Bagaimana rasanya dibesarkan ayah tunggal yang kurang perhatian?
Hidup Eldrey adalah jawabannya.
Lahir dari latar adidaya, membuatnya tidak tahu arti keluarga. Terlebih dengan sepak terjangnya sebagai bekas orang rumah sakit jiwa, sosoknya pun jadi dipoles sedemikian rupa.
Namun dia tetaplah boneka. Cantik tapi tak bisa diraih perasaannya. Sampai pesonanya pun berhasil mengusik hati para lelaki yang tak dianggapnya.
Jadi, akankah para pemuja itu mampu meluluhkannya? Mengingat Eldrey ternyata menderita sakit mental dalam menjalani kehidupannya.
IG : miqaela_isqa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isqa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit
Alice, ia menatap lekat Eldrey yang sedang duduk di sampingnya.
“Ada apa?” tanya Eldrey.
“Sepertinya laki-laki tadi sangat dekat denganmu.”
“Yah ... itu karena kami berteman,” balas Eldrey sambil mengalihkan pandangannya.
“Aku pikir kalian ada sesuatu,” sambung Alice.
“Heh, apa kamu penasaran?” tanya Eldrey memancingnya.
“Tentu saja aku penasaran, karena kamu tidak pernah sekalipun bicara tentang laki-laki yang dekat denganmu atau siapa pun itu. Tapi sekarang tepat di depan mataku, ada laki-laki yang dekat denganmu, bukankah itu mengejutkan?” ucap Alice panjang lebar.
“Dia hanya temanku.”
“Tapi kenapa dia ada di sana? Apa dia sering ke club itu?” tanya Alice ingin tahu.
“Dia kerja di sana,” balas Eldrey tanpa mengatakan yang sebenarnya, kalau laki-laki itu adalah pemilik sekaligus bos nightclub tersebut.
“Karena itu, kamu membawaku ke club itu? Karena ada kenalanmu di sana.”
“Hm ... iya,” jawab Eldrey pelan.
Mobil yang mengantar mereka berdua pun akhirnya sampai di depan rumah Alice. Tapi anehnya, ada mobil mewah lain yang terparkir di depan rumah sehingga membuat Alice heran.
Eldrey hanya menatap diam pada mobil mewah itu. Mereka berdua lalu turun. Setelah mengucapkan terima kasih pada supir yang mengantar, mobil itu pun pergi meninggalkan keduanya. Sekarang, pandangan mereka teralihkan pada mobil mewah di depan rumah Alice.
“Liz, sepertinya aku harus pulang.”
“Pulang?” tanya Alice heran.
“Iya, maaf aku tidak bisa lama-lama,” balas Eldrey.
“I-iya, tidak apa-apa, tapi kamu pulang pakai apa? Kamu kan tidak bawa mobil.”
“Jemputanku sudah datang, kalau begitu aku pulang dulu,” sahut Eldrey sambil memeluk dan meninggalkannya. Ia berjalan ke arah pintu mobil mewah yang terparkir.
Alice terheran-heran dan tak percaya melihat Eldrey yang membuka pintu mobil itu dan masuk ke dalamnya. Padahal mobil mewah tersebut adalah hypercar milik Eldrey yang tadi mengantarnya. Mobil itu pun pergi meninggalkan kediaman Alice bersama Eldrey di dalamnya.
Alice sudah tahu kalau temannya itu adalah anak orang kaya dan sering ke sana kemari dengan jeep unlimited. Tapi ia tidak menyangka jika Eldrey juga punya mobil mewah seperti hypercar.
Sedangkan di dalam hypercar merah yang sedang melaju santai itu, terlihat wajah lelah Eldrey sedang menyandarkan kepala ke jendela mobil yang tertutup.
“Apa yang Nona lakukan di nightclub? Saya yakin jika Nona tadi hanya mengatakan akan ke rumah teman,” tanya supir itu yang tak lain adalah sekretaris Roma.
Hancur sudah, padahal ia sudah memberi tahu si bos nightclub agar tidak memberi tahu sekretaris Roma kalau dirinya datang ke Nightclub. Tapi sepertinya gagal karena bagaimanapun juga sekretaris Roma sudah memerintahkan bodyguard jarak jauh untuk mengawasi dan menjaga Eldrey.
"Tipuan ke rumah teman sepertinya tidak berlaku lagi, aku memang bodoh, bagaimana bisa aku lupa kalau dia mengawasiku?!" gerutu Eldrey dalam hati.
“Refreshing,” jawab Eldrey singkat.
Sekretaris Roma menatap gadis itu tanpa berkedip, “saya harap Nona tidak mengulanginya lagi.”
Eldrey yang mendengar perkataan sekretaris Roma hanya diam tidak menjawab. Menatap jalanan yang sedang dilewati mobil itu seperti orang yang tidak tahu apa-apa.
Mereka pun akhirnya sampai di kediaman presdir Betrand. Mobil pun berhenti setelah memasuki parkiran di lantai dasar bangunan utama kanan.
Sekretaris Roma menoleh pada Eldrey yang masih belum turun. Ia terdiam, karena rupanya Eldrey sudah tertidur di dalam mobil. Tanpa basa-basi, sekretaris Roma langsung membangunkannya.
“Nona, kita sudah sampai,” tukasnya sambil menepuk pelan bahu Eldrey. Tapi tak ada jawaban, membuatnya mengulanginya lagi.
“Nona, kita sudah sampai,” sekarang sambil menepuk pelan pipinya. Tapi ia tersentak kaget saat menyentuh pipi Eldrey, lalu beralih ke dahi gadis itu yang panas.
Tanpa berlama-lama, ia segera turun dan membuka pintu mobil sebelah tempat Eldrey duduk. Digendongnya gadis itu ke dalam rumah.
“Bi! Bibi!” panggil sekretaris Roma.
“Iya tuan Roma, eh ya ampun! Apa yang terjadi pada Nona?!” tanya pembantu itu kaget.
“Nona sakit, bisakah bibi tolong panggilkan Dokter Arlene ke sini?” pintanya.
“Baik Tuan! Tunggu sebentar, akan segera saya hubungi,” tukas bibi pembantu sambil buru-buru meninggalkannya.
Sekretaris Roma pun membawa Eldrey ke kamar. Sesampainya di sana, ia baringkan gadis itu ke ranjang sekalian melepas sepatu dan menyelimutinya.
Sekali lagi ia memegang dahi Eldrey, mencoba memastikan kondisinya.
Tak lama kemudian, bibi pembantu pun datang.
“Tuan Roma, saya sudah menghubungi dokter Arlene. Dia sedang dalam perjalanan.”
“Baiklah. Kalau begitu, saya pergi dulu karena ada urusan, tolong Bibi temani nona sampai dokter datang."
“Baik Tuan."
"Oh iya, apa tuan sudah pulang?” tanyanya kembali sebelum benar-benar pergi.
“Tuan besar belum pulang Tuan."
“Oh, baiklah kalau begitu,” tukas sekretaris Roma sambil meninggalkan kamar Eldrey.
Sekitar 20 menit sejak dihubungi, dokter Arlene pun akhirnya tiba. Pelayan lain akhirnya mengantar dokter Arlene menuju kamar Eldrey. Di sana, tampak bibi pembantu yang duduk menemani sang tuan putri. Terlihat jika gadis itu sudah diganti pakaian tidurnya dengan yang lebih nyaman.
Beberapa saat kemudian, sekretaris Roma masuk kembali ke kamar Eldrey. “Bagaimana keadaan Nona?”
“Nona Eldrey hanya demam. Tapi dia terlihat sangat kelelahan, karena itulah dia bisa pingsan seperti ini. Aku akan siapkan obat, jadi pastikan dia memakannya dan banyak-banyak istirahat,” jelas dokter Arlene.
“Baiklah, saya mengerti,” balas sekretaris Roma.
*******
Pagi harinya, sekitar pukul 08.00 lewat, Eldrey terbangun dari tidurnya. Menoleh ke kiri dan kanan, tampak obat-obatan di atas meja nakas yang disiapkan dokter Arlene untuknya tadi malam.
Pintu kamar perlahan terbuka, dengan bibi pembantu yang masuk ke kamarnya.
“Nona, sudah bangun? Bibi akan segera siapkan sarapan agar Nona bisa makan obat."
Eldrey tak menanggapi sampai bibi itu pergi dari kamarnya. Ia pegang dahinya, tak yakin apakah sedang demam atau bagaimana. Akhirnya Eldrey bangun dari tidurnya dan menuju kamar mandi dengan langkah terseok-seok untuk mencuci muka.
Tapi, begitu keluar kamar mandi dan melangkah menuju sofa di kamarnya, kepala Eldrey mendadak pusing dan ia pun jatuh terduduk di lantai sambil berpegangan pada meja.
Pandangannya kabur, bibi yang masuk ke kamarnya sambil membawa sarapan pun kaget dibuatnya.
“Nona! Ya ampun, apa yang terjadi?” tanya bibi itu buru-buru mendekatinya setelah meletakkan makanan di atas meja. Eldrey pun dipapah untuk kembali ke ranjangnya.
“Nona, anda tidak apa-apa?” tanya bibi cemas.
“Aku tidak apa-apa, aku hanya pusing saja,” sahut Eldrey dengan tatapan sayu.
“Saya sudah bawakan makanan, nona makan ya, setelah itu minum obat."
“Hm.”
Bibi itu mengambil makanan yang dibawanya dan menyuapi Eldrey dengan pelan. Sambil sesekali menyentuh rambut sang putri majikan dan menggesernya ke belakang telinga.
Terlihat sekali perlakuan yang tulus dari pembantu itu padanya, melebihi hubungan dari sekedar pembantu pada majikannya.
“Di mana ayahku?“ tanya Eldrey.
“Tuan semalaman tidak pulang Nona,” balas bibi pelan.
“Sekretaris Roma?”
“Sekretaris Roma sudah pergi ke kantor, dan dia berpesan agar Nona istirahat saja di rumah sampai benar-benar sembuh.”
“Mm,” jawab Eldrey sambil tetap mengunyah makanannya dengan pelan.
Wajahnya pucat, tapi rautnya itu tidak memancarkan ekspresi apa-apa. Begitu pula dengan mata sayunya yang hanya menatap kosong ke arah makanan di depannya.
walaupun agak berat isi ceritanya...
sejauh ini cukup menghibur sekali
good job, Thor...?!
dah lah van, hancurkan aja semuanya
Mksih kak udah ubek ubek perasaanku di cuaca mendung ❤️❤️❤️,,
Jadi mager kan 🤭
nyesek sih bikin mereka pada kayak gitu, tapi itulah arti dari judulnya.
Jujur aku gak tahu gimana sensasi yg dirasakan readers saat membaca, tapi semoga kalian terhibur, maaf banget kalo aku bkin ny kadang kurang mendetail, takutnya trnyata risetku salah, atau takutnya ada mengandung unsur gimana2.
lain kali aku bakalan bkin novel yg gk tragis lagi deh, 👍🏿
oh ya ini IG otor 👉🏿 miqaela_isqa
Nantiin ya karya otor selanjutnya, genre romansa komedi sih, moga2 bab ny gak panjang 👍🏿 terus dukung ane y para readers, sampai jumpa lagi di bulan baru. Babay 🙌🏿😚
Tegang hati aku thor 😍