Edelweiss Javanica adalah seorang gadis cantik keturunan Jawa Eropa. El memiliki mata hazel sama seperti ibunya sehingga membuat banyak orang terhipnotis oleh tatapannya.
El juga seorang primadona kampus. Siapapun pasti mengenal si gadis cantik, pintar, kaya, ramah dan baik. Apalagi dia juga mempunyai kekasih yang tampan. Sungguh hidupnya terlihat begitu sempurna hingga banyak gadis yang iri padanya. Bahkan mereka memimpikan hidup seperti dirinya.
Namun ternyata hidupnya tak sesempurna yang terlihat. Kekasih tampannya sering membentak bahkan memukulnya jika ada pria lain yang menatap kagum padanya.
Akankah Edelweiss bertahan dengan kekasih posesif nya? Atau dia akan menemukan tempat bersandar yang baru dan lebih nyaman?
Baca kisah selengkapnya di SORRY, But I Love You.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isthiizty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunuh Diri
"Bee.. dengerin aku sayang, aku minta maaf. Aku salah kamu boleh balas aku sesukamu, tapi tolong jangan putus. Apa kamu lupa kenangan yang udah kita laluin bareng-bareng setahun ini. Kamu juga udah deket banget sama keluargaku, apalagi mami udah nganggep kamu kayak putrinya sendiri. Kamu tega buat mami sedih karna kita harus putus?" tanya Leo, dia sengaja mengingatkan kenangan mereka bersama bahkan menyebut maminya agar El menarik keputusannya.
Namun ternyata El justru mengingat begitu banyak kenangan menyakitkan yang di berikan Leo kepadanya. Memang benar pria itu sangat mencintainya, namun sifat over protektifnya justru menjadi sumber utama setiap pertengkaran mereka. Cara Leo menjaga kekasihnya dari pria lain agar El tidak berpaling justru menyakiti kekasihnya.
"Tapi aku udah gak sanggup sama kamu Leo."
"Aku minta maaf, aku salah. Sebutkan apa yang harus aku rubah biar kamu tetep sama aku. Aku janji bakal jadi seperti yang kamu inginkan. Tapi tolong jangan putus ya bee?" Leo masih memohon dan kekeh tidak mau putus dari El.
"Tiap berantem kamu juga bilang gitu. Maaf dan mau berubah. Tapi kenyataannya mana? Kamu tetep aja nyakitin aku. Aku capek Leo."
"Maaf.. Tapi aku sungguh sangat mencintaimu bee." Leo menundukan kepalanya, dia bingung harus berbuat apa untuk membujuk El agar tidak meninggalkannya.
"Cinta? Itu bukan cinta Leo tapi obsesi. Andai aja kamu bisa ngrasain sakit yang kamu berikan ke aku, aku yakin kamu gak akan sanggup buat bertahan Leo."
"Balas aku seperti aku nyakiti kamu bee, tapi tetaplah disisiku," ucap Leo. Dia memberanikan diri menatap El yang sekarang menundukan kepalanya.
"Andai yang kamu lakukan dapat aku kembalikan, aku pastikan kamu bakalan lebih rapuh dariku. Tapi aku gak mau lukain hati kamu kayak yang kamu lakukan ke aku," ujar El yang kini air matanya kembali menetes.
"Aku harus gimana lagi bee buat nglunakin hati kamu biar ngurungin niat putus dariku?"
"Aku udah capek sama kamu Leo. Selama ini aku udah sekuat hati buat bertahan sama kamu. Tapi kamu selalu ngancurin hatiku lagi dan lagi. Aku selama ini ngalah karna aku cinta sama kamu. Tapi kamu selalu aja menggores luka. Bukan hanya di hati tapi juga fisik," ucap El menepuk dadanya yang terasa sesak karna terus menangis.
"Oke kalau kamu mau putus. Mending aku mati kalau kamu ninggalin aku. Untuk apa aku hidup kalau cuma buat liat kamu sama orang lain. " Leo membuka laci dashboard mobilnya lalu mengambil pisau lipat yang selalu dia taruh di sana.
"Kamu mau apa?" tanya El panik saat melihat Leo membuka pisau lipatnya dan mengarahkannya ke pergelangan tangannya sendiri.
"Buat apa aku hidup kalau kamu udah gak mau sama aku lagi. Cuma kamu sumber semangat hidupku, kamu sumber bahagiaku. Bagaimana aku masih bisa hidup kalau kamu pergi ninggalin aku?" ucap Leo, dia sudah mengores tipis pergelangan tangannya. Hingga mengeluarkan darah segar.
"Jangan.. jangan Leo. Jangan kayak gini," ucap El makin panik. Walau bagaimanapun El masih sangat menyayangi pria ini. Dia berusaha menahan pisau lipat yang berada di tangan Leo.
"Buat apa aku hidup lagi bee. Kamu udah benci sama aku. Kamu bahkan gak mau sama-sama aku lagi," ucap Leo sendu. Dia sudah sangat frustasi karna bingung harus berbuat apa membujuk kekasihnya agar tetap berada disisinya.
"Aku gak benci kamu, aku masih sayang sama kamu. Aku hanya kecewa dengan sikapmu. Sekarang buang pisaunya ya, please jangan kayak gini lagi," El menatap Leo dengan penuh permohonan.
"Tapi kamu janji ya gak bakalan mutusin aku kalau aku udah buang pisau ini?" tanya Leo wajah dengan penuh harapan.
"Yes, I am promise." ucap El cepat.
Leo membuka kaca jendela mobilnya dan melempar pisau itu ke semak-semak membuat El kembali bernafas lega.
"Bee makasih udah mau stay sama aku." Leo menarik El kedalam pelukannya, di kecupi gadis cantik yang selalu membuatnya gila itu.
Jam sudah menunjukan pukul 4 pagi. Mereka berdua memutuskan kembali ke ibu kota sambil mencari apotek yang buka 24 jam untuk mengobati luka keduanya. Setelah mengendari mobil sekitar 45 menit akhirnya mereka menemukan apotek yang buka. Leo keluar dari mobil sendirian dan El duduk menunggu kekasihnya itu. El menatap Leo yang sedang berbicara dengan penjaga apotek.
'Semoga kali ini kamu benar-benar bisa berubah bee. Mungkin aku benar-benar akan ninggalin kamu kalau kamu gak bisa berubah,' batin El.
Setelah mengobati luka mereka, Leo kembali melajukan mobilnya menuju ibu kota. Saat sudah sampai tol dia melirik kekasinya yang sedang tertidur pulas. Hatinya terasa sakit saat mengingat kejadian beberapa saat lalu. Dia mengrutuki kebodohannya yang tidak pernah bisa mengontrol emosinya saat sedang cemburu buta.
'Maaf bee karna aku selalu nyakitin kamu. Aku janji kali ini akan berusaha sebisa mungkin buat gak nyakiti kamu lagi.'
Leo merasa malu sendiri mengingat tingkahnya mengemis agar El tidak meninggalkannya. Bahkan dia menangis dan berniat bunuh diri. Sungguh ternyata sebesar ini rasa cinta pada El. Tapi disisi lain Leo juga merasa lega karna El tidak benar-benar akan meninggalkannya.
Mobil yang dikendari Leo sudah berhenti tepat di depan gerbang rumah El saat sudah menunjukan pukul 8 pagi. Leo melihat kesamping ternyata El masih tertidur begitu pulas. Dia menatap pipi kekasihnya yang mulai membiru, dadanya kembali terasa nyeri saat mengingat luka ini disebabkan olehnya.
'Aku memang laki-laki bodoh. Bisa-bisanya aku membuat wajahmu yang cantik menjadi seperti ini. Maafin aku bee. Aku bersumpah tidak akan menamparmu lagi.'
El tampak sedikit merintih saat Leo mengelus pipinya.
"Bee bangun sayang, kita sudah sampai."
El mengerjapkan matanya, lalu perlahan memandang kearah sekitarnya dan benar saja dia sudah sampai di depan rumah.
"Sekarang lanjutin tidurnya di dalem ya. Dan maaf karna semalam aku menyakitimu." Wajah Leo kembali terlihat sendu, matanya sudah berkaca-kaca menahan air mata yang meringsek akan keluar.
El menghela nafas panjang. Dia menepuk tangan kekasihnya dengan lembut. "Udah jangan di bahas lagi. Kita mulai lagi dari awal. Semoga kamu benar-benar bisa berubah bee," ucap El dengan suara lembut.
Leo langsung menatap kekasihnya dengan senyum bahagia. "Makasih bee sudah sabar ngadepin aku." Leo menarik El dalam pelukannya di usapnya dengan lembut kepala El.
"Ini bee di pakai." Leo memberikan sebuah masker yang di belinya tadi saat di apotek. Dia tidak ingin papa El melihat wajah putrinya yang membiru. El menerima masker yang di ulurkan Leo. Dia pun langsung memakai masker tersebut.
"Sekarang masuk ya, istirahat. Nanti kalau aku udah sampai rumah aku telepon." Leo mengelus lembut kepala kekasihnya.
El menganggukan kepala dan keluar dari mobil. Saat mobil Leo sudah berjalan menjauh, El masuk ke gerbang dengan mengendap-ngendap khawatir papanya melihatnya.
Dia cukup bernafas lega saat sampai di dalam rumah tidak bertemu dengan siapapun penghuni rumahnya. Namun ternyata saat El hendak menaiki tangga menuju kamarnya terdengar suara seseorang memanggilnya.
gimn Megan thort