NovelToon NovelToon
Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: the anonym

Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Labirin Terbalik dan Pertemuan Dua Takdir

Pintu gerbang menuju Lantai 50 terbuat dari batu obsidian raksasa yang diukir dengan relief monster-monster purba. Namun, malam ini, gerbang itu tidak ada artinya di hadapan kekuatan aliansi Orario.

​Dengan satu ayunan kapaknya yang dilapisi sihir angin, Gareth Landrock menghancurkan engsel gerbang tersebut. Finn melesat masuk pertama kali, diikuti oleh Aiz, Ottar, dan Tsubaki.

​Namun, alih-alih menemukan hamparan gurun kristal seperti yang tercatat di peta Guild, langkah kaki Finn tidak berpijak pada apa pun.

​"Kapten, awas!" teriak Riveria.

​Finn tersentak. Di depannya bukanlah daratan, melainkan jurang hampa udara yang di penuhi oleh pulau-pulau batu raksasa yang melayang bebas. Tidak ada langit, tidak ada dasar. Beberapa pulau ditutupi oleh kristal ungu yang menyala redup, sementara air terjun dari lantai atas mengalir... ke atas.

​Gravitasi di tempat itu telah hancur sepenuhnya.

​Gareth yang baru saja melangkah masuk tiba-tiba terlempar ke arah langit-langit karena perubahan tarikan gravitasi yang drastis. "Uwoaaah! Apa-apaan ini?!"

​"Gareth!" Tsubaki melompat maju. Stigmata palu di lengannya bersinar emas. Ia menghantamkan palu amber-nya ke lantai pijakan mereka. "Aegis of Preservation!"

​Sebuah kubah cahaya emas berbentuk heksagonal meluas, menciptakan medan gravitasi buatan yang mengikat pasukan aliansi agar tidak terlempar ke segala arah. Ottar menancapkan pedang besarnya ke batu untuk menahan tubuhnya, sementara Hestia memeluk erat Haruhime yang mulai pucat karena rasa mual.

​"Ini bukan labirin lagi," desis Freya, matanya memindai ruang dimensi yang terdistorsi itu. "Seseorang telah merobek hukum ruang dan waktu di lantai ini. Ini adalah jebakan."

​"Pertahankan formasi di dalam kubah Tsubaki!" perintah Finn, matanya yang memancarkan pendar cyan menajam. Insting pemburunya menyapu seluruh pulau melayang di sekeliling mereka. "Kita tidak sendirian di sini."

​Tepat saat Finn mengucapkan itu, sebuah suara dentingan logam bergema dari arah pulau batu yang melayang secara vertikal—sembilan puluh derajat dari posisi pijakan aliansi Orario.

​Semua kepala menoleh.

​Di atas pulau yang posisinya miring itu, sebuah pusaran portal cahaya kebiruan terbuka. Tiga sosok melangkah keluar dari sana, berdiri dengan santai seolah gravitasi miring itu adalah hal yang paling normal di dunia.

​Gadis berambut merah muda memegang busur es. Pemuda berambut hitam membawa tombak naga. Dan di tengah mereka... seorang pemuda berambut abu-abu yang memanggul sebuah tongkat bisbol berkarat di pundaknya.

​Di mata orang awam, ketiganya tampak seperti petualang biasa yang kebingungan. Namun, bagi para Dewa yang hadir, pemandangan itu adalah teror murni.

​Freya berdiri kaku. Mata ungunya membelalak, menembus kulit dan daging pemuda berambut abu-abu itu. Di dalam rongga dadanya, Freya tidak melihat jantung yang berdetak. Ia melihat sebuah bintang emas yang berdenyut dengan energi kehancuran yang tak terbatas. Sebuah tumor kosmis.

​"Loki..." bisik Freya, suaranya nyaris hilang. Sang Dewi Kecantikan mengangkat tangannya yang gemetar, menunjuk ke arah pemuda itu. "Itu dia. Itu wadahnya. Kanker Semua Dunia itu ada di dalam dadanya."

​Loki terkesiap. Wajahnya seketika kehilangan warna. Ia teringat peringatan Lan dan Nanook di alam mimpinya. Benda yang bisa meluluhlantakkan Orario kini berdiri hanya beberapa ratus meter dari mereka.

​"Hancurkan dia..." gumam Loki, sebelum suaranya pecah menjadi teriakan histeris. "BUNUH ANAK ITU! JANGAN BIARKAN DIA KELUAR DARI LABIRIN INI!"

​Di seberang sana, March 7th memiringkan kepalanya, menatap gerombolan orang bersenjata lengkap yang berada di pulau seberang.

​"Hei, Dan Heng, lihat! Ada orang lain di sini!" seru March sambil melambaikan tangan dengan ceria. "Tunggu, kenapa mereka melihat kita seperti ingin memakan kita hidup-hidup? Dan kenapa Dewi berambut merah itu berteriak menyuruh membunuh kita?!"

​Mata Dan Heng menyipit. Aura naga air di sekeliling tombaknya berdesir agresif. "Mereka bukan teman, March. Bersiaplah."

​Sang Trailblazer menurunkan tongkat bisbolnya, matanya menatap tajam ke arah aliansi. Entah kenapa, dadanya berdenyut menyakitkan. Bintang emas di dalam tubuhnya bereaksi liar saat berhadapan dengan energi yang dipancarkan oleh dua orang di barisan depan musuh: kapten Pallum berambut pirang dan gadis pedang bermata emas.

​Di pulau aliansi, Finn Deimne tidak membuang waktu satu detik pun.

​Target telah dikunci. Insting The Hunt mengambil alih akal sehatnya. Ia tidak lagi melihat seorang pemuda yang kebingungan; ia melihat mangsa kosmis yang harus dimusnahkan demi keselamatan kotanya.

​"Maafkan aku, bocah," bisik Finn dingin.

​Ia menarik lengan kanannya. Sihir Tir na Nog meledak, bercampur dengan energi bintang panah cyan. Sebuah panah cahaya seukuran batang pohon terbentuk di udara, membidik tepat ke arah jantung sang Trailblazer.

​WUSSS!

​Panah kosmis itu melesat membelah ruang hampa, menghancurkan pulau-pulau kecil di jalurnya. Kecepatannya melampaui suara, membawa niat membunuh yang absolut.

​"Awas!" teriak March, mencoba menarik busurnya, namun panah itu terlalu cepat.

​Trailblazer itu melebarkan matanya, namun tubuhnya membeku. Tekanan dari The Hunt mengunci ruang geraknya.

​Namun, sebelum panah itu sempat menyentuh sehelai rambut pun dari sang pemuda abu-abu, sebuah pusaran air dan daun teratai hijau meledak di depannya.

​TRANGGG!

​Dan Heng berdiri di depan Trailblazer. Ia memutar Cloud-Piercer dengan kecepatan gila, menangkis ujung panah kosmis itu menggunakan gagang tombaknya. Gelombang kejut dari benturan dua senjata tingkat tinggi itu meretakkan pulau pijakan mereka.

​Tombak Dan Heng melengkung ekstrem, urat-urat di tangannya menonjol, namun ia menolak bergeser satu sentimeter pun. Dengan satu auman naga yang memekakkan telinga, Dan Heng membelokkan panah Finn ke atas, membiarkannya meledak di langit-langit labirin dan menghujani mereka dengan batu.

​"March, lindungi dia!" desis Dan Heng, matanya berkilat menatap Finn. "Mereka mengincar wadah ini!"

​Di seberang sana, Finn mendecakkan lidah. "Pertahanannya kuat. Ottar, Tsubaki! Kita serbu bersama!"

​Namun, sebelum pasukan aliansi bisa bergerak maju melewati jembatan bebatuan melayang, suhu udara mendadak mendidih. Batu pijakan mereka mulai meleleh menjadi lautan magma.

​"Aiz! Apa yang kau lakukan?!" jerit Riveria panik.

​Aiz Wallenstein tidak mendengarnya. Gadis itu melangkah maju, melewati batas kubah Preservation Tsubaki. Rambut emasnya berkibar liar ditiup angin panas. Urat-urat di leher dan lengannya menyala terang dengan warna magma The Destruction.

​Mata Aiz terkunci pada Trailblazer. Di dalam jiwanya, Nanook berbisik. Hancurkan serpihan itu. Buktikan siapa pembakar yang lebih unggul.

​"Aku..." Aiz mengangkat pedang Desperate yang kini dilapisi api hitam-keemasan, "...akan membakar kalian semua menjadi abu."

​Di seberang, sang Trailblazer merasakan resonansi yang gila. Tongkat bisbol fana di tangannya merespons kemarahan Aiz. Api keemasan yang sama persis meledak menyelimuti tubuhnya, membuat rambut abu-abunya menari di udara. Nalurinya mengambil alih. Ia tidak tahu siapa gadis itu, tapi jiwanya berteriak bahwa ini adalah pertarungan yang tidak bisa dihindari.

​"Kalau kalian mau bertarung..." Trailblazer memutar tongkatnya, berjongkok mengambil ancang-ancang melompat, matanya menyala dengan api yang tak kalah buas. "...aku ladeni!"

​Di Atas Bongkahan Pulau Tertinggi Lantai 50

​Aku duduk bersila di tepi tebing yang melayang di atas arena pertempuran, memangku perkamenku. Tinta hitam di ujung penaku menetes, sementara mataku merekam pemandangan epik di bawah sana.

​Cahaya cyan panah Finn, aura naga hijau Dan Heng, es abadi March, pelindung amber Tsubaki, dan benturan dua api magma kehancuran dari Aiz dan sang Trailblazer. Warna-warni ledakan itu mewarnai ruang hampa Lantai 50 seperti kembang api kosmis.

​Silver Wolf mengunyah permen karetnya dengan bosan sambil memutar-mutar layar peretasannya. "Wah, aggro mereka langsung maksimal. Kau benar-benar pandai membuat keributan, Penulis."

​Kafka tertawa pelan. Ia berdiri di sampingku, payung ungunya bersandar di bahu. Matanya menatap kekacauan di bawah sana layaknya sedang menonton pertunjukan opera.

​"Biarkan mereka saling menguras tenaga," bisik Kafka, suaranya mengalun seperti melodi mematikan. "Tulis babak selanjutnya, Anonym. Saat kedua belah pihak berada di batas kelelahan mereka, saat The Hunt dan The Destruction saling menemui jalan buntu..."

​Aku menatap Kafka, lalu tersenyum tipis. Penaku kembali menyentuh kertas.

​"Aku mengerti," kataku, mulai merangkai kalimat baru. "Itu adalah saat di mana sang Peretas dan sang Pemburu turun gelanggang... dan mencuri hadiah utamanya."

1
l.."..l
aku suka novel ini, makin lama ceritanya menarik
Ero-Sensei
oke ini semakin menarik
Ero-Sensei
buseng dah repot amat MC skizo padahal tinggal bilang cuma fiksi dan ngapain juga perlu ngumpet.
Ero-Sensei
repot amat, tinggal bilang aja ini cuma karya fiksi. lagian kisah argonot aja cuma karya fiksi khayalannya argonot yang pengen jadi pahlawan. aslinya mah bocah cupu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!