Nia sangat mencintai Ronald dan menerima segala kekurangan yang dimilikinya, namun sayang segala cinta yang diberikan hanya dibalas dengan guratan demi guratan luka di hati. Saat Daniel datang dengan cinta baru akankah pintu hati Nia akan terbuka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi di pagi hari
Lebih baik disini....
Rumah kita sendiri....
Segala nikmat dan anugerah yang kuasa....
Semuanya ada disini....
Benar adanya lirik lagu "Rumah Kita". Jaaauuuuhhhh lebih enak dirumah Mama dan Papa Nia dibanding dirumah Mama Sri, Mama mertuanya. Jika dirumah Mama Sri, Nia sulit tidur sampai akhirnya kesiangan dan dicemberutin kalau dirumah Mama Nia bisa tertidur pulas. Tidur di kasurnya memang tempat paling wueeenaaakkk...
Nia sedang tertidur pulas dipelukan san suami tercinta. Setelah semalam sempat bercinta dengan sang suami tidur pun lelap rasanya. Pagi hari pun bangun siang tak masalah.
Jam 8 pagi Nia baru terbangun. Dibiarkannya sang suami yang masih tertidur. Turun dari tempat tidur diambilnya handuk dan baji ganti, maklum di rumah Mama kamar mandi hanya 1 dan berada di luar kamar jadi harus membawa handuk dan baju ganti ke kamar mandi.
Nia mandi dan membersihkan tubuhnya. Ada beberapa bekas percintaan semalam. Itulah tanda cinta suaminya. Selesai mandi dengan handuk masih melilit di kepala dihampirinya sang Mama yang sedang membersihkan sayuran di dapur.
"Pagi Ma" Nia mengambil pisau lalu membantu Mama menyiangi kangkung.
"Pagi sayang. Sudah ga usah bantuin Mama. Bangunin Ronald sana suruh sarapan bareng. Mama, Papa dan Nesia udah sarapan tadi" perintah Mama.
"Yaudah Nia bangunin Mas Ronald dulu ya Ma" Nia menuruti perintah Mama tanpa membantah sedikitpun. Ia masuk ke kamar dan membangunkan suaminya.
"Mas bangun... sudah siang... " Ronald membuka matanya dan menguap. Masih terasa agak mengantuk.
"Ayo dong Mas bangun... mandi lalu kita sarapan bareng ya... ayo mas..." Nia menggoyang-goyangkan badan Ronald lembut. Ronald pun bangun dan mandi mengikuti instruksi istrinya.
Nia sudah menyiapkan baji ganti dan handuk untuk Ronald mandi. Sambil menunggu Ronald mandi Nia kembali ke dapur hendak membantu Mama.
"Mas Ronald lagi mandi Ma, dikit lagi selesai" Nia memberitahu Mama bahwa tugas yang diberikan olehnya sudah dilakukan.
"Iya" jawab Mama lemas.
"Mama kenapa?" dihampirinya Mama yang menghentikan membersihkan sayuran.
"Ma... Mama sakit? Muka Mama pucat" Nia menempelkan tangannya ke dahi Mama namun tidak panas. Wajah Mama sudah pucat.
"Mana yang sakit Ma? Kita ke dokter ya" Mama memegang dada kirinya dan nafasnya sesak. "Pa... Papa... Mas Ronald... Nesia... kesini... Mama sakit..." Nia berteriak sekuat tenaga memanggil keluarganya.
Papa dan Nesia berlari menghampiri Nia. Tak lama Ronald yang baru selesai mandi langsung bergabung.
"Ada apa?"
"Mama Pa.. Mama pucet... terus sesak nafas..." Nia menjelaskan sambil menangis.
"Ya Allah Ma.." Papa juga terlihat panik
"Ayo langsung bawa ke rumah sakit Pa. Ronald ambil kunci mobil dulu" Ronald lalu berlari ke kamar untuk mengambil kunci mobilnya.
Papa lalu mengangkat Mama dan membawanya masuk mobil. Terlihat Mama masih kesakitan dan nafasnya masih sesak. "Mama...tidak.. ap..a...apa..." brukkk... Mama langsung pingsan dan tak sadarkan diri.
"Mama... Mas ayo cepetan..." Nia menangis histeris melihat Mama yang tak sadarkan diri.
Nesia hanya menangis sesegukan melihat Mama. Ronald langsung ngebut membawa Mama ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit, Ronald langsung menghentikan mobilnya di depan UGD. Security UGD dengan sigap langsung menghampiri dan membantu mengangkat Mama. Mama langsung di taro di tempat tidur UGD, dokter jaga UGD langsung memeriksa keadaan Mama. Melihat keluarga Mama yang masih histeris, dokter menyuruh security membawa Nia sekeluarga keluar dan menutup tirai agak tak ada yang melihat saat dokter memeriksa.
Ronald memeluk istrinya yang masih menangis sesegukan. Dengan lembut Ia mengusap punggung istrinya. "Sudah... Mama sudah ditangani oleh dokter.. Kita berdoa saja.... "
Ronald menuntun Nia untuk duduk di bangku bersama keluarganya. Ia lalu mengurus administrasi setelah sebelumnya meminta KTP dan asuransi Mama.
Papa hanya terduduk diam sambil sesekali menghapus airmatanya. Mereka semua masih menunggu di ruang tunggu UGD. Nia terus berdoa agar Mama baik-baik saja.
Tak lama security UGD memanggil keluarga Nia. "Keluarga Ibu Asih" panggil security. Papa bangun dan menghampiri "Saya suaminya"
"Dokter menyuruh seluruh keluarga Ibu Asih masuk" kata security. Papa, Nia, Nesia dan Ronald bergegas menghampiri Mama di dalam ruang UGD.
"Ada apa Dok? Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Papa cemas.
"Ibu Asih terkena serangan jantung. Kami sudah berusaha melakukan yang terbaik tapi Ibu Asih sudah meninggal. Kami minta maaf"
Bagai mendengar petir di siang bolong, perkataan dokter sangat mengagetkan keluarga Nia. Papa langsung terduduk lemas. Nesia menangis histeris
"Mama......" Brukkk... Nia langsung jatuh pingsan tak kuasa menerima kenyataan Mamanya sudah tiada. Ronald dengan sigap menangkap dan mengangkat sang istri. Nia lalu dibaringkan diatas tempat tidur UGD.
Nesia dan Papa mendekati jenazah Mama. Mereka masih tak percaya Mama sudah pergi. Baru saja tadi pagi mereka sarapan bersama. Mama masih sehat dan segar bugar saat sarapan tadi. Tak ada raut sakit diwajah Mama. Mereka tak menyangka kalau itu adalah sarapan terakhir bersama Mama. Nesia menangis melihat wajah damai Mamanya.
"Ma... kenapa Mama ninggalin Papa.... " Papa memeluk Mama sambil menangis histeris... Ia kini sendiri tanpa ada yang mendampingi. Nesia juga ikut memeluk Mama sambil menangis... Ronald yang belum lama mengenal Mama pun ikut menangis sedih. Sudah dianggapnya Mama sebagai Mama kandungnya sendiri.
Ronald pun kembali sadar bahwa Ia harus mengurus administrasi dan mengabari keluarga yang lain. Ronald lalu menghubungi Kak Nay. Mereka terlalu panik tadi saat membawa Mama ke Rumah Sakit dan tak kepikiran dengan Kak Nay. Kak Nay yang mendapat informasi dari Ronald kalau Mama sudah meninggal menangis sedih dan langsung menuju Rumah Sakit.
Ronald mengurus kepulangan Mama Asih. Setelah administrasi selesai dan sudah memesan ambulan, pihak rumah sakit mengijinkan membawa pulang jenasah setelah menunggu 2 jam. Ronald mengabari Mama Sri tentang kematian mertuanya. Mama Sri ingin datang langsung ke rumah sakit namun Ronald menyuruh langsung ke rumah saja.
Setelah tugasnya usai dihampirinya sang istri yang masih terbaring pingsan. Sudah setengah jam Nia pingsan. Tak lama Nia mulai membuka matanya dan melihat sekeliling. Nia ingat Mamanya. Terburu-buru Nia turun dari tempat tidur, Ronald sigap memapahnya agar tidak pingsan lagi.
Nia menghampiri jenasah Mama. Jenasah Mama sudah dipindahkan ke ruang jenasah. Papa dan Nesia masih menangis disampingnya.
"Ma... bangun Ma... Jangan tinggalin Nia Ma... Ma..." tangis Nia pecah tak terbendung lagi. Nia menangis meraung-raung.
Kak Nay yang sedang hamil besar dengan tergesa-gesa menghampiri jenasah Mama. Seperti Nia, Kak Nay tak kuasa menahan tangisnya. Papa dan Nesia pun ikut memeluk Mama. Mereka sekeluarga menangisi kepergian Mama tercinta...