NovelToon NovelToon
Cinta Untuk Hira Arinta

Cinta Untuk Hira Arinta

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahmuda / Duda / Militer / Tamat
Popularitas:241k
Nilai: 5
Nama Author: NatiaGeni

Hira Arinta perempuan memiliki banyak talenta yang diwarisi oleh ayahnya. Hidup Hira selalu di bawah kendali orang tuanya, keinginan terbesar orang tuanya yaitu menjadi dokter bedah. Namun, Hira mematahkan harapan keduanya dengan mengambil jurusan desain komunikasi visual.


Tidak ada cinta dan kasih sayang yang Hira dapatkan sejak kedua orang tuanya mengusir dari rumah dimana tempat selalu mendapatkan cinta.


"Aku membenci kata cinta yang meruntuhkan cita-cita ku."


Bintang Aditya Prawira pria berprofesi sebagai tentara berpangkat Kolonel, berstatus duda. Memiliki putri cantik bernama Kihana, Adit harus menjadi sosok ayah sekaligus ibu untuk Kihana. Cintanya tidak bisa terukur untuk sang putri, kehilangan sosok ibu tidak akan kehilangan juga sosok ayah, baginya Kihana prioritas utama.


Tuhan berkehendak lain, Adit dipertemukan dengan sosok Hira Arinta yang penuh misterius.


"Aku akan menumbuhkan dan memberikan cinta yang pernah hilang dalam hidupmu." Bintang Aditya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NatiaGeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saya mencintai Arinta

Mata Aditya tidak mau tertutup banyak hal yang menganggu pikirannya, Apalagi Hira saat ini tidak memakai apapun di tubuhnya.

Pria tertidur hanya lima jam, sekarang menunjukkan pukul empat pagi. Aditya menatap lama wajah Hira yang tidur dengan tenang, punggung tangannya kembali mendarat di dahi Hira untuk memeriksa suhu tubuh perempuan itu.

"Bapak.... jangan kurung aku...aku janji ga nakal lagi." Suara serak Hira mengejutkan Aditya yang sedang memandang istrinya.

Keringat dingin bercucuran keluar dari dahi Hira, kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan. Dia seperti mengalami mimpi buruk setelah kejadian sore kemaren.

Aditya mengusap lembut punggung polos Hira untuk menenangkan perempuan itu, dengan hati-hati Aditya memberikan sentuhan agar luka di punggung Hira tidak tersentuh.

Aditya bangkit dari tidurnya, mencari baju yang dilepaskan saat tidur tadi. Suhu tubuh Hira sudah turun hanya saja luka lebam di tubuh perempuan itu mulai membiru.

Aditya masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka setelah melihat Hira kembali tenang, Pria itu mengambil air dingin untuk mengompres luka Hira, Aditya menunggu Hira untuk bangun sambil memeriksa email yang di kirim oleh bawahannya.

Hampir pukul lima Aditya menyibukkan diri dengan memeriksakan dokumen prajurit yang akan berangkat latihan gabungan di laut Natuna.

Mata Hira terbuka melihat kondisi di sekitarnya, Aditya duduk memandangi Hira. Aditya memakai kembali baju kaos hitam miliknya dengan celana parasut di atas lutut.

"Ada yang terasa? kamu butuh sesuatu?"

Hira melihat di balik selimut ternyata dia tidak memakai apapun, tidak mungkin dia telah melakukan hubungan suami istri. pusat tubuhnya tidak merasakan kejanggalan, tidak ada bercak darah yang tertinggal di daerah bagian pusat tubuhnya.

"Abang Aditya yang buka baju aku?" Hira tidak menjawab pertanyaan Aditya, dia ingin memastikan bukan orang lain yang membukanya.

"Iya...sudah kewajiban saya sebagai suami kamu untuk memberikan kenyamanannya." Aditya mendekati tempat tidur, melihat kondisi tubuh istrinya.

"Terima kasih selalu ada untuk aku....Aku sering melakukan hal bodoh tanpa memikirkan akibatnya." Hira menunduk mengingat kejadian sore kemaren.

"Arinta...izinkan saya melakukan tugas sebagai suami kamu...saya minta maaf jika kamu merasa sungkan....luka kamu harus diobati." Aditya mengerakkan tangannya menghitung tanda lebam di bagian dada Hira.

Hira membuka selimut yang menutupi sebagai tubuh polosnya, kenapa harus malu dia sudah memiliki suami dan itu halal apapun dilakukan keduanya.

"Jangan di tahan...jika sakit kamu katakan saja." Aditya mengambil kain kompres yang sudah disiapkan tadi.

"Pelan-pelan." Hira merasakan suhu air yang sangat ingin langsung menyentuh tubuhnya.

Aditya dengan telaten mengurus Hira, pertama pria itu mengompres pada bagian tulang selangka Hira selanjutnya turun pada bagian pay-udara. "Besar juga punya kamu." Komentar Aditya melihat benda yang tersembunyi milik Hira.

"Emang kenapa? mau nyu-su..aku kan ga ada ASI." Hira jangan di pancing dong Om Aditya.

"Ga....ga saya cuma kagum dengan bentuk buah pepaya kamu....nanti kalau punya anak pasti puas minum susu ibunya." Dengan terbata-bata Aditya menjawab ucapan Hira.

Tangan Aditya turun ke arah perut Hira, bekas cubitan yang membengkak sudah hilang tapi memarnya menjadi mengelap.

"Abang Adit...bagian itu sakit jangan di tekan." Ringis Hira merasakan bekas cubitan Johan.

"Arinta boleh saya bertanya....sejak kapan kamu merasakan penyik-saan yang dilakukan bapak kamu itu."

"Sejak aku berumur lima tahun...entah kenapa Bapak tidak menyukai aku.... Sanak saudara dari pihak bapak juga tidak menyukai aku...jika ada acara Bapak tidak mengikutsertakan aku....dia selalu membanggakan kakak Arvind...dia benar anaknya cuma Arvind Johana Siregar." Hira membuang muka karena Aditya menatap dengan intens.

"Sekarang jangan merasa sendiri...saya dan Kihana membutuhkan kamu... peristiwa kemaren terakhir saya melihatnya...saya sudah berjanji kepada kamu untuk membahagiakan kamu." Ucap Aditya, ibu jari dan jari telunjuknya memaksa Hira untuk menatapnya.

"I love you Nyonya Hira Aditya Prawira." Aditya mencium bibir Hira dengan penuh perasaan, tidak ada ciuman yang menuntut dan kasar. Aditya sedikit me-***** bibir Hira, memberikan rang-sangan agar membalas ciumannya.

"Now...I need you...My husband." Hira membalas pungutan Aditya, keduanya larut menikmati bibir masing-masing.

Dalam hati Aditya bersorak gembira karena Hira ikut membalas ciumannya, biasanya dirinya lebih Pro dibandingkan dengan Hira.

"Jangan tinggalkan aku.... Bintang Aditya Prawira.... duniaku hanya kamu dan Kihana...kalian berdua poros hidup aku." Deru tangis Hira dalam pungutan bibir keduanya, dia merasa terlindungi memiliki Aditya berada di sisinya.

"Saya mencintai kamu....saya tulus ingin hidup bersama kamu hingga akhir hayat nantinya....Hati saya hancur Arin...melihat kamu menangis." Air mata Aditya tumpah, mereka tidak ingin melepaskan pungutan bibir, suara ciuman dan tangisan keduanya ketika menumpahkan perasaan masing-masing.

"Abang...badan aku kedinginan." Hira melepaskan ciuman terlebih dahulu, sejak bangun tadi tubuhnya sudah merasakan kedinginan.

"Kamu bisa pakai baju sendiri atau mau di bantu?" Aditya menghapus jejak Saliva di bibir tipis Hira.

"Tangan aku masih sakit...tolong ya Abang." Hira lebih terbuka, dia tidak menolak bantuan Aditya seperti biasanya.

Aditya mengambil koper Hira, istrinya hanya sedikit membawa baju tidak lebih dari lima pasang. Di dalam koper ini lebih banyak peralatan melukis milik Hira.

"Kamu suka warna apa?" Aditya mencari sesuatu yang akan di pakai Hira.

"Merah terang...hitam gelap...kenapa emang? Ga ada baju aku yang warna itu ya." Tebak Hira melihat Aditya yang terlalu lama berjongkok di depan kopernya.

Aditya mengambil pakaian sesuai dengan warna favorit Hira, membawanya menuju ke arah Hira yang menanti sejak tadi.

"Di sini tertera...36 cub B...dan yang ini ukurannya Large." Aditya memperlihatkan benda yang ditemukannya di dalam koper Hira.

"Abang... kepada di pengang terus ih...ayo tolongin pasang kan." Hira yang tidak bisa bergerak hanya pasrah melihat Aditya memperlihatkan Bra merah menyala dan CD berenda hitam gelap milik Hira.

"Kenapa muka kamu merah gitu.... Kamu malu ya...karena saya sudah melihat aset berharga kamu." Aditya mengambil baju kaus miliknya untuk di pakai Hira.

"Apa alasan aku malu....aku punya suami...udah hak suami melihat semua yang ada di tubuh istrinya...Aku cuma merasa kedinginan sejak tadi." Ucap Hira ketus, sebenarnya tebakan Aditya benar, dia sangat malu di pandang pada bagian tertentu oleh Aditya.

"Yang mana dulu...bagian atas atau bawah." Aditya mengakhiri perdebatan dia dengan Hira, pasti akan selalu dimenangi oleh Hira.

"Bagian bawah dulu.... punggung aku sakit...gimana mau pake Bra?" Keluh Hira karena masih merasakan perih di antara pengait bra itu.

Aditya menuruti kemauan Hira, dia lebih dulu memasang pada bagian bawah lalu berlanjut langsung memakaikan baju kaos hitam.

"Setelah ini saya belikan salap agar lukanya cepat kering... saya mau sholat dulu...kamu tayamun saja...kita sholat subuh berjamaah." Aditya mengambil mukena yang diberikannya saat menikahi Hira.

Pria itu dengan sabar memasangkan mukena untuk Hira, lalu beranjak pergi ke kamar mandi untuk mengambil Wudhu.

1
Muliati Muliati
Kecewa
Muliati Muliati
Buruk
Ersa
novelnya keren
Nirwana Wulandari
Kecewa
Maya Puspita
Alhamdulillah,bangus banget Thor ceritanya,ditunggu karya selanjutnya
Maya Puspita
suka Thor ceritanya
🍀 chichi illa 🍒
amiin semoga cpt unboxing ya papa Adit sama bunda hira
🍀 chichi illa 🍒
bang Adit selalu jaga Hira nya
🍀 chichi illa 🍒
kejam nya
BPK nya
🍀 chichi illa 🍒
wah wah wah ... jeng jeng jeng
🍀 chichi illa 🍒
Andro sama Avin satu server ...🤣🤣🤣
🍀 chichi illa 🍒
kado dari sakura out of the box ... 🤣🤣
🍀 chichi illa 🍒
bang Adit mental nya harus sekuat baja
🍀 chichi illa 🍒
bapak nya keterlaluan ...😔😔😔
🍀 chichi illa 🍒
aku Lo malah seneng panggilan Abang ....🥰🥰
🍀 chichi illa 🍒
netes air mata ku ... tertekan banget si hira
🍀 chichi illa 🍒
semangat kihana ...dekatkan papa mu dan arinta
🍀 chichi illa 🍒
ayo kakak2 di komen karya ini ... bagus Lo karya nya ... semangat berkarya kkak
🍀 chichi illa 🍒
bagus karya kakak ... seneng sama karakter Hira mandiri
🍀 chichi illa 🍒
semangat kakak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!