah sekretaris itu. Zulfa sengaja berkata seperti itu untuk membuat hati Vania panas.

Ya, Zulfa sebenarnya tau kalau wanita itu menyukai suaminya. Zulfa pernah tidak sengaja melihat isi chat-nya dengan sang suami. Yang isinya bukan hanya membahas masalah kerjaan ataupun mengatur schedule atasannya tetapi juga perhatian yang sebenarnya tidak masuk dalam job desk-nya sebagai seorang sekretaris. Untung saja suami setianya itu tidak pernah menggubris isi chat Vania jika pembahasannya melenceng dari pekerjaan. Hal-hal semacam ini juga selalu Arslan ceritakan pada istrinya.

"Ahh ... Bu Zulfa jangan merendah seperti itu!! Saya tau kok kalau masakan anda itu enak, enak banget malah!!"

"Tau darimana kalau masakan saya enak?" Bukannya senang di puji, Zulfa justru malah meradang mendengar ucapan Vania. Sebab Zulfa tidak pernah sekalipun membawa bekal tambahan untuk diberikan ke orang lain apalagi ke sekretaris suaminya itu.

"Saya pernah kok di suruh Pak Arslan mencoba masakan anda!!" Tiba-tiba kedua tangan Zulfa mengepal kuat, jakun kecilnya naik turun tak jelas.

"Kamu pernah nyoba masakan saya? Dimana?" Zulfa mulai mendengus dengan matanya yang menyipit.

"Maaf Bu jangan emosi dulu!! Waktu itu saya, Pak Arslan dan beberapa rekan lainnya pernah makan siang di kantin. Kami semua pesan makanan di kantin tapi hanya Pak Arslan saja yang bawa bekal. Bekal yang di bawa Pak Arslan pada saat itu cukup banyak. Dan kami semua di suruh mencoba masakan Bu Zulfa yang selalu di puji enak sama Pak Arslan. Karna kami semua penasaran akhirnya kami mencobanya. Dan ternyata benar masakan Bu Zulfa memang enak sekali." Puji sekretaris itu.

Seketika denyut jantung Zulfa mulai berdetak normal, karna hampir saja Zulfa mau mendobrak pintu ruangan suaminya kalau saja Arslan berani memberikan masakannya kepada wanita lain apalagi sampai menyuapinya.

"Oh begitu." Kata Zulfa dengan santai. "Kalau begitu, saya mau ke ruangan suami saya dulu."

"Baik, Ibu. Silahkan." 

Awalnya Vania berniat mengantar Zulfa ke ruangan atasannya. Namun, wanita itu menggeleng pelan sambil melambaikan tangan, memberi isyarat bahwa ia bisa pergi sendiri. Vania segera memahami maksudnya. Dengan senyum sopan, ia pun mengurungkan niatnya dan membiarkan Zulfa melangkah menuju ruang kerja Arslan.

Sejak menerima teguran keras dari HRD, Vania menghentikan seluruh aksi genitnya terhadap sang atasan. Ancaman pemutusan kontrak kerja cukup ampuh membuatnya menjaga jarak. Jika masih nekat bersikap tidak profesional, karier yang selama ini ia miliki bisa berakhir dalam sekejap.

Meski disampaikan melalui HRD, Vania tahu betul siapa yang memerintah di balik peringatan itu. Arslan. Hanya saja, pria itu terlalu menjaga etika untuk menegurnya secara langsung.

Di tengah sulitnya mencari pekerjaan dengan beban kerja yang ringan dan gaji yang menggiurkan, Vania tentu tidak sebodoh itu untuk mempertaruhkan posisinya. Ia memilih menahan diri dan fokus bekerja. Lagi pula, dunia ini tidak hanya berisi Arslan seorang. Masih banyak bos-bos tampan dan kaya raya yang masih bisa ia goda.

Zulfa mengetuk pintu pelan lalu memutar knop pintu ruangan yang memiliki dua pintu besar. Zulfa melihat suaminya sedang begitu sibuk menatap layar laptop yang menyala. Sepertinya Arslan belum sadar dengan kehadiran istrinya sehingga ia terus saja fokus memandang berkas-berkas yang tercecer di meja.

"Ehemm ... " Zulfa berdeham, memberi isyarat akan kehadirannya. Namun tetap tak ada reaksi dari Arslan. Zulfa kembali berdeham dengan intonasi yang lebih keras lagi membuat dua mata Arslan dengan dahi berkerut sontak menoleh ke arahnya. Senyum manis merekah dari bibir Arslan tatkala melihat pujaan hatinya berdiri di depan pintu dengan raut wajah yang meneduhkan. Hanya melihat wajah istrinya saja beban pekerjaan Arslan seolah hilang begitu saja.

"Kok nggak ngabarin kalau mau datang?" Tanya Arslan seraya berjalan menghampiri istrinya.

"Udah ngabarin kok, Kamunya aja yang nggak ngecek HP." Keluh Zulfa. Arslan langsung menoleh ke belakang mencari letak ponselnya berada.

"Lagi di charge ternyata." Arslan menggeret halus tangan istrinya untuk ia ajak duduk di sofa ruang tamu. Ia juga sempat melirik godie bag yang di bawa Zulfa. Arslan tau itu pasti untuk dirinya.

"Udah selesai ketemu sama Nadia? Kok sebentar banget?"

"Nadia lagi di tunggu klien-nya di persidangan. Jadi nggak bisa lama-lama."

"Yaudah, nggak usah sedih gitu dong wajahnya! Kalo mau lanjut curhat sama aku aja, sini." Arslan menawarkan jasa curhat tetapi Zulfa menolak melalui ekspresi wajahnya.

"Bedalah rasanya curhat sama suami dan sahabat."

"Kan suami itu juga teman hidup kamu, teman berbagi dalam kesedihan dan kebahagiaan juga. Masa nggak mau berbagi sama suami?"

"Masalahnya yang lagi dibahas tadi masalah rumah tangga, masa curhatnya ke kamu?"

"Oh jadi kamu tadi lagi ngomongin aku sama Nadia, ya? Hmm ... jadi nggak enak di gosipin terus." Arslan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal. Berasa menjadi lelaki paling penting.

"Ih .. apaan sih!! Kok jadi ke GR-an gitu!! Yang namanya curhat sama sahabat ya pasti yang di bahas masalah rumah tangga, kita saling sharing dan ngasih solusi gitu. Kalo curhat sama suami itu beda lagi pembahasannya." Zulfa menjelaskan panjang lebar.

"Iya ... iya istriku yang cantik." Sambil mencubit gemas kedua pipi Zulfa yang langsung mendapat respon kesakitan dari Zulfa.

"Ayo sini temenin aku makan!"

"Loh bukannya tadi kamu udah makan?"

"Kata siapa?"

"Kata sekretarismu yang paling cantik dan seksi itu." Ucap Zulfa dengan nada sinis.

"Hem ... Mulai deh bikin nafsu makanku ilang. Buatku nggak ada wanita paling cantik dan menggoda di dunia ini selain kamu. Walaupun ke tutup rapat kayak lemper gini yang penting dalamnya nikmat."

"Ihh ... Kok jadi nyamain aku kayak lemper, gitu!!" Zulfa merajuk. Ia tidak sadar kalau yang dimaksud lemper itu pakaian Zulfa yang sangat tertutup karna gamis dan jilbap lebarnya.

"Nggak gitu juga maksudnya. Lemper itu kan putih, bersih, mulus ... kayak kamu." Tiba-tiba saja imajinasi Arslan sudah berkelana ke mana-mana. Dadanya terasa hangat, sementara aliran darahnya berdesir lebih cepat dari biasanya. Bayangan wajah istrinya saat di atas ranjang seketika membangunkan libido-nya.

"Dasar mesum!! Kalau pengen ngajak begituan liat-liat tempat yaa!! Nggak usah terinspirasi dari film-film Hollywood yang ada adegan bercintanya di kantor." Gerutu Zulfa sambil memelototi suaminya. Karena sudah memahami arah pikiran Arslan, Zulfa segera menggeser kursinya sedikit menjauh. Ia tahu betul bagaimana sifat suaminya, bisa berubah sangat usil jika sedang menggoda.

Arslan justru tertawa. "Takut banget di unboxing disini. Ini kantor isinya kaca semua. Bisa-bisa dibuat nobar nanti." Mendengar itu, Zulfa ikut tertawa. Kekesalannya langsung menguap begitu saja. 

Suasana kembali hangat saat Zulfa menemani Arslan menghabiskan makan siangnya. Namun, ketenangan itu terusik ketika ponsel Arslan yang tergeletak di atas meja tiba-tiba berdering. Arslan yang sibuk dengan makanannya meminta tolong Zulfa untuk mengambil ponselnya yang tergeletak di meja. Namun saat Zulfa sudah memegang benda pipih tersebut, panggilan terhenti. Disana tertulis ada panggilan tak terjawab dari seseorang yang Zulfa kenal.

"Om Anton telfon. Mau aku telfon balik?" Zulfa memberi tawaran.

"Coba cek WA dulu, siapa tau Om Anton ngirim aku pesen." Zulfa pun langsung menuruti perintah suaminya. Ia langsung membuka password yang sudah Zulfa hafal, yaitu tanggal lahirnya.

Disana banyak sekali pesan yang belum sempet Arslan baca salah satu dia antaranya pesan dari Om Anton. Karna Arslan tadi sudah menginterupsinya jadi Zulfa langsung saja membuka pesan itu.

"Om Anton ngirim undangan digital acara grand opening restoran barunya. Kita di minta datang."

"Kapan?" Tanya Arslan sambil mengunyah makanannya.

"Nanti malam." Jawab Zulfa pelan.

Entah kenapa, perasaan Zulfa mendadak tidak nyaman. Kegelisahan yang semula samar perlahan berubah menjadi beban yang menyesakkan dada. Ia tahu apa artinya jika menghadiri acara itu. Di sana pasti akan berkumpul keluarga besar Arslan. Dan itu berarti ia juga akan bertemu mertuanya.

Seketika ingatannya melayang pada ucapan ibu mertuanya beberapa waktu lalu—ucapan yang hingga kini masih meninggalkan luka.

Menyuruh Arslan berselingkuh.

Kalimat itu kembali terngiang jelas di kepalanya.

Tanpa sadar, jemarinya mengepal di atas pangkuan. Senyum yang tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar, digantikan kegelisahan yang semakin sulit disembunyikan. Dadanya terasa sesak.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!