Tujuh tahun menikah dan belum di karuniai seorang anak tak membuat cinta Yudistira pada Kamelia meluntur. cinta tanpa syarat dari Yudistira, telah melambungkan Kamelia ke atas awan hingga permintaan sang ibu mertua Kamelia, berhasil menjatuhkannya ke dasar lautan.
Bagaimana tidak, ibu mertuanya, meminta sesuatu yang tidak mungkin bisa ia kabulkan. seorang anak yang tidak mungkin bisa hadir di dalam rahimnya. namun ibu mertuanya, meminta hal itu dari wanita lain.
Dan yang ia juga tidak pernah tahu Yudistira memiliki rahasia besar di belakangnya.
akankah ia sanggup menerima rahasia terbesar Yudistira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusiana Anwar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Yudistira dan Inggrid 03
mencintai milik orang lain
.
.
.
Inggrid masih sibuk dengan tissue di tangannya, berusaha untuk menghentikan perdarahan di hidung.
leukemia akut, yang sudah dua tahun belakangan ini berperang dengan tubuhnya, membatasi seluruh aktivitas karena ia akan mudah lelah. belum lagi jika terkena benturan, akan membuat bagian tubuh yang terbentur menjadi memar. seperti cengkraman tangan Yudistira pada pergelangan tangannya. hingga saat ini memar akibat cengkraman waktu itu masih tampak berwarna merah keunguan.
ia mengusap pergelangan tangannya dengan kilasan kejadian dua jam lalu yang masih menari nari di kepalanya. ia menatap pantulan dirinya di depan cermin kecil di tangannya, menertawakan kebodohannya karena tertipu dengan pesona Yudistira.
ia menatap Yudistira berjalan kearahnya dengan seorang wanita cantik nan anggun yang merangkul lengan kiri Yudistira.
"ini istriku Kamelia," ucap Yudistira saat mereka bertemu di sebuah acara peresmian kantor cabang.
apa?! istri? ia tidak salah dengarkan.
Inggrid menatap Yudistira dengan tatapan yang sulit di artikan. namun Yudistira membalas tatapannya dengan senyum lembut.
"ini Inggrid, sekertaris pribadi ku," ucap Yudistira mengenalkan Inggrid pada kamelia. mata Inggrid makin tajam menatap Yudistira.
"jadi itu alasan kenapa kamu begitu sulit memberi status pada hubungan kita,"
Inggrid tersenyum sinis, kemudian menyeruput minuman di tangannya.
saat itu Yudistira dan Inggrid berdiri di balik sebuah meja yang terletak paling ujung, sehingga meminimalisir dari pandangan dan pendengaran orang lain hanya ada beberapa orang yang lalu lalang di sekitar meja tersebut. Yudistira mengambil salah satu gelas berisi minuman di atas meja itu kemudian meminumnya.
"maafkan aku,"
hanya kata itu yang keluar dari mulut Yudistira. ia menunduk tak berani menatap wajah Inggrid.
"bodoh! aku benar benar bodoh kerena telah tertipu olehmu,"
setelah semua pengorbanan, kenyamanan dan cinta. tak akan mudah bagi Inggrid untuk menghapus nama Yudistira di dalam hatinya. yang bisa ia lakukan saat ini adalah tersenyum untuk menyembunyikan luka hati.
"yang aku lakukan padamu itu tulus," sahut Yudistira sambil menunduk.
Inggrid mendengus mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"jadi," Inggrid menjeda kalimatnya, "apa ini bisa di sebut sebagai penghianatan?"
Yudistira menatapnya tajam.
Inggrid meletakkan gelas di tangannya ke atas meja. kemudian menatap Yudistira dengan tatapan mata tak kalah tajam.
"oh, salah! perselingkuhan."
Inggrid tertawa mengejek.
"Inggrid!" seru Yudistira membentak. mulutnya sudah terbuka dan ingin mengatakan sesuatu namun ia urungkan, kerena mendengar suara orang memanggilnya.
"mas, kamu di sini? aku cariin dari tadi,"
Inggrid dan Yudistira menoleh kearah sumber suara secara bersamaan.
tiba-tiba Kamelia muncul, membuat wajah Yudistira seketika berubah menjadi pucat. ia takut jika Kamelia mendengar obrolannya dengan Inggrid.
"dari tadi?" tanya Yudistira pada Kamelia, ia was was jika Kamelia mendengar obrolannya dengan Inggrid.
"enggak, baru saja," Kamelia menggeleng sambil tersenyum kemudian mendekat pada Yudistira.
Yudistira bernafas lega, sepertinya Kamelia memang baru saja datang dan bisa di pastikan tidak akan mendengar obrolannya dengan Inggrid.
" kalau begitu saya permisi dulu, mari Bu,"
Inggrid mengangguk hormat pada Kamelia, kemudian berjalan meninggalkan mereka.
ia bisa menahan rasa sakit yang dideritanya, tapi tidak dengan rasa sakit hati yang di alaminya. bagai terlempar dari ketinggian, hatinya hancur berkeping keping.
siapa yang sebenarnya di hianati di sini?
Inggrid masih menatap pantulan wajah di depan cermin. perdarahan di hidungnya mulai berhenti, namun wajahnya semakin pucat dan tubuhnya terasa semakin lemas. ia menjatuhkan cermin kecil yang sejak tadi ia pegang kemudian menyandarkan punggung kebelakang.
ia memejamkan mata karena merasa sangat lemas. kini pandanganya mulai kabur, hanya nampak satu titik putih kecil yang tidak begitu jelas oleh pandangan matanya. seketika itu telinganya terasa berdengung sebelum akhirnya ia benar benar tak sadarkan diri.
"Inggrid!"
Vika terkejut saat ia membuka pintu kamar mendapati Inggrid yang tengah bersandar di dinding dengan memejamkan mata. ia berlari mendekati Inggrid, kemudian membaringkannya di atas kasur.
dengan sigap Vika mengeluarkan stetoskop di dalam tasnya dan segera memeriksa keadaan Inggrid juga memeriksa denyut nadinya. setelah beberapa menit akhirnya Inggrid sadar, Vika bisa bernafas lega.
"Inggrid, kamu gak papa?"
Inggrid menjawab dengan gelengan kepala lemah.
"masih pusing?" tanya Vika, saat Inggrid membuka matanya.
Inggrid mengangguk sambil memegang pelipisnya.
"minum dulu obatnya," Vika mengulurkan beberapa butir obat dan segelas air putih untuk di minum Inggrid.
setelah membantu Inggrid minum obat, Vika membaringkan tubuh Inggrid kemudian menyelimutinya sampai sebatas dada.
...****************...
"ada masalah sama Yudis,"
saat ini Inggrid dan Vika tengah menghabiskan sarapan mereka.
setelah meminum obatnya tadi malam Inggrid tertidur hingga pagi. badannya pun sudah Segar kembali. seperti itulah keadaan Inggrid selama dua tahun belakangan ini. ia akan sering mimisan dan juga mudah lelah.
sumsum tulangnya tidak lagi dapat menghasilkan sel sel darah untuk memasok ke tubuhnya. karena itu tubuhnya akan mudah memar dan berdarah.
"enggak," jawab Inggrid sambil menyendok kan makanan kedalam mulut.
"jangan bohong, kemarin malam Yudis datang kesini,"
Inggrid menghentikan sendok yang sudah berada di depan mulutnya sebentar, sebelum memakannya.
"kalian putus?" lanjut Vika dengan menatap Inggrid.
"bahkan kami belum jadian,"
Inggrid tersenyum sinis.
"maksudnya?"
tanya Vika masih dengan menatapnya.
"aku benar-benar bodoh! bagaimana bisa mencintai yang sudah menjadi milik orang lain,"
"apa maksudmu," sahut Vika semakin menatap Inggrid intens
"aku baru mengerti alasan nya kenapa dia begitu sulit memberi status untuk hubungan kami. bodohnya aku sama sekali tidak tahu,"
"jadi maksud kamu ...." Vika menghentikan ucapannya.
Inggrid mengangguk.
"sialan!" ucap Vika memaki.
" jadi, apa istrinya sudah tahu?" lanjut Vika, Inggrid menggeleng.
"lalu apa rencana mu selanjutnya,"
Inggrid tersenyum, "apa yang bisa aku lakukan, selain pergi darinya,"
kehilangan terburuk yang pernah ia alami adalah hadiah terbesar yang pernah ia miliki.
mencintai milik orang? apa itu mungkin?
namun ia tak dapat dengan mudah menghapus kenangan indah yang pernah terukir di hatinya. ia tetaplah wanita, sangat tidak mungkin untuknya merebut yang sudah menjadi milik orang untuk ia miliki. ia masih punya hati untuk melakukan itu semua. ia berjanji pada dirinya sendiri akan melepaskan bahkan yang belum ia miliki sepenuhnya.
Inggrid langsung kembali kekantor setelah menemani Yudistira meeting di luar. selama meeting berlangsung ia berusaha bersikap profesional, menepis rasa sakit hati yang masih terasa perih di hatinya. jujur saat ini ia sama sekali tak ingin melihat wajah Yudistira.
ia memutar kenop pintu ruangannya dengan lesu kemudian duduk di kursinya sambil memijat kedua pelipisnya.
hatinya sudah mulai terasa tenang dan siap untuk kembali bekerja. ia menyalakan kembali komputer di atas mejanya. Namum, ia harus menghentikannya saat mendengar suara ketukan pintu.
"masuk," jawabnya dari dalam ruangan.
"ibu Milea,"
seketika ia langsung berdiri dari duduknya ketika melihat Kamelia di balik pintu.
apa Kamelia mengetahui hubungannya dengan Yudistira?