Tujuh tahun lalu, Alessia Karina mengalami malam tak terlupakan bersama Leon Arsenio, seorang CEO muda pewaris kerajaan bisnis Arsenio Group. Keesokan harinya, Leon pergi tanpa meninggalkan jejak, membuat Alessia patah hati. Tanpa sepengetahuannya, Alessia hamil dan memutuskan membesarkan sepasang anak kembarnya, Keenan dan Kierra, seorang diri.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Leon menemukan fakta mengejutkan: Alessia adalah ibu dari anak-anaknya. Di tengah kebingungan dan kemarahan Leon, Alessia terpaksa menerima tawaran menikah kontrak dengannya demi masa depan si kembar. Namun, pernikahan ini bukanlah akhir dari perjuangan. Konflik masa lalu, rahasia besar yang melibatkan keluarga Leon, serta godaan dari pihak ketiga menguji cinta mereka.
Sanggupkah Leon membuktikan dirinya sebagai ayah dan suami yang pantas? Dan apakah Alessia bisa kembali mempercayakan hatinya kepada pria yang pernah meninggalkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nani Anny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ferdinan Over Protection!
...Sebelum lanjut membaca part berikutnya. Author sangat menyarankan untuk kembali membaca BAB 11. Karena kemarin Author sempat merevisi seluruh BAB dan ceritanya sudah berlanjut di BAB 11 sampai bab 20....
...Ok itu hanya sekedar informasi, agar kalian tidak bingung membaca part ini. Dan yang sudah selesai membaca part sebelumnya, part yang sudah di revisi selamat membaca part ini dan jangan lupa tinggalkan dukunganya....
...Terima kasih dan happy reading...
...---------------------------------------...
Di dalam kamar VVIP, si kembar sudah sangat bosan menunggu bundanya yang tak kunjung datang juga. Bahkan saat ini mereka sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Menurutmu?" Faustine yang tengah menatap dinding rumah sakit yang terlihat terbalik itu dalam penglihatannya. Dia membuka percakapan lebih dulu setelah hampir satu jam mereka terdiam. "Bagaimana wajah ayah kita? Menurutmu juga apakah dia orang yang baik?"
Ferdinan menghela napas jengah. Pertanyaan yang sangat random. Ada apa dengan saudaranya itu?
Ferdinan menatap saudara kembarnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Pasalnya posisi Faustine saat ini sangat mengganggu penglihatan Ferdinan. Anak itu tengah duduk di atas sofa dalam keadaan terbalik. Kakinya dia naikkan di atas sandaran sofa sementara kepalanya hampir menyentuh lantai.
"Entahlah." Ferdinan yang sedang duduk di kasurnya mengedikkan bahunya. "Kenapa kau sangat penasaran?"
"Tentu saja aku penasaran. Dia ayah kita." Fau berdecih. "Kenapa selama ini aku tidak menyadarinya, bahwa ternyata sifat burukmu itu menurun dari dia."
Mata Ferdinan melotot ke arah kakaknya, "kenapa kau berkata seperti itu. Seolah kau itu baik saja." Fer berdecak kesal.
"Aku memang baik. Bunda menurunkan sifat baiknya itu kepadaku, sedangkan kau." Fer mendengus, "pria brengsek itu menurunkan sifat dan wajahnya padamu."
Ferdinan semakin geram mendengarnya, "lalu? apa kau berbeda dengannya. Kau pun menurunkan wajahnya. Apa kau lupa bahwa kita kembar."
Wajah Faustine berubah sendu. Yah, tidak bisa dipungkiri bahwa wajah mereka bertiga sangat mirip dengannya. Kenapa dia tidak menyadarinya saat pertama kali mereka bertemu.
"Ada apa?" Fer menatap aneh kakaknya yang terlihat cemas.
"Fer!" lirih Fau dengan tatapannya yang kosong ke arah dinding.
"Hm."
"Apa kau percaya dengan adanya takdir buruk?"
"Takdir ada yang baik ada yang buruk. Tentu saja kita harus mempercayai keduanya."
"Apa kau percaya bahwa kita sedang berada di takdir buruk itu?"
Ferdinan memutar bola matanya malas. Sebenarnya apa yang sedang Faustine bicarakan.
"Kau ini kenapa sih? Aku yang terbaring disini, tapi sepertinya kaulah yang sakit."
Faustine menatap Ferdinan yang terbalik. Dia tampak bimbang, apakah sebenarnya dia harus mengatakannya pada saudara kembaranya itu atau tidak. Bahwa sebenarnya dia sudah melihat sosok ayah mereka yang sebenarnya. Bukan lagi tokoh fiktif yang selalu diceritakan bundanya.
"Ada apa? Kau menyembunyikan sesuatu dariku?"
Fau kembali menatap Ferdinan yang kepalanya di bawah. Lalu dia pun membenahi posisinya hingga duduk dengan normal. Fau menghela napas mengumpulkan keberaniannya untuk menceritakan segalanya pada Fer.
"Aku sudah melihat wujud asli pria itu."
"Pria itu?" Fer menautkan alisnya.
"Ayah kita." Ketus Fau.
"Aku juga sudah melihatnya."
Fau terbelalak, "kau melihatnya juga? Dimana kau melihatnya? bukankah kau pingsan sejak tadi."
"Aku melihatnya sekilas sebelum pria jelek itu menendangku."
"Saat kejadian itu fakta belum terkuak. Kau pingsan tadi." Faustine semakin memasang wajah bingungnya.
"Yah, tadi aku memang pingsan." Fer mengangkat alisnya sebelah, "but my hearing still works."
"Jadi kau mendengar teriakan bunda?"
"of course."
Fau menghela napasnya, "dan kau baik-baik saja setelah mengetahuinya?"
"why should i not be fine."
"Fer!" Sentak Faustine, "Dia bukan orang baik-baik. do you know? Dia menembak seseorang tanpa rasa bersalah sedikitpun."
"Untuk apa dia merasa bersalah saat dia sudah melakukan hal yang benar. Apakah menembak orang yang mencelakai anaknya itu salah?" Fer mengangkat lagi sebelah alisnya menatap Faustine.
Lagi-lagi Faustine mengangkat tangannya ke udara. Dadanya naik turun seiring dengan deru napasnya yang memburu. Dia pasrah berdebat dengan saudara kembarnya itu. Yang hanya bisa dia lakukan sekarang, hanya terdiam dalam kemarahan.
Suasana kembali hening. Saat mereka saling terdiam, menyatu ke dalam pikiran mereka masing-masing.
Menurut Ferdinan pria yang berstatus ayahnya itu lebih baik daripada Niko yang merupakan orang lain. Sementara pikiran Faustine kebalikannya.
Yah, wajah mereka memang sama, tapi watak mereka sangat jauh berbeda.
Tok! tok!
"hello everybody."
Niko muncul setelah mengetuk pintu dua kali. Manik coklatnya langsung menangkap situasi yang terasa canggung antara anak kembar ini. Wajah Fau dan Fer terlihat di tekuk.
"Apakah tidak ada yang menyambut uncle?" Niko langsung duduk di samping Fau dan meletakkan sebuah paper bag dan satu kantong berisi cemilan.
"Oh, uncle disini." cetus Fau dengan malas.
Sementara Ferdinan hanya melirik tajam melalui ekor matanya. Dia tidak sudi menatap pria itu. Dia sangat kecewa dengan Niko.
"Fau...," seru Niko pada Faustine namun atensinya tertuju pada Ferdinan yang kini merebahkan tubuhnya menghadap tembok.
"Kau mandilah!" Tanganya meraih paper bag dan menyerahkannya ke Faustine. "Setelah itu makan."
"Perintah bunda?"
Niko mengangguk.
Fau menghela napas lalu beranjak dan berjalan ke kamar mandi.
"Kemana bunda? Kenapa uncle datang seorang diri?" tanyanya sebelum masuk ke dalam toilet.
"Sebentar dia menyusul, dia masih ada pekerjaan yang harus di urus. Makanya dia minta uncle kesini lebih dulu."
"Oh." Fau mengangguk lalu menghilang di balik pintu toilet.
Setelah Fau pergi. Niko mengambil napas pelan lalu berjalan ke arah Ferdinan untuk membujuk anak itu. Niko tahu Ferdinan sedang marah karena salah paham padanya tentang rekaman CCTV itu. Setelah mengetahui bahwa anak itu yang dengan nekat menyelamatkan bundanya, Niko sangat yakin bahwa Ferdinan lah yang bertugas memantau CCTV untuk melindungi Faustine. Yah, Ferdinan pasti melihat sesuatu.
"Berdebat lagi dengan Fustine, hm?" Niko berdiri di sisi ranjang Ferdinan dengan wajah yang tampak tenang serta kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana.
"Bukan urusanmu!" ketus Ferdinan masih memunggungi Niko.
"Kau berdebat dengan Fau, tapi kau malah marah padaku."
Ferdinan berdecak, "pergilah! aku mau istirahat."
Niko tersenyum tipis. Anak itu sangat lucu saat merajuk seperti ini.
Pria itu menarik napas lalu membuangnya pelan, "maafkan uncle."
Wajah Ferdinan tampak terkejut saat mendengar permintaan maaf tiba-tiba itu. Namun dia mencoba menyembunyikannya.
Bundanya selalu berpesan, untuk tidak mudah percaya dengan orang asing, meskipun mereka sudah dekat denganmu. Dan pria yang berdiri di belakangnya itu adalah orang asing. Yah, meskipun itu sulit bagi Ferdinan, karena dia sangat menyayangi pria itu.
"Kau salah paham Fer. Uncle memang bertemu dengan penculik bundamu. Tapi kalau kau mengira bahwa uncle bekerja sama dengannya kau salah. Dia musuh uncle."
Mata Ferdinan terbelalak. Pria itu musuhnya? Itu artinya, uncle Niko bermusuhan dengan ayahnya. Tapi kenapa?
"Apakah musuh akan tertawa bersama?"
Niko tertawa rendah. "Jaman sekarang orang dewasa lebih mengandalkan perang batin daripada menodong senjata ke kepalanya. Itu lebih modern. Kau tahu, saat kau tertawa bersama dengan musuhmu itu artinya kau sedang menyiapkan senjata peperanganmu."
Ferdinan mengerutkan dahinya bingung. Dia tidak memahami maksud dari perkataan Niko.
"Kenapa dia menjadi musuhmu?"
"Karena dia sangat serakah. Dia selalu merebut apa yang menjadi milikku."
Dahi Ferdinan semakin berkerut. Dunia orang dewasa ternyata sangat rumit.
"Lalu apa hubungannya dengan bundaku? Kenapa permusuhan kalian melibatkan bundaku?"
"Karena bundamu dekat dengan uncle."
"Apakah bunda dalam bahaya?"
"Yah."
"Jika seperti itu...." Ferdinan membalik tubuhnya ke arah Niko dan menatapnya tajam, "stay away from my mother!" Tatapan Fer sarat akan permusuhan. Dia benar-benar tidak bisa lagi mempercayai pria di depannya ini.
Bundanya benar. Orang yang paling dekat denganmu akan membahayakanmu. Meskipun Ferdinan masih belum memahami situasi yang sebenarnya. Tapi tidak ada salahnya berjaga-jaga di awal.
"Kau meragukan uncle, Fer?" Niko memicingkan matanya.
"No. I'm just trying to protect my mother. Jika berada di dekatmu, bunda berada dalam bahaya. Maka tugasku, menyingkirkan orang yang akan menyebabkan bundaku dalam bahaya." Tandas Ferdinan.
Setelah mengucapkan hal itu. Ferdinan kembali memutar tubuhnya. Hatinya sangat sakit kini. Pria itu adalah pria yang selama ini sangat dekat dengannya, menjaganya layaknya seorang ayah. Tapi dia harus membuat keputusan, orang yang bisa menjaga bundanya dengan tulus hanyalah dia dan dua kembaranya. Entah darimana anak itu mendapatkan keyakinan itu. Tapi hati kecilnya memintanya untuk tidak lagi mempercayai Niko.
Awalnya Fer sangat menginginkan pria itu agar menjadi pendamping bundanya. Karena menurutnya pria itu sangat layak untuk melindungi bundanya. Namun ternyata semuanya bullshit. Bagaimana mungkin Ferdinan mempercayakan bundanya di jaga oleh pria itu. Saat nyawa bundanya terancam karena pria itu.
Masih tergambar dengan jelas di dalam matanya. Niko pergi begitu saja setelah menerima telfon tanpa menyelamatkan bundanya.
"Keputusanmu meminta uncle menjauh, itu sangat salah Fer. Bundamu akan semakin dalam bahaya jika uncle menjauh... aku akan menjaga kalian semua. uncle sudah berjanji bukan?" Jelas Niko dengan rahang yang terkatup sangat kuat.
Ferdinan berdecih, "menjaga seperti apa yang uncle maksud, dengan meninggalkan bunda setelah menerima telefon tanpa menyelamatkannya terlebih dulu. Begitu?"
Pria itu terlihat sangat marah sekarang, meskipun wajahnya terlihat tenang. Dia tidak menyangka anak ingusan ini begitu sulit untuk diyakinkan.
"Bersikaplah seperti pria sejati dengan menyelesaikan urusanmu dengan pria itu tanpa melibatkan bundaku." ketus Ferdinan.
Ferdinan menutup matanya frustrasi, kepalanya sangat sakit sekarang. Semuanya tidak masuk akal bagi anak itu. Bagaimana mungkin orang yang menjaga bundanya selama ini ternyata musuh ayahnya? Apakah semua ini sudah direncanakan Niko agar bisa membalaskan dendamnya pada ayahnya. Astaga. Drama orang dewasa sangatlah rumit.
Tapi, itu masuk akal juga. Bisa saja, Niko bemar-benar memanfaatkan keluarganya demi membalaskan dendam pada ayahnya.
Dia harus mencari tahunya sendiri, setelah dia sembuh. Keputusannya sudah bulat sekarang dia tidak mempercayai Niko lagi dan dia akan menjauhinya.
Sementara Niko yang masih berdiri menatap punggung kecil Ferdinan sangat murka. Ternyata dia salah saat mengatakan bahwa Noah adalah musuhnya. Dan lihatlah apa yang terjadi sekarang rencananya benar-benar akan gagal dan sekarang anak ini bagai bumerang baginya.
Niat awalnya dia ingin meyakinkan anak ini dengan berbohong. Namun pada akhirnya semuanya semakin rumit. Anak ini sangat cerdas.
...Happy Reading ❤...
Author bingung sama sifat Ferdinan. Dia anak kecil atau orang tua. Astaga pikirannya kenapa seperti itu. Tolong berikan author penjelasan agar author paham ✌.
kl kembar dua disebut twins..
kembar tiga disebut triplet...
jangan di gabung jd rancu artinya..
ngatain nyumpahin dia sendiri judulnya 😂