Diskripsi
Namaku Qirrera Binar Kenzo, umur 18 tahun. Aku gadis blasteran dari Ibu Indonesia-Inggris dan Bapak Jepang. Bisa dibayangkan kecantikanku dan pesonaku yang menggila. Wajahku bule banget dan rambutku blonde.
Saat ini tinggiku 172cm dan berat badanku 55 kg, sungguh ideal dan sexy habis. Kulitku putih susu dan mataku coklat berbinar jernih pokoknya perfect banget dah.
Sayang sekali nasibku kurang beruntung, aku adalah korban sepasang kekasih yang tidak bertanggung jawab. Waktu masih dalam kandungan orang tuaku berusaha menggugurkanku dengan segala cara. Rupanya takdir berkehendak lain, bayi mungil itu memberontak lahir. Dalam hitungan hari kelairanku sudah bisa memenjarakan orang tuaku yang membuangku di depan rumah seorang ninggrat yang kaya raya.
Sayang sekali pada saat aku tamat kuliah, aku harus ke Bali karena Mama angkatku yang berada di Bali mendadak sakit keras dengan meninggalkan utang yang segunung. Akulah yang ditunjuk sebagai "alat" untuk melunasi utang-utang keluarga.
Dengan berjalannya waktu mampukah aku melunasi utang keluarga atau malah aku menyerahkan kegadisanku kepada Om Brata yang menjerat mamaku dalam undang-undang perdata dan mengancam mamaku untuk di penjara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KUNDANGAN
Hari ini aku cuti kerja, biasanya aku pakai merawat diri atau tidur-tiduran sampai puas. Jarang aku mendapat istirahat, jadi waktu istirahat sangat berguna bagiku.
Aku turun untuk sarapan, aku lihat Andre memakai pakaian adat seperti mau kundangan.
"Andre kamu mau kemana?" tanyaku duduk di kursi didepannya.
"Mau kundangan, ada orang menikah." katanya santai.
"Koq gak bilang padaku, kalau aku tidak turun, aku tidak tahu kamu akan pergi."
"Nanti juga aku mau naik, jemput kamu. Kita kundangan bareng-bareng."
"Koq baru bilang, aku belum siap apa."
"Makanya kalau ada WA baca, jangan di lewati."
"Jadi aku ikut kundangan begitu?" tanyaku bingung.
"Cepat ganti baju, apa aku bantuin dandan?"
"Enak aja." sahutku berlari ke tangga.
Aku menyuruh Bibik surti membantu aku memakai pakaian adat. Aku sudah biasa berdandan kalau ada pemotretan, jadi tidak lama aku sudah selesai berdandan.
Kulihat Andre menunggu dengan sabar. Dia melihatku dengan kagum.
"Kita mau kemana?" tanyaku menatap Andre.
"Kerumah orang kaya. Kamu jangan sampai lepas dariku. Apapun yang orang katakan jangan emosi. Ingat itu."
"Kenapa begitu, nanti orang mengira kita pacaran. Gimana kalau aku melihat kakak disana atau temanku?"
"Pokoknya kamu harus terus nempel padaku, jangan lepas dariku. Kita pura-pura pacaran." kata Andre tegas. Aku tidak mengerti ada apa dibalik perintahnya.
"Ikuti aja aku supaya aman." kata Andre mengajak aku ke Mobil.
Kami memakai mobil Lamborghini, Andre yang menyetir. Aku merasa dia sangat mahir mengendarai mobil supercar. Sesekali dia menoleh kepadaku dan tersenyum, kemudian matanya kembali lurus kedepan. Aku merasa dia ada masalah.
"Andre, aku mengira kamu ada masalah, jangan melibatkan aku dengan masalahmu, sampai ada yang macam-macam denganku aku akan tendang orangnya." kataku membuat dia tersenyum.
"Curiga aja bawaannya. Sampai disana aku akan memanggilmu sayank, jangan protes."
"Hee...kamu pembantuku, ingat itu."
"Aku ingat, sampai rumah kembali normal."
"Ya dah, ini jawabannya kamu membuat rumahku menjadi bagus, ternyata kamu ada udang dibalik batu." gerutuku.
"Rumahnya sudah dekat." katanya membelokan mobil ke sebuah lapangan yang mungkin disewa sebagai tempat parkir. Andre memakai kaca mata hitam aku juga, tampa kusadari warna baju kami hampir serasi. Menurutku Andre sangat gagah.
"Ayuk kita ke dalam." katanya. Kami bergandengan tangan, banyak mata memandang kami. Mereka bisik-bisik. Aku duduk dibangku khusus dengan Andre dan ada juga beberapa orang duduk disitu. Aku melihat bekas Bossku Bapak Hermanto. Dan banyak orang-orang Hotel juga.
Aku seolah menjadi pusat perhatian, apalagi banyak crew TV dan orang-orang membidik cameranya kepadaku.
"Kenapa orang-orang melihat kita, apa ada yang salah?" bisikku.
"Karena kita pasangan serasi." sahutnya tersenyum. Aku merasa dia terpaksa tersenyum.
Aku merasa Andre overacting dalam memperlakukan aku. Ntah untuk apa dia berbuat begitu, dia begitu mesra. Sesekali dia melingkarkan tangannya di punggungku. Aku tidak protes karena dia sudah ijin akan berbuat mesra.
Tidak begitu lama pengantinnya ke luar. Aku melongo, rupanya pengantin perianya Adi dan perempuannya aku tidak kenal. Mereka kelihatan serasi. Adi begitu ganteng. Dadaku tiba-tiba bergetar. Ada rasa jealous dihatiku.
"Kenapa sayank, tanganmu dingin. Apa kamu cemburu?" bisik Andre memelukku.
"Tidakk...gak ngaruh, mau nikah gak urus." sahutku cemberut.
"Jangan dilihatin wajah kusamnya, Adi akan senang melihatmu cemburu. Cerialah, bila perlu cium aku......"
"Iss...dasar genit." sahutku.
Aku berusaha tidak begitu memperhatikan Adi, walaupun dalam hatiku ada perasaan sakit menggores. Tidak bisa aku pungkiri sebenarnya aku masih mencintainya. Rasa itu masih ada, ternyata aku tidak mudah melupakannya.
"Hallo sayang, sudah pindah kelain hati ya." sebuah suara membuat aku menoleh. Adi ada disampingku. Andre mengedipkan sebelah matanya padaku. Mungkin maksudnya supaya tidak meladeni Adi.
"Selamat berbahagia ya Adi, supaya langgeng." kataku berdiri. Saat itu Adi langsung memelukku, kejadiannya cepat sekali. Untunglah Andre sigap menarikku dan memelukku.
Aku gemetar, mereka semua ribut. Aku cepat dibawa keluar sama Andre.
"Qi..kau masih milikku, ingat itu." teriak Adi. Andre membawa aku ke mobil. Lenganku sampai sakit dicekal.
Andre langsung membawaku pulang, dalam perjalanan Andre tidak sepatahpun berkata. Kulihat rahangnya mengeras. Aku tahu dia marah, tapi kenapa dia marah. Kami tidak ada hubungan apa-apa.
"Andre apa kamu kenal sama Adi?" tanyaku berusaha mencairkan suasana kaku di dalam mobil.
"Tidak!" jawabnya pendek.
"Itu bekas pacarku, tapi dia selalu membuat aku menangis, karena rajin selingkuh. Tapi aku masih punya rasa padanya. Buktinya tadi aku cemburu." kataku terus terang pada Andre.
"Kamu masih mencintainya?" tanya Andre tanpa menoleh.
"Sepertinya masih. Siapa istrinya itu?"
"Anak orang kaya yang punya Hotel. Tapi lebih kaya kamu dan lebih cantik." kata Andre cepat.
"Aku tidak punya Hotel, itu milik keluarga. Aku cuma anak haram yang tidak punya apa-apa. Mungkin Adi tidak mau denganku karena aku anak haram" Andre diam seolah membenarkan perkataanku.
"Tidak mungkin ada yang mau dengan cuma-cuma kepadaku, kecuali orang yang butuh harta. Aku baru menyadari bahwa aku adalah aib bagi orang tua yang terhormat, atau anak dari keluarga kaya. Makanya kakak mencarikan aku jodoh yang sesuai, mungkin sebegitu derajatku." sahutku baru menyadari posisiku. Air mataku meleleh.
"Kamu terlalu berasumsi, buang pikiran anak haram dari otakmu. Tidak ada anak haram. Semua orang sama."
"Itu kenyataan. Adi pasti masih mencintaiku, makanya dia berani berkata begitu tadi. Dia tahu resiko yang akan terjadi apabila mempermalukan istrinya."
"Lupakan Adi, dia sudah milik Soneta. Kamu fokus kepada pekerjaanmu." kata Andre.
Kami sudah sampai di rumah. Suasana hatiku tidak enak. Aku merasa pusing. Dengan lesu aku naik ke atas, membersihkan diri, habis itu aku tidur. Tidak ada rasa nyaman selain tidur, melupakan semua masalah yang menjepit raga. Berusaha menjadi manusia tegar.
Esok harinya aku sudah berada di Hotel. Begitulah aku, memakai kaca mata hitam menutupi mata yang bengkak, berjalan tegak dengan senyum menghias bibir. Hanya satu yang tahu isi hatiku, dia kak Maya. Dia tempat curahan hatiku.
"Aku merasa terluka, padahal kami sudah lama putus. Tapi kemarin dia menikah, dan dia mengatakan aku tetap miliknya."
"Jangan di dengarin, laki-laki memang begitu. Kamu sekarang fokus kerja saja."
"Aku juga tidak menanggapi masalah Adi, yang aku pikirkan apa dia mencintai istrinya?"
"Mereka di jodohkan, kakak rasa Adi tidak senang tapi yang cewek tergila-gila sama Adi. Tapi jangan dipikir, seorang lelaki sudah berani menikah berarti dia berani menghadapi resiko dan tentu semua sudah dia pikirkan untung ruginya. Jangan terkecoh dengan mulut manis Adi."
"Ya kak aku mengerti."
"Apa sekarang kamu baik-baik saja?"
"Tentu aku tetap seperti yang dulu. Apa kakak tetap menyewa spionase untuk memata- mataiku?"
"Masihlah." sahut kak Maya enteng.
"Kakak tahu aku sekarang punya bodyguard?"
"Tentu tahu." sahut kakakku tersenyum.
"Tapi aku tidak ada apa-apa sama dia, kakak tenang saja. Kita cuma berteman."
"Yaya...semoga kamu cepat jatuh cinta kepada seseorang dan kalian menikah."
"Kakak seolah malu melihat aku jomblo,"
"Kakak cuma ingin kita punya Trah Wansa lagi. Semoga Mama cepat sembuh, seandainya Mama harus pergi meninggalkan kita, semoga kamu sudah menikah." kata kak Maya sedih. Aku juga sedih. Tidak menyangka nasib Mama begitu.
Kemudian aku keruanganku. Senyum penuh arti tersungging dari bibir tipis Maya Wansa. Orang pintar banyak, tapi kalah dengan orang licik. bisik Maya dalam hati.
****
SEMOGA MAKIN SUKSES KARYA NYA
GOOD JOB👍👍👍
🙏🤗❤️