(PROSES REVISI)
Tak disangka gadis yang menikah karena mengganti hukuman ayahnya kini mengubah hidup Javier De Willson.
Gadis itu bagai pelangi yang datang selepas badai. Mengisi kesepian dan kehampaan hidup seorang mafia kejam ini.
Kisah cinta mereka yang lika liku harus berakhir dengan terbongkarnya identitas asli Sky Alexander.
Javier memilih meninggalkan Sky karena garis keturunan istrinya itu.
Akan kah mereka kembali bersama?
Cerita ini di bumbui oleh kekocakan tingkah Athes and the geng... anak buah Javier De Willson.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thenia12 Nurhalimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
Javier duduk disebuah ruangan dengan perpaduan warna hitam dan gold. Sebenarnya Javier jarang sekali datang ke mansion ketiganya kecuali dalam keadaan darurat saja.
Javier, Thomas, Philip dan sekretaris Han lebih banyak menghabiskan waktu di mansion kedua untuk berkumpul. Tapi setelah mansion itu di kuasai oleh Carla, Philip dan Thomas tinggal di apartement, sementara Sekretaris Han tinggal di mansion utama. Karena jabatannya sebagai seorang sekretaris, Han lebih banyak dibutuhkan oleh Javier.
Javier menyalakan rokoknya dan menghisapnya dalam dalam. Asap rokok membumbung di udara, Sekretaris Han yang melihat itu ikut bergabung.
Thomas baru saja menuruni anak tangga dengan bersiul. Ia menghampiri Javier dan sekretaris Han.
"Seharusnya kau bilang kalau anak yang dimaksud Philip itu seekor babi, sialan!" kesal Javier.
"Kau seharusnya lebih pintar, mana mungkin manusia seperti Philip merawat anak manusia," pekik Thomas.
"Aku bahkan ragu jika yang bodoh itu Philip. Sepertinya kau yang bodoh Javier!"
"Apa kau bilang?!!"
"Sudahlah, tidak usah diperpanjang lagi," sekretaris Han menengahi.
"Lagi pula anak babi itu tidak akan menyusahkanmu tuan," lanjut Sekretaris Han kembali.
"Tidak menyusahkan katamu?" Javier mendelik asistennya itu tajam.
"Dengan aku datang kesini dan melihat babi sialan itu di kamar mandiku sudah sangat menyusahkan!!"
Tiba tiba Philip datang dengan satu tangan menggendong Momo dan satu tangannya lagi memegang wajahnya yang terluka seraya meringis kesakitan.
"Ngokk.. Ngokk..Ngokk.."
"Lihat si bodoh itu," geram Javier menatap geram Philip yang sedang menuruni anak tangga.
"Bos, kau menyakitiku," ujarnya. Philip duduk disebelah Thomas.
Dddrrtttt
Ponsel sekretaris Han berbunyi, ia melihat nama Carla tertera di layar ponsel. Sekretaris Han segera menolak panggilan dari istri pertama tuannya itu. Ia yakin mood Javier sudah hancur karena Philip, tidak mungkin mau membahas hubungannya dengan Carla sekarang.
"Ngok Ngok Ngok."
Momo bersuara menatap Javier.
"Diam kau babi sialan!" bentak Javier membuat tubuh Momo tersentak kaget sampai gemetar.
"Bos, jangan membentaknya! Jangan kasar dengan anak kecil." Philip membela anaknya.
"Itu anak babi bukan anak kecil!!" ujar Thomas.
"Lihat matanya berkaca kaca. Dia sepertinya menangis," lanjut Philip.
"Lalu aku harus apa?!! menyusui nya!!" Javier semakin geram dengan tingkah temannya itu.
"Dimana kau menemukan anak babi itu Philip?" tanya Sekretaris Han.
"Dia datang sendiri ke rumahku."
"Bukankah kau tinggal di apartement?"
"Hari itu aku pulang ke kampung halaman ku dan tengah malam Momo datang lalu tidur di depan pintu rumah."
"Sudah pasti babi itu babi ngepet!" ujar Javier tanpa melihat ke arah Philip.
"Bukan bos. Dia bukan babi jadi jadian. Dia babi asli."
"Dia datang tengah malam untuk apalagi selain ngepet uangmu!"
"Uangku masih utuh bos. Aku sudah memeriksanya tepat di malam Momo datang."
"Cih. Kau langsung memeriksa uangmu ketika babi itu datang ke rumahmu, itu artinya kau sempat ragu dengan anak babi ini." Thomas ikut bersuara.
"M-maksudku--"
"Ngokkk Ngokkk Ngokkk."
"Kau kenapa? lapar hm?" tanya Philip seraya mengelus Momo.
Javier memperhatikan anak babi itu, pandangannya terhenti di bokong anak babi yang bulat dan berisi.
"Jadi itu yang dia bilang bohay dan kenyal. ****!" Geram Javier dalam hati.
Javier menghela nafas menekan nekan pelipisnya. Sungguh, kenapa ia harus diberikan teman seperti Philip.
"Ngokk Ngokkk Ngokkk."
Philip mengikuti arah pandang Momo. Sedari tadi anak babi itu terus memperhatikan Javier.
"Bos, sepertinya dia minta di gendong olehmu." Philip mengangkat tubuh Momo hendak memberikannya kepada Javier.
Tapi Javier malah menjauh. "Tidak! Tidak babi sialan!! menjauh kau!!"
"Ayolah bos."
Thomas dan Sekretaris Han menahan tawa melihat tuannya panik.
"Bos sebentar saja."
"PHILIP JAUHKAN ANAK BABI ITU ATAU AKU AKAN MENJADIKANNYA BABI GULING!!"
Philip segera menarik Momo kembali dan memeluknya.
"Jahat!" Philip menekuk wajahnya dan mengelus Momo untuk menenangkannya.
****
"Sky ponselmu." ujar Liana yang sedang membereskan dapur di cafe X.
"Biarkan saja." Sementara Sky sedang mencuci piring.
Sedari tadi ponselnya terus berdering, dari siapa lagi selain Javier. Pria itu terus menelponya dari tadi pagi. Dan Sky juga terlalu malas untuk berbicara dengan suaminya itu.
"Sky apakah istri pertamanya cantik?" tanya Liana.
"Ya."
"Kau tidak cemburu?"
"Tidak."
"Aku jadi penasaran seperti apa wajah pemimpin De Willson Group itu.
"Biasa saja."
"Benarkah biasa saja?"
"Hm."
Liana menghela nafas. "Kau ini kenapa Sky, seperti orang yang tidak punya semangat hidup."
"Kau tidak henti hentinya bertanya soal si om tua itu. Aku lelah menjawab semua pertanyaanmu."
"Hei, aku ini sahabatmu. Aku harus tahu semua hal yang menyangkut sahabatku."
"Lebih tepatnya kau ingin tahu hal yang menyangkut tentang De Willson Group," jawab Sky dengan memutar bola matanya malas.
Ya, apalagi yang diinginkan sahabatnya itu. Selain kepo tentang pernikahan Sky, Liana juga bertanya tentang teman teman Javier. Padahal tadi pagi sahabatnya itu mengamuk seperti macan karena pernikahan Sky.
"Hehehe.. kau tau saja."
"Cih, menyebalkan!"
"Sky, kapan kapan ajak aku ketemu suamimu itu siapa tau aku bisa cuci mata dengan temannya hehe.."
"Dia bukan suamiku Liana!"
Hening beberapa saat.
"Li.." panggil Sky.
"Sky...Sky... oh my god.. Sky lihat lah ada pangeran yang masuk cafe kita." Liana memandang dua pria berjas hitam dan biru dongker yang baru masuk melewati pintu. Mata Liana sampai tak berkedip bersamaan dengan mulutnya yang menganga terpesona.
Sky membalik dan ia melebarkan matanya kala Javier dan Sekretaris Han duduk di salah satu meja yang kosong.
Bersamaan dengan itu Pak Dimitri keluar dari ruangannya menatap tak percaya pemimpin De Willson makan di cafe miliknya.
Ia segera menghampiri Liana dan Sky. Lalu berbicara sedikit berbisik.
"Hei kalian.. lihatlah beliau pemimpin De Willson Group. Perlakukan mereka dengan baik , layani setiap kebutuhannya. Kalau tidak, kalian akan aku pecat. Mengerti!!"
Dan antara keduanya, Sky maupun Liana tidak mendengarkan ocehan Pak Dimitri mereka sibuk memandang dua pria di meja depan.
Liana memandang sambil tersenyum terpesona. Sementara Javier dan Sky saling mengunci pandangan satu sama lain sebelum akhirnya Javier melempar senyuman tipis untuk Sky. Tapi yang meleleh karena senyuman itu malah Liana.
"Hei apa kalian mendengarkan ku?" Pak Dimitri mencubit lengan kedua karyawannya itu membuat mereka meringis.
"I-iya pakk."
"Iya pak."
"Biarkan aku saja ya Sky." Liana membereskan penampilannya sebelum menghampiri mereka.
"Ekhemm... maaf pak mau pesan apa?" tanya Liana yang sekarang sudah berdiri di depan Javier dan Sekretaris Han.
"Bolehkah aku memesan temanmu? Berapa satu malamnya?" tanya Javier.
Liana kembali ternganga tapi bukan terpesona lebih tepatnya ia kaget dengan ucapan pria di depannya ini.
"M-maksudnya?"
"Aku ingin memesan temanmu."
BUGH.
Liana memukul Javier dengan buku menu yang ia bawa.
"Heh, tampan. Dengar ya, temanku itu tidak dijual!! kau pikir temanku apa, wanita malam!! Cih."
Jangan tanya seberapa kaget Sky dengan tingkah Liana.
Sementara sekretaris Han menatap tajam gadis di depannya dan Javier juga melakukan hal yang sama.
"Apa kau gila?" seru Javier.
"Kau yang gila!!"
Javier mulai tersulut emosi dan Sky pun segera menghampiri lalu berdiri di depan Liana.
"Jangan ganggu temanku." ujarnya seraya melentangkan tangan.
Tapi tiba tiba.
"Ngokkkk Ngokk Ngokk."
Mereka melirik ke arah pintu bersamaan.
Dan ternyata.
"Momo," ujar Sekretaris Han.
Ya, Momo datang bersama ayahnya Philip dan juga uncle Thomas.
Jangan lupa like dan coment ya karena itu yang bikin aku semangat nulis hehe ❤
dan jev jangan pernah kau sia2 kan Sky,, ingat itu
andaikan aku ada di situ,, tamba asyik pastinya 😃
selesai saikan masa lalu mu jev
picik benar ne si pak Mafia 😃
smangat buat junior nya ya😃
dan Aku mengingat Tuan muda Saga dan sekertaris nya Han
percayala Sky, setela Badai pasti ada pelangi,, semoga kebahagiaan segera menjemput 😘😘