Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.
Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.
Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.
Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.
Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.
Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Penculikan
Sejak hubungan Erika dan keluarga Argas hancur, semuanya memang terlihat tenang di permukaan.
Pagi itu langit Jakarta terlihat mendung. Udara terasa gerah dan aneh, seolah ada sesuatu buruk yang akan terjadi.
Di sisi lain, Erika duduk di sebuah café dengan wajah dingin sambil memainkan gelas kopinya perlahan dengan tatapannya yang kosong, namun pikirannya penuh amarah. Sejak Bagaskara memutus kerja sama, sejak Arvano benar-benar menjauh dan sejak keluarganya mulai dipermalukan.
Semuanya terasa hancur, di dalam semua kekacauan itu, Ada satu nama yang terus muncul di kepalanya, yaitu Aurel urel.
Erika mengepalkan tangannya pelan. “Kalau dia enggak ada…” gumamnya lirih. “Arvano pasti enggak akan ninggalin aku.” Tatapan Erika berubah gelap, sangat gelap.
Setelah itu Erika mengangkat ponselnya. Menelpon seseorang. “Awasi dia.” Suara Erika terdengar dingin. “Kalau dia keluar rumah, sendirian,” Berhenti sebentar. “…bawa dia.”
Sementara itu di rumah keluarga Argas. Aurel sedang membantu Feni membereskan dapur seperti biasa.
Hari itu rumah cukup sepi. Bagaskara dan Arvano masih di kantor. Indah sedang sibuk di ruang kerja pribadinya. Sedangkan Feni sedang mencuci sayur di dapur belakang. Aurel mengelap meja sambil sesekali tersenyum kecil sendiri, karena sebenarnya Ia cukup bahagia akhir-akhir ini.
Meski hubungannya dengan Arvano masih rahasia, namun semuanya terasa lebih ringan sejak Erika tidak lagi berada di rumah mereka.
Aurel ingin bertemu Tara, sudah cukup lama mereka tidak mengobrol santai.
Setelah selesai membereskan ruang makan, Aurel akhirnya memberanikan diri menuju ruang kerja Indah.
Tok tok tok.
“Masuk.” Titah Indah.
Aurel membuka pintu perlahan. “Bu…”
Indah langsung menoleh dari laptopnya. “Iya?”
“Itu… saya mau izin keluar sebentar.”
“Mau ke mana?” Tanya Indah.
“Ketemu temannya saya, Tara.”
Indah langsung mengangguk pelan, kemudian Indah tersenyum kecil. “Ya sudah, tapi jangan pulang terlalu malam.”
“Iya Bu.” Aurel langsung tersenyum lega. “Makasih Bu.”
Namun tanpa Aurel sadari, Sejak ia keluar gerbang rumah. Sebuah motor hitam mulai mengikutinya dari kejauhan.
Aurel naik taksi online menuju kerumah Tara. Sepanjang perjalanan, Ia terus melihat keluar jendela dengan perasaan ringan.
Jakarta siang itu cukup ramai. Klakson kendaraan terdengar bersahutan. Orang-orang berlalu lalang memenuhi trotoar.
Namun entah kenapa, hari ini hati Aurel terasa sangat bahagia. Karena untuk pertama kalinya, Ia ingin menceritakan semuanya pada seseorang. Tentang Arvano, tentang hubungan mereka dan tentang semua hal yang selama ini ia simpan sendiri. Orang pertama yang ingin ia ceritakan tentu saja Tara.
Tak lama kemudian, Aurel sampai di rumah sederhananya milik Tara.
Begitu pintu dibuka, Tara langsung memeluk Aurel dengan heboh. “YA AMPUN KANGEN!”
Aurel tertawa kecil. “Aku juga.”
Mereka akhirnya masuk sambil terus mengobrol tanpa henti. Rumah yang sederhana ini langsung terasa ramai oleh suara mereka.
Tara membawa minuman dingin lalu duduk di sofa dekat Aurel. “Cepat cerita.” Titah Tara.
“Cerita apa?” Tanya Aurel.
“Semua!” Sahut Tara.
Aurel langsung tertawa malu, wajahnya Aurel mulai memerah sendiri.
Tara langsung menyipit curiga. “Nah loh…”
“Apa sihh…”
“Kamu punya pacar ya?!” Tanya Tara.
Aurel langsung salah tingkah.
Tara membulatkan mata. “BENERAN?!”
Aurel akhirnya menutup wajahnya yang malu. “Iya…”
“SIAPA?!” Tanya Tara yang penasaran.
Aurel akhirnya mengaku pelan. “Majikanku.”
Tara langsung berdiri kaget. “HAH?!”
Aurel buru-buru menarik tangan Tara.“Pelan-pelan!”
“Gimana ceritanya?!” Tanya Tara yang bingung.
Aurel mulai menceritakan semuanya. Tentang pertama kali bertemu Arvano, tentang jatuh berkali-kali, tentang rumah sakit, tentang pengakuan cinta di taman malam itu, tentang bioskop rahasia mereka dan tentang semua perhatian kecil Arvano.
Semakin Aurel bercerita, semakin Tara melongo tidak percaya. “Ini kayak film drama Korea!”
Aurel langsung tertawa malu. “Aku juga enggak nyangka.”
Tara memegang tangan sahabatnya pelan. “Tapi kamu bahagia?” Pertanyaan Tara membuat Aurel diam sebentar.
Aurel tersenyum kecil. “Iya.” Senyum itu, benar-benar menunjukkan kebahagiaan tulus.
Aurel tidak pernah membayangkan akan dicintai seseorang seperti Arvano. Karena bagi Aurel, dirinya hanyalah gadis biasa dari desa kecil. Tidak punya pendidikan tinggi, tidak kaya, dan hanya bekerja sebagai pembantu.
Namun Arvano melihatnya berbeda. Bukan karena status dan bukan karena penampilan, melainkan karena dirinya sendiri. Dan itu membuat Aurel perlahan mulai percayainya, bahwa mungkin Aurel memang pantas dicintai.
Tak terasa hari mulai sore. Langit perlahan berubah jingga.
Aurel akhirnya berdiri sambil merapikan tas kecilnya. “Aku mau pulang.”
Tara langsung manyun. “Cepat banget.”
“Nanti dimarahin Bu Indah kalau malam.”
Tara akhirnya mengangguk.
Namun sebelum Aurel pergi, Tara sempat berkata, “Hati-hati ya.”
Aurel tersenyum kecil. “Iya.”
Mereka akhirnya berpamitan. Tepat saat Tara masuk ke dalam rumahnya, Aurel berjalan sendirian menuju jalan depan.
Suasana sore mulai sedikit sepi. Angin bertiup pelan. Beberapa kendaraan lewat sesekali. Namun beberapa meter dari sana. Sebuah mobil hitam sudah berhenti diam sejak tadi yang menunggu.
Aurel sedang membuka ponselnya untuk memesan kendaraan pulang. Namun tiba-tiba...
BRAK!
Seseorang menarik tubuhnya dari belakang.
Aurel langsung kaget. “Hah?!”
Belum sempat berteriak, sebuah kain langsung menutup mulut dan hidungnya. Aroma menyengat menusuk penciumannya.
Aurel langsung memberontak panik. “Mmh!!” Namun tubuhnya semakin lemas, pandangan matanya mulai kabur. “TOLOOONG—!!” Teriakan Aurel akhirnya terdengar nyaring.
Tara yang baru masuk kerumahnya, langsung membeku. “Itu suara Aurel?!”
Tara buru-buru berlari menuju balkon. Matanya langsung membesar. “AUREL!!”
Tara melihat sahabatnya dipaksa masuk ke dalam mobil hitam. Pintu mobil dibanting keras. Mobil itu langsung melaju cepat.
Tara langsung panik total. “Astaga…” Tangannya gemetar hebat. Namun Tara cepat sadar, ingat cerita Aurel alamatnya Arvano. “owh iyaa, Aurel bilang alamat rumah majikannya itu.”
Tara langsung buru-buru memesan taksi online dengan tangan gemetar, Menuju kealamatnya Arvano. Air matanya mulai jatuh karena panik. “Cepat… cepat…”
Sementara itu, Di dalam mobil, Aurel sudah tidak sadarkan diri. Tubuhnya terkulai lemah di kursi belakang. Pria-pria di depan hanya diam menjalankan mobil menuju tempat tujuan. Mobil itu akhirnya keluar dari jalan raya kota. Masuk ke jalanan yang semakin sepi. Lampu jalan mulai jarang. Tidak ada rumah, tidak ada kendaraan. Hanya jalan panjang gelap yang terasa menyeramkan.
Di ujung jalan itu, berdiri sebuah rumah kosong tua. Catnya mengelupas, jendelanya pecah sebagian. Suasananya benar-benar sunyi.
Mobil berhenti pelan. Salah satu pria membuka pintu belakang. “Cepat angkat dia.”
Mereka membawa Aurel masuk ke dalam rumah kosong itu. Dan tanpa siapa pun sadari, lokasi itu ternyata tidak terlalu jauh dari kawasan rumah keluarga Argas.
Di sisi lain, Arvano baru saja selesai meeting sore. Namun entah kenapa, sejak tadi dadanya terasa tidak tenang. Sangat tidak tenang. Arvano sampai beberapa kali melihat ponselnya sendiri, menunggu pesan dari Aurel. Namun tidak ada.