Di hari anniversary mereka yang ketiga tahun, Grizla ingin menaikkan jabatan suaminya dari Manager menjadi CFO dalam diam.
Tapi malam itu, ia terpaksa mengurung niatnya karena ibu dan adiknya ikut campur di hari perayaan anniversary mereka.
Dan lebih menyakitkan lagi, mertuanya itu membawa wanita asing bersama mereka yang membuat ia tidak nyaman dan membuat ia ragu harus menyerah posisi itu.
Lama kelamaan, suaminya mulai bersikap dingin, tidak ada keharmonisan ruma tangga yang ia dambakan. Akhirnya suaminya selingkuh dengan wanita tersebut yang ternyata satu kantor dengannya, alasan selingkuhnya adalah ia menginginkan seorang anak.
Plot twist-nya adalah, perusahaan itu miliknya, yang mengangkat suaminya sebagai manager adalah dirinya melalui orang Kepercayaan yang menjadi CEO sementara di perusahaan G' Jaya.
"Hari ini buka matamu lebar-lebar, siapa yang telah mengangkat derajatmu!" - Grizla
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Tepat pukul 17:02, suara deru mobil Antonio terdengar memasuki pekarangan rumah.
Grizla, yang sejak siang menahan gemuruh di dadanya, menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba menyunggingkan senyum terbaiknya, membuang semua rasa dongkol sebelum membuka pintu utama.
Antonio melangkah masuk dengan raut wajah yang tampak keruh dan lelah. Rambutnya sedikit berantakan, dan dasinya sudah dilonggarkan.
"Mas, sudah pulang," sapa Grizla lembut, langsung mendekat untuk menyambut suaminya.
Ia mengulurkan tangan, berniat mengambil alih beban di tangan sang suami. "Sini aku bawakan tasnya ke kamar. Kamu mau langsung mandi air hangat atau mau makan malam dulu? Aku sudah siapkan lauk kesukaanmu."
Bukannya sambutan hangat atau kecupan di kening yang biasa ia dapatkan, Grizla justru menerima tatapan dingin dari sang suami.
Antonio menahan tas kerjanya, menolak memberikan benda itu kepada Grizla.
"Nggak usah basa-basi, Grizla," ucap Antonio, suaranya terdengar berat dan menekan.
Ia melangkah melewati Grizla begitu saja, membuat istrinya tertegun di ambang pintu.
Grizla membalikkan badan, menatap punggung suaminya dengan dahi berkerut. "Mas? Kamu kenapa? Ada masalah di kantor?"
Antonio menghentikan langkahnya di tengah ruang tamu. Ia berbalik, menatap Grizla dengan mata yang menyipit penuh kekecewaan. "Aku tadi dapat telepon dari Ibu. Ibu menangis, Grizla. Kamu habis memarahi Ibu, ya?!"
Jantung Grizla serasa mencelos. Rasa lelahnya setelah seharian mengurus rumah seketika berubah menjadi rasa sesak di dada. "Mas, tunggu dulu. Aku tidak memarahi Ibu. Tadi itu..."
"Jangan mengelak lagi! Ibu nggak mungkin menangis kalau nggak kamu pojokkan. Kok bisa-bisanya kamu bersikap kurang ajar begitu? Dia itu orang tua, Grizla! Orang tua yang melahirkanku! Kok malah kamu marahin sih? Aku benar-benar nggak suka, ya, kamu bersikap egois dan tidak punya sopan santun begini!"
"Mas, dengarkan aku dulu! Ibu yang tiba-tiba membuka pintu kamar dan marah-marah karena belum beres-beres. Mengatakan aku cuma numpang di sini dan menghabiskan uang mu, lalu membanding-bandingkan aku dengan mantanmu. Aku hanya membela diri, Mas. Aku bicara baik-baik!" kata Grizla mencoba menahan volume suaranya agar tidak memancing keributan.
"Membela diri kamu bilang? Tapi cara kamu menyampaikan itu pasti kasar sampai Ibu merasa sakit hati!" kata Antonio berusaha tidak marah, tapi ia harus memberi pengertian pada istrinya.
"Dengar ya, mau bagaimanapun salahnya Ibuku, harusnya kamu jangan memarahinya! Beri nasihat yang lembut, atau kalau kamu tidak bisa, lebih baik kamu diam saja! Namanya juga orang tua, mereka sudah berumur, pemikirannya berbeda. Kamu yang muda harusnya mengerti dan mengalah!" katanya lagi.
Grizla tersenyum sinis. "Mengalah sampai sejauh mana, Mas? Sampai semua privasi rumah tangga kita diatur oleh Ibumu? Sampai adikmu bebas mengambil barang-barangku tanpa izin?"
"Cukup, Grizla! Jangan melebar ke mana-mana!" sentak Antonio dengan nada yang semakin tinggi, membuat ruangan itu mendadak senyap dan mencekam.
"Patokan ku cuma satu. Kamu boleh marah sama aku, kamu boleh maki-maki aku kalau aku salah. Tapi jangan pernah menyentuh Ibuku dan adikku. Mereka adalah prioritasku. Kalau kamu nggak bisa menghormati keluargaku, artinya kamu juga nggak menghormati aku sebagai suamimu!"
Grizla menatap mata suaminya nanar. "Begitu ya, jadi mereka boleh memaki ku, tapi aku tidak boleh? Terus bagaimana tentang rumah ini, apa ibu mu juga menumpang di sini atau mereka lah sebenarnya tuan rumah dan aku cuma menumpang sehingga aku harus jaga perasaan mereka di banding jaga perasaan istri mu ini?" balas Grizla meminta penjelasan.
Antonio tidak bisa menjawabnya, ia harus memutar kepala agar hal ini tidak berlarut-larut. "Grizla! Aku ini capek baru pulang kerja, dan kamu marah-marah sekarang! Sebagai istri kau harus ngerti aku dong! Nggak ada pengertian sama sekali! Aku capek-capek kerja cari uang buat kebutuhan mu, tapi kau membuatku kesal," kata Antonio membalikkan badan dengan kasar.
Tiba-tiba langkah terhenti. "Oh ya, mulai sekarang ibu dan Tina akan tinggal di sini, perlakuan mereka dengan baik, dan jangan bikin ibu menangis lagi!" kata Anton sambil melangkah menuju kamar.
Grizla berjalan di belakang Antonio. "Mas, harusnya kau minta pendapat ku dulu jika ingin membawa mu tinggal di sini, kenapa mendadak begini."
"Pendapat apa lagi? Ini kan rumah ku, mereka adalah keluargaku, memang sepantasnya mereka tinggal disini, untuk apa aku meminta pendapat mu lagi," kata Antonio tidak terlalu peduli dengan perasaan Grizla.
Grizla menatap punggung suaminya yang masuk ke dalam kamar.
"Begitu ya? Jadi Kau melakukan apa pun tanpa meminta pendapat ku, jika begitu, apa yang aku lakukan tidak perlu lagi meminta pendapat mu. Aku bebas melakukan apa pun yang aku mau tanpa perlu persetujuan mu kan," kata Grizla dengan tatapan tajam di ambang pintu menatap suaminya acuh tak acuh itu.
"Terserah, lakukan sesuka mu!" kata Antonio tanpa peduli.
"Dan satu lagi. Mulai sekarang, uang gaji pokok ku, akan ku berikan pada ibu, dia bilang dia yang akan atur semua keuangannya dan buat tabungku, kau akan ku jatah 300 ribu sebulan untuk membeli keperluan mu," kata Antonio membuka dasinya dan melemparkan di atas meja.
"Apa? 300? Yang benar saja Mas, 300 ribu sebulan dapat apa?" tanya Grizla dengan mata membulat.
"Kitakan belum punya anak, harusnya 300 ribu itu kau bersyukur lah dari pada tidak ku beri sama sekali, istri di luar sana bahkan rela banting tulang untuk bantu suaminya kerja. Lah kamu hanya duduk di rumah, beres-beres rumah doang. Nggak capek-capek amat. Lagian kamu telalu boros," kata Antonio yah langsung masuk masuk ke dalam kamar mandi.
Grizla ternganga tak percaya itu, dari gaji 20 juta beserta bonus 10-15 juta perbulan, dan ia hanya mendapat 300 ribu? Ajaib sekali?
Ia memberikan gaji dan bonus yang begitu besar agar suaminya royal padanya, tapi jika di lihat lama-lama, ini semakin mencekiknya.
Grizla mematung tersenyum getir. "Ck! Perlahan-lahan kau mulai membuang ku Mas. Kalau begitu jangan salahkan aku menjadi istri yang tidak penurut lagi," gumamnya pelan.
Di kamar depan, Tina dan Widya tersenyum mendengar pertengkaran mereka. "Heh! Dasar wanita rendahan, dia ingin melawan ku? Dia itu hanya wanita asing, toh kalau bukan menikah dengan Antonio, dia juga bukan siapa-siapa."
"Betul Bu, sok menguasai, kalau dia di cerai sama kak Antonio, dia paling balik lagi jadi gelandang," cibir Tina.
kuy.. yg banyak geh ...😭
yg banyak lagi to Les... nanggung bacanya..
tak kasih kopi nih.. biar terang kontestrasinya... 😂😂🤭
yg semangat upnya, tak kirim kopi..💪
jgn kelamaan grizla yg disiksa di rumah hantu itu..