Dunia yang tidak hanya dihuni oleh manusia, kini juga terdapat "Astra" yang dapat membantu setiap orang mencapai kesuksesan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AMARAH DUA BADAI
Gemuruh di Stadion Utama Akademi Astra Nusantara pada pagi Hari 5 berada di tingkat kegilaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Udara di dalam stadium terasa begitu kering, pekat, dan panas. Faksi Keluarga Purba Flamewing sengaja melepaskan fluktuasi energi spiritual mereka sejak fajar, membuat suhu di sekitar tribun VIP melonjak hingga menyentuh angka 38°C bahkan sebelum pertandingan dimulai. Hari ini adalah babak Semifinal untuk kategori Tim 2vs2, panggung di mana hanya tersisa 4 tim terbaik yang akan memperebutkan tiket menuju Grand Final.
Layar holografis raksasa di langit stadium menyala terang dengan warna merah membara:
[ SEMIFINAL 1 - KATEGORI TIM 2vs2 ]
[ Tim Arkan & Sky (Kelas 1-A) VS Tim Ignis & Gesta (Faksi Elit Flamewing) ]
"Arkan, lihat di seberang sana," Sky berbisik pelan saat mereka melangkah memasuki arena pasir yang kini telah dilapisi pembatas pelindung energi tingkat tinggi. Kipas perak di tangan Sky terkembang sepenuhnya, memancarkan aura angin sejuk untuk menepis hawa panas yang menyengat.
Di seberang mereka yang berjarak 50 meter, Ignis berdiri dengan jubah merah berlambang sayap berapi yang berkibar anggun. Di sampingnya, seorang murid senior Kelas 2-S bernama Gesta menatap mereka dengan pandangan dingin.
"Kalian sudah melangkah terlalu jauh untuk ukuran tikus kelas bawah, Arkan," Ignis berseru, suaranya diperkuat oleh energi spiritual. Dia langsung memicu 45% resonansi elemen api manusianya. Seketika itu juga, gelombang api merah pekat meluap dari sekujur tubuhnya, membakar pasir di bawah kakinya hingga meleleh menjadi kaca cair. Di depannya, seekor Astra berbentuk Elang Magma raksasa bersayap api membara setinggi 3 meter bermanifestasi dengan status digital: [ LEVEL 14 ].
Gesta di sebelahnya juga tidak membuang waktu, memanggil Astra miliknya, seekor Singa Bara [ LEVEL 13 ] yang langsung menyemburkan dinding api setinggi 3 meter untuk mengisolasi pergerakan lateral arena.
PRIIIT! Peluit pertandingan berbunyi nyaring.
"Gesta, kunci si anak jalanan! Elang Magma, eksekusi taktik B!" Ignis memberi perintah kilat dengan kilatan mata yang sangat licik.
Sejak awal, faksi Flamewing sudah menganalisis bahwa tubuh manusia Arkan terlalu anomali untuk dihancurkan dengan cepat berkat sistem Aura Statis petirnya. Oleh karena itu, taktik mereka di semifinal ini sangat kejam: mengabaikan Arkan di awal dan mengerahkan seluruh daya hancur api superior untuk melenyapkan Sky terlebih dahulu. Jika sirkulasi angin Sky patah, Arkan akan kehilangan pelindung taktisnya.
ROAAAR!
Singa Bara Level 13 milik Gesta melesat maju, menyemburkan rentetan bola api raksasa ke arah Arkan untuk memaksanya bertahan. Di saat yang sama, Ignis mengepakkan tangannya ke depan. Elang Magma Level 14 miliknya melesat tinggi ke angkasa, lalu menukik turun dengan kecepatan ekstrem seperti meteor jatuh, mengincar Sky dari titik buta atas.
"Zephyr, benteng hampa udara! Vacuum Burst!" Sky bergerak cepat, mengayunkan kipas peraknya untuk menciptakan pusaran angin penahan di atas kepalanya. Zephyr (Level 11) mengepakkan sayap kristalnya, mencoba membelah gelombang panas tersebut.
Namun, Ignis tersenyum sinis. "Terlalu naif, Sepupu! Overdrive Fire!" Ignis memeras saku jiwanya, menyuntikkan sisa energinya langsung ke tubuh Elang Magma. Astra tersebut melengking keras, memicu ledakan api bunuh diri berskala besar tepat saat menabrak dinding angin Sky.
BOOM—BANG!
Benturan energi api murni Level 14 berskala ekstrem itu menciptakan ledakan termal yang luar biasa dahsyat. Dinding angin vakum milik Sky berhasil meredam separuh ledakan, namun sisa gelombang panas dan serpihan api murni bertekanan tinggi berhasil menembus celah pertahanan udara.
CRACK!
Suara retakan terdengar dari gagang kipas perak pusaka Sky. Tubuh manusia Sky terhempas sejauh 5 meter ke belakang akibat gelombang kejut, dan serpihan api murni Flamewing menghantam bahu kanan indahnya, meninggalkan bekas luka bakar ringan yang cukup parah hingga mengeluarkan asap tipis. Sky mengerang kesakitan, berlutut di atas pasir dengan napas terengah-engah, memegangi bahunya yang melepuh.
Melihat partnernya terluka dan darah merembes dari bahu Sky tepat di depan matanya sendiri, sesuatu di dalam dada Arkan mendadak pecah.
Keheningan yang mencekam mendadak menyelimuti posisi Arkan. Sepasang mata pemuda itu berubah menjadi sangat dingin, memancarkan aura membunuh yang begitu pekat hingga membuat Singa Bara milik Gesta yang berada di dekatnya mendadak berhenti melangkah karena ketakutan alami.
"Kamu... benar-benar sudah bosan hidup, Ignis," bisik Arkan dengan nada suara rendah yang entah bagaimana mampu bergema menembus bisingnya stadion.
BZZZZZZZZZZZZZZZZZZT—!!!!
Saku jiwa Arkan bergetar hebat hingga ke titik kritis. Energi petir biru tua yang biasanya mengalir teratur kini mendadak meledak liar, mendobrak batasan normal tubuh manusianya. Resonansi petirnya melonjak drastis melewati angka 60%, menembus 65%, hingga akhirnya stabil di angka 70% resonansi petir murni—sebuah angka yang mustahil dan terlarang untuk ditahan oleh tubuh seorang remaja berusia 16 tahun.
Aura petir di sekeliling tubuh Arkan bertransformasi menjadi sulur-sulur kilat raksasa berwarna biru keputihan yang berderit dahsyat, melepaskan gelombang kejut ozon yang meretakkan pelindung energi stadion. Udara di sekitar Arkan mendidih secara instan, memadamkan dinding api milik Gesta hanya dengan tekanan auranya saja.
"L-Luar biasa... Tujuh puluh persen resonansi tanpa wadah jiwanya hancur?! Anak itu benar-benar monster!" Pak Guntur berteriak dari tribun VIP dengan mata terbelalak horor, sementara Grandmaster Joshua langsung menegakkan posisi duduknya dengan binar mata yang luar biasa tajam.
"Volt... jangan sisakan apa pun," Arkan memberi perintah, suaranya sarat akan amarah yang mutlak.
ROAAAR—BOOM!
Volt yang kini berada di Level 13 ikut merasakan amarah yang mendalam dari saku jiwa Arkan. Tubuh serigala raksasanya diselimuti oleh petir putih setinggi 5 meter. Dalam waktu kurang dari 0,2 detik, Arkan dan Volt melesat maju bersamaan, menciptakan ilusi dua garis kilat raksasa yang membelah lautan api arena. Kecepatan mereka sudah berada di luar batas tangkap mata manusia biasa.
BANG!
Sebelum Gesta sempat memerintahkan Singa Bara miliknya untuk bertahan, Volt sudah bermanifestasi di depannya. Cakar petir putih Volt menghantam telak kepala Singa Bara Level 13 tersebut, menghancurkannya kembali menjadi serpihan cahaya spiritual dalam satu kali serangan bersih. Serangan balik jiwa membuat Gesta langsung memuntahkan darah dan pingsan telentang di tempat.
Ignis yang melihat hal itu terbelalak horor, mencoba menggerakkan Elang Magma miliknya untuk mundur. "M-Mundur! Lindungi aku!"
Namun, Arkan sudah berada tepat di atas kepala Elang Magma tersebut. Dengan 70% resonansi petir yang merangsang seluruh jaringan ototnya, Arkan mengayunkan kaki kanannya ke bawah seperti kapak petir raksasa.
DAR-DAR-AN!
Tendangan fisik Arkan yang dilapisi aura petir murni menghantam punggung Elang Magma Level 14 tersebut hingga terdengar suara retakan tulang spiritual yang mengerikan. Astra burung raksasa itu melengking tragis sebelum akhirnya meledak hancur menjadi debu energi spiritual.
"Sekarang, giliranmu," Arkan bermanifestasi tepat di depan wajah Ignis yang kini sudah gemetar hebat dengan celana yang mulai basah karena ketakutan yang teramat sangat. Kesombongan darah murni Flamewing miliknya runtuh total dalam waktu kurang dari 5 detik.
BAM!
Kepalan tangan kanan Arkan yang berbalut kilat putih menghantam telak rahang Ignis, menghancurkan 4 gigi depannya dan mematahkan tulang rahangnya seketika. Tubuh Ignis terpental gila-gilaan sejauh 25 meter melintasi arena pasir, menghantam dinding pembatas beton stadion hingga retak sedalam 30 sentimeter sebelum akhirnya dia jatuh terjerembab tidak sadarkan diri dengan wajah yang dipenuhi darah dan debu pasir.
Stadion Utama berkapasitas 50.000 orang itu mendadak sunyi senyap seperti kuburan massal. Seluruh anggota Keluarga Flamewing di tribun VIP ternganga lebar dengan wajah pucat pasi melihat pewaris jenius mereka dibantai tanpa ampun seperti anjing jalanan.
[ Pemenang Babak Semifinal Match 1: Tim Arkan & Sky. Durasi: 32 Detik. Poin Diperoleh: 100 Poin Mutlak! ]
Arkan langsung memadamkan seluruh aliran petir 70% di tubuhnya, mengabaikan pengumuman kemenangan tersebut. Dia berjalan cepat mendekati Sky yang masih berlutut di atas pasir, lalu berjongkok di hadapannya dengan tatapan mata yang telah kembali melembut.
"Kamu tidak apa-apa, Sky?" tanya Arkan serius, tangannya perlahan memeriksa luka bakar di bahu kanan Sky.
Sky mendongak, menatap Arkan dengan sepasang mata jernihnya yang masih sedikit syok melihat ledakan amarah petir Arkan tadi. Seulas senyuman menawan namun lemas terukir di wajah indahnya. "Aku baik-baik saja, Arkan... Hanya luka bakar kecil. Tapi... melihatmu mengamuk sampai menyentuh tujuh puluh persen seperti tadi, kurasa lukaku ini langsung terasa tidak ada apa-apanya."
Arkan membantu Sky berdiri, membiarkan gadis itu bersandar pada bahunya saat tim medis akademi mulai berlarian memasuki arena membawa tandu spiritual. Hari 5 babak Semifinal kategori Tim 2vs2 telah ditutup dengan kemenangan yang teramat brutal. Duo Badai ini tidak hanya mengamankan tiket menuju Grand Final, tapi Arkan telah resmi menancapkan rasa ketakutan yang abadi ke dalam sanubari seluruh faksi elit yang berani mencoba menyentuh milik mereka.
pukul 12.00 Wib dan 15.00 Wib. Saran dan dukunganmu sangat membantu karya ini menjadi lebih baik!